
Pikiranku terasa sangat ringan seolah-olah tidak memiliki beban yang harus dipikirkan. Tubuhku entah bagaimana terasa dibalut oleh kenyamanan. Ah, ini benar-benar terasa sangat damai. Mungkinkah aku sudah mati.
Didalam ketenangan itu, aku perlahan-lahan membuka mataku. Saat mataku sudah terbuka, aku dapat melihat ruangan berwarna putih. Dan didalam ruangan itu, terdapat aku yang sedang terbaring diatas lantai berlapis kain sutra berwarna putih.
“Sangat nyaman.” Gumanku sambil menikmati kedamaian ini.
Apakah ini yang dirasakan oleh mereka yang sudah mati. Ini benar-benar sangat damai, hingga membuatku tidak ingin beranjak sedikitpun dari tempat ini. Namun beberapa saat kemudian sebuah suara menggema dibelakangku. Dan suara itu adalah suara yang sangat familiar bagiku.
“Apa benar ini adalah kematian bagimu?” tanya suara itu.
Air mataku tanpa kusadari sudah menetes, dan hatiku terasa sangat merindukan suara lembut itu. Suasana menjadi hening selama beberapa saat, namun kemudian keheningan itu terisi oleh suara langkah kaki seseorang. Beberapa saat kemudian suara langkah kaki itu berhenti.
Pemilik suara itu menunduk dan menatap mataku. Tatapan mata orang itu dipenuhi oleh kehangatan, dan dicampur dengan senyuman yang tidak pernah berubah sejak dulu.
“K-Kei..,” kataku padanya.
“Yo! Luchifer. Lama tidak berjumpa.” Jawabnya.
“A-Apa kau Kei yang asli?”
“Entahlah. Walaupun aku menjawab pertanyaanmu itu, aku tidak yakin kau akan dapat menerimanya begitu saja tanpa ada bukti.”
Sebenarnya kata-kata itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kalau dia adalah Kei yang asli. Itu karena dia sudah sangat mengerti tentang diriku. ya, meskipun itu karena kami adalah saudara yang sangat akrab.
“Hei Luchifer. Sampai kapan kau akan memakai topeng dan menggunakan namaku?” dia lanjut bertanya padaku.
“Bukankah sekarang ini aku sudah tidak perlu untuk menggunakannya.”
“Jadi kau benar-benar berpikir kalau kau ini sudah mati ya.”
“Tentu saja. Kalau aku tidak mati, bagaimana mungkin aku bisa bertemu denganmu.”
Ini memang benar, aku tidak pernah sekalipun berpikir kalau aku akan bertemu dengannya waktu aku masih hidup. Itu karena dia sudah mati sejak 1 tahun lalu.
“Ternyata pandanganmu itu menjadi semakin sempit sejak waktu itu.”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku. Pemikiranmu itu menjadi semakin sempit sejak saat itu. Apa aku salah?”
Aku menaikan sebelah alisku menanggapi kata-kata Kei. Aku sangat bingung saat dia mengatakan kalau pemikiranku menjadi semakin sempit. Ini tampak seperti dia ingin berkata kalau selama ini mataku telah tertutup rapat hingga tidak dapat melihat lagi.
Kei mengangkat tubuhnya dan menatap lurus kedepan lalu berkata dengan nada datar, “Balas dendam dapat membutakanmu.”
“Kenapa kau tiba-tiba membahas tentang itu? Apa kau tidak suka karena aku membunuh Wili didepan mata Cresh?”
“Kalau boleh jujur, aku tidak peduli pada apa yang kau lakukan.” Terjadi jeda selama beberapa saat sebelum ia melanjutkan, “Hanya saja aku tidak suka melihatmu kehilangan arah dan berjalan dengan mata tertutup.”
“Ahaha, tidak kusangka kau akan mengatakan kalimat seperti itu sekarang.” Aku memejamkan mataku lalu melanjutkan, “Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh orang yang sudah mati seperti kita ini.”
