The Red Game

The Red Game
Chapter 4 : Kekacauan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak hari itu. Selama ini, aku hanya menikmati hari-hari dengan para anggota BlackList. Kupikir tidak ada salahnya jika aku sedikit menikmati hidup damai dan melakukan hal yang menyenangkan bersama mereka. Meskipun begitu, aku tidak boleh terlalu terbawa suasana. Tujuanku yang sebenarnya datang ke sini masih belum tercapai. Mungkin ini waktu yang bagus untuk bersiap-siap.


Berjalan keluar markas menuju halaman, aku disambut oleh udara segar pada pagi hari. Kesunyian yang nyaman dapat kurasakan, ini lebih baik daripada harus mendengarkan kericuhan di hari yang indah ini. Percaya atau tidak, udara pagi dan suasana damai dapat membuat pikiran menjadi tenang. Bisa dikatakan, ini adalah obat alami yang dapat menenangkan pikiran.


Matahari mulai terbit, sinar yang dipancarkannya membuat suhu tubuh menjadi lebih stabil. Dia dapat dilambangkan sebagai bumbu pelengkap untuk makanan sehingga menambah cita rasanya. Dan matahari juga faktor penting bagi kehidupan. Karena tanpa adanya sinar matahari, udara pasti akan menjadi sangat dingin hingga tidak ada yang dapat bertahan.


“Ah, kurasa aku tidak dapat menikmatinya lebih lama dari ini.” Aku berguman seperti itu setelah menguap.


Kembali masuk ke dalam markas, aku mengambil tas yang sudah kuisi dengan beberapa potong roti dan air minum. Hari ini aku tidak akan makan bersama dengan mereka, maka agar tidak kelaparan, aku membawa roti untuk mengisi perut. Perjalanan panjang akan segera dimulai.


Meninggalkan area BlackList, aku berjalan menyusuri gang kecil. Tidak ada satu orang pun di sana seperti dugaanku. Meskipun biasanya aku menyukai tempat seperti ini, tapi perjalanan kali ini tidak lain adalah untuk mencari markas organisasi lain. Aku tahu pekerjaan ini tidak cocok untukku, tetapi demi mencapai tujuan, apa pun akan kulakukan. Selama itu tercapai, maka sudah cukup.


Semakin jauh berjalan, aku menemui jalanan besar dan kosong, ini adalah jalan yang sudah pernah kulalui dengan seseorang. Menyusuri jalanan itu, aku semakin dekat dengan gang kosong tempat aku diselamatkan oleh Cresh. Pertama-tama, mungkin aku perlu mengunjunginya.


Saat berada tepat di persimpangan gang itu, aku dengan cepat bersembunyi. Di sana secara kebetulan ada seseorang dengan jubah hitam. Aku cukup beruntung, karena dia tidak menghadap ke arahku. Mengintip ke dalam gang, orang berjubah tadi tidak bergerak dari posisinya. Dia hanya terus berdiri dan sedikit menundukkan kepala. Apa mungkin dia sedang menggunakan Teknik Komunikasi Jarak Jauh.


Memang ada kemungkinan kalau dia menggunakan ponsel, tapi aku tidak yakin benda itu akan berfungsi dengan baik di kota ini. Dan juga, hampir tidak ada sinyal yang dapat digunakan untuk menjadi koneksi. Jadi, satu-satunya kemungkinan adalah dia menggunakan Teknik Komunikasi Jarak Jauh. Ini adalah kemampuan yang langka dan bisa diandalkan saat situasi terdesak.


Tiba-tiba saja, orang berjubah yang kuawasi berbalik dan dengan cepat berlari ke arahku. Dia sepertinya sudah mengetahui keberadaanku. Setelah dia memperpendek jarak denganku, tanpa peringatan dia menembakki aku dengan pistol yang ada ditangannya. Menggunakan kecepatan penuh, aku berhasil menghindari serangan itu, lalu berbalik menyerang dia dengan tinju.


Tinjuan ke arah perutnya membuat ia terbentur ke dinding. Dinding itu retak menahan benturan yang sangat kuat. Kupikir orang itu sudah tidak dapat bertahan dari serangan. Untuk berjaga-jaga, aku mengambil pistol yang ia pakai.


Saat aku berniat pergi dari tempat itu, suara yang terdengar berat memanggilku.


“Tunggu ... aku masih ... belum ... kalah.”


