The Red Game

The Red Game
Chapter 5 part 1


__ADS_3

Marvin menembakkan bola-bola cahaya pada salah satu rekan Arya. Namun, serangan itu dapat dengan mudahnya dihalau oleh pedang-pedang yang dikendalikan oleh rekan Arya tersebut. Marvin menbentuk sebuah pedang cahaya pada tangannya, lalu secepat kilat menyerang lagi dari depan. Tapi sekali lagi serangannya digagalkan.


“Cih,” Marvin mengeluh sambil menjauh. “Dari mana kau mendapatkan kekuatan seperti itu?”


“Hm, apa perlu aku menjelaskan itu padamu?”


Dia menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Jika dilihat dari sudut pandang lain, ini berarti dia enggan untuk menjawab.


“Jika tidak ingin menjawab, itu terserah padamu. Tapi sebelumnya, bisa beritahu namamu?”


Tidak ingin melanjutkan topik pembicaraan, Marvin menggantinya dengan menanyakan nama. Bagi orang lain mungkin aneh menanyakan nama musuh. Tapi hal itu tidaklah aneh bagi Marvin, karena itu berarti dia mengakui kekuatan lawannya.


“Kurasa tidak apa jika aku memperkenalkan diriku pada orang yang akan mati. Namaku adalah Gres.”


“Orang yang akan mati, ya? Kurasa tidak buruk.”

__ADS_1


Marvin tidak menganggap serius perkataan Gres. Dia sangat yakin kalau kekuatannya tidak terkalahkan.


Gres mengarakan jari telunjuknya ke arah Marvin, lalu pedang-pedang yang melayang di belakangnya mulai menyerang Marvin. Untuk menghindari serangan itu, Marvin bergerak dengan cepat untuk menyerang Gres dari samping kanan.


Menyadari serangan dadakan tersebut, Gres melayang dengan mengendalikan gravitasi. Marvin mundur, lalu melompat ke arahnya. Untuk merespon serangan itu, ia memperberat gravitasi hingga membuat Marvin jatuh dan tanah pun berlubang. Gres semakin memperberat gravitasi pada Marvin untuk membuatnya semakin masuk ke dalam tanah.


Gres melemparkan beberapa pedang untuk menyerang Marvin. Tapi dengan segera serangan itu digagalkan oleh salah satu teman Marvin menggunakan tameng angin.


Dari langit, sambaran petir mengarah pada Gres. Ia dengan cepat menggunakan sisa pedangnya sebagai tameng. Sambaran petir berhasil ditahan, walaupun begitu ada lima peluru angin dilancarkan padanya dari bawah. Kini Gres merasa tersudut oleh serangan dari berbagai arah ini.


Dalam situasi terdesak seperti itu, Gres menyatukan kedua tangannya. Gravitasi disekitarnya semakin memberat hingga dia sendiri hampir terkena dampak Tekniknya itu. Dia dengan susah payah menepukkan kedua tangannya untuk meringankan gravitasi sampai membuat semua yang ada dalam radius sepuluh meter darinya melayang. Sekali lagi, Gres menepukkan kedua tangannya.


Kekuatan Gres tersedot habis setelah melakukan Teknik tadi. Kakinya terasa lumpuh dan penuh luka karena terkena Tekniknya sendiri. Dua orang yang menyerangnya tadi telah mati dengan menggenaskan.


Sedangkan Marvin masih dapat bertahan dengan menggunakan perisai cahayanya.

__ADS_1


Marvin berjalan mendekat ke arah Gres. Dia memandangi Gres yang setengah tubuhnya masuk ke dalam tanah. Dengan tenang ia membuat pedang cahaya di tangan kanan, lalu mengarahkannya pada Gres.


“Pada akhirnya aku yang kalah, ya?” kata Gres pasrah.


“Ya, begitulah hasilnya. Tapi aku terkesan kau bisa membunuh dua orang temanku,” jawab Marvin.


Marvin sangat terkesan pada apa yang baru saja dilakukan Gres. Untuk dapat menang dia bahkan rela melakukan apa saja. Meskipun harus menghadapi beberapa musuh dalam satu waktu, semangatnya untuk menang tidak padam.


“Meskipun begitu, aku tidak bisa menyalahkan mereka atas kekalahanku. Mereka hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk menang. Hanya itu.”


“Ternyata kau masih bisa tenang. Apa kau tidak mengerti situasimu?”


“Meskipun aku menjerit dengan nyaring, tidak akan ada yang datang untuk menyelamatkanku.”


Gres sudah tidak peduli pada nyawanya. Ia merasa senang bisa bertarung sekuat tenaga saat melawan musuh. Setidaknya dia ingin mati dengan damai dan tanpa penyesalan. Dia tersenyum hangat, lalu Marvin menebas kepalanya seolah tidak memperhatikan senyum itu.

__ADS_1


Setelah membunuh musuhnya, Marvin terbaring karena kehabisan energi. Tubuhnya begitu kaku hingga membuatnya tidak bisa bergerak. Dengan situasinya saat ini, bisa saja dia dibunuh dengan mudah. Namun, apa yang bisa dia lakukan untuk mencegahnya. Akibat serangan hebat dari Gres, dia harus menggunakan semua energinya untuk menahannya. Efek samping seperti ini sudah tidak bisa dihindari.


Sementara itu, di tempat yang jauh dari arena pertarungan, Kei yang menggunakan Teknik Tak Terlihat miliknya, sedang duduk menonton. Dia menyaksikan pertarungan sambil memakan roti. Tidak ada yang tahu keberadaannya di sini. Tujuannya datang ke sini hanya untuk menonton pertumpahan darah. Benar-benar orang yang aneh.


__ADS_2