The Red Game

The Red Game
Chapter 2 part 1


__ADS_3

Cresh PoV


Tiga belas tahun yang lalu, saat masih masih berusia lima tahun, aku dibawa oleh Ayahku untuk pergi mengunjungi laboratorium yang dikelola oleh dia dan temannya.


Awalnya aku tidak mengerti kenapa Ayah mengajak aku ke tempat kerjanya. Akan tetapi, di sana aku melihat sesuatu yang jelas  sangat menakutkan. Hingga aku akhirnya tahu apa yang sebenarnya dikerjakan oleh mereka di laboratorium itu.


Beberapa saat kemudian, seorang pria paruh baya berjalan mendekat ke arah kami bersama dengan dua anak kembar di belakangnya.


“Yo! Apa kabarmu hari ini?” tanya Ayahku pada pria paruh baya itu.


“Seperti biasa. Tidak ada yang istimewa untuk detik ini,” jawab pria itu dengan nada datar. “Perkenalkan, ini anak-anakku Luchifer dan Kei.” Ia pun menarik dua anak kembar yang ada dibelakangnya, ke depan Ayahku.


“Oh, anak kembar, ya. Sungguh menarik. Ini anakku Cresh.” Ayahku menarik diri ini ke depannya. “Cresh, bermainlah dengan mereka. Aku yakin kau pasti bisa berteman dengan mereka.” Ia melirik ke arahku.


“Akan kucoba,” Aku menjawab dengan tak acuh.


Aku pun diajak pergi berkeliling oleh dua anak kembar tadi yang usianya mungkin sama denganku. Semakin jauh aku berjalan, maka semakin takut juga aku melihat sesuatu yang ada di tempat ini.


Sejenak langkah kaki ini terhenti, dan dada terasa sesak, tubuh entah mengapa bergetar tak terkendali dengan sendirinya. Perlahan, raga juga mulai terguncang dan terbujur lemas.


Apa ini ...? Sebenarnya apa yang telah aku lihat dengan kedua mata ini?


Tepat di depan sana ada sebuah ruangan luas yang dibatasi oleh kaca tebal transparan.


Di dalam ruangan itu, aku melihat anak-anak saling membunuh hanya untuk mendapatkan sepotong roti pada sebuah meja yang berada di tengah-tengah ruangan.


Ini benar-benar kejam dan tak bermoral.


“Apakah kau takut melihat ini, Cresh?” tanya salah satu anak kembar dengan nada datar.


“Bagaimana mungkin kau masih bisa tenang saat menanyakan hal itu? Apa salahnya kalau aku takut.” Kata-kata yang keluar dari mulutku mungkin sangat lemas sekarang.


“Tidak perlu diambil pusing. Luchifer memang seperti itu orangnya.” Si kembar lainnya menghibur sambil tersenyum ke arahku.

__ADS_1


Melihat sikap mereka, aku akhirnya tahu pembeda kedua anak kembar yang ada di depanku ini.


Si kembar yang bernama Luchifer adalah orang yang selalu tenang dan acuh. Sedangkan Kei adalah orang yang selalu ceria dan peduli terhadap temannya.


Setelah selesai berkeliling, kami bertiga dibawa ke sebuah ruangan berwarna putih dan dikurung di sana selama lebih dari satu hari tanpa diberi makan.


Tubuhku mulai melemah karena lapar, pengelihatan juga kian kabur. Setelah sekian lama menahan lapar, akhirnya aku tak sadarkan diri.


Entah sudah berapa lama aku pingsan sejak saat itu. Ketika tersadar, aku sudah berada di dalam kapsul kaca yang tertutup rapat.


Di dalam kapsul itu, tubuhku terasa sangat hangat dan nyaman, tapi beberapa saat kemudian, rasa hangat itu berubah menjadi rasa sakit.


