
Dengan santai, aku menuruni tangga yang begitu panjang agar dapat mencapai lantai bawah. Ini bukan berarti aku hendak menyerang para prajurit yang menyebalkan itu secara terang-terangan. Bahkan, tak terbersit sedikit pun niat untuk bertarung melawan mereka sekarang.
Aku menguap kemudian berhenti sambil menatap sebuah ruangan yang sangat berantakan, di mana meja, kursi dan barang lainnya berserakan ke mana-mana. Sejenak aku menerwang ke penjuru ruangan, mengamati dengan saksama area ini. Tidak ada yang aneh, hanya tempat kotor yang dipenuhi debu.
Napas kuhela, sebelum akhirnya menuju tangga lain yang menghubungkan lantai ini dengan lantai bawah. Sepanjang perjalanan, mata ini tak pernah berhenti mengamati sekiranya ada bahaya yang mendekat. Sebenarnya, aku melakukannya bukan karena takut serangan mendadak diarahkan padaku, tetapi karena tak ingin gadis yang mengekor di belakang, terkena serangan mendadak.
Setelah beberapa saat, kami pun sampai di lantai satu. Dari sini, aku dapat melihat—di antara lubang dan jendela yang hancur—beberapa prajurit tengah siaga. Baiklah, pertama-tama, kami harus bisa keluar dari gedung ini tanpa diketahui. Tapi, bagaimana caranya?
Mari pikirkan. Jika kami langsung menerobos begitu saja, sudah pasti akan membuat kericuhan, dan pertarungan tak dapat dielakkan lagi. Sementara itu, aku sudah sangat lelah serta malas untuk melakukan hal membosankan itu. Tidak lucu, kan, bila aku tiba-tiba harus menghadapi seribu prajurit seorang diri.
Selain itu, sepertinya aku telah menjadi buronan dari dua belah pihak setelah memicu perang waktu itu. Benar-benar nasib yang buruk.
“Hei, Vany.” Aku memecahkan suasana hening yang menimpa kami. “Apa kau punya rencana untuk keluar dari sini tanpa ketahuan?”
Bukan tanpa alasan aku mau menanyainya, karena dia telah berhasil mengalahkanku kala itu, maka aku percaya ia pasti mempunyai suatu saran agar kami dapat keluar dari sini dengan selamat.
“Hm, coba kupikirkan.” Vany meletakkan tangan kanannya di dagu, sembari memikirkan suatu rencana.
__ADS_1
Tak mau hanya menunggu, aku juga ikut memutar otak untuk menemukan suatu rencana. Kemudian, mata ini menerawang ke sekitar, para prajurit tadi masih belum menyadari keberadaan kami. Lalu diri ini mengingat sesuatu.
“Ah, bodohnya aku.” Segera kutarik Vany untuk mengikutiku. “Aktifkan Teknik Tak Terlihat milikmu, Vany.”
Vany sedikit mengangguk sebagai tanda persetujuan, lalu mengaktifkan tekniknya, bersamaan dengan aku yang juga menggunakan Teknik Tak Terlihat. Kami pun berjalan menuju ke arah pintu utama yang sudah hampir rubuh. Sekarang aku kembali berhenti, memeriksa keadaan sekitar dengan saksama.
Ini pasti akan sangat merepotkan, keluar dengan menggeser pintu pasti akan ketahuan, mencari jalan lain juga sepertinya tak ada. Ah, sepertinya aku salah jalan.
Mata kupejamkan, berkonsentrasi dalam menyerap partikel energi alam. Setelah dirasa cukup, aku pun berhenti menyerap dan mulai mempersiapkan satu teknik yang seharusnya aku gunakan sedari awal. Tidak kusangka pikiranku akan dikacaukan oleh mimpi aneh semalam.
Dalam satu kedipan mata, kami kini berada di sebuah gang buntu yang tidak asing lagi. Benar, ini adalah gang tempat pertama kali aku bertemu dengan Cresh. Sungguh membuatku bernostalgia.
Mataku melirik sekitar, tak ada tanda-tanda kehadiran seorang prajurit pun di sini. Memang wajar, karena tempat ini ialah tempat yang sangat sepi karena berada di lokasi yang sangat tidak strategis.
Bagaimana mungkin bisa seperti itu? Tidak ada hal yang istimewa sebenarnya, hanya saja tempat ini berada di tengah-tengah perbatasan dan juga kota. Kalau dibilang pinggiran juga kurang cocok. Toh juga, tidak mungkin para prajurit dikerahkan semuanya untuk mencari para buronan yang bersembunyi.
Kenapa? Tentu itu sangat beresiko, pasalnya, jika semua prajurit dikerahkan untuk satu misi saja, maka sudah pasti keamanan negara menjadi taruhan. Dan menurut perkiraanku, mereka yang dikerahkan untuk mencari para buronan tidak lebih dari 100 orang. Namun, beda cerita kalau aku secara terang-terangan kembali menyerang.
__ADS_1
Sebenarnya ada alasan lain kenapa aku tidak ingin bertindak mencolok lagi setelah bertarung melawan Karel waktu itu. Alasannya sangat sederhana, kalau benar Karel adalah salah satu orang yang berasal dari keluarga Klaurius, mungkin saja yang memimpin negara Alastein atau ‘Sang Penguasa’ adalah orang dari keluarga Klaurius.
Hanya sebatas informasi, anggota keluarga Klaurius tidak ingin diperintah oleh orang dari keluarga lain. Karena itulah, sejak lama yang menjadi ‘Sang Penguasa’ adalah anggota keluarga Klaurius.
Aku menghela napas lega, lalu membatalkan Teknik Tak Terlihat yang kupakai. Sama sepertiku, Vany juga membatalkan tekniknya. Sejenak aku menengadah, hari masih sangat pagi, dan suhu yang hangat benar-benar membuat diri ini nyaman.
“Apakah kita sebaiknya kembali ke desa Rose, Vany?” Aku memalingkan pandangan ke arah Vany yang sedari tadi terus menunduk.
Vany mengangkat kepala, menatap lurus ke arahku. “Kurasa akan baik jika kita bisa ke sana secepatnya.”
“Secepatnya, kah?” Sejenak aku menghela napas, lalu memandangi langit yang dihiasi oleh awan. “Baiklah, kita sekarang berangkat menuju ke desa Rose.”
“Bukankah kau mempunyai Teknik Berpindah Tempat? Kenapa tidak digunakan?”
Mungkinkah dia mengira kalau aku sudah sangat pikun? Memang benar aku bisa melakukannya dengan mudah, tetapi memakai kekuatan dengan berlebihan dapat membuatku cacat lagi. Sudah cukup bagiku hanya kehilangan tangan kanan.
“Tidak. Kita akan menuju ke desa Rose dengan berjalan kaki saja.”
__ADS_1