
Setelah beberapa saat termenung sambil menikmati indahnya pemandangan kota, aku pun langsung melompat dari atas gedung dan mendarat dengan lancar diantara gedung-gedung. Tidak ada seorang pun di sekitarku saat ini. apa yang sedang kulihat hanyalah gelapnya gang yang dihimpit oleh 2 buah gedung.
Mengabaikan sekitar, aku berbelok ke kanan dan mulai berjalan untuk keluar dari gang. Setibanya dijalur keluar, aku melihat 2 orang tentara Alastein sedang berjalan ke arahku. Di tangan mereka terdapat sebuah senapan panjang dan diarahkan ke depan.
Mereka perlahan-lahan mendekat ke arahku dengan waspada dan sesekali saling bertukar pandang satu sama lainnya. Melihat itu, aku dapat tahu kalau mereka sedang berencana untuk menangkap atau menghabisiku. Akan tetapi hali itu tidak akan terjadi. Karena kekuatanku jauh lebih besar dari gabungan kekuatan mereka berdua.
Kuhela napas ini pada saat mereka semakin dekat denganku. Lalu tiba-tiba saja, mereka berdua mulai menembakiku.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan yang beruntun itu memenuhi telingaku, tetapi tetap saja, aku tidak tertarik untuk bereaksi terhadap serangan tersebut.
“Haih.. ini membosankan.” Keluhku sembari terus berjalan ke depan menuju 2 orang tentara yang sedang menembakiku.
Peluru perak yang mereka tembakkan padaku tidak pernah ada yang mampu melukaiku. Karena peluru-peluru tersebut langsung hancur saat berada satu langkah di depanku.
Suara tembakan tiba-tiba berhenti, dan kedua orang tadi berusaha secepat mungkin untuk mengisi ulang senapan mereka. Namun, sedikit pun aku tidak menggubrisnya. Bahkan aku masih tetap berjalan dengan santai menuju ke arah mereka.
Kedua tentara itu gemetaran, lalu dengan panik mereka mengarahkan senapan ke arahku.
“J-Jangan bergerak!” kata tentara yang ada di sebelah kanan dengan nada yang gemetar dan mundur beberapa langkah.
__ADS_1
Astaga, dia mengancamku seperti orang yang sedang diancam. Haih, bagaimana mungkin aku bisa takut, dasar aneh.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan yang begitu nyaring, menggema di gendang telingaku. Karena aku merasa terganggu dengan hal itu, aku pun berlari dengan cepat ke arah dua tentara tadi lalu mengalirkan kekuatan angin di tangan kiriku dan memotong lengan kanan kedua tentara tersebut.
“Argh!!”
Sontak teriakan dari kedua tentara tersebut menggantikan suara tembakan. Darah dari lengan yang terpotong becucuran ke atas tanah. Kedua tentara tersembut berlutut sambil memegangi lengan kanan mereka yang terpotong dengan tangan kiri mereka.
“Argh..” rintih kedua tentara tersebut sambil menahan rasa sakit akibat luka.
Mata rekan tentara tersebut terbelalak sangat lebar saat menyaksikan kejadian yang berdurasi beberapa detik tersebut. Setelah kuperhatikan lebih jauh, tarikan napas orang tersebut semakin tidak beraturan, keringatnya yang sangat banyak langsung membasahi sekujur tubuhnya dan sepertinya detak jatung orang itu juga meningkat.
Aku berjongkok di depannya lalu menatap matanya lekat-lekat. Dari tatapan matanya itu aku dapat tahu betapa takutnya ia pada diriku ini. Meskipun begitu bukan berarti aku akan melepaskannya begitu saja.
Kuangkat tangan kiriku ke atas dan meletakkannya di atas kepala orang tersebut. Ketika aku melihat ekspresinya, dia terlihat seolah ingin mengatakan sesuatu namun tidak dapat melakukannya.
Sekali lagi aku mengabaikan semua itu dan mulai mengalirkan kekuatan api ke sekujur lengan kiriku.
Boom!
__ADS_1
Tiba-tiba saja suara ledakan terdengar dari belakangku hingga membuatku membatalkan teknik yang akan kugunakan pada tentara yang ada di depanku saat ini. kutarik kembali lengan kiriku lalu berdiri dan berbalik untuk mengatahui asal dari suara ledakan tersebut. Dari tempatku berdiri saat ini aku dapat melihat sebuah gedung besar nan jauh di depan sana, hancur berkeping-keping, dan di sekitarnya terdapat asap tebal yang berwarna hitam serta api yang membara.
“Hm..” gumamku sambil memasukkan tangan kiriku ke dalam saku celanaku lalu melanjutkan, “ada apa itu? Apa mungkin ada seseorang yang sengaja meledakkannya? Tampaknya ini menarik.”
Seusai berkata seperti itu, aku pun berjalan dengan santai menuju ke arah gedung yang hancur tersebut.
Setelah berjalan selama beberapa saat, aku akhirnya teringat pada tentara yang tangan kanannya kupotong.
“Hedeh.. bagaimana bisa aku lupa untuk membereskan nyamuk itu terlebih dahulu.” Ucapku sembari terus berjalan.
“Ah sudahlah. Tidak ada bedanya jika aku menghabisinya sekarang dengan dia mati karena kehabisan darah.” Sambungku untuk mengabaikan tentara tersebut.
Beberapa saat kemudian aku akhirnya tiba di depan gedung yang hacur itu. Kuhentikan langkahku dan mulai melirik kesana kemari sambil mengamati tempat itu.
Di sekitar tempatku berdiri saat ini, aku tidak menemukan seorang pun yang mungkin adalah tersangka penyebab ledakan tadi. Lalu tak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki dari begitu banyak orang. Ketika aku berbalik, mata ini dapat melihat barisan para tentara yang dilengkapi dengan fasilitas bertarung seperti senapan dan rompi.
“Haih, nampaknya ini menjadi semakin merepotkan.” Keluhku sembari menatap dengan bosan ke arah para tentara tersebut.
Sekitar 10 meter di depanku, para tentara tadi berjejer sambil mengarahkan senapan mereka yang panjang ke arahku. Melihat itu, aku sekali lagi menghela napas dan mengeluh, “baiklah, mari kita lihat berapa lama pertarungan memuakkan ini akan berlangsung. Dan semoga saja ini secepatnya berakhir.”
Mengalirkan kekuatan listrik ke sekujur tubuhku, aku kini mulai mempersiapkan diri ini untuk menghadapi para tentara yang merepotkan itu.
__ADS_1