The Red Game

The Red Game
Chapter 3 : Aku Tidak Dapat Menyimpulkan Ini Sebagai Kesialan atau Keberuntungan


__ADS_3

Hari sudah hampir gelap ketika aku keluar dari markas BlackList. Tubuh terasa aneh ketika berjalan menyusuri halaman. Lalu aku tersadar kalau sedari pagi perutku hanya berisikan cemilan yang dibuat Vany, hingga membuatku lemas.


“Ah, aku lapar.”


“Sepertinya kau sedang kesusahan. Apa perlu kubantu?”


Suara seorang gadis memanggil dari belakangku, terdengar. Aku berhenti dan menoleh ke arah suara itu untuk merespon.


“Tidak juga.”


“Tapi sepertinya tubuhmu berkata lain.”


Dia berjalan mendekat ke arahku dengan santainya.


“Sepertinya aku tidak berbakat dalam berbohong. Karena kau sudah tahu, maka aku akan meminta batuan padamu.”


“Apa itu?”


“Vany! Sebenarnya aku ... aku ... aku lapar.”


Vany tertawa mendengar kata-kata itu.


“Kamu ternyata hanya lapar. Aku kira kamu memiliki masalah besar.”


“Mana mungkin aku memiliki masalah besar untuk sekarang.”


“Sepertinya begitu. Ah sudahlah.”


“Ya.”


“Hei, sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu.”


Vany tiba-tiba merubah topik pembicaraan. Dia dengan sedikit malu, meminta bantuan kepadaku. Sebenarnya apa yang dia inginkan.


“Kau bilang tadi ingin membantuku, tapi sekarang malah kau meminta bantuan. Apakah ini yang dinamakan pertukaran setara.”


“Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu.”


“Tidak apa. Lagipula aku tidak keberataan. Jadi apa yang bisa aku bantu.”


“Soal itu, mm ... itu ... maukah kau menemaniku ke kota sebelah. Jadi itu, kita sekalian saja makan malam di sana.”


Ternyata hanya itu. Kukira ada hal yang mendesak untuk segera diselesaikan, ternyata hanya pergi menemaninya ke kota sebelah. Sepertinya aku salah paham padanya.


“Jika kau tidak keberatan.”


“Jadi, ayo berangkat.”


“Baiklah.”


Kami melakukan perjalan ke kota sebelah dengan berjalan kaki. Sepertinya ini akan memakan waktu yang lama untuk sampai ke tujuan.


***


Dalam perjalanan, aku berkata pada diriku sendiri, ‘kenapa begini jadinya?’. Sejak awal aku sudah menduga ada alasan kenapa dia mengajakku ikut dengannya, dan firasat buruk sudah memeperingatiku saat dia bertingkah sedikit malu. Kenapa aku mengabaikan semua itu? Ah, sudahlah, aku hanya akan pasrah saja. Tidak ada gunanya mengeluh saat semuanya sudah terjadi.


“Lebih cepat!”


“Berisik.”


“Ehehehe, apa kau senang?”


“Tidak ada orang yang senang saat dirinya dijadikan kuda oleh orang lain.”


“Bukannya kita ini seperti tim yang kompak.”


Sialan, aku dijebak olehnya. Andai saja aku menolak tawarannya sejak awal, ini tidak akan pernah terjadi. Betapa buruknya nasibku ini sampai-sampai ditunggangi bagaikan kuda.


“Semangat Kei! Kita sebentar lagi akan sampai.”


Syukurlah penderitaan ini akan segera berakhir.


“Tapi bohong.”


“Eh?”


“Haha, aku bercanda.”


Hedeh, untung saja kau seorang gadis. Jika kau seorang pria, aku pasti sudah menghajarmu.


Di depan kami, sebuah gerbang besar sudah bisa terlihat. Vany langsung menyuruhku untuk berhenti ketika melihatnya. Aku bertanya-tanya kenapa kenapa dia melakukan ini. Apakah karena dia malu karena menunggangiku? Tapi yang jelas bebanku sudah hilang.


“Mulai dari sini, kita akan menyusup masuk. Jadi berhati-hatilah.”


“Apa maksudmu?”


“Kita dari Kota Utara, sudah jelas kalau kita akan ditangkap.”


“Tapi kenapa mereka membuka gerbangnya jika tidak ingin orang dari kota utara masuk?”


