The Red Game

The Red Game
Chapter 2 part 3


__ADS_3

Cresh PoV


Satu tahun yang lalu.


Aku, Kei, dan Luchifer mengikuti sebuah game bernama ‘Red Game’ atas perintah peneliti termasuk Ayahku. Red Game adalah sebuah pertandingan di mana kita ditempatkan pada sebuah area dan membentuk kelompok untuk bertahan hidup. Di game tersebut dinyatakan kalau satu kelompok terdiri dari maksimal lima orang. Awalnya kami hanya membentuk kelompok beranggotakan 3 orang, akan tetapi ....


“Ayah! Kenapa kau mengikut sertakan Salsa di game gila ini?” Aku membentak pria paruh baya yang ada di depanku.


“Kenapa, ya? Sudah jelaskan itu karena dia berbakat,” jawab Ayahku tenang.


“Tapi digame itu—”


“Apa kau tidak yakin bisa melindunginya di sana?”


“Cih, kau—”


Aku sudah bersiap untuk melancarkan satu pukulan ke wajahnya. Namun, Salsa menghalangiku.


“Jangan! Ini adalah keputusanku sendiri untuk ikut serta di Red Game. Jadi, jangan memukulnya.” Salsa mencoba meyakinkanku.


Meski tahu Salsa hanya berbohong, tapi aku tidak bisa  menentang keinginannya. Dengan enggan aku mengurungkan niatku.


“Ah, terserah saja.”


Salsa tersenyum. “Tenang saja! aku bisa menjaga diri.”


“Baiklah, tapi berjanjilah padaku untuk tetap berada di dekatku saat game dimulai. Aku tidak ingin kau terluka.”


“Ya, Cresh. Kau juga harus berjanji untuk tetap hidup.”


“Aku tidak akan mati hanya karena game itu.”


Kami mengakhiri percakapan dengan berjanji untuk tetap hidup. Aku pergi tanpa sepatah kata pun. Semua isi kepala terasa begitu kacau hingga ingin meledak. Berbagai emosi tercampur tak karuan. Di dalam kebimbangan itu, tamparan melesat ke pipiku.


“Bagaimana mungkin aku memiliki sahabat selemah kau, brengsek.” Kei menumpahkan kata-kata kasar untuk pertama kalinya padaku. “Dengar! Jika kau memang seorang laki-laki, maka kau harus menghadapi masalahmu itu sendiri. Bukankah sudah pernah kukatakan kalau sekarang ini yang terkuat adalah yang berkuasa. Untuk melindungi orang yang kau sayangi, kau harus bertambah kuat supaya dapat melakukannya. Mungkin itu adalah bentuk dari pengakuan Ayahmu terhadap kekuatanmu, sehingga dia memasukkan Salsa di Red Game. Kupikir dia melakukannya karena dia sangat mengakui kekuatan dari Cresh Vallencius. Karena itu, kau seharusnya membuktikannya.”


“Kata-katamu itu terlalu panjang, Kei!” potong Luchifer. “Padahal kau hanya perlu mengatakan ‘jangan lari dari masalahmu karena kau punya kekuatan untuk menghadapinya’ seperti itu.”


“Kalian berdua terlalu berisik. Siapa bilang aku akan lari, hah? Aku hanya sedang terlalu bersemangat saja untuk melewati Red Game.” Aku berhenti sejenak. “Dan lagi, bisakah kau menyingkirkan wajah datarmu itu, Luchifer?”


“Hmm, kurasa itu tidak diperlukan. Karena jika wajahku tidak datar, maka tato ini akan terlihat jelek seperti milik Kei.”


“Apa kau pikir wajahmu itu kanvas?”


“Bukankah wajah datar itu keren?”


“Keren dengkulmu. Wajah datarmu itu hanya membuat orang lain kesal dan merubahmu menjadi seperti orang paling tidak bahagia.”


“Oh ... begitu ya.”


***


Besok paginya, hari yang sudah ditentukan untuk dijadikan sebagai hari pembukaan Red Game. Kami berempat berkumpul untuk merencanakan strategi bertahan hidup di Red Game. Saat waktu yang ditentukan semakin dekat, aku merasa gelisah memikirkan apa yang akan terjadi. Satu tepukan keras dipunggung tiba-tiba membuatku tersadar dan menjerit.


