The Red Game

The Red Game
[S2] Chapter 2 part 3


__ADS_3

Menyerahkan diri? Dia bercanda? Mana mungkin aku mau melakukannya. Lagipula, dari mana ia mendapatkan kepercayaan diri sebesar itu untuk menghadapiku, benar-benar tidak logis. Jika memang dia hendak bernegosiasi, itu juga tak akan mau aku lakukan, sebab sangat merepotkan. Sebaiknya aku segera menghabisinya saja. Namun, sebelum itu, aku harus menurunkan beban yang menempel di tubuh ini.


“Hei, Vany. Bisakah kau melayang sendiri, ataupun menungguku di bawah?”


Vany memasang wajah cemberut, lalu dengan pasrah ia menerima. “Baiklah, aku akan menunggumu di bawah saja. Selesaikan dengan cepat.”


Perlahan, aku mendarat, menurunkan Vany ketika ia sudah berdiri tegak di atas tanah, di mana terdapat begitu banyak mayat dan darah yang berbau amis. Vany langsung menutup hidung, tak tahan untuk menghirup bau amis yang begitu kental. “Jangan lama-lama, atau kau akan menanggung akibatnya.”


Ancaman? Apakah dia pikir aku akan peduli. Kedatipun ia berkata akan bunuh diri jika aku tak segera menyelesaikan pertarungan, tak akan pernah aku mau menggubrisnya. Karena hal tersebut sangat membosankan dan tidak menarik.


Mata mengamati orang yang tengah melayang sambil mengamatiku, dia mungkin memiliki Teknik Memanipulasi Gravitasi, bukan Teknik Melayang seperti yang digunakan para prajurit tadi. Mungkin dia akan dapat membuatku kesusahan untuk melawannya, tetapi tetap aku yang akan keluar sebagai pemenang.


Segera aku melayang, menatap lurus orang yang sudah sangat siap bertarung melawanku. Nampaknya, serangan yang aku luncurkan beberapa waktu lalu, dapat ia hindari dengan memanipulasi gravitasi. Teknik yang dimilikinya ini sangatlah hebat, jika mahir memakainya. Bahkan bisa saja ia menepis semua serangan dengan memberatkan dan meringankan gravitasi di sekitarnya.


Teknik yang sangat merepotkan. Aku sungguh tak mau berhadapan dengan lawan seperti ini, tapi apa boleh buat, sepertinya tidak ada cara lain lagi. Perlahan aku mengalirkan kekuatan ke sekujur tubuh, rasanya begitu hangat, dan membuat nyaman.


Kutatap mata orang yang ada di hadapanku dengan tatapan kosong, pertarungan yang membosankan pasti akan segera terjadi. “Sebaiknya kau persiapkan dirimu untuk berangkat ke alam lain.”


“Hahaha, kau begitu percaya diri dengan kemampuanmu, Luchifer.” Orang itu mengisi peluru pada pistol di tangannya. “Aku adalah Karel, si penguasa daratan.”

__ADS_1


Penguasa daratan? Apa itu? Sebuah julukan hampa tanpa ada makna?


Butiran-butiran berwarna hitam yang keluar dari telapak tangan, langsung membentuk sebuah pedang panjang. Sama seperti sebelumnya, aku dapat menggerakkan pedang itu tanpa perlu menyentuhnya. Memang, tak perlu bagiku untuk menghawatirkan pelindung, menjadikan Vany sebagai sandera juga dia tak dapat, karena aku telah membuat sebuah pelindung tak terlihat di sekeliling gadis itu.


“Kau yakin akan melawanku hanya dengan bersenjatakan pistol itu?” Ingin rasanya aku tertawa melihat betapa menyedihkannya dirinya.


Tiba-tiba saja, Karel melayang dengan cepat di hadapanku, ujung pistolnya terarah, lalu sebuah peluru ia tembakan. Tanpa perlu bagiku untuk menghindar, serangannya langsung tertahan oleh pelindung tak terlihat milikku. Ia kemudian mundur, karena telah mengerti kalau serangannya tak akan berefek apa pun padaku.


