The Red Game

The Red Game
Chapter 7 part 1


__ADS_3

Kami para anggota BlackList berkumpul untuk membahas siapa yang akan maju menjadi peserta. Tetapi sebelum kami mulai berdiskusi, Cresh mengajakku pergi ke sebuah tempat yang sunyi. Tidak ada siapapun disana selain kami berdua.


Angin berhembus menerbangkan debu disekitar kami. Raut wajah Cresh menjadi serius saat menatapku. Aku sudah tahu apa yang ingin dibicarakan olehnya. Meskipun begitu, aku akan tidak berniat untuk menghindarinya.


“Kau sudah tahu alasanku mengajakmu kesini kan, Kei.” Cresh mengatakan itu dengan nada dingin.


“Ya begitulah. Aku tidak berniat untuk menyangkalnya.” Kataku membenarkan.


“Kalau begitu ini akan semakin mudah. Bagaimana caramu menjelaskannya.”


Aku tahu dia sangat curiga padaku karena pernah membahas tentang aliansi untuk menyerang sang penguasa. Kecurigaan ini tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Untuk itu aku akan mengatakan padanya tentang kebenaran dari semua ini.


“Jika aku menjawab kalau aku yang menciptakan terjadinya aliansi ini, apa yang akan kau lakukan padaku?”


Didalam pertanyaan itu, aku menyisipkan masih ada kemungkinan aku terlibat. Tergantung bagaimana Cresh menggunakan pertanyaanku itu. Ia bisa saja membuatku mengaku, atau bisa saja aku lolos dari kecurigaannya. Bisa dikatakan kalau ini adalah sebuah pertaruhan antara hidup dan mati.


“Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Jika memang kau yang melakukannya, maka biarkanlah seperti itu. Lagipula semuanya sudah terjadi, kita tidak dapat merubahnya.”


Ini merepotkan. Dia mengatakan sebuah pernyataan yang tidak dapat membuatku lolos dari kecurigaannya. Jika aku menjawab ‘aku tidak melakukannya’ dia hanya akan curiga. Dan jika aku menjawab ‘aku yang membuat semua ini terjadi’ pasti masih ada kecurigaan yang tertanam dalam dirinya.


Aku menghela nafasku, “Ini sangat merepotkan. Dalam kasus ini kita tidak bisa mencapai sebuah kesimpulan yang dapat disepakati. Jawaban iya dan tidak sangat susah untuk dibuktikan kebenarannya. Aku tidak akan mempermasalahkan tanggapanmu padaku seperti apa. Kau boleh melakukan segala cara untuk memperjelas ini.”


Dalam kata-kata yang kuucapkan itu, tersirat sebuah pesan yang sangat sederhana didalamnya. Pesan tersirat itu adalah ‘jika kau menganggapku teman, maka kau tidak akan mencurigaiku’.

__ADS_1


Cresh menghela nafasnya, raut wajahnya menjadi santai kembali.


“Kau benar. Tidak ada gunanya kita memperdebatkan hal itu sekarang. Kupikir pembicaraan ini kita sudahi saja. Melanjutkannya hanya akan merusak pertemanan kita.”


“Jadi kesimpulannya masalah ini sudah selesai?”


“Yah, semacam itulah.”


Pada akhirnya percakapan ini hanya mencapai sebuah kesimpulan yang ambigu. Meskipun Cresh mengatakan kalau masalah ini sudah selesai, tetapi sebenarnya dia masih akan menyelidikinya. Aku tidak tahu apakah itu benar, namun yang jelas aku harus terus waspada mulai sekarang.


Kami kembali berkumpul bersama dengan kelompok BlackList. Saat Cresh ingin membahas tentang siapa yang akan menjadi peserta yang mewakili BlackList, Vany mengatakan kalau mereka sudah menentukan siapa saja orangnya.


Aku tidak peduli siapa orang yang akan mewakili BlackList. Jika mereka memutuskan untuk tidak membiarkan aku ikut serta, aku juga tidak peduli. Meskipun ada orang yang menantangku. Aku tidak tertarik untuk menerimanya.


“Jadi siapa yang akan mewakili kita?” tanya Cresh pada Vany.


Aku menatap Vany, “Eh? Kenapa aku?” kataku.


Wili meletakkan tangannya kebahuku, “Tentu saja itu sebagai hukuman untukmu.” Katanya sambil tersenyum riang.


“Aku tidak merasa perlu diberi hukuman.”


“Kau sangat pantas untuk dihukum. Lagipula tidakkah kau bangga dapat dipercayai untuk mewakili BlackList?”

__ADS_1


Sebuah provokasi murahan. Dia pikir aku akan terpancing oleh itu. Maaf saja aku tidak akan masuk dalam perangkapmu.


“Bukankah kau lebih pantas untuk mewakili BlackList? Dibandingkan denganku, kau memiliki lebih banyak peluang untuk menang. Apa aku salah?”


Bagaimana dengan ini hah? Kau pikir hanya kau yang bisa memprovokasi. Dalam masalah itu kau tidak akan bisa mengalahkanku.


“Ya, itu memang benar sih. Tapi ini keputusan kami. Aku tidak bisa merubahnya sesuka hatiku.”


“Haih, tadinya kupikir kau sangat bisa diandalkan sebagai seniorku. Ternyata aku salah tentang itu.”


“Oh tidak, tidak, tidak. Kau tidak salah tentang itu.” Wili jadi membara, “Akan kutunjukkan padamu kalau seniormu ini sangat bisa diandalkan.”


Dia mendekati Vany, “Yo Vany. Aku pikir akan lebih baik jika aku yang menggantikan Kei. Dia tampak kesusahan dan tidak yakin akan kemampuannya. Jadi sebagai seniornya aku_”


“Tidak. Itu tidak diperbolehkan.” Vany dengan segera menjatuhkan harapan Wili.


Sepertinya aku sudah tidak punya pilihan lain lagi. Mau tidak mau aku harus mengikuti turnamen itu, tapi aku tidak berencana untuk menang. Mungkin nanti aku akan langsung mengalah saat pertandingan pertama.


“Kau memang senior yang tidak berguna.” Kataku pada Wili.


“Tidak, aku ini sangat bisa diandalkan.”


“Berbicara tanpa bukti itu hanya omong kosong.”

__ADS_1


“Ini fakta!!”


Wili sangat kesal karena aku terus mengejeknya dan begitulah seterusnya.


__ADS_2