
Dimalam harinya, aku menyusup kedalam pasukan 2 yang bertugas untuk menyerang kota Arc. Tujuanku menyusup kedalam pasukan ini bukanlah untuk membantu, melainkan aku hanya ingin melihat secara langsung bagaimana mereka menyelesaikan tugas sangat merepotkan ini.
Suhu udara malam ini sangatlah dingin karena kami menyerang saat tengah malam. Kami cukup beruntung karena malam itu bulan bersinar dengan terang sehingga kami tidak perlu memakai obor. Untuk mempermudah penyamaran, kami memakai jubah berwarna hitan yang dilengkapi oleh tudung kepala. Kami menyelinap kedalam bangunan-bangunan yang ada diperbatasan sambil mengamati gerakan para penjaga yang sedang berjaga.
Perbatasan antara kota utara dengan kota Arc dibatasi oleh tembok yang sangat tebal. Jika kami menghancurkan tembok itu secara pakas, sudah pasti kami akan ketahuan. Suasana hening menyelimuti kami ketika para penjaga yang berjaga diatas dinding sedang berpatroli dengan membawa senter dan juga senjata api berupa pistol.
Para penjaga akhirnya selesai berpatroli selama beberapa menit. Melihat itu, komandan pasukan 2 segera menyuruh kami untuk bergerak menuju tembok besar. Setelah sampai didekat tembok, orang-orang mulai bertanya-tanya bagaimana cara mereka akan menyusup masuk. Diantara orang-orang yang kebingunangan itu, seseorang melangkah maju kedapan lalu menempelkan tangannya pada tembok itu.
Orang itu terus berdiri dalam diam sambil menenpelkan kedua tangannya ke tembok. Beberapa saat kemudian, tembok yang disentuhnya mulai berubah menjadi debu hingga membuat lubang sebesar manusia. Setelah merasa kalau itu cukup, dia berjalan kembali dalam pasukan. Semua orang hanya tercengang melihatnya melakukan hal luar biasa itu, namun orang yang melakukannya bertingkah seolah-olah itu hanya hal kecil.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, sang komandan pasukan 2 langsung memerintahkan kami untuk masuk kedalam lubang itu. Atas komando dari komandan itu, kami masuk kedalam lubang itu secara berurutan. Dibalik tembok tebal atau dimana kami berpijak sekarang, sejauh mata memandang hanya ada padang rumput saja. Saat kami semua sudah masuk kedalam wilayah musuh, aku melihat ada seorang penjaga yang menyadari kehadiran kami dan dengan panik ia segera berlari.
Tiba-tiba saja penjaga itu disekap oleh salah satu anggota pasukan 2. Penjaga itu berusaha untuk memberontak dan berteriak, tetapi dengan segera orang yang menyergapnya mematahkan leher penjaga itu.
“Setelah ini kita akan berpencar. Saya harap kalian berhati-hati saat melakukan penyergapan. Tidak boleh ada seorang penjaga atau rakyat biasa yang melihat tindakan kita.” Sang komandan memberikan arahan dengan nada pelan agar tidak terdengar oleh para penjaga.
Sang komandan mengamati kami selama beberapa saat lalu berkata, “Kalau kalian sudah mengerti, maka misi dinyatakan telah dimulai. Bubar!”
Seluruh anggota pasukan 2 langsung bubar tanpa menjawab perkataan sang komandan. Kini yang tersisa disini hanya aku dan sang komandan itu.
“Kenapa kau tidak ikut bubar seperti yang lainnya?” tanya sang komandan kepadaku.
“Aku harus melakukan persiapan terlebih dahulu agar dapat menjalankan misi ini tanpa kegagalan.” Jawabku.
“Baiklah. Kalau begitu jangan sampai ketahuan.” Kata sang komandan memperingatkan sembari pergi dengan santai.
Jangan dianggap serius dong, aku hanya bercanda soal itu. Alasan kenapa aku masih disini sudah jelas karena aku ingin mengikuti sang komandan. Aku seperti biasa mengaktifkan mode tak terlihat dan menekan kekuatanku lalu mulai berjalan mengikuti sang komandan.
