The Red Game

The Red Game
[S2] Chapter 5 : Merepotkan


__ADS_3

Di dalam villa, Dom langsung menyuruh aku dan Vany mandi. Namun, bukan berarti kami mandi bersama-sama, tetapi secara bergantian. Ya, itu karena tempat ini hanya memiliki satu buah kamar mandi. Maklum, sebab di sini adalah villa pribadi keluarga Dom.


Saat Vany sedang mandi, aku dan Dom bersantai di dekat kolam renang. Kala itu matahari sudah hampir tenggelam ke arah barat. Akan tetapi, ada satu hal yang tampaknya aneh di sini sekarang.


“Hei, Dom!” panggilku pada Dom yang sedang duduk di sebelahku sambil menyelamkan kedua kakinya dalam air. “Ke mana keluargamu? Tidak biasanya villa ini sepi.”


Dom menengadah, menatap langit yang sebentar lagi gelap. “Mereka tengah berlibur ke kota Sky sejak beberapa hari lalu. Aku tak tahu kapan tepatnya mereka akan pulang.”


“Kau tak ikut?”


“Jika aku ikut, kau takkan bertemu denganku sekarang.”


“Haha, bukankah kau biasanya merengek ingin ikut.”


“Berisik, aku tak pernah seperti itu.”


“Baiklah, baiklah.”


Aku menghela napas, memikirkan tindakanku selanjutnya. Sebenarnya ini sangat merepotkan ketika tidak ada kelompok yang mau membantuku mencapai tujuan. Hm, tapi, apakah pilihanku kali ini benar?


Dulu aku pernah melakukan sesuatu yang sangat tidak efisien, yaitu memperlihatkan sosok asliku di hadapan pasukan Aliansi Kota Utara. Hal itu menyebabkan rasa tidak percaya dan ragu terhadapku. Wajar memang, dan tindakan tersebut berhasil membuat aku merasakan kekosongan serta kehampaan sekali lagi.


Detik terus berganti, mataku tak lepas melihat awan cerah yang perlahan menutup langit biru. Cahaya berwarna jingga pun bersinar dari ufuk barat, menandakan hari akan gelap. Walau niat awalku adalah menyusun strategi, pada akhirnya yang kulakukan hanyalah melamun dan memikirkan tindakanku di masa lalu. Tidak berguna!


“Luchi, apakah gadis itu pacarmu?”


“Berhenti memanggilku ‘Luchi’, Dom.”

__ADS_1


“Terserahlah.” Dom mengangkat kedua tangannya ke atas. Aku tahu dia ingin mengejekku, tetapi tak berhasil. “Lalu, benar ‘kan, kalau gadis itu pacaramu?”


Jari-jari tangan kubunyikan dengan keras, kemudian menatap Dom sambil melemparkan senyum indah. “Coba katakan lagi!”


Dalam sekejap, Dom langsung masuk ke dalam air. Ketika dia mengeluarkan kepalanya dari air, mulutnya kembali berucap, “Dia adalah gadismu, kan?”


Aku berdiri, mengangkat tangan kiri ke atas lalu menciptakan sebuah bola api. “Baiklah, sekarang aku akan melemparkan melon panas kesukaanmu.”


“Woi! Aku hanya bercanda!”


Tanpa menggubris ucapannya, aku langsung melemparkan bola api kecil tersebut ke arah Dom. Namun, benda tersebut padam sebelum berhasil menyentuh Dom, karena pemuda ini mampu memecahkan apa pun menggunakan Teknik Manipulasi Angin miliknya. Walau sebenarnya aku juga tak berniat untuk membakarnya sih.


Dengan santai, aku kembali duduk, melihat Dom yang tengah berenang bolak-balik di dalam kolam renang. Tak lama, suara langkah kaki mendekat, datang dari belakangku. Ketika aku berpaling, Vany dengan kaos berwarna putih—pakaian adik Dom yang ia pinjam—telah bersih kembali, tidak seperti sebelum ini.


Sejenak, aku menghela napas, kemudian berdiri. Sebenarnya akan lebih mudah mandi di kolam renang ini saja, tetapi aku masih ingin membersihkan badan secara menyeluruh agar bugar kembali. Hm, sudah berapa lama kiranya aku tak mandi? Seminggu atau dua minggu? Ah, sudahlah.


“Dom, aku pinjam handukmu, ya.”


Kulangkahkan kaki mengambil handuk yang ada di atas kursi di dekatku, lalu pergi masuk ke dalam ruangan. “Vany, semoga kau senang di sini,” kataku pada Vany sebelumnya masuk semakin jauh.


“Oke, cepatlah mandi.”


