The Red Game

The Red Game
[S2] Chapter 4 part 2


__ADS_3

Aku dan Vany terus berjalan di sela-sela kota yang telah lama mati ini. Tidak ada tanda kehadiran seseorang selain kami di sini. Dengan santai melewati berbagai gang untuk mencapai perbatasan, kini kami berada tepat di gang kecil sambil memantau banyaknya prajurit yang tengah bersiaga dengan senapan di tangan mereka.


“Jadi, apakah kita perlu menerobos mereka dengan tenang, atau mungkin ....”


Tak perlu dilanjutkan pun, aku sudah mengerti apa yang akan dikatakan oleh Vany. Aku menghela napas sejenak, lalu memegang tangan kanan Vany dengan erat. Tatapan mataku bertemu dengannya, dan dalam sekejap, kami telah berada di sebuah hutan belantara.


Tempat ini merupakan hutan yang menghubungkan antara Kota Utara dengan desa Rose. Setelah sampai di sini, kami hanya perlu berjalan lurus ke utara, dan kemudian sampai dengan selamat ke sebuah desa yang menjadi tujuan.


Sebelumnya, aku juga pernah melewati jalan ini ketika pertama kali datang ke Kota Utara, maka dari itu aku dapat dengan mudah berpindah ke sini. Dalam keheningan hutan, kami terus berjalan dengan bergandengan tangan menuju desa Rose. Tidak ada yang mau memulai sebuah obrolan ringan hanya untuk menghabiskan waktu.


Ya, sebenarnya aku juga tak begitu peduli akan hal tersebut. Jika memang dia tidak ingin mengobrol, maka aku hanya akan mengikuti keinginannya itu. Kami masih terus berjalan di antara pepohonan rindang yang membentang sepanjang hutan. Beberapa saat kemudian, Vany pun memulai obrolan.


“Hei!”


Tanpa mau berpaling ke arahnya, aku menjawab dengan tak acuh. “Apa?”


“Em ... itu.”


Sesaat aku melirik ke arahnya, wajah gadis itu terlihat sedikit memerah, dan langsung saja kulepaskan genggaman tanganku dari tangannya. “Ah, maaf. Aku tidak bermaksud.”


“I-itu tidak apa.”


Aneh, kenapa dengan gadis ini? Apakah dia masih malu ikut bersama dengan brengsek sepertiku? Jika itu masalahnya, mengapa dia tidak berpisah denganku saja?


Lebih baik hal itu tidak kupikirkan saja. Terlalu banyak teka-teki tentang gadis di sampingku ini, tidak mungkin kan, aku bisa menjawab pertanyaan itu sendiri. Kacuali dia mau memberitahukan semua tentang dirinya, mungkin aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut seorang diri.

__ADS_1


Mendadak, aku menghentikan langkah, menerawang ke sekitar karena merasa ada yang tidak beres. Vany juga ikut berhenti di sampingku, mungkin dia juga merasakan apa yang aku rasakan. Walau hanya sedikit, tetapi tetap terasa hawa kehadiran seseorang.


“Hati-hati,” kataku dengan pelan kepada Vany.


Gadis itu hanya mengangguk kecil, lalu menerawang ke sekitar. Sejauh ini, tidak ada hal yang mencurigakan. Apakah firasatku salah?


Hawa keberadaan seseorang tadi, tiba-tiba menghilang, mungkin seharusnya sejak tadi aku menggunakan Teknik Pelacak untuk melakukannya. Ah, sialan, kenapa otakku begitu buntu akhir-akhir ini? Apa karena diri ini belum makan apa-apa?


Pasrah akan kacaunya pikiran, aku pun berjalan ke arah utara agar segera sampai di desa Rose. Mungkin dengan sampainya aku di sana, akan ada yang berbaik hati memberikan sesuap nasi untuk kunikmati. Ya, kuharap demikian.


Jarak antara Kota Utara dan desa Rose sangatlah jauh, maka dari itu, ketika sore hari tiba, aku dan Vany memutuskan untuk beristhirahat di bawah pohon yang rindang. Selain itu, kami juga telah memakan beberapa buah-buahan yang ada di hutan ini, sehingga hidup kami tidak hanya bergantung dengan energi yang terkandung dalam inti kekuatan kami.


