The Red Game

The Red Game
[S2] Chapter 1 part 3


__ADS_3

“Hei!” Sebuah teriakan yang begitu keras tiba-tiba saja menggema didalam gendang telingaku. Karena itu pula, pikiranku yang tadinya begitu kacau kini menjadi sirna.


“Ada apa?” tanyaku menanggapi perkataan Vany.


“Kenapa kau terlihat murung seperti itu?” tanya Vany.


Aku mengalihkan pandanganku darinya lalu berkata, “Tidak apa-apa.”


Vany menghela napasnya seolah ingin mengeluhkan sesuatu. “Kau sangat buruk dalam berbohong,” katanya.


Kuakui kalau aku memang buruk dalam berbohong, tetapi aku hanya buruk saat berbohong kepadanya bukan kepada orang lain. Karena sepertinya dia adalah orang yang dapat mengerti jalur pikiranku yang begitu rumit ini hanya dengan sekali lihat. Sejujurnya hal itu menyebalkan, tetapi semuanya memang sudah seperti itu.


“Apa kau mau pergi ke suatu tempat bersamaku? Mungkin saja disana kau dapat mendapatkan kembali semangat apimu,” tanya Vany sekali lagi.


Pergi ke suatu tempat untuk mencari semangat? Apakah dia pikir aku adalah orang yang akan dengan mudah bersemangat dalam menghadapi sesuatu? Aku sungguh tidak mengerti dengan gadis bernama Klaurius Vany ini. Sebab jalur pikirannya jauh lebih rumit dariku.


“Baiklah, ke mana kita akan pergi?” jawabku dengan melontarkan sebuah pertanyaan yang menandakan kalau aku setuju untuk ikut bersamanya.


“Tidak kusangka kau mau ikut,” tanggap Vany yang sedikit terkejut.


Aku berdiri lalu menatap Vany dengan bosan. “Sudahlah, ke mana kita akan pergi?”


“Baiklah, ikuti aku.” Vany pun berjalan menuju jalan keluar lain dari gang yang kami tempati saat ini, lalu tanpa berkata apa-apa, aku berjalan mengikuti langkahnya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Vany terus saja mengocehkan sesuatu yang kuanggap tidak penting, jadi untuk menanggapinya aku hanya menjawab dengan mengatakan ‘iya’ dan semacamnya. Sebenarnya aku sangat bosan dengan semua ini, tetapi mungkin dengan pergi ke tempat yang dimaksud oleh Vany, aku bisa beristhirahat sejenak dan merenungkan apa yang hendak aku lakukan selanjutnya.


Semakin jauh kami berjalan, tak disangka kami mendapati beberapa tentara yang sedang berjaga dengan senapan panjang di tangan mereka. Aku dan Vany berhenti dan bersembunyi di balik sebuah gedung sambil mengawasi para tentara itu.


“Apa yang harus kita lakukan terhadap mereka?” tanya Vany sembari terus mengawasi gerakan para tentara itu.


“Bukankah kita hanya perlu menghajar mereka semua,” jawabku dengan acuh sambil memasukkan tangan kiriku ke dalam saku celana.


“Ternyata sekarang kau menjadi sangat bodoh, ya,” ejek Vany sembari memalingkan pandangannya kepadaku. “Lihatlah kondisimu sekarang! Apa kau masih yakin kalau dirimu dapat mengalahkan mereka semua?”


Siapa sebenarnya yang ingin dibodohi oleh gadis ini? apakah dia pikir aku ini seorang pemuda yang sudah pikun? Atau mungkin dia sudah lupa dengan kemampuannya sendiri? Oke, mari kita tanyakan.


“Kaulah yang bodoh Vany,” kataku sembari menatap tajam matanya. “Untuk mengatasi para tentara itu, kau hanya perlu menggunakan teknik tak terlihat milikmu.”


“Tapi bagaimana denganmu?”


Vany cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Huh, kau seenaknya saja.”


Terserah kau mau mengatakan apa kepadaku, karena sejak awal aku sudah tidak peduli akan semua ucapanmu. Dan ya, aku melakukan perjalanan ini hanya untuk membuang setress. “Jadi, kau mau pergi ke tempat yang kau katakan sebelumnya atau tidak?” tanyaku pada Vany.