Sang komandan terus berjalan mengikuti arah tembok. Sepertinya dia ingin mengetahui markas para penjaga karena tadi dia sudah melihat penjaga yang sudah dibunuh tadi berlari kearah ini. mungkin sebentar lagi aku akan melihat sebuah pertunjukkan yang sangat menarik.
***
Aku terus berjalan mengikuti sang komandan hingga akhirnya kami menemukan sebuah tenda yang dijaga oleh beberapa penjaga. Komandan berhenti berjalan dan mencari-cari tempat untuk bersembunyi. Sekitar beberapa saat kemudian ia akhirnya menemukan sebuah batu besar. Ia bersembunyi dibalik batu itu dan terus memperhatikan para penjaga yang sedang berjaga.
Sang komandan terus memperhatikan para penjaga tanpa beranjak dari tempatnya selama beberapa menit. Aku merasa sangat bosan karena dia tidak memperlihatkan tanda-tanda ingin menyerang.
Kubiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa berbuat apa-apa. Namun pada akhirnya rasa bosan semakin menyelimutiku. Ini memang sangat menyebalkan, tetapi jika tidak kulakukan, aku pasti akan tertelan oleh kebosanan.
Aku mengambil sebatang ranting yang kebetulan berada didekatku lalu melemparkannya ke arah salah satu penjaga. Ranting itu tepat mengenai kepala penjaga itu. Penjaga itu terkejut dan melirik kesekitar dengan waspada.
Menyadari kalau ada orang yang melemparkan ranting kepada penjaga, sang komandan berbalik. Dia terheran-heran karena tidak menemukan siapa-siapa dibelakangnya. Sudah jelas ada aku dibelakangnya, namun dia tidak dapat melihatku karena aku menggunakan teknik tak terlihat.
__ADS_1
Dia segera berbalik lagi karena tidak menyadariku, tetapi ketika ia berbalik 5 orang penjaga sudah berada tepat didepannya dengan senapan yang diarahkan kearahnya.
Komandan mengangkat tanganya sambil berdiri lalu berkata, “Maaf saya hanya rakyat biasa, jadi itu..., bisakah kalian menurunkan senapan kalian.”
“Sebelum itu, tunjukkan tanda pengenal anda.” Kata salah satu penjaga.
“Anu.., itu.., maaf saya lupa membawa tanda pengenal saya.”
Komandan mengatakan itu dengan nada yang kacau dan sedikit terbata-bata. Aku tahu dia pasti sedang kebingungan untuk mengatasi masalah ini. Namun jika tidak begini maka aku akan tenggelam dalam kebosan. Jadi bagaimana caramu mengatasi ini.
“Kalau begitu ikuti kami ke dewan penjaga demi keamanan publik.”
“Tidak.., itu.., saat ini saya sedang terburu-buru, jadi saya meminta maaf karena tidak dapat mengikuti instruksi anda.”
“Ini perintah! Kamu tidak berhak untuk membantah. Ikuti kami!” bentak salah satu penjaga kepada komandan.
Ck, ck, ck. Ini menjadi sangat menarik untuk ditonton. Sayang sekali aku lupa membawa cemilan tadi. Haih, ternyata terlalu terburu-buru dapat membuatku melupakan sesuatu yang penting saat menonton pertunjukkan.
“Bukankah sudah kubilang itu tidak bisa.” Jawab komandan sambil menurunkan tangannya.
5 orang penjaga tadi menjadi waspada ketika melihat komandan merubah sikapnya. Komandan mundur 2 langkah lalu berkata, “Kalian sangat ingin tahu namaku ‘kan?” komandan melepaskan jubah hitamnya lalu melanjutkan kata-katanya, “Aku adalah Charlie Covery.”
Ini benar-benar mengejutkan, aku tidak menyangka kalau teknik pengendali jarak jauh masih ada sejak pembantaian 1 tahun lalu. Namun yang paling mengejutkan adalah namanya. Aku tidak pernah menyangka kalau dia berasal dari keluarga yang sama dengan Rias, yaitu keluarga Covery. Mungkinkah mereka adalah saudara, tetapi aku merasa itu mustahil. Jika Rias dan Charlie adalah saudara, kemungkinan orang yang akan memimpin aliansi ini adalah Charlie bukan Rias. Ah, ini membuatku pusing saja.
