The Red Game

The Red Game
Chapter 2 part 2


__ADS_3

Kei PoV


“Kira-kira begitulah awal pertemuan kami bertiga sehingga pada akhirnya menjadi sahabat,” kata Cresh.


“Ya, aku sudah paham inti dari ceritamu. Tapi aku masih belum tahu apa hubungan cerita ini dengan apa yang aku tanyakan padamu.” Aku mengeluh pada Cresh.


“Haih, bisa tidak kau simpan dulu keluhanmu itu sampai aku menceritakan semuanya hingga selesai, Tuan Kei.”


“Waktuku terlalu berharga untuk disia-siakan tahu.”


“Jadi, kenapa kau bertanya jika ceritaku ini menyita waktumu yang berharga itu? Bukankah seharusnya kau membiarkannya saja?”


“Hanya untuk ‘jaminan’.”


“Jaminan? Apa maksudmu?” Cresh sedikit menaikan nada suaranya.


Sebaiknya aku tidak segera menyinggung tentang apa yang kumaksud dengan 'jaminan'. Karena akan berbahaya jika Vany juga ikut mendengarkan.


Mungkin perlu sedikit kesabaran sekarang. Selain itu, aku juga penasaran kenapa Cresh mengatakan kalau pembatai keluarga Klaurius adalah Luchifer.


Menurutku, dia tidak akan semudah itu menyalahkan sahabat masa kecilnya. Atau mungkin Luchifer yang merupakan sahabatnya dan Luchifer yang membantai keluarga Klaurius adalah orang yang berbeda.


Sepertinya ini mengarah pada suatu insiden yang menarik untuk didengarkan.


“Vany, apa kau bisa membawa makanan ringan ke sini sebelum kita mendengarkan kelanjutan dari kisah romantis tentang cinta segitiga antara Cresh, Kei, dan Luchifer,” kataku pada Vany agar dia pergi dari sini untuk sementara waktu.


“Cinta segitiga apanya? Apa kau pikir aku ini gay?” Cresh—yang tampak kesal, langsung menyahut.


Sebenarnya aku sudah menutup telinga agar suara itu tidak terdengar, tetapi masih cukup untuk menahannya.

__ADS_1


“Hihihi, sepertinya sinetron terbaru itu akan sangat menarik.” Vany semakin menyulut api yang sudah kubuat. “Kalau begitu, tunggulah aku sebentar untuk mengambil beberapa cemilan sebelum kisah itu dimulai.”


“Oke!”


Setelah Vany pergi, aku mengaktifkan Teknik Pendeteksi untuk memastikan ada tidaknya orang yang hendak menguping pembicaraanku dengan Cresh.


Karena tidak ada yang menguping, aku akhirnya memulai pembicaraan.


“Cresh, apa aku boleh menanyakan satu hal padamu?”


“Aku tidak—”


“Kali ini bukanlah sebuah lelucon.”


“Terserah kau saja. Tapi aku tidak berjanji akan menjawabnya.”


“Baiklah, aku akan langsung pada intinya saja. Ekhm .... Apa kau mau bekerja sama denganku untuk mengalahkan sang penguasa?”


“Aku tidak mempunyai keinginan untuk melakukan itu. Aku hanya ingin kita bekerja sama sementara waktu agar dapat mengalahkan sang penguasa.”


"Dengan kata lain, kau sudah membentuk sebuah kelompok untuk mengalahkan sang penguasa. Namun, karena kau masih kekurangan anggota, kau bermaksud untuk membuat aliansi dengan kelompok lain, seperti BlackList?"


“Membentuk sebuah kelompok itu saja sudah sangat merepotkan. Apalagi jika harus membuat aliansi secara bertahap. Mana mungkin aku sanggup melakukannya”


“Jadi, apa maksudmu sebenarnya.”


“Kita akan membuat sebuah aliansi secara tidak langsung untuk menyerang ‘Pengadilan’ dan mengalahkan 'Sang Penguasa'.”


“Bagaimana mungkin kau bisa melakukan hal seperti itu.”

__ADS_1


“Aliansi terbentuk karena tujuan yang sama. Kuharap sejauh ini kau sudah mengerti apa artinya.”


Hening ....


Selang beberapa saat, Vany datang dengan cemilan dan teh hangat. Untung saja dia datang pada waktu yang tepat. Karena sekarang hendak ditentukan, apakah negosiasi yang kulakukan akan berhasil atau gagal.


“Ketua, bagaimana lanjutan kisah cinta segitiga kalian?” goda Vany setelah menaruh bawaannya di meja.


“Akan kupertimbangkan.” Cresh menjawab dengan serius.


“Ada apa ini, Ketua?”


“Biarkan dia mempertimbangkannya dulu, Vany!” Aku langsung memotong.


Vany menaikkan sebelah alis dan menatapku dengan heran. Akan tetapi, dia nampaknya sudah tidak begitu tertarik untuk bertanya.


“Oke. Aku mengerti.” Ia pun duduk di atas kursinya.


Cresh terlihat sangat serius menanggapi tawaranku. Jelas dia akan menjadi bingung karena hal ini, sebab keputusannya dapat mempengaruhi kejadian di masa depan.


Namun, jika saat ini Vany terus mendesak dia untuk menceritakan kisahnya, maka mau tidak mau ia pasti akan bercerita. Maka dari itu, aku membuat Vany berhenti mendesak Cresh.


Karena keputusan apakah Cresh akan menceritakan rahasianya kepadaku atau tidak, ini akan menandakan pernyataan setuju atau tidak setuju. Aku yakin dia sudah mengerti sejak aku mengatakan kalau cerita ini akan dijadikan sebagai jaminan. Dan kuharap dia juga mengerti kalau aku tidak ingin kerja sama ini diketahui oleh orang lain. Dan apa pun keputusannya nanti, aku tetap akan menghargainya.


Cresh menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.


“Setelah kupertimbangkan. Aku akan menceritakan kejadian itu pada kalian. Tapi kalian harus berjanji untuk tidak pernah menyebar luaskan tentang kejadian itu.”


Jadi kesimpulannya, dia setuju untuk bekerja sama denganku. Mungkinkah dia mempertimbangkan kejadian semalam.

__ADS_1


Dan nampaknya sekarang dia mengerti kenapa aku membuat kejadian yang heboh seperti semalam. Karena alasanku melakukannya adalah untuk membuat Cresh mempertimbangkan tentang kerjasama ini dengan cara menarik perhatian dan mendapatkan kepercayaan.


“Karena kalian sudah menunggu, aku akan mulai menceritakannya.”


__ADS_2