“Sakit tahu!”


Salsa sedikit tertawa setelah melihat reaksiku karena terkejut. “Salahmu sendiri lengah.”


“Ya, mau bagaimana lagi. Aku merasa sangat gelisah memikirkan suatu hal.”


“Seperti yang kuduga. Kau pasti tidak yakin akan kemampuanku—”


“Tidak, bukan itu maksudku.”


“Kau tidak perlu berberbohong. Semua yang kau pikirkan terlihat jelas di wajahmu.”


“Jika kau memang sudah tahu. Kenapa kau tidak pergi bersembunyi sampai game itu berakhir?”


“Itu karena aku ingin melindungimu. Orang yang paling kusayang.”


Jawaban Salsa membuatku sedikit terkejut. Aku tidak mengira kalau ternyata dia melakukan ini untuk melindungiku.


“Terima kasih, Salsa. Tapi akulah yang akan melindungimu.”


“Sepertinya kau menganggap dirimu lebih hebat dariku.”


Tiba-tiba suara pengganggu di saat yang begitu romantis, terdengar di telinga.


“Cih, semua pasangan itu selalu saja tidak memikirkan sahabat mereka meskipun ada di dekatnya,” Kei menggerutu.


“Terlalu banyak ikut campur urusan orang lain itu tidak baik, Kei. Lagipula hal itu tidaklah penting, lebih baik kita segera pergi,” Sahut Luchifer.


“Jadi apa rencana kita?” Aku langsung bertanya.


“Menimbang waktu dan tempat, kupikir akan bagus bersembunyi di awal dan menghabisi beberapa musuh yang berhasil bertahan.”


“Bukankah itu namanya strategi pengecut, Luchifer?”


“Aku tidak peduli akan prosesnya, Cresh. Mau menggunakan cara apa pun, asalkan terakhir akan menjadi pemenang, aku tidak akan masalah. Karena menang sangat berbeda dengan kalah.”

__ADS_1


“Tapi itu sepertinya sangat licik,” potong Salsa.


“Manusia memiliki insting untuk bertahan hidup, itulah kenapa manusia akan melakukan segala cara untuk tetap hidup. Mereka tidak peduli akan cara yang digunakan, demi melindungi sesuatu yang berharga bagi mereka, kelicikan dan kecurangan akan digunakan jika perlu.”


“Ah, baik aku mengerti.” Salsa akhirnya hanya dapat patuh.


“Yosh, saatnya pergi!” seru Kei.


Di tengah perumahan keluarga Klaurius, sebuah istana tua tempat diadakannya Red Game, berkumpul banyak sekali pemuda hasil dari eksperimen. Sebuah pelindung menyelimuti istana sebelum pertandingan dimulai. Setiap tim ditempatkan pada ruangan berbeda. Tim kami ditempatkan di bagian istana paling atas, yang artinya kami cukup beruntung untuk tidak perlu bertarung saat diawal game.


“Sebelum permainan dimulai, saya Rech, akan memberikan informasi dan aturan kepada seluruh peserta. Untuk informasi, di Red Game kali ini sekitar lima puluh tim sudah ditempatkan di seluruh bagian istana. Aturannya cukup mudah, kalian hanya perlu bertahan sampai akhir dan memenangkan hadiah menjadi Sang Penguasa, sekian. Game dimulai.”


Mungkin kebanyakan orang ikut di game ini adalah untuk menjadi Sang Penguasa, sehingga dapat lepas dari menjadi objek percobaan. Mereka semua sudah sangat paham bagaimana cara dunia bekerja. Di dunia ini, sang pemenang adalah yang terkuat dan dapat merasakan kesenangan, sedangkan mereka yang kalah akan menjadi pecundang yang hanya bisa patuh. Maka dari itu, mereka semua memegang prinsip yang sama. ‘Kemenangan adalah segalanya’.


“Salsa,” kataku pada wanita di sebelahku. “Apakah menurutmu dengan menjadi pemenang dapat menjamin kalau kita dapat bahagia?”