Charlie mendekati mayat-mayat orang yang dibunuhnya tadi lalu meremukkan kepala mereka dengan tengannya. Didalam kepala orang-orang itu terdapat sebuah mutiara kecil yang berwarna putih. Mutiara-mutiara inilah yang menjadi sumber berubahnya dunia ini menjadi dunia fantasi.
Mutiara-mutiara itu adalah sumber kekuatan yang didapatkan oleh orang dizaman ini. Hanya dengan mutiara yang tertanam didalam kepala, mereka bisa menggunakan apa yang namanya teknik pengendalian kekuatan. Seperti teknik pengendali api, angin, petir dan sebagainya. Namun dalam beberapa kasus, ada orang-orang yang menggunakan sumber lain untuk menggunakan teknik pengendalian kekuatan, yaitu kristal berwarna yang berada satu level diatas mutiara.
Orang-orang yang menggunakan teknik pengendali kekuatan dari sumber kristal warna pada dasarnya mampu mengalahkan sekitar 10 orang atau lebih yang menggunakan sumber kekuatan dari mutiara. Salah satu orang yang menggunakan sumber kekuatan ini adalah Cresh. Dengan menggunakan sumber kekuatan dari kristal warna, dia memiliki teknik pengendali energi ungu. Namun dengan kondisinya sekarang ini, aku ragu dia dapat mengendalikan kekuatan itu sepenuhnya. Mungkin itu juga sebabnya ia dapat dikalahkan oleh Rias dalam pertandingan waktu itu.
Aku terus memperhatikan Charlie yang sedang mengambil mutiara-mutiara dari mayat para penjaga. Tiba-tiba sebuah pedang dilemparkan kearahnya. Charlie berbalik lalu menahan pedang itu dengan teknik pengendali jarak jauhnya. Dia berdiri lalu menatap kearah pedang itu berasal.
Dari tempat pedang itu dilemparkan, muncul seorang pria bertubuh besar, mengenakan seragam berwarna biru dengan lambang tentara negara Alastein didada sebelah kirinya.
“Wah, wah, wah. Tidak kusangka aku akan menemui seorang pemulung dimalam yang cerah ini.” kata pria itu sambil bertepuk tangan.
“Kukuku. Aku kira siapa yang datang. Ternyata hanya seorang anjing penjaga yang sedang bermain-main.” Ejek Charlie.
Pria itu tertawa ketika mendengar ejekan Charlie lalu berhenti setelah beberapa saat dan mulai berkata lagi, “Bukankah anjing penjaga lebih baik dari pada anjing liar yang terkena rabies sepertimu. Apa kau lupa pada apa yang kau alami 6 bulan yang lalu, Charlie Covery.”
Ternyata pria itu kenal dengan Charlie. Aku tidak tahu kejadian apa yang mereka maksud, namun aku dapat mengerti kalau kejadian itu sangat menyakitkan bagi Charlie. Sepertinya ini semakin menarik.
__ADS_1
“Haih, tidak kusangka kau akan membuatku mengingat kembali kejadian itu, Karl Dominic.” Jawab Charlie dengan nada datar.
“Hahaha, mana mungkin aku bisa melupakan teriakanmu saat kau kehilangan orang yang paling berharga bagimu. Hahaha.”
Charlie tanpa basa-basi langsung menyerang pria bernama Karl itu dengan pedang yang dikendalikan oleh tekniknya. Menanggapi serangan mendadak itu, Karl mengepalkan tangannya dan meninju pedang itu. Saat pedang itu terkena tinjunya, pedang itu langsung hancur berkeping-keping.
“Seperti yang diharapkan dari pemimpin para anjing. Kekuatanmu memang luar biasa, Karl.” Komentar Charlie.
“Ya, ya, ya. Aku sudah banyak mendengar kata-kata itu, namun aku tidak pernah mendengar orang mengatakan itu kepadaku dengan nada yang membosankan sepertimu. Mungkin aku harus memberimu hadiah.”
“Aku merasa tersanjung bisa mendapatkan hadiah dari anjing hebat sepertimu.”
“kalau begitu diam dan matilah.”
