
Aku membatalkan teknik pengubah wujud dan membersihkan bercak darah dari tubuh dan pakaianku. Setelah itu aku berjalan dengan santai menuju reruntuhan Villa dari arah barat. Sesampainya disana, aku melihat Nathaniel sedang mengeluarkan seseorang dari reruntuhan.
“Siapa dia?” tanyaku padanya meskipun aku sudah tahu siapa orang itu.
“Dari mana saja kau?” dia balik bertanya.
“Saat aku mendengar ledakan dari dalam Villa itu, aku langsung pergi kearah barat agar tidak terlibat didalamnya.”
“Meskipun kau menjawab seperti itu, aku tidak tahu apakah kau bohong atau tidak dari ekspresi bosanmu itu.”
Sudah jelas dia tidak akan tahu kalau aku berbohong padanya. Sebenarnya saat aku sedang bertarung tadi, aku sudah sadar kalau dia diam-diam melihat pertarungan. Alasanku membawanya kemari adalah untuk menyaksikan pertarunganku. Dengan begitu dia dapat kujadikan sebagai tameng saat aku menjelaskan semua ini pada Cresh dan Vany.
“Apakah orang itu masih hidup?”
Aku bertanya seperti itu saat Nathaniel membaringkan dan membersihkan luka yang diterima orang itu.
“Aku tidak tahu. Hanya saja aku salut pada orang ini.”
“Aku tidak tahu apa hubungannya jawabmu itu dengan tindakanmu.”
“Orang ini pantas dibersihkan sebelum dikubur.”
“Itu hanya tindakan yang sia-sia. Saat dia dikubur dia akan menjadi kotor lagi. Apa aku salah?”
“Tergantung bagaimana caramu menanggapinya. Tapi menurutku membersihkan tubuh seseorang yang sudah mati sebelum dia dikubur adalah cara kita menghormatinya untuk terakhir kalinya.”
Ternyata itu maksudnya. Aku benar-benar tidak mengerti pada semua ini. Manusia memang mahluk yang unik. Mereka bahkan mempunyai sifat saling berbagi dan menghormati. Tetapi ada juga yang mempunyai sifat serakah dan kejam. Ini sudah seperti mereka dibagi menjadi dua kubu yang terkadang akan saling menyakiti.
Kedua kubu itu sebenarnya sudah ditetapkan saat kita beradaptasi dengan lingkungan yang pertama kali kita temui. Sebagai contoh, seorang anak dibesarkan dilingkungan yang ramah, maka secara tidak sadar dia akan menjadi ramah ketika dewas. Dan juga sebaliknya, jika anak itu dibesarkan dilingkungan yang tidak baik, maka dia akan menjadi tidak baik juga.
Tetapi ini berbeda denganku. Sejak lahir aku hanya diajari untuk selalu memilih pilihan yang tepat. Tidak peduli apakah pilihan itu mengorbankan nyawaku atau orang sekitarku. Asalkan pilihan itu adalah pilihan yang tepat, maka pilihan itu yang harus dipilih.
***
Setelah menguburkan mayat orang itu, aku dan Nathaniel kembali ke markas BlackList. Saat kami masih dalam perjalanan, Nathaniel bertanya padaku.
__ADS_1
“Kei.., apa kau sudah menduga dari awal akan ada kejadian seperti tadi?”
Pertanyaan ini sangat menjebak. Jika aku mengatakan ‘ya’ maka dia akan menjadi curiga dan terus menyelidikiku. Untuk menjawab ‘tidak’ aku memerlukan beberapa penjelasan yang dapat dipercayainya. Untung saja aku sudah menyiapkan penjelasan itu.
“Bagaimana mungkin aku bisa tahu tentang itu.”
“Lalu kenapa kau bisa tahu ada kelompok besar disana?”
Kelompok besar? Apa kau sedang bercanda. Kelompok yang menyerangku tadi hanya berisikan 30 orang saja. Dari jumlah itu, bagaimana mungkin bisa dikatakan kelompok besar. Itu hanyalah kelompok biasa.
“Itu hanya prediksi.”
“Prediksi?”
“Jika kau menganalisis rumor yang kau ceritakan padaku, maka kau akan menemukan jawabannya disana.”
“Analisis?”
“Pakailah sedikit kepalamu itu untuk berpikir. Rumor itu sudah jelas memberikan petunjuk yaitu ‘tempat penelitian’. Hanya dengan sedikit waktu saja kau pasti akan menduga jawabannya.”
“Jadi seperti itu ya.”
“Aku baru sadar ternyata ada orang sebodoh dirimu didunia ini.”
“Siapa yang kau bilang bodoh. Dasar Kei sialan.”
“Sebagai bawahan, kau tidak boleh bisikap tidak sopan seperti itu terhadap bosmu. Bisa-bisa kau dipecat.”
