The Red Game

The Red Game
Chapter 2 : Masa Lalu Cresh


__ADS_3

Saat aku terbangun, matahari sudah terbit. Cahayanya yang hangat membuat tubuh merasa nyaman sampai-sampai aku dibuat malas untuk bangun dari tidur.


Di saat aku masih ingin menikmati hangatnya cahaya pagi, diri ini mendapat firasat kalau hal buruk akan terjadi jika tidak segera pergi dari sini. Karena hal itu, aku pun segera memaksa badan untuk bangun dan memeriksa sekitar. Hingga yakin tidak ada yang janggal di sini.


Kaki melangkah menuju ke tepi atap. Dari sini aku mencari tahu apakah ada orang di bawah sana. Karena tidak ada orang, tanpa pikir panjang aku langsung melompat dari atas gedung tempat kuberada sekarang.


Pada umumnya, seseorang pasti akan mengalami luka serius atau kehilangan nyawa ketika mendarat. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku untukku, karena diketinggian tertentu, Teknik Memanipulasi Gravitasi milikku akan aktif dengan sendirinya.


Aku sadar kalau kekuatan yang kumiliki ini sangatlah curang dan membosankan, tetapi tidak ada bisa merubahnhnya.


Beberapa saat kemudian, diri ini akhirnya mendarat dengan lancar. Lalu melangkahkan kaki dengan santai sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


Setibanya di tempat tujuan, aku melihat Wili sedang berjaga pada jalan masuk markas mereka. Kualihkan pandangan darinya sembari terus berjalan tanpa mempedulikan dia. Namun, sebelum aku sempat masuk, dia menghalangi jalanku dengan tangan kanannya.


"Hei, Kei brengsek, berhenti di sana!" katanya dengan nada tegas.


“Aku tidak tahu apa maksudmu menghentikan jalanku seperti ini.”


"Kau pasti seorang mata-mata yang dikirim untuk mengawasi BlackList 'kan?" Ada jeda beberapa saat sebelum ia akhirnya melanjutkan, "ah, seharusnya aku sudah menyadari hal ini saat pertama kali kita bertemu. Tetapi aku beruntung, karena kau adalah orang yang ceroboh. Sehingga aku dapat menyadari kalau kau adalah seorang mata-mata."


"Setelah kupikir-pikir, dari banyaknya kemungkinan yang ada, kau pasti beranggapan kalau semalam aku bertemu dengan kelompok yang menyuruhku untuk memata-matai kelompok kalian sehingga membuat aku pergi tanpa pamit kepada kalian terlebih dahulu."


"Tidak kusangka, ternyata kau berani mengakui hal itu."


"Kecurigaanmu itu sungguh tidak berdasar."


"Apa maksudmu?"


“Biarkan aku memberimu sedikit pencerahan."


Aku menghela napas sejenak. "Pertama, jika aku memang seorang mata-mata, aku pastinya akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mendapatkan hasil. Kedua, seorang mata-mata tidak akan bertindak sembarangan seperti yang kulakukan semalam. Dan untuk apa juga aku membangunkan monster yang sedang tertidur, yaitu Cresh. Sampai-sampai membuatnya lolos dari masa lalu yang mencengkramnya."


"Bukankah itu hanya sebuah trik agar kami percaya padamu." Wili langsung memotong.


"Trik? Kau ini bodoh, ya. Mana mungkin ada orang yang ingin musuhnya bertambah kuat. Selain itu, informasi yang kudapatkan saat ini masih belum cukup untuk dilaporkan waktu aku pergi semalam."


Wili terdiam mendengar penjelasan itu. Aku sangat yakin kalau saat ini dia sudah tidak dapat menyangkal lagi. Karena jika dilihat dari perilakunya, aku dapat mengetahui kalau dia sebenarnya setuju pada penjelasan tersebut. Akan tetapi, karena ia tidak ingin menerimanya, maka ia hanya dapat setuju di dalam hati, dan tidak mau mengaku secara langsung kepadaku.


Dengan santai kaki melangkah, memasuki area markas BlackList. Dan tentu saja Wili membiarkan aku masuk walau tampaknya dia sedikit kesal.