Mendengar itu, aku pun berhenti lalu berbalik ke arah suara tersebut. Aku tidak percaya dia masih gigih untuk bangkit berdiri. Kalau aku tidak salah ingat, tinjuku tadi seharusnya cukup untuk mematahkan beberapa tulangnya.


“Kenapa kau masih tidak menyerah?” tanyaku.


Seharusnya sudah cukup beruntung baginya dengan bisa bertahan hidup setelah terkena serangan. Tapi kenapa dia malah terlihat seperti ingin mati. Aku tidak mengerti.


“Aku ... tidak boleh kalah .... sekarang, aku masih harus ... menjalankan tugasku ....”


Aku menarik pelatuk dari pistolku. Peluru yang terlepas dari pistol itu langsung membuat darah mengalir dari kepala orang berjubah tadi.


“Berisik.”


Aku benar-benar muak padanya. Seharusnya dia pura-pura mati untuk mengelabuhiku, tapi dia begitu bodoh dengan memanggilku. Jika memang dia mencari simpati, maka dia salah menargetkan orang.


Serangan bola api dilancarkan dari belakang. Itu memang serangan diam-diam yang cukup cerdik, tapi aku dengan mudah bisa menghindarinya dengan berlari ke samping. Dan sayang sekali serangan yang dilancarkan itu pasti akan berdampak buruk pada orang yang sudah kutembak tadi.


Tak lama kemudian, serangan lain dilancarkan lagi. Aku sudah tidak punya pilihan lain selain masuk ke dalam gang buntu itu untuk menghindar. Lagi-lagi aku dapat dipojokkan oleh musuh. Mungkin aku harus lebih memperhatikan pola serangan musuh saat bertarung.


Debu dan asap berterbangan menutupi pandangan. Akan buruk jika aku tidak dapat melihat kalau musuh menyerang. Sebaiknya aku berhati-hati. Dari dalam kabut, aku bisa melihat sedikit cahaya, sepertinya itu adalah serangan bola api. Sepertinya mereka tidak begitu ahli dalam pertempuran, dan aku juga tidak perlu repot-repot untuk menghindar.


Dalam jarak sekitar 1 meter di depan, serangan api tadi meledak seperti menabrak dinding. Sebenarnya, karena kutukan yang kumiliki ini, aku menjadi tidak dapat dilukai. Serangan apa pun akan percuma jika diarahkan padaku. Tapi untuk membuatku terlihat seperti orang biasa, aku berpura-pura lemah dengan selalu menahan kutukan itu. Sebab jika kutukan ini keluar, maka orang-orang yang berada di sekitarku akan mati dengan mengenaskan.


Kabut yang tadinya menutup pandangan sekarang sudah mulai menghilang. Aku dapat melihat dua orang berjalan ke arahku. Mereka pasti berpikir aku sudah mati dan ingin memeriksa mayatku.


“Hallo!” sapaku pada mereka.


Mereka mungkin terkejut, sehingga secara tidak sadar melompat ke belakang.


“Tidak perlu sampai terkejut?”


“Bagaimana mungkin kau bisa masih hidup setelah serangan tadi?” orang yang berada di sebelah kanan menjawab dengan bertanya.


“Itu karena serangan kalian terlalu lemah.”

__ADS_1


“Apa kau bilang?” orang yang berada di sebelah kiri menjadi kesal sambil mempersiapkan serangan.


“Hentikan! Kita tidak tahu sejauh mana kemampuan orang ini,” temannya memperingatkan.


“Tidak jadi menyerang?” Aku mengejek. “Oh, itu mungkin karena kau takut.”


“Brengsek.”Orang yang kuejek berteriak sambil menyerang dengan serangan bola api.


“Hentikan!” seru temannya, tapi sudah terlambat.


Serangan itu mengarah lurus padaku. Kali ini aku menekan kekuatan sebisa mungkin. Kemampuan pelindung otomatis akhirnya bisa kutekan agar tidak keluar. Saat serangan itu semakin dekat, aku menangkapnya dengan tangan kanan, lalu mengembalikan serangan itu pada pemiliknya. Bola api itu meledak saat mengenai targetnya.


“Lihatlah betapa bodohnya dirimu itu. Kau bahkan tidak bisa mengontrol seranganmu sendiri,” kataku.


Melihat itu, temannya langsung membantu ia berdiri. Aku terkejut dia masih bisa hidup terkena serangan dari jarak dekat seperti tadi. Ya, lagipula itu adalah serangannya. Mungkin dia berhasil mengurangi efek ledakannya. Tapi tetap saja dia tidak sadarkan diri meskipun begitu.