“Kau pikir hanya orang dari kota utara yang menggunakan gerbang itu?”


“Ya, begitulah.”


“Bodoh.”


“Ya, ya, ya. Kaulah yang paling pintar.” Aku mengikutinya saja karena tidak ingin berdebat. “Jadi, bagaimana cara kita masuk?”


“Tentu saja masuk secara paksa.”


“Bukankah itu rencana orang bodoh.”


“Jadi, bagaimana lagi? Apa kau punya ide?”


“Mereka tidak pernah melihatku, kan?”


“Lalu?”


Kuambil dua jubah hitam di dalam tas, lalu memberikan salah-satunya kepada Vany.


“Kau hanya perlu ikuti instruksi dariku saja.”

__ADS_1


Aku berjalan dengan tak acuh dan diikuti oleh Vany yang tidak tahu apa yang kurencanakan. Setibanya digerbang, aku ditanyai oleh salah satu petugas.


“Berhenti! Dari mana Anda berasal.”


“Saya Kei dari desa Rose. Dan dia adalah temanku Vany.”


“Bisakah Anda menunjukkan tanda pengenal dan barang bawaan Anda?”


Aku dengan patuh menunjukkan tanda pengenalku. Sudah jelas mereka tidak akan curiga, karena aku memang berasal dari desa Rose.


Ngomong-ngomong, desa Rose adalah sebuah desa kecil yang berada di bagian paling utara negara ini. Jadi, mereka tidak akan curiga denganku yang muncul dari Kota Utara. Karena untuk sampai ke kota ini, mau tidak mau harus melewati kota utara.


“Sepertinya Anda bukan orang dari kota itu.”


“Kota utara?”


“Ya. Kota itu ... Kota Utara, markasnya para penjahat.”


“Ya, begitulah." Aku menghela napas sejenak. "Baiklah, kami permisi.”


“Silahkan, maaf mengganggu waktu Anda.”


“Tidak apa. Itu adalah tugas Anda.”


Aku dan Vany berjalan melewati gerbang penjaga. Ketika masuk ke dalam kota, hari sudah benar-benar gelap. Namun, cahaya lampu dari rumah, toko dan lampu jalan menerangi gelapnya malam.


“Sepertinya waktu berlalu dengan cepat,” aku berguman pelan.


“Apanya yang waktu berlalu dengan cepat? Kita beruntung karena bisa melewati para penjaga itu.”


“Kau sungguh berpikir aku tidak menyadarinya.”


“Hah? Jika saja mereka tahu kalau aku berasal dari kota itu. Apa kau tahu apa yang akan terjadi.”


“Menerobos masuk secara paksa. Itu yang sebelumnya kau katakan. Apa aku salah.”


“....”


Sepertinya Vany menjadi bingung saat aku mengatakannya.


“Sebenarnya, kata-kata itu adalah isyarat darimu, kan?”


“Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud?”


“Pertama, kenapa kau mengajakku untuk menemanimu? Sudah jelas karena aku orang baru di Kota Utara. Kedua, kau mengatakan padaku kalau rencanamu adalah dengan menerobos dengan paksa. Dapat disimpulkan bahwa kau ingin mengetahui apakah aku bisa menyadari isyarat itu. Maka dari itu, aku beranggapan kalau kau sebenarnya bukan orang dari Kota Utara, sama sepertiku. Sebenarnya aku bisa saja berpura-pura tidak menyadarinya agar kau mengganggapku bodoh. Tapi pemilihan waktumu benar-benar bagus.”


“Ternyata kau memang pintar. Hm ... tapi tidakkah kau merasa melupakan sesuatu?”


“Berhenti bertanya. Teknik Penghilang milikmu itu tidak bisa digunakan pada orang lain.”


“Kenapa bisa begitu?”


“Karena semua Teknik itu memiliki syarat dan batasan. Dan juga, aku ragu Teknik tersebut dapat luput dari pendeteksi.”


“Seperti yang diharapkan dari bawahan Cresh. Karena kau sudah bersedia menemaniku, ayo kita cari rumah makan.”


“Ya.”


Benar-benar rencana yang hebat, Vany. Kau bahkan sanggup membuatku menunjukkan sedikit kemampuan. Tapi sayang sekali, aku sejak awal sudah menyadari itu. Ini memang terlihat seperti rencanamu berjalan dengan baik. Namun, sebenarnya aku sengaja membuatnya terlihat seperti itu untuk jaminan di masa depan.