“Ada apa denganmu? Tiba-tiba menanyakan hal itu?"


“Akhir-akhir ini aku hanya terpikir. Apakah aku akan bahagia saat menjadi pemenang walau kehilangan mereka yang berharga bagiku.”


“Entahlah. Aku juga tidak tahu akan bahagia atau tidak. Hanya saja, aku mungkin akan merasa hampa.”


Mungkin akan merasa hampa, ya ....


Sepertinya, aku tidak menyukai yang seperti itu. Jika aku memang akan merasa hampa, mungkin akan lebih baik jika aku kalah dan menghilang saja. itulah yang kupikirkan.


“Kenapa raut wajahmu begitu, Cresh. Kau membuatku kesal saja.”


“Aku heran padamu, Luchifer. Dalam keadaan seperti ini, kau masih saja bisa bersikap tenang seperti biasa.”


“Ya, bagaimanapun aku memiliki lima puluh persen keyakinan kalau kita akan menang.”


“Lima puluh persen?”


“Ini adalah pertaruhan, Cresh. Kita di sini sebagai bos terakhir, yang artinya kita memiliki keuntungan dan kerugian yang sama besarnya. Jika berada di dalam game, kita memiliki dua pilihan untuk mengalahkan bos. Cara pertama, kita bertarung melawan kelompok lain untuk bertarung melawan bos. Sedangkan cara kedua, kita membuat aliansi dengan kelompok lain untuk melawan bos. Itulah sebabnya aku mengatakan kalau ini adalah pertaruhan.”


Jadi itulah kenapa Luchifer mengatakan kalau ia memiliki lima puluh persen keyakinan untuk memenangkan game ini. Tapi apakah kami memang harus bertaruh? Tidak adakah cara untuk tidak bertaruh?


“Apa kita tidak memiliki pilihan lain?”


“Maksudmu, kemungkinan untuk bersembunyi atau sebagainya?”


“Ya, begitulah.”


“Sayang sekali itu mustahil.”


“Apa maksudmu kalau itu mustahil?” Salsa yang sejak tadi hanya mendengarkan, langsung memotong pembicaraan.


“Sang raja akan tamat.”


“Tapi bukankah kita bisa bersembunyi.” Aku memotong.


“Kau itu bodoh, ya? Pada situasi ini, kita tidak tahu di mana tempat yang aman. Jadi, mau tidak mau kita harus bertaruh.”


“Dan sepertinya sudah terlambat juga untuk bersembunyi,” kata Kei saat melihat beberapa orang mulai masuk ke ruangan.


Luchifer dengan santai berjalan menemui orang-orang itu. Ketika baru beberapa langkah berjalan, dengan cepat salah satu dari mereka menyerangnya menggunakan pedang. Luchifer menghentikan langkah, lalu menjentikkan jari, dan tepat di depannya, orang yang hendak menyerang berhenti bergerak. Itu adalah salah satu dari Teknik Pengendali Bayangan milik Luchifer.


“Tiba-tiba langsung menyerang itu, tidak sopan lho,” ejek Luchifer dengan tenang dan tanpa ekspresi.


“Hah? Kau pikir aku akan peduli pada hal seperti itu? Jangan bercanda! Aku tidak peduli bagaimana caranya, asalkan aku dapat menjadi pemenang dan bukan pecundang,” sahut orang yang menyerang Luchifer.


“Ya, terserah saja. Sebelum kita bertarung, aku memiliki sebuah usulan bagus.”


“Usulan bagus katamu? Heh, kau pikir aku akan terjerumus dalam tipu muslihatmu?”


“Aku mengusulkan untuk membuat aliansi dengan kalian untuk menghadapi musuh yang datang di sini. Sampai akhirnya hanya tersisa tim kita. Bagus bukan? Atau mungkin kalian memilih pilihan kedua.”


“Kau bilang kau memiliki usulan, tapi kau memberi pilihan. Bagaimana mungkin aku akan percaya. Kau pasti hanya ingin memanfaatkan kami untuk bertarung dan kau menyebut itu aliansi agar kami terjebak.”


