
“Nathaniel, apa kau sangat ingin mengalahkan sang penguasa?”
Aku bertanya pada Nathaniel saat kami sedang berkebun dipagi hari yang begitu menyegarkan.
“Ada apa denganmu, tiba-tiba menanyakan hal itu?”
“Sebenarnya aku sudah merancang rencana untuk itu. Namun aku sangat membutuhkan rekan untuk menjalankannya. Kupikir_”
“Ya, aku akan membantumu menjalankan rencana itu.” Potong Nathaniel.
“Sebelum itu, aku punya pertanyaan untukmu. Apakah dikota ini ada sebuah kelompok besar?”
Untuk menjalankan rencana ini, pertama-tama aku harus mengkomfirmasi apakah ada kelompok besar disini. Jika memang benar adanya maka semuanya akan sangat mudah.
“Kurasa aku memang pernah mendengar ada kelompok besar dikota ini. Tapi tidak ada yang tahu apakah itu benar atau tidak. Mungkin akan lebih baik jika kita menganggapnya tidak ada.”
Dia membuat kesimpulan seperti itu hanya karena meragukan kebenarannya. Jujur saja ini sangat bodoh. Tidakkah dia pikir ada orang-orang yang sengaja membuat kita meragukan kebenaran itu untuk menutupinya. Sepertinya dia harus diberikan pemahaman lebih akan hal ini.
“Apa kau pernah mendengar rumor tentang dimana mereka?” aku lanjut bertanya.
“Seingatku ada yang mengatakan kalau mereka bermarkas di perumahan Klaurius.”
Perumahan Klaurius? Kau bercanda ya. Aku sudah pernah pergi kesana dan tidak menemukan adanya tanda-tanda keberadaan manusia disana. Kalau memang benar rumor mengatakan markas mereka disana, maka sudah pasti itu tidak benar. Ini membuang waktu saja.
Tidak, tunggu. Jika memang rumor mengatakan kalau mereka bermarkas ke perumahan Klaurius yang merupakan pusat penelitian. Jika dipikirkan lebih jauh maka..,
“Nathaniel, dimana letak pusat penelitian selain perumahan Klaurius?”
“Setahuku tidak ada pusat penelitian selain perumahan Klaurius.”
“Hm.., tidak ada ya. Kalau begitu keluarga mana saja yang membantu mengembangkan penelitian itu?”
Sebenarnya ini adalah sebuah teka-teki sederhana. Untuk mengetahui rumor itu aku hanya perlu mencari tahu intinya. Dalam teka-teki ini, yang menjadi intinya adalah ‘Pusat Penelitian’. Maka dari itu aku hanya perlu mencari tahu lebih banyak tentangnya.
“Mungkin keluarga Vallencius.”
“Ok. Setelah kita selesaikan pekerjaan ini, mari kita selidiki tentang mereka.”
“Meskipun aku tidak paham situasinya. Aku akan ikut denganmu.”
Tenang saja, ini akan menarik untuk dilihat.
*****
Setelah kami selesai berkebun, aku dan Nathaniel pergi ke perumahan Vallencius. Disana terlihat sangat tenang. Jika kita melihatnya sekilas maka sudah pasti akan menganggap tidak ada orang disini. Tetapi tipuan seperti ini tidak akan membuatku menyerah.
“Jadi apa yang akan kita lakukan disini?” tanya Nathaniel.
“Hanya memainkan peran sebagai detektif saja. Tidak lebih dari itu.”
“Detektif? Maksudmu menyelidiki tempat ini?”
__ADS_1
“Ya kira-kira seperti itulah.” Aku mempercepat langkahku, “Untuk itu kita perlu berpencar agar misteri ini terpecahkan.”
“Baiklah, aku akan mencari kearah barat.”
“Ya.”
Untuk menjalankan rencana besar ini aku perlu menjauh dari Nathaniel. Akan berbahaya jika dia terus berada didekatku. Setidaknya dia akan curiga pada apa yang akan kulakukan.
Aku terus berjalan lurus menuju sebuah Villa besar. Bagian luar Villa itu sangatlah kotor oleh bercak-bercak berwarna hitam. Bercak hitam itu bukanlah tanah atau sejenisnya, melainkan darah yang sudah mengering. Tidak mengherankan jika Villa ini tidak dihuni.
Dilantai teras Villa itu juga terdapat bercak hitam dan penuh debu, sampai membuatku tidak ingin menginjaknya.
>Baam<
Aku menendang pintu masuk yang tertutup agar bisa masuk. Bisa dikatakan aku sangat tidak sudi untuk menyentuh gagang pintu itu.
