The Red Game

The Red Game
Chapter 8 part 1


__ADS_3

Cresh duduk dipojok ruangan saat kami sedang berkumpul. Dia tampaknya sangat kecewa karena kekalahannya siang tadi. Aku mendekat dan duduk disampingnya. Saat aku melihatnya lebih dekat, wajahnya datar dan tatapannya terlihat kosong sambil memandangi kedua telapak tangannya yang disatukan.


“Tidak ada orang yang selalu sukses saat melakukan sesuatu.” Kataku padanya untuk menarik dia melihat kenyataan.


“Haha. Kau benar. Jalan kehidupan tidak selalu mulus.” Jawabnya sambil memaksa dirinya untuk tersenyum.


“Memaksa dirimu untuk tersenyum itu bukanlah hal yang baik. Untuk menjalani kehidupan, kau perlu bersedih saat kecewa dan tersenyum saat gembira.” Saranku padanya.


“Kau mengatakan hal seperti itu seolah-olah kau pernah melakukannya saja. selama ini kau tidak pernah sekalipun menampakkan wajah sedih atau tersenyum pada kami.”


Sebenarnya aku mempunyai alasan untuk itu, hanya saja aku tidak dapat mengungkapkannya sekarang. Aku meletakan jariku dikeningku lalu menariknya turun menyusuri wajahku.


“Selalu ada alasan kenapa seseorang mau melakukan sesuatu. Entah itu karena menginginkan perhatian atau untuk menghibur dirinya. Itu karena kita manusia dan bukannya hewan yang tidak mengerti apa itu kehidupan.”


Cresh tertawa setelah aku mengatakan itu. Aku tahu kata-kataku itu terdengar lucu, namun apa yang kukatakan itu memang benar adanya.


“Apakah perkataanku itu memang lucu?” tanyaku.


Cresh berhenti tertawa setelah beberapa saat lalu berkata, “Tidak, tidak. Apa yang kau katakan itu memang benar, namun aku tidak menyangka akan mendengar kata-kata yang sangat dramatis seperti itu dari mulutmu.”


“Ya ya ya. Terserah begaimana kau menanggapinya. Apa yang kukatakan memang tidak sesuai dengan reputasi yang kubangun selama ini. jadi sangat wajar kau menertawakannya.”

__ADS_1


“Haha, kau benar.”


Saat kami sedang asik mengobrol, seorang gadis berambut coklat mendekatiku. Dia adalah seorang pemurung dari kelompok BlackList yang tidak lain adalah Alice.


“Apa kau punya waktu sebentar?” katanya kepadaku.


“Ya kurasa aku punya.” Jawabku.


“Kalau begitu bisa kau ikut keluar denganku sebentar?”


“Tidak masalah.”


“Semangat ya!” kata Cresh dari belakangku, aku tidak tahu apa maksudnya.


Aku keluar dari dalam markas, dilantai teras yang berbatasan dengan halaman, terdapat Alice sedang duduk menungguku sambil memandangi bintang-bintang. Aku mendekat dan duduk disampingnya lalu berkata.


“Ada apa kau memanggilku?”


“Bukan hal yang istimewa. Bukankah suasana malam ini sangat indah dengan diterangi oleh sinar bulan.” Katanya.


Apa yang sedang dia bicarakan? Aku tidak mengerti kemana arah percakapan ini. Sebaiknya kupercepat saja percakapan ini.

__ADS_1


“Kalau kau tidak membicarakan inti dari percapakan ini, aku akan segera pergi.”


Dia tidak menjawab. Aku sengaja menunggunya lebih lama, namun dia masih menutup mulut hingga membuatku bosan.


“Baiklah aku akan pergi.” Kataku sambil beranjak dari tempat dudukku.


“Semua rangkaian kejadian ini disebabkan olehmu ‘kan?” katanya sebelum aku sempat pergi.


Aku menghentikan langkahku, “Apa alasanmu menuduhku seperti itu?”


“Tidak ada gunanya kau menutupi kebenaran itu dariku, karena aku sudah tahu semuanya.” Katanya.


Dia mungkin berpikir kalau aku akan masuk kedalam perangkap yang ia buat dengan mengatakan hal itu. Namun itu hanya usaha yang sia-sia.


“Heh, jadi kau sudah tahu semuanya ya. Kalau memang begitu, kenapa kau tidak mengatakan hal itu pada anggota lain?”


“Itu karena aku tidak ingin orang lain mengetahui ini.”


Dengan kata lain, dia tidak akan mengatakan hal itu sebelum mengkonfirmasi kebenarannya dariku. Permainan katamu berakhir disini, Alice.


“Kalau memang begitu, tidak ada gunanya kita melanjutkan percakapan ini.” kataku sembari masuk kedalam markas dan meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2