“Pfft.., aku terkejut, ternyata kau bisa juga merasa pesimis ya.”
“Apa kau pikir aku ini seorang dewa yang bisa melakukan apa saja.”
__ADS_1
“Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Tapi kau terlihat sangat berbeda dengan Luchifer yang kukenal.”
“Berbeda?”
“Ya, kau sangat berbeda. Luchifer yang kutahu adalah orang yang selalu menyombongkan kekuatannya dan terus mengeluh saat menghadapi masalah. Tetapi Luchifer yang kutemui sekarang adalah orang yang penuh kebimbangan dan pesimis. Ini sangat berbeda ‘kan.” Kei berpikir selama beberapa saat sebelum melanjutkan, “Apa mungkin ini adalah dirimu yang memakai topeng?”
“Entahlah.”
Jadi begitu ya. Aku tidak pernah menyangka kalau aku yang sekarang begitu buruk dimatanya. Tetapi semuanya sudah berakhir sekarang. Karena aku sudah tidak ada didunia lagi.
“Sebenarnya belum terlambat bagimu untuk memulai semuanya dari awal lagi.” Kata Kei.
“Itu adalah lelucon yang sangat tidak lucu.” Bantahku.
“Ini bukan sebuah lelucon. Karena kau sebenarnya belum mati.”
“Huh?”
Kei merendahkan tubuhnya lalu menyentuh keningku dengan tangan kanannya. Dalam sesaat tubuhku terasa tersedot oleh sesuatu.
“Sampai jumpa, Luchifer.” Kata Kei sambil melambaikan tangan kirinya.
***
Aku tiba-tiba terbangun sambil memandangi langit yang sedang mendung diatas atap sebuah gedung. Disebelah kananku aku melihat seorang gadis sedang duduk sambil memakan sepotong roti tawar. Saat aku melirik ke sam[ing gadis itu, aku dapat melihat tas hitamku yang isinya berserakan dilantai.
“Kenapa kau membongkar isi tasku?” tanyaku pada gadis disampingku.
“Kau menuduhku tanpa ada bukti.” Jawabnya tanpa meliriku sedikitpun.
Aku meluruskan tubuhku dan mencoba untuk bangun. Tetapi tubuhku terasa sangat sakit hingga membuatku tidak dapat melakukannya.
“Jika kau memaksakan dirimu, kau pasti akan lumpuh secara permanen.” Kata gadis itu dengan nada datar sembari terus mengunyah roti ditangannya.
“Ya, ya, ya. Aku mengerti. Untuk kali ini saja aku akan menuruti perkataanmu.”
Sepertinya akan buruk jika aku membantah perkataannya itu. Karena aku tidak mau menjadi orang yang lumpuh.
“Kalau boleh tahu, sejak kapan kau siuman?”
“Sejak tadi.”
Sejak tadi? Bukankah itu kata-kata yang ambigu. Aku tidak tahu kapan sebenarnya dia siuman. Apa mungkin dia sudah siuman sejak aku pingsan. Ah, lupakan saja. Memikirkan hal itu hanya akan membuatku terus penasaran.
“Kenapa kau menyelamatkanku hingga sanggup melukai dirimu sendiri?” tanya gadis itu sambil menatap lurus kedepan.
Aku bertanya-tanya apakah aku perlu untuk menjawab pertanyaan itu.
Ya itu karena dia sejak tadi tidak melirik sedikitpun ke arahku. Benar-benar menyebalkan.
Suasana menjadi hening karena aku tidak menjawab pertanyaannya itu. Ini bukan berarti aku melakukannya karena tidak menyukai sikapnya barusan, tetapi aku tidak tahu bagaimana harus menjawab.
Gadis itu memalingkan mukanya kearahku dan menatap mataku dengan tatapan tajam seolah-olah dia berkata, ‘Bagaimana mungkin kau menyelamatkanku begitu saja tanpa ada alasan yang jelas.’