Didalam ruangan itu tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang. Mengabaikan keadaan aku terus berjalan lurus menuju sebuah ruangan yang tidak memiliki pintu. Ruangan itu cukup kecil dengan 1 tempat tidur, 1 meja belajar, dan 1 buah lemari.
Aku mengamati tempat tidur itu dengan teliti. Lantai dibawah tempat tidur itu terlihat bersih. Sudah sangat jelas kalau ini aneh. Untuk berjaga-jaga aku menggunakan teknik merubah wujud lalu memakai sebuah topeng hitam yang kubuat dengan kekuatanku.
“Hm.., kurasa wujud ini agak gemuk dari tubuh asliku.” Gumanku sambil memperhatikan kedua tanganku.
Memasukkan tanganku didalam saku, aku menendang tempat tidur itu hingga hancur berkeping-keping. Aku terus maju lalu menendang hancur didinding yang dihalangi oleh tempat tidur tadi. Dibalik dinding itu terdapat sebuah ruangan kecil kosong dan lantainya dilapisi oleh tikar.
“Ini merepotkan. Kalian seharusnya tidak perlu membuat jalan rahasia seribet ini.” keluhku.
Aku mengumpulkan sedikit kekuatan pada kaki kananku lalu menendang lantai dengan tumitku. Lantai ruangan itu roboh seketika. Dibalik reruntuhan lantai itu terdapat tangga yang menuntun jalan ke ruang bawah tanah. Sudah kuduga ini adalah teka-teki klasik.
Saat aku terus berjalan dengan tenang, tiba-tiba aku merasakan keberadaan seseorang. Orang itu maju menyerangku dengan sebilah pedang. Aku dengan sigap menghindari serangan itu dengan melompat kebelakang. Dia maju memperpendek jarak lalu menebaskan pedangannya secara vertikal. Dengan tenang aku menangkap pedangnya dengan tangan kananku lalu mengahancurkannya. Melihat itu dia langsung melompat kebelakang lalu menembak.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan menggema diruangan. Aku dengan cepat menghindar dan memperpendek jarak dengan orang yang menyerangku lalu menendangnya hingga ia terlempar sangat jauh.
Tiba-tiba aku merasakan aura kehadiran banyak orang dari depanku. Aku mundur beberapa langkah lalu menekan auraku dan menyatu dengan kegelapan.
“Semuanya coba lihat ini!” teriak salah satu dari mereka.
“Ada apa?” tanya yang lainnya.
Aku mulai memperpendek jarak dengan mereka perlahan-lahan. Melangkah dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Secara kebetulan ada yang terpisah dari kelompok itu. Langsung saja aku menyergap dan menutup mulutnya dengan tangan kananku.
“Hallo!” aku berbisik padanya.
Dia mulai menjadi panik dan mencoba melepaskan tanganku darinya. Aku mengumpulkan kekuatan pada tangan kiriku lalu menebas lehernya. Tubuhnya ambruk dan kepalanya masih berada digenggamanku. Untuk memanfaatkan kepala itu, aku mengalirkan kekuatan apiku pada kepala itu lalu mengubahnya menjadi bola api. Setelah bola api itu terbentuk aku melemparkannya pada sekelompok kelompok orang tadi.
“Awas!! Ada serangan.” Teriak salah satu dari mereka.
Tidak butuh waktu lama, bola api dari kepala tadi berhasil ditahan. Setelah menahan serangan itu, 3 orang dari mereka melesat kearahku. Orang pertama menebaskan pedang yang dilapisi oleh api secara horizontal padaku. Melihat itu aku langsung melompat agar dapat menghindar.
Orang kedua melompat lalu menyerangku dari depan dengan tombak berlistrik. Pelindungku tiba-tiba aktif dan menahan serangan itu. Saat aku hampir mendarat, orang yang menggunakan pedang api dan palu besar menyerangku dari dua arah. Dalam keadaan terdesak itu, aku mengalirkan kekuatanku keudara lalu membentuk bola angin.
__ADS_1
>Boom<
Bola angin yang sangat besar meledak menghancurkan ruang bawah tanah dan menyerang musuh-musuhku. Cahaya matahari menyinari reruntuhan ruang bawah tanah. Villa besar yang berada diatasnya hancur berkeping-keping.
Belum saja aku sempat beristhirahat sejenak, serangan jarak jauh yang berpariasi menyerangku. Disaat-saat seperti ini aku sangat ingin mengeluh. Tetapi tidak ada waktu untuk melakukannya. Ini sangat menyebalkan. Aku menghela nafasku lalu melayang dan menunggu.