Beberapa langkah di depan, terdapat si kembar Roki dan Riki yang sedang membersihkan sisa-sisa api unggun semalam. Dan tidak jauh dari mereka, ada para gadis yang sedang asik mengobrol.


Semakin jauh berjalan, akhirnya aku sampai di depan pintu markas. Di sana terdapat Marten dan Awan yang tengah bercakap-cakap.


Ketika aku hendak masuk ke dalam markas, dalam waktu yang bersamaan Marten dan Awan menghadang jalan dengan tangan mereka.


"Kenapa kau mau masuk ke dalam markas kami?" tanya Marten dengan nada menginterogasi.

__ADS_1


"Apakah aku tidak diperbolehkan masuk ke sana?" Aku balas bertanya.


“Tentu saja.”


Ini aneh, seharusnya mereka tidak menghalangi aku untuk masuk ke dalam markas, apa mungkin mereka sangat membenciku karena kejadian semalam. Atau mungkin ada alasan lain. Tetapi ada satu hal yang jelas, yaitu aku harus bersikap lebih baik lagi kepada mereka mulai dari sekarang.


Beberapa saat kemudian, Vany datang dan langsung berlari masuk ke dalam markas tanpa dihalau oleh dua orang yang tadinya menghalangiku.


Sepertinya memang benar ada alasan kenapa mereka tidak mengizinkan aku masuk. Dan tentu saja aku harus menanyakan hal itu kepada mereka.


“Kenapa kalian membiarkan Vany masuk, sedangkan aku tidak?”


“Kau masih tidak mengerti, ya. Bukankah sudah jelas karena kau bukanlah anggota BlackList.”


Hah? Apa maksudnya?


Bukankah semalam aku sudah menjadi bagian dari BlackList?


Ternyata hanya aku yang beranggapan kalau diri ini sudah menjadi bagian dari mereka.


Pantas saja aku tidak diperbolehkan masuk ke dalam markas mereka, dan itu juga yang membuat Wili enggan membiarkan aku masuk ke sini.


Hm ... menarik. Sepertinya mereka mempunyai suatu rahasia yang bagus untuk dijadikan alat yang dapat mengendalikan mereka.


Mereka membuatku semakin bersemangat saja.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa untuk masuk." Aku menghela napas sejenak. "Tapi sebagai gantinya, aku mau kalian memanggil Cresh ke sini. Aku perlu mengkonfirmasi sesuatu padanya."


"Tidak. Hal ini tidak boleh diberitahukan kepada kalian. Karena ini mengenai suatu kejadian yang diakibatkan oleh Cresh satu tahun yang lalu. Maka dari itu aku harus mengkonfirmasi apakah itu benar atau tidak."


"Bukankah itu sudah jelas tidak benar. Apalagi yang perlu kau konfirmasi."


"Aku tahu kalian akan berpikir begitu, tetapi pahamilah bagaimana perasaan Cresh jika cerita tentang kejadian itu kusebarkan kepada orang lain. Apa kalian tega melihat Cresh merasa terganggu karenanya. Jika kalian memang 'temannya', aku yakin kalian pasti tidak ingin hal itu terjadi."


"Jika itu memang terjadi, maka kami pasti akan menghabisimu." Awan menegaskan.


"Aku tidak yakin apakah kalian bisa melakukannya."


"Ten—"


"Sudahlah, Awan." Marten memotong, karena kelihatannya ia sudah menyerah berdebat. "Masuklah!" Dia mengalihkan pandangannya ke arahku.


Fiuh ... aku beruntung karena Marten akhirnya menyerah karena ancamanku. Dan tentu saja, alasannya menyerah adalah karena memikirkan perasaan Cresh.


Trik yang kugunakan untuk mengancamnya memang sangat sederhana, tetapi ketika aku menekankan kata 'teman', aku sudah yakin kalau Marten pasti akan takluk. Karena kata itu akan membuatnya bersimpati hingga akhirnya bersikap baik karena rasa 'solidaritas' antar teman.


Aku berjalan masuk ke dalam markas hingga sampai di sebuah ruangan yang luas. Di ruangan itu terdapat sebuah meja dan seseorang yang duduk pada kursi yang berada di belakang meja tersebut.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi, aku langsung saja berjalan menuju meja itu. Tiba-tiba seorang gadis berambut merah, yang tidak lain adalah Vany, datang dan berdiri di dekatku.