Semakin jauh berjalan, jumlah kerumunan semakin berkurang. Aku sedikit lega karenanya. Tapi sampai kapan aku harus berjalan?


“Kita sampai,” kata Vany dengan gembira saat ia berhenti di depan sebuah rumah makan.


“Sampai?”


“Ya.”


“Sungguh?”


“Jika kau tidak ingin makan, maka jangan ikut.”


“Aku ingin. Tapi, kenapa di sini?”


“Karena sepertinya makanan di sini enak dan cukup populer.”


Tidak, tidak, tidak. Memang benar sepertinya ini populer. Namun, terlalu populer. Bagaimana caranya kita masuk dengan antrian panjang ini. Sungguh, aku bahkan tidak yakin masih ada meja yang kosong di sini. Hiks, dia sangat membenciku ternyata.


“Hm, antriannya sangat panjang. Mungkin kita perlu pindah tempat.”


Untunglah dia paham akan perasaanku.


“Rumah makan di depan sana terlihat sedikit sepi. Mungkin kita ke sana saja.”


Vany menunjuk sebuah rumah makan di seberang jalan.


“Eh?”


Sekarang aku mengerti. Sejak awal dia memang sudah berniat untuk pergi ke sana. Dia sejak tadi terus memperhatikan rumah makan sekitar, lalu menemukan tempat itu dan kebetulan ada restoran yang populer di depannya. Jadi, dia berakting seolah-olah ini adalah kebetulan.


“Terserahlah.” Aku pun pasrah, tak mau berdebat lagi.


“Oke, sudah diputuskan.”


Sebuah rumah makan yang bagian depannya terlihat sangat tidak menarik dan papan nama yang hampir jatuh. Bukan hanya itu, warna cat putih pada dinding dan juga empat jendela yang berada pada kedua sisi pintu masuk, dipenuhi oleh debu. Sudah berapa lama bangunan ini tidak dibersihkan.


“Setidaknya, masuklah dulu baru kau merasa kecewa.”


Jika bagian depannya saja tidak pernah dipedulikan. Rumah makan ini pasti sebentar lagi akan gulung tikar. Sudahlah, anggap saja aku membantu menambah modal mereka sebelum tutup.


“Hah?”


“Kau terkejut?”


Ini sangat mengejutkan. Bagaimana mungkin aku tidak terkejut oleh kejutan ini. Di luar sana, tempat ini benar-benar terlihat kumuh dan tidak menarik. Aku tidak pernah menduga kalau bagian dalamnya sangat luas dan rapi. Ada banyak sekali pelanggan. Bahkan setelah kuperhatikan, hanya tersisa satu meja lagi yang kosong. Dengan cepat kami mengamankan meja yang kosong tersebut.


“Tidak baik menilai buku hanya dari sampulnya saja.”


Baik, itu nasehat yang bagus Vany. Biarkan aku mempermainkanmu sebentar saja.


“Kalau sampulnya saja tidak menarik, apakah mungkin banyak orang yang akan membelinya.”

__ADS_1


“Itulah kesalahan banyak orang. Jika dipikirkan lagi, mereka seperti orang yang berpikir pendek saja. Hanya dengan melihat sampul, mereka dengan seenaknya mencap kalau itu adalah jelek atau bagus.”


“Lalu, bagaimana cara menentukan bagus dan jeleknya buku itu?”


“Kau hanya perlu membaca judul dan sinopsisnya.”


Awalnya aku berniat untuk sedikit menggodanya, tapi sepertinya itu mustahil. Dia berhasil lolos dari kail pancingku.


Menghentikan obrolan, aku memesan beberapa porsi makanan pada pelayan. Hari ini aku merasa sangat lapar, satu porsi makanan saja tidak akan cukup. Sekalian saja aku bisa sedikit membalas Vany.


“Kebanyakan orang juga suka menilai seseorang dari bagian luarnya saja, padahal mereka tidak tahu kebenarannya.”


Kupikir topik itu sudah berakhir. Namun, ternyata Vany masih saja membahasnya.


“Kupikir juga begitu.”


Sejauh yang aku tahu, kebanyakan orang akan dengan mudahnya membuat penilaian pada orang lain karena penampilannya. Ini sama seperti orang menilai buku dari sampulnya tanpa melihat judul dan sinopsisnya. Contoh, ketika ada seseorang yang memiliki tampang seperti brandal, kebanyakan orang akan langsung menilai kalau dia itu brandal. Namun, kenyataannya tidak begitu.