Lama kelamaan, rasa sakit itu semakin menyebar ke sekujur tubuh. Aku menjerit begitu keras karena tidak mampu menahan rasa sakit yang kuterima.


Seluruh tubuh begitu panas seperti terbakar, dan tenagaku terkuras dengan cepat karenanya.


Untungnya, rasa sakit itu mereda setelah beberapa saat kemudian. Dan di waktu yang bersamaan, tenaga terasa seperti sedang diisi ulang hingga akhirnya pulih kembali.


Kapsul tempat aku dikurung saat ini, akhirnya terbuka setelah tenagaku pulih sepenuhnya. Tak lama kemudian, seorang perawat datang menjengukku.


“Ya, sepertinya begitu.”


Ketika aku menjawab pertanyaan perawat itu, aku teringat pada orang tertentu.


“Oh iya, Kak Perawat. Apa kau tahu di mana Luchifer dan Kei berada?”


“Kedua Tuan Muda Klaurius sepertinya sedang menjalani pemeriksaan di lantai bawah.”


“Oh begitu. Ngomong-ngomong, Kak. Aku lapar, apa ada makanan untukku?”


“Sebelum itu, biarkan saya melakukan pemeriksaan pada tubuh Anda terlebih dahulu.”


“Baiklah.”

__ADS_1


Perawat itu memeriksa seluruh tubuhku selama beberapa waktu. Lalu dia pun mengizinkan aku keluar dari dalam kapsul setelah pemeriksaan selesai.


Ketika aku keluar, perawat itu langsung memberikan beberapa makanan untuk kunikmati.


Setelah selesai makan, perawat itu menuntunku menuju ke pintu keluar dari ruangan yang kami gunakan saat ini.


Perawat itu membuka pintu dengan perlahan. Di balik pintu yang dibuka, terdapat seorang pria paruh baya, yang tidak lain adalah Ayahku. Dia nampaknya sedang menunggu seseorang.


Ia melirik ke arahku dan tersenyum. Melihat itu, perawat tadi langsung pergi meninggalkan kami.


“Bagaimana perasaanmu sekarang, Cresh?”


“Kenapa ayah membawaku ke tempat menakutkan ini?” Aku merasa tidak puas.


“Bukankah kau sendiri yang ingin mengunjungi tempat kerja Ayah?”


“Andai aku tahu kalau tempat kerjamu itu seperti ini.”


“Hm, sepertinya Ayah yang salah. Maaf, ya.”


Aku dan Ayah terus berjalan menyusuri lorong hingga sampai di lift. Kami menggunakan lift itu untuk turun ke lantai paling bawah.


Di lantai bawah tersebut, hanya terdapat sebuah ruangan besar, tetapi tidak berisikan apa-apa. Di ruangan itu,  Luchifer dan Kei terlihat sedang melakukan pertarungan satu lawan satu dengan pengawasan dari Ayah mereka. Saat aku dan Ayahku mendekat, mereka berdua berhenti bertarung, lalu menghampiri kami bersama dengan Ayah mereka.


“Yo, Cresh! Apa kabar?”


“Yo, Kei. Aku baik.”


“Apa kau sudah mendapatkan kekuatan?”


“Hah? Maksudmu sihir atau apalah itu?" Aku berhenti sejenak untuk mengamati wajah mereka berdua. "Kei, Luchifer. Apa kalian memang mempunyai tato pada wajah kalian sejak pertama kita bertemu?”


Pada wajah mereka atau lebih tepatnya di salah satu pipi mereka yang berlawanan, terdapat tato berwarna merah. Jika dilihat lagi, Luchifer memiliki tato di pipi kanan. Sedangkan Kei di pipi kiri, dan kalau digambar pada satu tempat, kedua tato itu terlihat seperti satu tato yang dibagi dua.

__ADS_1


“Sepertinya tato ini muncul bersamaan dengan kekuatan kami,” jelas Kei.


“Oh, begitu ya.”


__ADS_2