
Setelah pertarungan tadi, Cresh langsung masuk ke dalam markas untuk beristirahat, sedangkan aku berkumpul bersama dengan teman-temannya.
Kami duduk mengelilingi api unggun kecil sambil membuat jagung bakar. Aku bisa diterima di sini karena permintaan egois dari Cresh. Dia memaksa teman-temannya untuk berteman denganku. Karena itu, mereka dengan enggan, mau menjadi temanku.
“Semuanya, aku ingin mengatakan sesuatu,” kata Vany memulai pembicaraan. “Karena setelah ini Kei akan masuk ke dalam kelompok, maka ada baiknya kalau kita memperkenalkan diri padanya.”
“Terserahlah.” Orang yang sebelumnya menghunuskan pedangnya padaku, menyahut tak acuh. “Namaku Marten Star si ahli strategi.”
“Oh.” Aku menyahut dengan cuek.
"Apa maksudmu menjawab seperti itu?” Marten meneriakkan kata-kata itu di telinga ini.
Kuabaikan teriakan orang bernama Marten itu, lalu berpaling ke arah lain. Beberapa saat kemudian, dua pemuda kembar datang mendekat. Tubuh mereka kecil dan pendek, dengan rambut berwarna jingga serta memiliki gaya yang sama antara pemuda kembar yang satu dengan yang lainnya.
Aku menjadi bingung, bagaimana caranya membedakan mereka. Karena aura yang mereka keluarkan juga serupa. Atau bisa dikatakan, mereka seperti satu orang yang dibelah menjadi dua.
Si kembar di sebelah kanan berkata kepadaku dengan penuh semangat, “Aku Riki Pernandus si penolong.”
“Aku Roki Pernandus si penolong,” sambung si kembar yang satunya.
“Oke, kalian sudah tahu namaku.”
Setelah itu, mereka pun pergi tanpa berbicara lagi.
__ADS_1
Karena bosan dengan perkenalan ini, aku pun berdiri dan berkata, “Siapa yang aku tunjuk harus memberitahukan namanya agar perkenalan ini cepat berakhir.”
Kutunjuk pemuda berambut putih yang duduk di sebelah tombak. Dan sepertinya, dia adalah orang yang hendak menyerangku dari atas.
“Aku Awan Morfin si pengamat,” katanya dengan nada datar dan raut wajah bosan.
Tunjukkan jariku beralih ke arah seorang gadis berambut kuning yang memiliki tubuh seksi.
“Aku Sella Arista si primadona.” Gadis itu berkata dengan penuh semangat.
Sekali lagi, tunjukkan jari kualihkan pada seorang gadis berambut coklat yang terlihat suram dan tanpa semangat.
Gadis itu menguap sebelum akhirnya menjawab. “Aku Alice Cheaster si pengeluh.”
Akhirnya, acara yang membosankan itu selesai. Aku kembali ke tempat di mana aku duduk sebelumnya. Akan tetapi, entah kenapa Vany diam-diam duduk di sebelahku.
“Kenapa kau tidak menanyakan namaku juga?” tanyanya.
“Bukankah namamu itu Vany?”
“Ternyata kau masih ingat. Aku Vany si tak terlihat.” Vany pun tersenyum lebar.
Aku menatap matanya lekat-lekat. “Senyum palsumu itu tidak dapat menyembunyikan kekosongan yang dipancarkan oleh matamu. Karena saat aku menatap matamu, firasatku berkata kalau kau memiliki masa lalu yang kelam, sehingga kau tidak mau mengatakan nama panjangmu padaku.”
__ADS_1
“Kau dan aku itu sepertinya mirip. Kei si muka datar.”
Ya ampun. Kenapa gadis ini memberiku julukan yang tidak keren. Namun, sudahlah, sangat merepotkan jika aku harus berdebat dengannya hanya karena hal itu.
“Aku tidak berpikir kalau kita mirip.”
“Matamu itu penuh dengan kekosongan, dan sejauh yang kulihat, kamu sepertinya pernah kehilangan seseorang yang paling berarti di hidupmu.”
“Hanya orang yang pernah mengalaminya yang akan mengerti hal itu." Saat aku mengatakan itu, Vany terus menatap wajah ini. "Ah baiklah, kau menang, kita memang sedikit mirip.”
"Hehe, biarkan aku memberimu sedikit nasehat." Dia menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, "nikmatilah kehidupanmu dan jangan pernah berhenti berharap. Karena itu adalah hal yang selama ini kulakukan agar dapat bertahan. Kupikir kau mungkin saja bisa bertahan dengan cara itu. Dan mungkin saja tatapan matamu yang dipenuhi oleh kekosongan itu dapat terisi oleh harapan."
Vany beranjak pergi setelah memberikan nasehat tersebut. Dari perkataannya tadi, dapat disimpulkan kalau dia masih terus berharap. Namun, aku masih tidak mengerti kenapa dia masih berharap. Karena bagiku, harapan hanyalah sesuatu yang menyakitkan dan hal yang dapat merampas semua yang aku miliki. Mulai saat itu, harapan sudah terhapus dari hati ini.
***
Setelah perkumpulan yang membosankan berakhir, aku tetap berada pada tempat dudukku dan melihat mereka semua pergi ke rumah kosong yang dijadikan sebagai markas.
Ketika mereka semua masuk ke dalam, aku memadamkan api, lalu berjalan ke arah sebaliknya. Malam hari ini begitu gelap, setelah aku memadamkan api yang menjadi sumber cahaya. Di dalam gelapnya malam, Teknik Pengelihatan Malam milikku menjadi aktif dengan sendirinya.
Aku menghadap ke atas, lalu membidik atap sebuah gedung, kemudian melompat hingga berada di atasnya. Di dunia fantasi di mana semua orang hanya mendapatkan satu kemampuan super, pasti sangat iri padaku yang bisa mendapatkan beberapa kemampuan super sekaligus. Akan tetapi, di balik keistimewaan ini, terdapat pengorbanan yang sepadan.
Tak mau berpikir terlalu dalam, badan ini kulemaskan, lalu berbaring di atas lantai kotor sambil memandangi bintang-bintang. Malam yang sunyi dan damai untuk sementara akan kunikmati selagi bisa. Karena hari-hari yang membosankan pasti segera berakhir, dan hari yang benar-benar panjang dan penuh ketegangan pun dimulai setelahnya.
__ADS_1
“Kukuku. Semoga ada keberuntungan di esok hari.” Aku bergumam pelan sembari memikirkan apa yang akan terjadi berikutnya.