“Apa kau bilang.”
Dan begitulah kami terus mengobrol sepanjang perjalanan. Bercanda sambil saling mengejek satu sama lain. Ini adalah percakapan yang dapat mempererat hubungan antar manusia. Dengan percakapan sepele seperti itu dapat membuat kita melekat dalam hati seseorang. Bagaimana itu bisa terjadi aku juga tidak tahu. Tetapi sebagai sesama teman, kita tidak perlu kesal ketika diejek. Karena itu hanya sebuah lelucon kecil antar teman.
Itulah pengalaman yang dulu pernah kurasakan. Tetapi semuanya sudah hilang sekarang. Aku sudah tidak peduli lagi pada persahabatan atau apapun. Apa yang kulakukan sekarang tidak lain hanya karena aku memakai topeng untuk menutupi warnaku. Tidak ada yang tahu aku ini hitam atau putih, dan tidak ada yang tahu aku berada dikubu yang baik atau jahat. Semuanya akan kutunjukan diakhir rencanaku.
Apakah aku hitam atau putih, itu tergantung bagaimana cara kalian melihatnya. Simpulkan itu ketika rencanaku sudah berakhir.
__ADS_1
***
Sementara itu, dibalik reruntuhan Villa tempat Kei bertarung sebelumnya. Ada seorang laki-laki pendek, botak, dan memakai baju yang sudah usang, berhasil selamat dari kematian. Dia lantas menunggu sampai Kei dan Nathaniel pergi.
Setelah mereka pergi, ia langsung berlari kearah timur laut sekuat tenaga. Melewati perumahan yang tidak dihuni hingga akhirnya ia sampai disebuah gubuk tua dengan lantai papan. Tanpa membuang waktu, ia mengetuk lantai itu sebanyak tiga kali. Lantai terbuka, disana terdapat seorang laki-laki bertubuh kekar dengan rambut merah.
“Ada apa?” tanya orang berambut merah.
“Kita diserang.” Jawab orang yang mengetuk sambil terengah-engah, “Orang bertopeng menyerang kami dan 30 orang tewas. Hanya aku satu-satunya yang tersisa.”
Orang berambut merah terkejut mendengar hal itu. Bagaimana mungkin ia tidak terkejut, orang-orang yang diserang oleh orang bertopeng itu tidaklah lemah. Ia lantas membawa orang yang berbicara padanya itu masuk kedalam ruang bawah tanah.
Diruang bawah tanah itu terdapat sebuah ruangan yang diterangi oleh lentera. Dibagian ujung ruangan itu terdapat sebuah singgasana dan seorang perempuan tinggi berambut pirang duduk disana sambil menyilangkan kakinya.
Kedua orang yang masuk keruangan itu langsung berlutut dihadapannya. Orang berambut pirang yang duduk disinggasana itu tidak lain adalah ketua mereka. Rumor mengatakan kalau kekuatannya sangatlah hebat dan hanya sedikit orang yang mampu bertarung dengannya.
Hening selama beberapa saat. Kedua orang yang berlutut tadi tidak berani memulai pembicaraan. Mereka hanya menunggu ketua mereka bertanya.
“Jadi ada apa kalian datang kemari?” tanya perempuan itu memulai pembicaraan.
“Markas kita yang berada di kediaman keluarga Vallencius diserang oleh seorang pria bertopeng.” Jawab pria botak.
“Lalu?”
“Kami dihabisi. Hanya saya yang tersisa.” Pria botak itu berusaha membuat suaranya tetap tenang. Namun faktanya dia sangat kesal melihat orang-orang yang dekat dengannya mati tepat didepan matanya.
“Apa ada informasi lain tentang orang itu?” perempuan itu masih tetap tenang walau bawahannya tewas. Dia tidak peduli pada apa yang menimpa mereka.
“Dia bilang dia akan membersihkan kota utara. Tapi saya pikir dia tidak sendirian.”
“Alasannya?”
“Dia tanpa sengaja menyebut kata ‘kami akan membersihkan kota utara’.”
“Kita akan membuat aliansi untuk menyerang sang penguasa. Aku yakin dialah dalangnya. Jadi segera kumpulkan semua orang yang tinggal di kota utara.”
__ADS_1
Perempuan berambut pirang itu langsung mengambil keputusan tanpa melakukan penyelidikan. Dia melakukan itu karena dia memiliki sebuah teori dalam kepalanya. Ia pikir tidak mungkin ada orang yang berasal dari kota utara yang ingin menghancurkan kota ini. Jika memang ada, maka sudah pasti mereka adalah mata-mata yang dikirim oleh sang penguasa yang sangat tidak menyukai kota utara.
“Baik.” Pria botak dan pria berambut merah menjawab dengan serentak.