“Jika kau punya urusan dengan Cresh, aku tidak keberatan mengantri di belakangmu.” Aku mempersilakan Vany untuk mendahului.


"Tenang saja, aku tidak punya urusan dengannya," Jawab Vany sembari tersenyum hangat.


"Jadi, kenapa kau ke sini?"


"Ya ... itu karena aku sedikit penasaran dengan apa yang kau katakan pada Marten dan Awan."  Vany kemudian menatap mataku. "Bolehkah?"


"Aku sih tidak masalah, tetapi aku tak yakin Cresh akan setuju."


Cresh yang tadinya hanya mendengarkan percakapan kami, akhirnya tersenyum dan berkata, "Aku tidak keberatan jika Vany juga ikut mendengarkan."


“Meskipun ini tentang insiden yang kau buat satu tahun lalu di ‘Red Game’, Cresh si pengacau.”


Raut wajah Cresh menjadi suram dan sangat menyedihkan setelah kalimat tersebut ia dengar. Dia bisa seperti ini mungkin karena ingatan buruknya kembali. Selain itu, Vany yang tadinya santai, menjadi tegang dan mundur beberapa langkah setelah aku menyinggung tentang 'Red Game'.


Aku tahu tahu kalau Cresh pasti akan merasa terganggu, tetapi aku tidak mengerti kenapa Vany juga ikut terkejut karenanya.


“Kenapa kau dapat dengan tenang menyinggung tentang game mengerikan itu, Kei?” Vany bertanya sambil mengatur tarikan napasnya yang tidak beraturan.


“Seharusnya aku yang bertanya padamu, Vany." Aku berhenti sejenak. "Kenapa kau bisa tahu mengenai ‘Red Game’? Apa mungkin kau juga terlibat di dalamnya.”


“Eh, itu ... itu karena ... karena aku pernah mendengar rumor tentang game itu. Ya, itu karena aku pernah mendengar rumor tentang game itu.”


“Lalu, kenapa kau bisa tahu tentang kejadian besar dalam ‘Red Game’ satu tahun lalu?”


“Itu karena ....” Vany melirik ke sana kemari. Tampaknya dia mulai panik dan mencoba mencari alasan untuk keluar dari situasi yang kubuat.


Akan tetapi, sebenarnya percuma jika dia berusaha menyembunyikan identitas aslinya kepadaku. Karena aku sudah mengetahuinya sejak lama. Bahkan aku pun lebih tahu tentang betapa kejamnya 'Red Game' itu.


Beberapa saat kemudian, Cresh memecah keheningan yang terjadi. "Bisakah kita tidak membicarakan tentang 'Red Game' di sini?"


“Baiklah.” Aku menyahut, menyetujui usulan Cresh.


***


Cresh menuntun kami menuju sebuah ruangan yang bersebelahan dengan ruangan sebelumnya. Dia sengaja mengajak kami ke sini untuk menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi satu tahun lalu di 'Red Game'.


Di ruangan ini terdapat dua buah kursi yang berada di sebelah meja. Di sana juga terdapat sebuah lemari dan sebuah tempat tidur yang diletakkan di dekat jendela.


Cresh duduk di atas tempat tidur. Sedangkan aku dan Vany segera menarik kursi ke depan Cresh, lalu duduk di sana.


“Sejujurnya, aku masih tidak mengerti kenapa kau masih mau membahas tentang kejadian yang ingin kau lupakan itu,” tanya Vany sambil memiringkan kepala.


“Itu karena aku sudah muak menyembunyikan kejadian mengerikan tersebut. Kalau boleh jujur, aku sendiri takut untuk menceritakan hal ini pada yang lain. Tapi karena kalian berdua sepertinya sudah tahu bagaimana kejadiannya, maka aku akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di sana.”

__ADS_1


“Ternyata kau sudah tidak mampu lagi untuk menahan rahasia itu sendirian.” Aku langsung menanggapi.


“Ya, begitulah. Sebenarnya tiga belas tahun yang lalu, aku hanyalah seorang anak biasa dari keluarga Valencius yang dijadiakn kelinci percobaan oleh keluarga Klaurius. Itu adalah saat di mana semuanya berawal.”


__ADS_2