
2 minggu sudah berlalu sejak aku menyerang kelompok yang bermarkas dikediaman Vallencius. Waktu itu saat aku kembali ke markas bersama Nathaniel, dia langsung mengatakan kejadian itu pada Cresh. Sudah jelas Cresh curiga padaku, tetapi berkat alasan yang kukatakan dengan segala cara. Dan aku juga beruntung Vany membantuku menjelaskan kalau aku ini penakut. Berkat semua tindakan pencegahan yang sudah sejak lama kulakukan, aku akhirnya selamat.
Sekarang ini, semua orang yang tinggal dikota utara sedang berkumpul disebuah lapangan yang luas. Meskipun kota ini terlihat kosong tanpa penghuni, namun ternyata cukup banyak orang yang tinggal disini. Ini memang wajar karena kota ini sangat besar.
Ditengah-tengah lapangan terdapat sebuah bis tua yang sudah tidak layak dipakai. Seseorang berdiri diatas bis itu sambil mengamati semua orang yang hadir disini. Melihat itu orang-orang mulai berbisik satu sama lain. Apa yang mereka bisikkan adalah orang yang berada diatas bis itu adalah seorang perempuan tinggi, dengan rambut pirang panjang dan berpakaian seksi.
Melihat penampilannya itu, sudah jelas orang-orang akan heran dan bertanya-tanya. Apa mungkin perempuan itu mampu memimpin pertempuran.
“Hei Nona. Bisakah kau segera panggilkan orang yang mengundang kami kesini?” kata orang yang ada didepanku.
“Akulah orang yang mengundang kalian semua.” Jawab perempuan itu.
“Ayolah jangan bercanda. Bagaimana mungkin kamu adalah orang yang mengundang kami.”
Dia nampaknya sangat yakin kalau perempuan itu tidak pantas menjadi pemimpin. Tetapi jika dipikirkan baik-baik, orang yang mengundang semua orang yang disini adalah kelompok besar yang anggotanya lebih dari 300 orang.
“Sepertinya kau tidak percaya padaku.”
“Bukankah itu sudah jelas. Mana mungkin seorang perempuan sepertimu dapat memimpin sebuah kelompok besar.”
Pandangan perempuan itu berubah. Sorot matanya begitu tajam. Akan kacau jika perdebatan mereka berlanjut.
“Kupikir dia memang orang yang mengundang kita.” Kataku pada laki-laki berbadan besar yang berdebat dengan perempuan diatas bis.
Dia berbalik memandangiku, “Hah? Dari kelompok mana kau? Bisa-bisanya kau memerintahku yang merupakan ketua Serigala Merah.”
Nada bicaranya terdengar sangat meremehkanku. Aku tahu dia pasti menganggapku lemah karena melihat tubuhku yang kurang berisi ini.
__ADS_1
“Menilai buku dari sampulnya itu tidak baik lho.”
“Apa kau bilang?”
Dia langsung melancarkan tinjunya ke wajahku. Aku dengan santai menangkap serangan itu. Tidak terima tinjuannya ditangkap, dia melancarkan tinju lainnya. Namun itu sia-sia, aku dengan santai dapat menangkapnya juga.
Aku melancarkan tendangan pada selangkangannya sebelum dia menyerang lagi. Dia langsung berguling-guling ditanah sambil memegangi selangkangannya.
“Aku sudah bilang ‘kan. Tidak baik menilai buku hanya dari sampulnya saja.”
“Wah, wah, wah. Aku tidak mengira ada orang sepertimu disini.” Perempun diatas bis tadi turun dan berbicara padaku.
“Bagaimana kalau kau menjadi regu penyerang garis depan bersamaku?” sambungnya.
“Maaf tapi aku tidak suka pertarungan.” Jawabku.
Aku tidak peduli kenapa dia masuk dalam percakapan ini, tetapi aku lega dia mengatakan itu. Dengan ini aku akan berada digaris belakang sebagai regu penyuplai.
“Kalau begitu mau bagaimana lagi. Kalau berubah pikiran cari aku saja.” kata perempuan itu sembari kembali keatas bis.
Tatapan orang-orang mulai beralih kepadaku. Mereka menatapku dengan tatapan yang berbeda-beda. Hal ini benar-benar menggangguku. Disaat seperti ini aku tidak tahu harus berbuat seperti apa. Yah mungkin lebih baik aku tidak mempedulikan mereka saja.
Aku memasukan kedua tanganku kedalam saku celanaku dan bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi. Karena tindakanku itu, orang-orang mulai memalingkan pandangan mereka dariku. Fiuh, akhirnya kedamaianku kembali. Namun itu tidak berlangsung lama.
Orang yang kukalahkan tadi tiba-tiba mendekat dan menatapku dengan tatapan dingin. Aku tahu apa arti dari tatapannya itu. Dia pasti sangat kesal karena aku menghancurkan harga dirinya sebagai seorang ketua kelompok. Karena hal itu perhatian orang-orang mulai terarah pada kami.
“Jika kau terus menatapku seperti itu, jangan salahkan aku nanti jika kau kehilangan salah satu tanganmu.” Kataku memperingatkannya.
__ADS_1
“Hah? Kau pikir siapa yang sedang kau ancam?” bentaknya.
“Aku tidak peduli.”
“Kau mengejekku ya?”
“Bagaimana kalau begini saja.” aku melambaikan tanganku pada perempuan yang ada diatas bis.
Dia merespon lambaian tanganku itu, “Ada apa?” tanyanya.
“Aku punya sebuah usulan. Bagaimana kalau kita mengadakan pertandingan untuk menentukan ketua aliansi ini.” usulku padanya.
“Hm, sepertinya itu bagus. Tapi bagaimana cara menentukan para pesertanya?”
“Setiap kelompok diperbolehkan untuk mengirimkan paling banyak 2 orang sebagai peserta. Setiap kelompok diperbolehkan untuk memilih ikut atau tidak, tapi yang jelas ini adalah pertarungan individu.”
“Itu ide yang bagus.”
“Jadi apa kaitannya dengan masalah kita?” tanya orang yang menatapku tadi.
“Yang terjadi diatas arena tidak perlu diungkit lagi setelahnya. Bagaimana dengan itu.” Aku menambahkan tanpa mempedulikan pertanyaan orang itu.
“Kurasa itu bagus. Baik kita jalankan usulanmu itu.” Perempuan berambut pirang itu menyetujui usulku.
“Kuharap disana kita bisa menyelesaikan masalah kita.” Kataku pada orang yang menatapku.
“Hahaha. Baguslah kalau begitu. Walaupun kau mati, semuanya hanya akan melupakanmu.”
__ADS_1
“Entahlah. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi.”