Melintasi sebuah ruangan luas dengan satu meja panjang yang memiliki banyak kursi, aku berbelok ke samping menuju sebuah lorong hingga akhirnya sampai di kamar mandi. Tentu saja aku sangat hafal mengenai villa ini, karena dulu aku sering bermain ke mari mengunjungi Dom. Dan hal tersebut kulakukan karena sangat bosan berada di asrama, tempat diriku tinggal.


Aku lupa mengatakan ini, ternyata desa Rose kini telah menjadi kota Rose. Ya, itu cocok sih, karena memang tempatnya sangat berbeda dengan sebuah desa. Kemudian, kata Dom, kota Rose sebentar lagi akan berdiri sendiri, tidak lagi menjadi bagian dari negara Alastein. Lalu, kota Sky adalah salah satu kota yang berada di negara Ristance, tetangga Alastein.


Belum lama ini, ikatan antara kota Rose dengan kota Sky menjadi semakin erat. Walaupun sebenarnya telah lama ikatan ini terjalin sebagai salah satu hubungan internasional. Dan menurut pengamatanku, mungkin beberapa tahun lagi, kota Rose akan jadi bagian dari negara Ristance. Itu artinya, akibat bergabungnya kedua kota ini, negara Alastein mungkin akan kalah dari negara Ristance di bidang pertahanan.

__ADS_1


Jikalau terjadi sebuah perselihan antara negara Ristance dengan negara Alastein. Aku cukup yakin dengan gabungan kota Rose dan kota Sky, negara Alastein pasti akan takluk. Menarik, apakah sebaiknya aku mengadu domba kedua negara ini. Namun, sangat disayangkan karena kota Rose belum resmi menjadi bagian dari negara Ristance.


Usai membersihkan badan, aku keluar dari kamar mandi, lalu memakai kaos dan celana hitam yang dipinjamkan Dom. Setelah menyisir rambut, sambil menenteng handuk di tangan, kakiku melangkah menuju kolam renang, tempat Dom dan Vany berada sekarang.


Tak terasa, hari pun gelap, Dom keluar dari kolam renang dan langsung kuberikan handuk di tanganku kepadanya. Mungkin ada yang bertanya, sebenarnya siapa Dom ini? Serta kenapa dia bisa menggunakan Teknik Manipulasi Angin?


Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu mengorek awal mula yang terjadi di desa Rose atau sekarang bernama kota Rose ini. Dahulu, sebelum aku membantai habis keluarga Klaurius, di sini adalah salah satu cabang pengembangan manusia super. Hal ini juga bersangkutan dengan dipindahkannya Vany ke sini.


Secara tidak langsung, karena menjadi cabang pengembangan manusia super, banyak anak-anak di kota Rose ini yang menjadi bahan eksperimen. Salah satunya, tentu adalah Dom. Itu juga alasan kenapa aku bisa berkenalan dan berteman baik dengannya. Haha, sebagai kelinci percobaan, kami memang harus akrab, sebab telah mengerti keadaan masing-masing.


“Luchifer.” Bisikan Vany ke telinga kananku, langsung membuyarkan lamunanku.


“I-iya?”


“Di sini mulai dingin, sebaiknya kita masuk ke dalam saja.”



Angin berhembus, tubuhku sedikit menggigil karenanya. “Kau benar. Mari kita masuk.” Aku dan Vany pun masuk ke dalam ruangan dan duduk di meja makan. Karena salah satu pelayan sudah mempersiapkan makanan di sana.


“Hei, ini bukan rumahmu, Luchifer.”


“Aku tahu, tapi Dom adalah sahabatku.” Suara langsung kupelankan. “Mungkin yang terbaik setelah aku membantai habis keluarga Klaurius.”


“Apa yang kau gumamkan?”


“Ti-tidak ada. Bukan apa-apa.” Sejenak aku menghela napas. Ternyata, saking pelannya aku bergumam, Vany bahkan tak bisa mendengarnya. Mungkin karena lebih baik dia tidak mendengar perkataanku itu.

__ADS_1


Vany kemudian mengalihkan pandangannya ke luar, di mana terdapat kolah renang, sebab ruangan ini dengan kolam renang hanya dibatasi oleh kaca transparan. “Kalau begitu baiklah.” Perkataannya terjeda selama beberapa saat. “Ceritakan ketika kau siap saja.”


Ya, suatu saat, aku akan menceritakan ini padamu, pada Kei, dan sahabat baikku yang lain. Namun, sekarang aku lebih memilih untuk bungkam serta mengingatnya dengan jelas di dalam kepala. Kuharap, kali ini arti kesedihan yang sesungguhnya dapat kutemukan. Menggunakan bidak catur terakhirku.


__ADS_2