“Ada kemungkinan kalau tim yang akan menyerbu ke sini nanti sudah membentuk aliansi, itulah kenapa aku membuat usulan untuk beraliansi dengan kalian.”


“Sejak dulu tidak ada tim yang beraliansi di Red Game untuk mengalahkan tim di bagian teratas.”


“Ya, dan itu sebabnya tim di bagian atas selalu menjadi pemenang.”


“Lalu?”


“Kau bilang akan melakukan apa saja untuk kemenangan. Mungkin saja ada orang yang seperti itu juga dan akhirnya memutuskan untuk menyerang ke sini dengan membentuk aliansi.”


“Aku tidak dapat percaya itu.”


“Baiklah, aku akan memberitahukan rahasia tentang teknik yang aku gunakan ini agar kau bisa percaya padaku." Luchifer menghela napas. "Dalam jarak tertentu, aku dapat menghentikan gerakan orang sesuai keinginanku dan tak ada batasan menggunakannya untuk berapa orang pun.”


Kau benar-benar seorang pembohong, Luchifer. Padahal untuk menggunakan teknik itu, kau memerlukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Pertama, kau hanya bisa menghentikan gerakan dari satu orang, dan orang tersebut harus menyentuh tanah, artinya tidak bisa menghentikan orang yang terbang. Kedua, kau harus diam untuk mempertahankannya, artinya kau tidak bisa menyerang saat teknik itu digunakan.


“Tidak berguna. Kami akan mengambil pilihan kedua.”


“Sayang sekali, pilihan kedua adalah kalian akan mati sekarang juga. Benarkan, Kei, Cresh.”

__ADS_1


Pada akhirnya negosiasi gagal dilakukan. Aku mengumpulkan kekuatan di tangan kananku dan mengubahnya menjadi rantai ungu, lalu menyerang orang yang ditahan Luchifer.


Ketika serangan semakin mendekati target, sebuah bola api menabrak serangan itu dan meledak. Gumpalan asap menutupi tempat ledakan, lalu tak lama kemudian Luchifer dan Kei keluar dari sana. Pedang yang dipegang Kei sudah berlumuran darah. Kemudian api menyembur ke arah kami, Luchifer hanya diam seolah tidak ada yang terjadi. Sepertinya dia sangat yakin kalau aku akan menahannya.


Aku menyebarkan kekuatanku kesekitar lalu berkonsentrasi. Dan mengaktifkan Teknik Kubus Ungu.


Sebuah kubus raksaksa tercipta oleh kekuatanku untuk melindungi kami dari serangan api. Setelah serangan api berakhir, Kubus Ungu telah mencapai batasnya dan menghilang. Lalu serangan datang lagi, kali ini banyak sekali pisau menyerang dari segala arah. Ini benar-benar buruk, jika kami terus bertahan seperti ini, kemungkinan besar kami akan kalah.


“Ini benar-benar buruk.” Luchifer mengeluh.


“Kau masih saja mengeluh dalam situasi ini.” Aku langsung membentaknya.


Mengabaikanku, Luchifer mengeluarkan Teknik Tali Bayangan miliknya. Tali-tali hitam keluar dari tempat ia berpijak, lalu menuju pisau-pisau yang menyerang dan menariknya. Lagi-lagi serangan musuh digagalkan.


“Aku sudah muak dengan mereka.”


“Kau selalu saja mengeluh di setiap situasi. Berisik tahu,” sahutku.


“Salsa, lakukan sesuatu terhadap api ini.” Tanpa mau menggubrisku, Luchifer langsung memerintah Salsa.


“Oke,” jawab Salsa.


Lagi-lagi aku terabaikan oleh mereka.


Salsa melepaskan Teknik Serangan Bola Airnya untuk memadamkan api yang masih menyala.


“Ayo!” perintah tanpa semangat terlontar dari mulut Luchifer untuk Kei.


