The Red Game

The Red Game
Chapter 9 : Menyusup Ke Kota Arc


__ADS_3

Hari ini aku merasa sangat tenang karena sejak pagi tadi tidak ada yang bertanya-tanya tentang penyebab peperangan ini. Bisa dikatakan ketenangan yang kudapatkan hari ini berkat usaha kerasku kemarin. Aku merasa lega karena kecurigaan kelompok BlackList padaku sedikit demi sedikit mulai pudar. Cresh dan Vany juga sudah mulai percaya lagi kepadaku.


“Haih, tidak kusangka kalau semua ini akan merepotkanku hingga seperti ini.” gumanku sambil berbaring memandangi langit senja diatas gedung apartemen tua yang menjadi markas aliansi kota utara.


Selang beberapa waktu, suara berisik yang berasal dari halaman gedung mulai terdengar olehku. Saat ini aliansi kota utara sedang bersiap untuk melakukan serangan saat malam tiba. Aku tidak peduli apakan nantinya mereka akan berhasil atau gagal. Karena yang kuinginkan bukanlah membantu mereka agar menang. Aku sedikit memberi bantuan pada mereka karena secara kebetulan jalan yang kami tempuh berpapasan. Jadi aku pasti akan menggunakan mereka sebaik mungkin.


Tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka, lalu seorang laki-laki berambut ungu muncul dari sana. Orang itu tidak lain adalah Cresh. Dia berjalan mendekatiku lalu duduk disebelah aku berbaring.


“Kau tampaknya tidak terganggu sedikitpun dengan dimulainya peperangan ini.” kata Cresh.


“Mereka melakukannya karena keinginan mereka sendiri. Sekarang kita sudah tidak dapat menghentikan mereka. Apa yang bisa kita lakukan adalah merencanakan sebuah rencana yang dapat membuat mereka berhasil.” Terangku.


“1000 orang dibagi menjadi 2 kelompok jumlahnya 500 orang perkelompok. Apakah mungkin mereka dapat memenangkan perang ini?”


“Tingkat keberhasilan dalam rencana yang kubuat memang tidaklah besar, namun bukan berarti tidak akan berhasil.”


Maksud dari perkataanku barusan adalah kita tidak boleh berkata kalau kita akan gagal sebelum mencobanya. Memang benar ini seperti kita sedang bertaruh, namun kehidupan selalu menuntut kita untuk melakukan itu. Karena jika kita tidak berani bertaruh, maka kita tidak akan bisa bergerak maju.

__ADS_1


Cresh terdiam selama beberapa saat lalu kemudian mulai bernyanyi,


*Hari semakin gelap


Nafasku tlah sesak


Langkahku mulai terasa berat


Namun aku harus terus berjalan


...


Kakiku mulai lemas namun tak kuacuhkan


Demi satu tujuan..


Aku ingin lepas dari kekangan ini*

__ADS_1


Dia terus bernyanyi tanpa mempedulikanku. Suaranya cukup bagus untuk didengar. Aku tidak menyangka kalau dia dapat bernyanyi sebagus ini. Namun nyanyiannya ini tidak lain hanya untuk menghibur dirinya. Dia tahu kalau keegoisannya dapat menghancurkan teman-temannya. Maka untuk itu dia hanya dapat mengikuti arus dan selalu melindungi teman-temannya dari bahaya. Sungguh pria yang malang.


Nada suaranya mulai merendah dan akhirnya ia berhenti bernyanyi. Dia mengangkat wajahnya keatas sambil menutup mata. Dilihat dari ekspresinya, ia tampak sedang menahan air matanya agar tidak keluar. Air mata yang ditahanya itu bukan karena ia terlalu menghayati nyanyiannya, melainkan karena ia membayangkan peperangan yang akan terjadi sebentar lagi.


“Sifat rendah hatimu itu tidak pernah berubah ya, Cresh.” Kataku padanya.


“Aku bukanlah orang yang baik. Aku ini hanya seorang pengacau yang tidak berguna.” Dia berkata dengan nada datar sembari menundukkan wajahnya.


“Memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya hanya akan membuatmu depresi. Maka lebih baik kau jalani saja kehidupanmu.”


“Jika dipikir-pikir, ucapan-ucapan dramatis seperti itu hanya biasa diucapkan oleh satu orang teman dekatku dulu. Orang itu adalah Ravel. Aku tidak tahu apakah kau adalah Ravel atau bukan, namun setelah menjalani hari-hari dengan mengobrol denganmu, aku sempat mengira kau adalah Ravel.”


“Mungkin itu benar, mungkin juga salah. Namun yang jelas aku tidak akan memberitahumu.”


“Kau hanya bertingkah seperti orang yang misterius. Namun sebenarnya kau bukanlah orang yang misterius ‘kan”


Aku bangun dan berdiri sambil memandangi matahari tenggelam lalu berkata, “Jika dulu kau tidak berteman dengan orang-orang yang misterius, kau pasti sudah menebak siapa aku ini.”

__ADS_1


Cresh berdiri disampingku lalu berkata, “Ya kau benar, aku dulunya memiliki teman yang misterius. Klaurius Kei dan Luchifer memiliki tato berwarna merah disalah satu sisi pipi mereka. Sedangkan Ravel adalah orang yang selalu menutup wajahnya dengan topeng. Namun dari ketiga orang itu aku menganggapmu adalah Ravel.”


“Kau benar. Aku memang memiliki ciri-ciri yang mirip dengan Ravel, namun belum tentu juga aku adalah dia.”


__ADS_2