Karl maju dan menyerang Charlie dari depan. Namun tiba-tiba gerakannya terhenti saat berada beberapa langkah didepan Charlie. Karl berteriak sambil memaksa tubuhnya untuk bergerak. Sedangkan Charlie mengarahkan kedua tangannya kedepan sambil menggigit bibirnya untuk tetap bertahan.
Suasananya menjadi tegang, mereka terlihat seperti magnet yang saling tolak-menolak namun dipaksa untuk bersatu. Keduanya terlihat seimbang selama beberapa saat, namun keseimbangannya kini mulai goyah. Charlie mulai terdorong kebelakang, sedangkan Karl mulai bergerak maju sedikit demi sedikit.
Charlie mulai kehilangan keseimbangannya, namun dia tidak ingin jatuh. Dia terus mencoba untuk mendorong, tiba-tiba kekuatan Karl melemah. Melihat ada kesempatan, Charlie mencoba untuk mendorongnya. Karl terlempar sangat jauh, Charlie merasa lega sembari melemaskan tubuhnya. Tetapi tiba-tiba Karl bergerak dengan cepat dan memukul Charlie hingga terpental sangat jauh.
“Hahaha. Tidak kusangka kau sekarang menjadi sangat bodoh. Padahal dulu aku sampai dibuat kerepotan olehmu, tapi sekarang kau begitu lemah.”
“Kau juga begitu.” Jawab Charlie sembari kembali berdiri dan mendekati Karl.
Tanpa Karl sadari banyak batu kerikil mulai menyerangnya. Karl dengan cepat berputar dan menahan semua serangan itu dengan tinjuannya. Serangan kerikil semakin banyak menyerangnya, namun dia dapat dengan santai menghancurkan semuanya.
Sementara itu, Charlie terus mempertahankan kesimbangan tubuhnya yang terluka. Dari tinjuan Karl sebelumnya, seharusnya dia sudah mati sekarang. Tetapi dia berhasil menghadang serangan itu dengan seluruh kekuatannya sehingga dia dapat bertahan hingga saat ini.
Charlie mengarahkan kedua tangannya kedepan, seketika itu juga batu kerikil yang menyerang Karl bertambah. Karl terus berusaha untuk keluar dari serangan itu, namun apa yang menyerangnya itu bukan hanya batu kerikil melainkan juga ada peluru. Karl mulai kelelahan menghadapi serangan Charlie sampai akhirnya sebutir peluru berhasil mengenai kaki kirinya. Keseimbangan tubuhnya menjadi goyah dan akhirnya terjatuh lalu Charlie menghujaninya dengan serangan batu kerikil dan peluru.
Serangan itu akhirnya berhenti, kaki Charlie terlihat gemetar dan akhirnya ia kehilangan keseimbangan lalu rubuh. Dari dalam mulutnya darah mulai mengalir keluar. Charlie terbatuk dan memuntahkan darahnya itu sambil menopang tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak terbaring.
Aku masih terdiam setelah menyaksikan pertarungan mereka. Menurutku pertarungan mereka tadi itu tidaklah terlalu bagus. Karena pertarungan tadi terlihat seperti pertarungan strategi dan bukan pertarungan kekuatan.
Tak lama kemudian para penjaga mulai berdatangan. Charlie menjadi panik dan berusaha dengan susah payah untuk pergi dari tempat itu. Namun sebelum ia sempat pergi, salah satu penjaga menyadari keberadaannya lalu penjaga itu menembaknya hingga akhirnya iapun tewas.
Para penjaga itu menghampiri mayat Karl dan Charlie sambil berbisik-bisik tentang kekalahan Karl. Aku sangat tahu mereka pasti merasa tidak puas karena Karl kalah. Namun mereka tidak tahu seberapa kuatnya Charlie. Mungkin jika Charlie sedang tidak terluka, ia bisa saja membunuh para penjaga itu. Tetapi orang itu malah bernasib buruk.
Ya mungkin itulah yang dinamakan takdir. Namun bagian terburuk dari tewasnya Charlie disini adalah adanya kemungkinan para penjaga itu menyadari serangan dari aliansi kota utara.
Hm.., sepertinya semuanya akan mulai menarik. Sebaiknya aku pergi untuk melihat pertunjukkan lainnya sebelum pertunjukkan utama dimulai.
__ADS_1