Terlarut dalam pikiran membuatku hampir lupa kalau hidangan sudah tersaji di atas meja. Aroma lezat memenuhi hidung hingga aku tidak tahan untuk menyantap hidangannya. Saat untuk menikmatinya akan dimulai.


***


“Hidangannya sangat lezat.”


Aku berkomentar setelah selesai makan. Tubuh menjadi lebih bertenaga lagi. Padahal tadinya aku berkomentar buruk pada rumah makan ini, dan sekarang menyesalinya. Hidangan yang disajikan telah membuatku sadar akan penilaianku yang salah.


“Sepertinya kau menyesali komentarmu sebelumnya,” ejek Vany.


“Itu wajar, karena aku tipe kebanyakan orang.”


“Ya, kau mengakuinya.”


“Sebaiknya kita kembali.”


“Bukankah kau berjanji akan menemaniku jalan-jalan.”


“Iya, iya.”


Menyebalkan, aku kira dia akan melupakan tujuan awal dengan mengalihkan perhatiannya pada topik percakapan kami. Sebenarnya apa tujuannya membawaku. Mungkin dia akan mempermainkan aku lagi. Meskipun itu hanya akan menyia-nyiakan waktu saja.


Kami keluar dari rumah makan dan berjalan menuju kerumunan orang. Kelihatannya orang-orang sedang melihat suatu pentas seni. Vany sungguh bersemangat ingin melihatnya, jadi mau tidak mau aku ikut juga. Ini membosankan. Aku tidak terlalu suka berada di kerumunan dan juga tidak terlalu tertarik untuk melihat pertunjukan apa pun.


Berjalan lebih jauh, kami sampai disebuah acara pasar malam. Ini sedikit manarik daripada pertunjukan. Ada banyak wahana dan stan makanan. Itu sudah menjadi ciri khas dari pasar malam. Jadi tujuannya sebenarnya adalah ini?


Vany berhenti berjalan, lalu berbalik padaku sambil tersenyum.


“Apa kamu ingin mencoba beberapa wahana di sini?” dia bertanya dengan antusias menunggu jawabanku.


“Aku ingin, tapi nampaknya uangku tidak akan cukup untuk itu,” jawabku padanya.


Menurutku, jawaban seperti itu akan dapat menjadi awal untuk menolak ajakannya. Karena bagaimanapun aku hanya ingin secepatnya keluar dari kerumunan orang.


“Tenang saja. aku yang akan mentraktirmu untuk itu.”


“Itu tidak bisa. Dalam keadaan seperti ini, harusnya pria yang mentraktir wanita dan bukan sebaliknya.”


Sebenarnya aku tidak peduli pada hal itu. Tidak ada salahnya juga jika wanita mentraktir pria di saat seperti ini. Hanya saja aku ingin menolak ajakan itu. Salah satu cara untuk secepatnya pergi dari sini adalah dengan tidak menunjukkan antusiasme pada Vany agar dia merasa bosan.


“Hm, apa kamu masih memiliki harga diri seorang pria, hah?”


“Ya, bisa dibilang seperti itu.”


Tidak peduli apa yang dia katakan tentangku, aku tidak akan memikirkannya. Prinsip seseorang yang dapat terpancing dengan provokasi karena diejek tidaklah ada untukku.


“Bagaimana kalau begini. Kamu ikut mencoba beberapa wahana atau aku akan berteriak kalau kamu ingin berbuat yang tidak-tidak padaku.”


Dia berhasil menjebakku. Di saat seperti ini, jika dia berteriak, aku pasti akan babak belur dan menjadi sekarat dikeroyok oleh banyak orang. Sepertinya masih terlalu awal bagiku untuk mengalahkan kecerdikkannya.


“Baiklah, aku mengerti. Aku akan menemanimu.”


“Oke. Kamu yang traktir, ya. Hehe.”


“Ini tidak sesuai dengan perjanjian awal.”


“Perjanjian itu sudah tidak berlaku karena kamu menolaknya. Jadi aku memutuskan untuk menghormati keputusanmu. Dan kamu bilang kamu masih memiliki harga diri seorang pria.”