Karel tersenyum, aku tak tahu apa artinya, tetapi mungkin dia menyiapkan sebuah jebakan. Tetapi apa? Mata melirik ke sana kemari, mengamati sekitar agar tahu apakah ada yang janggal. Namun nihil, tidak ada hal aneh di sekitar sini. Jadi, bagaimana cara ia akan mengalahkanku jika tak mempunyai strategi.


“Sudah kuduga kau itu sangat unik, Luchifer.” Karel melemparkan pistol di tangannya. “Saat di mana orang-orang hanya memiliki satu kemampuan, kau memiliki seribu kemampuan berbeda. Aku ingin tahu bagaimana caranya kau mendapatkan kekuatan yang curang itu.”


Sudah berulang kali aku merasakan apa itu kesedihan, dan tentu hal tersebut membuat terpuruk bahkan frustasi. Namun, semuanya pasti memiliki makna, baik ataupun buruk. Selain itu, aku juga ingin menegakkan keadilan di negara yang kejam ini. Salah satu janji yang pernah kuungkapkan dalam hati.


Yah, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mulai membuat onar. Mengalahkan salah satu komandan pasukan ini, juga bisa dijadikan sebagai tolak ukur kekuatan. Akan tetapi, aku sedang tak mau bermain-main, jadi kubereskan dengan cepat saja.


Dengan mengaktifkan Teknik Berpindah Tempat, diri ini langsung berada di belakang Karel. Pemuda itu hanya bergeming, tetapi sesaat kemudian, tekanan gravitasi di sekitarku, langsung terasa berat.


“Bodoh.” Lengan kiri kugerakkan secara horizontal ke arah si pemuda. Pedang hitam pun langsung melayang ke arahnya.

__ADS_1


Mendadakak, Karel melesat dengan cepat ke depan, sehingga pedangku tak dapat mengenai tubuhnya. Sudah aku duga, ahli manipulasi gravitasi adalah lawan yang merepotkan. Mereka dapat dengan mudah melayang dengan mengandalkan tekanan dari gravitasi itu sendiri.


“Ternyata kekuatanmu lebih dari yang aku bayangkan, Luchifer.”


Tunggu dulu, aku merasa ada yang aneh di sini. Kenapa dia dapat mengenalku? Mengetahui kalau aku adalah Luchifer. Padahal tak pernah aku menyebutkan namaku. Apakah gumamanku yang sangat pelan beberapa waktu lalu, dapat ia dengar. Kalau itu benar itu adanya, aku akui kalau pendengarannya sangat tajam.


Tubuh menjadi lebih rileks, Karel tampak tersenyum tipis. Aku pun menatap kosong ke arahnya, lalu mulai membuka mulut. “Kau ... bagaimana kau bisa mengetahui identitasku?”


“Hahaha.” Karel tertawa lepas, dan segera berhenti. “Siapa yang tidak mengenalmu, Klaurius Luchifer si pembantai.”


“Jangan bilang kalau kau ....”


“Itu benar, Luchifer.”


Sial, ini menjadi lebih rumit dari perkiraanku. Pada waktu itu aku tak tahu siapa saja yang telah kubunuh, bisa saja ada anggota keluarga Klauruis yang lain, selain aku dan Vany yang masih hidup.


“Harus dibersihkan seluruhnya ...,” gumamku perlahan sambil menundukkan kepala. Pedang hitam tadi langsung memecah menjadi butiran kecil, dan mengambang di sekitar tangan kiriku.


Kepala kembali tengadah, menatap lurus ke arah Karel. Akan sangat mengganggu jika ada satu orang dari keluarga Klaurius yang membantu Negara Alastein. Karena rata-rata, orang yang lahir dari keluarga itu sangat kuat dan berbakat. Bahkan tumbuh dalam ruang percobaan agar mendapatkan kekuatan adalah hal biasa.

__ADS_1


Teknik Mempercepat Diri, kugunakan agar dapat dengan segera meluncur ke arah Karel. “Sebaiknya kau tetap tenang agar kematianmu tidak menyakitkan.”


__ADS_2