“Iya, iya, aku akan segera pergi,” ucap Vany sembari berjalan pergi dengan berat hati.


Sebelum Vany keluar dari tempat kami bersembunyi, ia menggunakan teknik tak terlihat miliknya. “Baiklah, apa yang harus kulakukan sekarang sembari menunggunya sampai ke tempat tujuan,” gumamku sambil menguap.

__ADS_1


Berusaha melawan kantuk yang melanda diri ini, aku pun bersandar di dinding gedung tempatku bersembunyi saat ini untuk merilekskan sekujur tubuhku. Saat ini pikiranku terasa kosong dan begitu hampa. Tidak ada yang kupikirkan sekarang ini, dan hanya suara dari hembusan angin yang selalu terdengar oleh telinga ini dan memenuhi ruang kepalaku.


Waktu demi waktu pun berlalu, aku memejamkan kedua mata ini, dan tiba-tiba, aku melihat Vany yang sudah berhenti karena telah sampai di tempat tujuannya. “Ah ... baiklah,” gumamku sembari mengumpulkan semua kekutanku ke sekujur tubuhku lalu memfokuskan pikiran ini supaya dapat menggunakan teknik berpindah tempat dengan menggunakan bayangan.


Dalam sekejap mata, aku sudah berada tepat di depan Vany. Ketika aku menatap wajahnya, Vany tampak masih kesal kepadaku. Mengacuhkan semua itu, aku langsung bertanya kepadanya, “Jadi, di mana tepatnya tempat yang ingin kau tunjukkan padaku itu.”


“Di sini,” jawabnya.


Aku melirik ke sekitar, tidak ada yang istimewa dengan tempat ini, hanya sebuah ruangan kosong dengan sedikit pencahayaan dari langit-langit yang berlubang. “Di sini?” tanyaku mengulang perkataan Vany.


“Iya di sini.”


Aku menaikan sebelah alisku, karena sepertinya dia sedang bercanda denganku. “Ayolah, kita sudah tidak punya waktu untuk bercanda bukan?”


“Sebenarnya kau itu memperhatikanku atau tidak sih?” Mendengar pertanyaannya itu, aku langsung saja memperhatikan dirinya, dan ternyata, sejak tadi dia menunjuk lantai yang sedang kuinjak. Seketika itu aku lantas melompat ke belakang. Aku benar-benar merasa konyol sekarang karena tingkahku yang sangat aneh.


“Ternyata kau memang sedang setress, ya,” kata Vany sekali lagi.


Aku menghela napas ini karena tidak mau berdebat lebih jauh dengannya, karena kupikr itu adalah hal yang sia-sia. Tanpa menghiraukanku, Vany langsung mengangkat pintu kayu yang sebelumnya terinjak olehku. Ketika pintu itu sudah terbuka, aku langsung saja mendekat dan melihat di balik pintu tersebut ternyata ada sebuah tangga yang menjulur ke bawah.


Vany yang telah selesai menggeser pintu itu lantas masuk ke dalam lubang yang memiliki tangga tadi tanpa mengucapkan apa-apa kepadaku. Setelah dia turun cukup dalam, aku akhirnya menyusulnya hingga akhirnya aku mencapai dasar dari lubang tersebut.


Tempat di mana aku berada saat ini adalah sebuah lorong yang gelap gulita, lalu didalam gelapnya lorong ini, aku dapat melihat Vany yang memegang sebuah bola kecil yang memancarkan cahaya berwarna putih untuk menerangi lorong tersebut.

__ADS_1


Sudah cukup lama kami berjalan tanpa berbicara satu sama lain. Aku hanya terus melangkah mengikuti Vany dari belakang tanpa ada niat untuk berjalan di sebelahnya. Ya, aku memang orang brengsek, tetapi aku melakukan ini agar diri ini tidak pernah dianggap ada oleh siapa pun, makanya aku sengaja menjaga jarak.


Beberapa langkah di depan kami, aku dapat melihat cahaya yang berasal dari luar lorong. Lalu tak lama kemudian, angin berhembus dari sana. Vany berbalik dan mematikan cahaya yang terpancar dari bola kecil yang ada di tangannya. “Bagaimana? Apakah ini tempat yang bagus?”


__ADS_2