Astaga. Aku tidak menyangka dia memanfaatkan strategiku untuk menyerang balik. Inikah yang dinamakan senjata makan tuan. Padahal dari dulu aku tidak pernah dipermainkan seperti ini. Namun, Vany dapat dengan mudah menggagalkan rencanaku. Sebenarnya berapa level orang ini di atasku. Sungguh tidak menyenangkan.


“Baiklah, aku kalah. Kalah telak lebih tepatnya.”


Walau terpaksa aku harus mengakui kekalahanku. Tapi dari itu aku sudah sedikit tahu kemampuannya. Dan sepertinya ini kemampuan yang menarik. Dia layaknya pion yang harus digunakan dengan hati-hati, kalau tidak ingin dimangsa olehnya. Dia akan membuat game terasa lebih menyenangkan.


“Hihi. Masih terlalu cepat bagimu untuk bisa mengalahkanku.”


“Ya, ya, ya. Jadi, ke mana kita pergi?”


“Wahana pertama adalah rumah hantu.”


Rumah hantu? Jadi, pada dasarnya dia ingin memulainya dengan wahana yang menakutkan. Aku tidak berpikir kalau ini cocok untuk dikunjungi pertama kali. Menurutku, wahana ini cocoknya untuk dimasuki terakhir kali saja. Meskipun aku tidak pernah bermain di tempat seperti ini sebelumnya.


Di pintu masuk nampaknya sangat sepi, sehingga aku dapat melihat dengan jelas bagian depannya. Di sana terdapat gambar pocong dan hantu dengan latar belakang berwarna coklat. Aku sedikit kepikiran kenapa pocong diikat dengan kain putih dan memiliki wajah putih pucat serta kelopak mata berwarna hitam. Apa mungkin karena pocong selalu begadang setiap malam?


Sebelum memasuki rumah hantu, kami pertama-tama membeli tiket masuk. Aku bersyukur karena harganya tidak mahal sehingga isi dompetku tidak terlalu banyak terkuras.


Bagian dalam wahana rumah hantu sepertinya sedikit gelap, atau bisa dikatakan mereka ingin menghemat listrik dengan tidak memberi penerangan di sini. Nampaknya aku pernah mengalami situasi serupa. Tapi dimana? Ah, aku ingat, ini sama seperti saat aku diseret oleh Cresh. Meskipun ini tidak seburuk waktu itu.


Tangan kananku sepertinya sedang dipegang oleh seseorang. Dan lagi orang ini semakin menempel saja pada tubuhku. Mungkin saja dia adalah Vany. Padahal dia yang menyarankan untuk memasuki wahana ini, tapi dia juga yang takut.


Aku melirik kepada orang itu. Dia nampaknya orang yang berbeda dari yang kupikirkan. Bukankah ini aneh kalau orang asing yang tidak kukenal tiba-tiba menempel. Atau mungkin saja dia jatuh cinta padaku dan tidak mampu menahan diri. Ini sedikit membingungkan, tapi sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat. Wanita berambut panjang dengan dress berwarna putih, wajahnya pucat dan kelopak matanya berwarna hitam. Dia tidak begitu cantik jika dilihat dari wajah.


Ini aneh, di mana aku pernah melihatnya? Kalau tidak salah, wajahnya terpampang jelas dipintu depan. Hm, pintu depan, ya? Sepertinya memang begitu.


Eh? Jangan bilang kalau dia ....


Tenanglah diriku! Tenang! Tenang! Tenang! Tenang! Tenang!


Dia bukan itu, kan?


Ya itu benar. Dia hanya manusia yang menyamar. Jadi aku hanya perlu sedikit mengatur napas dan tetap berpikir dengan logis.


Lalu tiba-tiba saja dia menghilang ke dalam kegelapan dan meninggalkanku.

__ADS_1


Untunglah aku selamat. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi lagi jika dia tetap menempel padaku. Saatnya untuk lanjut. Aku ingin ini segera berakhir.


Setelah kejadian tadi berakhir, pundakku ditepuk oleh sesuatu. Itu membuat aku terkejut hingga tanpa sengaja berlari dengan kecepatan penuh tanpa pikir panjang. Karena tidak dapat mengontrol kecepatan, aku tanpa sengaja menabrak dinding hingga rubuh dan tak disangka di sana ada sebuah kolam. Sudah sangat jelas kelanjutannya. Ini adalah kesialan.


__ADS_2