“Siapa kau sebenarnya?” tanya orang yang menopang tubuh temannya yang terluka.


“Sebelum bertanya, seharusnya kau perkenalkan dirimu dulu.”


“Aku tidak perlu memberitahukan itu.”


“Kalau seperti itu, aku juga sama.”


“Sebenarnya apa tujuanmu menyerang kami?”


“Bukankah seharusnya aku yang menanyakan itu.”


“Apa maksudmu, sudah jelas kalau kau menyerang salah satu teman kami. Kami menyerangmu itu wajar karena kau menyakitinya.”


Jadi dia berdalih kalau itu adalah ikatan antar teman. Berarti dia akan dengan senang hati menghabiskan waktunya untuk balas dendam. Tidak berguna. Dia tidak tahu batasnya sendiri.


“Meskipun dia seorang penghianat?” Aku bertanya lagi.


Dia menegaskan itu dengan penuh keyakinan. Kau harus tahu, di dunia ini saling percaya satu sama lain itu jangan terlalu berlebihan. Bisa saja orang yang kau percaya itu menghianatimu untuk bisa terus bertahan hidup. Satu-satunya hal yang dapat kau percaya di dunia ini adalah fakta yang kau lihat.


“Kau mengatakannya dengan penuh keyakinan seperti itu. Apa kau ini orang yang bodoh.”


“Aku tidaklah bodoh. Sesama teman itu sudah jelas harus saling percaya, kan. Kau yang hanya seorang penyendiri tidak mungkin mengerti itu.” Dengan kesal dia mengatakannya.


“Biar kutegaskan padamu. Dia menghubungi seseorang di pagi hari di dalam gang sunyi seorang diri. Apakah itu wajar? Dan aku juga tidak yakin kalau dia menghubungi kalian.”


“Tidak, itu bohong. Sudah pasti dia mempunyai alasan tersendiri.”


“Saat kalian diserang seperti ini, apakah dia menolong kalian?”


“Dia sudah kau bunuh, bagaimana mungkin ia dapat menolong kami.”


“Asal kau tahu saja, dia belum mati. Aku hanya memberinya luka gores pada wajahnya.”


“Bohong ... kau pasti sudah menghabisinya.”


“Tidak apa jika kau memang tidak percaya padaku. Aku juga tidak peduli akan hal itu. Jadi kuharap kau bisa tenang melihat apa yang terjadi selanjutnya. Ya, jika nantinya kau percaya padaku dan ingin menjadi rekanku, kau hanya perlu mencari aku.”


“Itu tidak akan terjadi.”


“Siapa tahu kau berubah pikiran. Masa depan itu tidak bisa ditebak. Baiklah, aku akan pergi.”


Aku berjalan melintasi kedua orang itu. Mungkin aku bisa pergi dengan tenang sekarang. Bercanda, mana mungkin aku akan pergi ketika pertunjukkan baru akan dimulai.

__ADS_1


Di depan pintu masuk gang, aku dapat melihat beberapa orang sedang menuju ke sini. Aku mengaktifkan Teknik Tak Terlihat dan menekan auraku agar tidak ketahuan. Ini adalah pertunjukkan yang sudah kutunggu-tunggu sejak tadi. Itulah mengapa aku sengaja mengulur waktu.


Orang-orang tadi masuk ke dalam gang. Dan seperti yang kuduga, yang membawa mereka kemari adalah orang berjubah yang bisa menggunakan Teknik Komunikasi Jarak Jauh. Mereka memperpendek jarak dengan dua orang yang kuajak mengobrol tadi.


“Apa maksudnya ini, Aris?” tanya orang yang menopang temannya.


Sudah kuduga dia pasti menanyakan hal tersebut, karena dia terlalu percaya pada temannya. Sepertinya dia harus diberitahu kalau itu adalah hal yang buruk. Bagaimanapun, kita tidak bisa mengetahui isi hati orang lain.


“Haih, jangan memasang wajah seperti itu. Aku di sini untuk menolongmu, Nathaniel,” jawab orang berjubah.


“Eh? Jadi maksudmu orang-orang ini adalah teman-temanmu? Aku tidak menyangka kau bisa berteman dengan orang dari organisasi lain.”


Aku tidak percaya ini. Dia masih percaya apa yang dikatakan oleh temannya yang penghianat itu. Tapi menjadi orang baik itu tidak mudah, Nathaniel atau siapa pun namamu itu.


“Baiklah, pertama-tama biarkan aku mengurangi beban dipundakmu itu.”