__ADS_1
Aku memalingkan mataku dari tatapannya. Karena kupikir kalau aku terus menatap tatapannya itu, maka aku pasti akan dihujani oleh beragam pertanyaan.
Meskipun aku mencoba lari dari pertanyaan itu, tatapan gadis itu tidak pernah berpindah. Dan lama-kelamaan aku mulai terganggu oleh tatapan itu. Ini menyebalkan. Aku tidak pernah berpikir kalau dia adalah orang yang keras kepala seperti ini.
“Ah, baiklah. Aku akan menjawab pertanyaanmu itu.” Kataku karena sudah muak terus ditatap olehnya, “Jika aku boleh jujur, aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku mau menyelamatkan dirimu dengan mengorbankan tangan kananku.”
“Aha, ternyata kau masihlah orang baik seperti yang dulu kukenal.” Jawabnya sambil tersenyum senang.
Tetapi aku akan membuatnya membuang senyumnya itu jauh-jauh mulai sekarang.
“Ya, aku memang orang baik. Karena aku berhasil membalas dendam pada Cresh dengan membunuh Wili tepat didepan matanya.”
Gadis itu sedikit tersenyum setelah mendengar pengakuanku. Sebenarnya aku sangat tidak menduga kalau reaksinya akan seperti ini.
“Meskipun begitu kau tetaplah orang yang baik.”
“Aku ingin tahu darimana kau dapat melihat kalau aku ini adalah orang yang baik.”
Aku ingin tahu, apakah seseorang yang membalas dendam pada temannya pantas disebut orang yang baik. Bukankah dengan tindakan itu, aku sudah dicap berwarna hitam oleh orang lain.
“Kau bilang apa yang kau lakukan adalah balas dendam ‘kan.”
“Iya. Karena memang itulah kenyataannya.”
“Meskipun begitu, aku tidak berpikir kau sudah membalas dendam.”
Hei, hei, hei. Apa kau pikir tindakanku itu tidak pantas disebut balas dendam? Atau mungkin balas dendam yang kulakukan ini sangat berbeda sehingga tidak pantas disebut balas dendam.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
“Jika kau memang membalas dendam, maka kau seharusnya tidak membunuh Wili.”
“Hah?”
Sebenarnya apa yang dibicarakan gadis ini? Jika aku menilai perkataannya, maka aku pikir dia ingin mengatakan kalau aku membunuh orang yang salah.
“Apa kau masih belum mengerti?”
“Tentu saja tidak.”
“Maksudku adalah kau seharusnya membunuhku didepan mata Cresh untuk membalas dendam.”
“Bukankah itu tidak logis. Membunuhmu didepan matanya memang akan membuatnya sedih, tetapi aku tidak yakin kalau dia akan depresi.”
“Kaulah yang tidak logis. Karena kau membunuh Wili hanya karena Wili adalah sepupu Cresh.”
Dengan kata lain dia ingin mengatakan kalau Wili tidaklah terlalu berharga bagi Cresh. Tetapi bagaimana mungkin Vany adalah orang yang paling berharga baginya.
Apa mungkin karena Vany adalah satu-satunya teman masa kecilnya yang selalu ada untuknya selama ini. kalau begitu, sepertinya aku harus mengulang balas dendamku. Tetapi apakah aku akan puas kali ini?
“Jika kau berpikir untuk mengulang balas dendammu, aku tidak keberatan dengan itu. Karena seharusnya aku sudah mati.”
“Entahlah. Aku masih belum memutuskan hal itu.”
__ADS_1
Mungkin aku akan membuat pilihan yang berbeda kali ini, tetapi aku masih belum memikirkan apa yang akan kulakukan.
Ah, sebaiknya kutenangkan dulu pikiranku agar dapat menentukan pilihan yang benar.