Kei dan Luchifer langsung berlari menyerang musuh. Karena terkejut oleh serangan mendadak, tiga orang dari musuh mengeluarkan serangan mereka masing-masing, yaitu api, angin, dan pengendali senjata. Dengan satu ayunan pedang, Kei berhasil menetralkan semua serangan itu. Tanpa menunggu lama, Luchifer menggunakan Teknik Tusukan Bayang pada mereka. Sekarang hanya seorang musuh yang masih hidup karena lari dari pertempuran. Dia mencoba untuk keluar dari ruangan, tapi Luchifer membuatnya tidak bisa bergerak, lalu Kei menebas lehernya. Orang biasa mungkin akan merasa bersalah ketika melakukan itu, tapi kami sudah sangat terbiasa melakukannya.


“Mereka berdua sangat hebat, ya.” Salsa berkomentar.


“Entahlah. Aku merasa mereka memang dituntut untuk menjadi kuat. Bahkan mereka sampai diisolasi hanya untuk menjadi kuat.”


“Ya, tapi kurasa mereka sangat bahagia karena kamu diperbolehkan untuk menjadi sahabat dan orang terdekat bagi mereka.”


“Aku tidak yakin. Mereka itu hanya di didik untuk selalu menang walau apa pun yang terjadi. Emosi atau ikatan, mereka menutup diri dari itu. Itulah kenapa Luchifer tidak pernah tersenyum atau bersedih, dan Kei selalu menggunakan senyum palsunya. Kuharap aku dapat mewarnai nasib malang mereka dengan keceriaan.”


Itu yang aku pikirkan, sampai akhirnya kemungkinan terburuk yang dikatakan Luchifer terjadi.


Hampir seluruh peserta mengepung dan mendesak kami. Karena serangan itu, Salsa meninggal dan aku mengamuk hingga tak mengingat apa pun lagi. Waktu aku tersadar, darah menggenang bagaikan air. Tubuhku dilumuri darah dan mayat berserakan di segala tempat. Di atas tumpukkan mayat tersebut, aku melihat Luchifer bermandikan darah, lalu ia pergi menghilang entah ke mana.


***


Kei PoV


“Jadi, menurutmu apa pemicu Luchifer melakukan pembantaian?” tanyaku.


“Mungkin karena saudara kembarnya mati,” jawab Cresh.


“Aku tidak yakin. Bisakah kau memberitahu alasannya, kenapa saudaranya bisa mati?”


“Dia menyelamatkanku. Saat aku mengamuk dan hilang kendali. Kurasa Kei menggunakan Teknik Penetral miliknya untuk menenangkanku. Tapi ....”


“Teknik itu memiliki suatu syarat untuk menggunakannya.”


“Ya, untuk menetralkan kekuatan yang besar, Kei perlu menyentuh penggunanya. Mungkin saat itu—”


“Kau membunuhnya dan cerita selesai.”


“Hei, tidakkah kau memikirkan perasaan Cresh?” kata Vany.


“Masa lalu tidak bisa diubah. Jadi untuk apa terus memikirkannya.”


“Tapi—”


“Kei! Apakah kau adalah Kei Klaurius?” tanya Cresh.


“Tidak ada cara untuk membuktikannya. Apakah aku Kei Klaurius atau bukan, biarlah menjadi misteri.”


“Ada cara untuk membuktikannya.”


“Eh?”


Tiba-tiba Cresh menyerangku dengan rantai ungunya. Aku langsung melompat ke belakang dengan cepat, lalu menggunakan Teknik Percepatan untuk berlari dan menerjang Cresh.


“Kurasa aku adalah Kei Klaurius.”


“Jangan bercanda. Serangan mendadak tidak akan menggores Kei Klaurius sedikit pun, walau dia tidak bergerak. Lagipula, dia tidak menggunakan Teknik Percepatan sepertimu.” Cresh menggerutu sembari kembali berdiri.


“Oh.”


“Terserah. Sekarang pergilah dari sini.”


“Membosankan. Kukira tadi akan ada cinta segitiga di antara kalian.”


“Ini bukan sinetron, dasar sialan.” Cresh berdecak kesal.


“Ya, kurasa kau melupakan sesuatu.”

__ADS_1


“Aku tidak lupa. Lain kali saja kita membahasnya.”


“Oke.”


__ADS_2