“Terima— eh?”


Sungguh kejam. Seorang teman yang sangat dipercayai oleh Nathaniel itu, dengan mudahnya mampu membunuh temannya sendiri. Dia menembak orang yang ditopang oleh Nathaniel. Kepalanya tertembak dan membuat darah bercucuran.


“Eh?”


Nathaniel begitu terguncang menyaksikan apa yang sudah terjadi. Dia masih tidak percaya kalau orang itu adalah temannya yang bernama Aris. Tubuhnya membeku, tubuh temannya yang sudah tak bernyawa jatuh ke tanah.


“Ada apa, Nathaniel? Seharusnya kau merasa senang karena beban yang kau pikul sudah tidak ada.”


“Apa maksudnya ini? Ini bohong, kan. Aris tidak mungkin membunuh temannya sendiri. Kau pasti orang lain yang menyamar sebagai dirinya.”


Nathaniel mengatakan itu karena masih tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Sepertinya sekarang dia menjadi putus asa.


“Itu benar sekali. Aku tidak akan pernah menyakiti teman-temanku. Tapi kalian bukanlah temanku, makanya aku bisa menyakiti kalian.”


“Kau tidak .... Katakan padaku kalau yang kau katakan itu bohong.”


“Hahaha, ini adalah kenyataannya. Jika kau masih tidak percaya, aku akan membantumu mengakhiri dilemamu itu.”


Nathaniel ambruk ke tanah. Hatinya pasti hancur saat ini. Teman yang begitu dia percayai, ternyata tidak menganggap dirinya sebagai teman. Tapi dia harus menerima kenyataan walaupun itu sangat pahit. Sudah tidak ada waktu baginya untuk menyesal sekarang.


Dengan tenang, Aris menarik pelatuk pistolnya. Suara tembakan terdengar, peluru yang ditembakkan melesat menuju kepala Nathaniel. Namun, peluru itu tidak dapat mencapainya. Kilatan petir langsung memblokir peluru tersebut.


“Arisssssss!!!!!!!!”


Sambil berteriak histeris, Nathaniel menutupi seluruh tubuhnya dengan jirah listrik, lalu bergerak menyerang musuhnya dari depan. Dia sungguh bodoh. Sudah jelas itu tidak akan berhasil.


Serangan bola angin dilancarkan oleh beberapa musuhnya. Tapi dengan bodohnya Nathaniel menerima serangan itu dan terus maju. Dia sudah sepenuhnya digelapkan oleh amarah. Mengabaikan serangan yang mengenainya, dia terus maju sedikit demi sedikit sampai akhirnya jirahnya hancur dan dia pun ambruk.


Tiba-tiba, kilantan petir menyambar tubuhnya. Tanah berguncang, lalu Nathaniel melayang seperti seorang dewa petir. Tampilan jirah yang ia pakai, berbeda dari sebelumnya. Dengan mengayunkan tangan, ia membuat petir menyerang musuhnya. Namun, serangan itu berhasil ditahan dengan pelindung angin.


Musuh menyerang balik dengan serang kombinasi mereka. Nathaniel mencoba menahan serangan tersebut. Ledakan terjadi, dari tempat ledakan itu Nathaniel yang sudah kehabisan kekuatan, terjatuh ke tanah.


Cukup bagus, aku tidak pernah menyangka dia akan memberiku kejutan. Dia berhasil membuat musuhnya kewalahan walau hanya sendirian. Tapi itu masih belum cukup. Nathaniel harus terus berkembang. Mungkin aku harus memberinya sedikit bantuan.


Tentu saja itu hanya bohong. Mana mungkin aku mau repot-repot menolongnya. Aku di sini hanyalah penonton, bukan sutradara.


“Akhirnya dia mati,” gumam Aris.


“Bagaimana sekarang?” tanya temannya.


“Kita akan istirahat dan bersiap untuk menghancurkan organisasi itu.”

__ADS_1


“Oke, kita pergi.”


Mereka pergi begitu saja seolah-olah tidak ada yang terjadi. Apakah mereka yakin Nathaniel sudah mati karena serangan itu, atau mungkin saja lupa untuk memeriksa. Ya, aku tidak peduli sih. Yang terpenting, terima kasih atas pertunjukkannya. Kuakui itu sangat hebat. Melihat orang baik yang tidak dapat menerima kenyataan dan berakhir dengan menghancurkan dirinya sendiri. Itu adalah apa yang orang bodoh lakukan.


__ADS_2