Serangan bertubi-tubi itu berhasil ditahan oleh pelindungku yang akan aktif saat terdesak. Sebenarnya sangat tidak menyenangkan memiliki kekuatan seperti ini. Karena kekuatan ini membuatku tidak bisa merasakan senangnya pertarungan. Oleh karena ini juga aku tidak dapat merasakan apa yang namanya sakit karena terluka. Sungguh membosankan bukan.
Beberapa saat kemudian serangan berhenti. Kumpulan asap tebal menutupi padangan. Aku melayang lurus kedepan mengabaikan asap-asap itu.
“Hanya itu kemampuan kalian?” tanyaku pada mereka yang menyerangku.
Mereka sangat terkejut melihatku keluar dari kumpulan asap tanpa terluka sedikitpun. Hal itu memang sangat wajar, karena tidak ada manusia biasa yang bisa bertahan dari serangan bertubi-tubi seperti tadi. Tetapi aku berbeda dari mereka. Aku dapat menahan serangan tadi karena aku memiliki dewa pelindung yang sangat aku benci.
“B-bagaimana kau bisa bertahan dari serangan tadi?” tanya salah satu dari mereka padaku.
“Seperti yang kebanyakan orang lakukan, aku hanya menahan serangan itu.” Jawabku.
“Mati kau dasar monster!” Teriaknya sambil menyerangku secara membabi buta dengan pedangnya.
“Kau tidak mempunyai hak untuk menyuruhku mati.”
Aku dengan santai menghindari semua tebasan pedangnya. Dia menebaskan pedangnya secara horizontal kearah leherku. Dengan mudahnya aku menghindar dengan berjongkok lalu menusuk perutnya dengan tangan kananku.
Darah mengalir dan membasuh tanganku. Perut orang itu terluka parah akibat seranganku. Aku menarik usus diperutnya sampai mencurat keluar. Darah membasahi topeng dan bajuku, lalu tubuh orang itu ambruk disampingku.
Aku berdiri dan memandangi orang-orang yang menyaksikan pertarungan kami. Dari sini aku dapat melihat mereka semua mulai dan bahkan muntah melihat apa yang sudah kulakukan. Aku dapat tahu kalau kenapa mereka seperti itu.
Dulu disaat pertama kali aku melihat adengan seperti ini, aku juga sangat jijik melihatnya. Ada juga perasaan aneh saat menyaksikannya. Tetapi sekarang aku sudah terbiasa karena sudah banyak menyaksikan hal ini.
“Sebelum kalian pergi, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian. Kalian bebas mau menganggap ini sebagi peringatan atau bukan. Tapi yang jelas, setelah aku mengalahkan kalian semua. Tujuan kami selanjutnya adalah membersihkan kota utara.” Kataku.
Aku mengalirkan kekuatan listrik dikedua tanganku.
“Tapi kalian tidak boleh berpikir bisa hidup setelah mendengar apa yang kukatakan.” Aku melanjutkan.
Mereka menjadi panik dan berlarian tanpa arah. Aku melayang dengan cepat dan menebas mereka satu per satu.
Setelah beberapa saat, hanya satu orang yang tersisa dari kelompok itu. Dia berdiri tegak sambil membawa dua bilah pedang ditangannya. Keberaniannya ini patut untuk dipuji. Dia menolak untuk mati tanpa melawan. Aku berhenti beberapa meter didepannya.
“Karena kau sangat berani menantangku, maka aku akan berbaik hati membiarkanmu menjadi bawahanku.” Kataku padanya.
“Maaf jika aku harus menolak tawaranmu.” Dia menolak tawaranku dengan sopan.
“Itu berarti kau harus ma_”
Sebelum aku menyelesai kata-kataku, dia tiba-tiba sudah berada disampingku lalu menebaskan kedua pedangnya secara bergantian. Aku dengan susah payah menghindari serangkaian serangan cepat itu. Karena terdesak aku melompat kebelakang.
Tanpa kusadari dia sudah berada dibelakangku lalu menebaskan kedua pedangnya dari arah yang sama. Kekuatan pelindungku aktif lalu melempar orang itu hingga beberapa puluh meter sampai membuat sisa-sisa reruntuhan hancur.
Aku memperpendek jarak antara kami. Dia terbaring tak sadarkan diri karena terluka sangat parah akibat serangan kejutan dariku tadi. Pertarungan kali ini cukup menguras kekuatanku. Tetapi aku juga menjadi puas. Selama beberapa waktu ini aku tidak pernah bertarung dengan orang semenarik dia. Namun sangat disayangkan karena dia mati.
__ADS_1
“Baiklah, saatnya aku pulang.” Gumanku sembari pergi dari tempat itu secepat mungkin.