
Sudah beberapa saat aku berjalan. Namun tidak ada yang berani menghalangiku. Para anggota BlackList juga sudah tidak mempunyai kekuatan untuk menghentikan jalanku.
“Hm.., ini tidak buruk.” Gumanku.
Tetapi meskipun aku sudah membalaskan dendamku, aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada rasa lega, ataupun rasa bersalah dalam diriku. Semuanya begitu hampa seperti tidak ada yang terjadi.
“Jadi beginikah rasanya balas dendam itu.” Kataku merasa tidak puas akan semua ini.
Awalnya kukira dengan balas dendam aku akan merasa senang, namun aku benar-benar kecewa karena hal itu tidak terjadi. Jujur saja ini mengecewakan. Karena balas dendam itu entah kenapa aku merasa pilihanku itu salah. Tetapi aku sudah tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.
Terjebak dalam pikiranku, aku teringat pada seseorang. Saat itu aku langsung menggunakan teknik manipulasi gravitasi dan terbang melayang ke atap sebuah gedung. Disana aku melihat seorang gadis berambut merah sedang terbaring tak sadarkan diri.
Tubuh gadis itu terlihat terluka sangat parah, dan mulutnya mengeluarkan banyak darah. Aku mendekati gadis itu lalu meletakkan tangan kananku diatas kepalanya. Kulit kepala gadis yang kusentuh itu terasa dingin ditanganku.
__ADS_1
“Sebenarnya apa yang sedang kulakukan ini.” tanyaku pada diriku sendiri.
Aku menggunakan teknik sinar penyembuh pada tanganku lalu mengalirkannya pada gadis yang sedang kusentuh. Sinar berwarna hijau menutupi tubuh gadis itu, namun cahaya itu tidak menyilaukan dimataku.
“Argh.” Aku sedikit kesakitan saat cahaya itu semakin terang.
Teknik penyembuh yang kugunakan pada gadis ini bukanlah teknik penyembuh biasa. Teknik ini memang bisa memberikan efek penyembuhan yang sangat bagus. Namun disisi lain teknik ini juga merusak beberapa organ tubuh orang yang menggunakannya. Bisa dikatakan kalau hal itu adalah bayaran.
Beberapa saat kemudian aku terbatuk, lalu darah mulai keluar dari dalam mulutku. Aku bertanya-tanya apakah gadis ini pantas membuatku hingga merasakan sakit seperti ini.
Rasa sakit mulai menjalar disekujur tubuhku, namun aku mengabaikannya. Aku tahu kalau ini tidak seperti diriku yang biasanya. Aku sendiri bahkan tidak mengerti kenapa aku bertindak seperti ini.
“Haih, cepatlah sembuh gadis kecil. Apa kau tega melihatku merasakan rasa sakit ini.”
__ADS_1
Sudahlah, percuma saja aku mengeluh. Lagipula dia juga tidak akan tahu kalau aku ada disini untuknya. Tetapi bukan berarti aku akan melakukan segalanya untuknya. Aku hanya akan berusaha semampuku saja. Tidak lebih dari itu.
-------
Setelah satu jam kemudian.
Nafasku begitu sesak, keringat bercucuran disekujur tubuhku, dan rasa sakit yang kurasakan semakin menyebar sampai membuat tubuhku kaku dan gemetaran.
“Sialan. Kenapa tubuhku menolak untuk meninggalkan gadis ini sih.”
Meskipun ini sangat menyakitkan dan membuatku frustasi, namun sisi lain diriku sangat takut jika gadis ini mati disini. Aku ingin tahu perasaan seperti ini dinamakan apa.
Apa mungkin ini adalah perasaan orang yang tidak ingin melihat sahabat masa kecilnya mati. Ah, kenapa aku berpikir seperti itu. Bukankah sudah jelas ini yang namanya perasaan bersalah yang membuatku merasa perlu untuk bertanggung jawab.
__ADS_1
Lama-kelamaan kepalaku menjadi pusing, dan pandanganku mulai kabur karena sudah banyak menggunakan teknik penyembuh. Aku berusaha keras untuk menahan kesadaranku yang mulai menghilang. Namun tubuhku sangat letih hingga akhirnya aku ambruk dan tak sadarkan diri.