Kami duduk bersebelahan sambil memandangi indahnya langit malam yang dihiasi oleh bintang-bintang. Tubuhku rasanya sangat lelah, karena berjalan seharian penuh menyusuri hutan yang cukup luas ini. Hal tersebut mengingatkanku dengan waktu pertama kali aku pergi dari desa Rose menuju Kota Utara. Namun, bedanya, kala itu aku membawa persedian di dalam tas yang kubawa, tetapi sekarang diri ini berjalan tanpa membawa apa pun.


“Hei, Vany!”


“Andai kata dulu kita tidak dipisahkan,” aku menunduk, mengenang masa lalu kami, “apakah kau dapat menghentikan aku melakukan pembantaian waktu itu?”


“Kenapa baru sekarang kau menyinggungnya?”


Sontak aku berpaling ke arah Vany yang tengah memandangi langit malam. Diri ini bergeming, mulut terasa tak mampu melontarkan kalimat apa pun. Dia kemudian berpaling, menatap tajam ke arah mataku. “Mungkin kau yang dulu tidak akan mau mengungkit masa lalu, tetapi dirimu yang sekarang sungguh berbeda,” Vany tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya, “aku akan meminjam kata-katamu yang paling kejam: Masa lalu sudah tidak dapat diulang, jadi untuk apa mengungkitnya?”


Segera aku memalingkan wajah, tak mau menatapnya lebih lama, karena merasa malu dengan diriku sendiri. Sebuah kata yang terucap oleh mulutku, mendadak dijadikan sebagai alat untuk melawanku, apakah itu baik? Tentu tidak.


Aku menghela napas sejenak, rasa lelah kini menyelimuti tubuh. Karena tak perlu khawatir akan ada serangan mendadak, sebab telah memasang pelindung di sekitar, aku langsung menutup mata.

__ADS_1


***


Pagi hari yang cerah, mengawali langkah kami untuk segera beranjak dari tempat isthirahat menuju ke desa Rose. Sepanjang jalan aku hanya terus berjalan dalam diam, tanpa ada sedikit pun niat untuk berbicara.


Vany pun demikian, ia terus menunduk sepanjang perjalanan entah karena apa. Suasana yang benar-benar membosankan, pantas saja waktu terasa berjalan begitu lambat. Aku menghentikan langkah, memandangi sekitar untuk mencari sesuatu. Apa yang sedang kucari tidak lain adalah hewan liar yang dapat dimakan, sebab tidak baik jika hanya mengisi perut dengan buah-buahan.


“Apa yang kau cari?” tanya Vany sambil memiringkan kepala.


“Hanya cemilan yang mungkin mengenyangkan perut selama beberapa saat,” aku menjawab dengan tak acuh.


“Terserahlah.”


Sepertinya dia tidak tertaring dengan apa yang hendak aku lakukan, wajar sih, karena ini memang tidak menarik. Kututup mata, lalu mengaktifkan Teknik Pelacak. Dalam radius beberapa puluh meter di sekitar, aku dapat tahu apa pun, baik hewan, manusia, maupun tumbuhan.


Segera aku membatalkan Teknik Pelacak dan mulai berjalan ke depan. Di sana aku melacak adanya seekor bhabi hutan.


“Ayo pergi!”


Sesaat setelah aku mengatakan kalimat tersebut, Vany langsung mengekor di belakangku. Mungkin tak perlu kujelaskan lagi, kami menemui bhabi hutan tersebut, kemudian aku memanggangnya untuk mengisi perut.


***


Sudah tiga hari kami berjalan hingga akhirnya sampailah kami di perbatasan antara hutan dan desa Rose. Tanpa mau menunggu lagi, aku langsung berlari menerobos semak-semak untuk mencapai tempat yang telah lama kutinggalkan.


Pemandangan yang begitu spektakuler langsung terlihat oleh mata, di mana begitu banyak drone yang berterbangan mengawasi setiap sudut desa. Mungkin sangat merendahkan menyebut tempat ini desa, tetapi mereka tidak mau menamai tempat ini dengan nama yang mencolok seperti kota.

__ADS_1


Sebelum dapat melangkah lebih jauh, sebuah drone langsung memeriksa tubuhku dengan memancarkan cahaya berwarna biru. Alat itu dapat dengan mudah mengindentifikasi apakah kami adalah penyusup atau bukan. Karenanya, tidak ada seorang pun yang mau menyusup ke sini, sebab takut dengan keamanannya.


__ADS_2