The Red Game

The Red Game
Chapter 10 part 1


__ADS_3

Peperangan masih berlangsung, aku turun dari dinding pembatas dan memasuki arena pertempuran. Tujuanku turun kesini bukanlah untuk ikut bertempur, melainkan untuk merasakan sensasi perang secara langsung. Karena mana mungkin aku mau repot-repot membantu mereka dengan sukarela.


Aku melirik ke sekitar, sejauh mata memandang hanya ada tumpukan mayat dan orang-orang yang sedang bertarung satu sama lain dengan mempertaruhkan nyawa mereka.


“Jadi ini yang namanya perang? Aku tidak merasa ada yang berbeda dari suasana ini. semuanya hanya terlihat monoton dan tanpa makna.” Gumanku.


Jeritan dari orang-orang terus menggema dalam peperangan ini hingga membuatku merasa tidak nyaman.


Darah menggenang diatas tanah yang menjadi medan pertempuran. Aku terus berjalan tanpa mempedulikan kakiku yang menginjak genangan itu. Bau amis dari darah memenuhi hidungku hingga membuatku muak untuk menghirupnya. Tetapi aku masih ingin menyaksikan peperangan ini.


Mengabaikan bau amis dan genangan darah, aku dengan santai menyaksikan mereka saling serang satu sama lain sembari menikmati sensai perang ini. Aku sangat tidak berminat untuk masuk menjadi peserta dalam perang ini, namun melihat pemandangan ini membuatku merasa bernostalgia.

__ADS_1


Aku melayang diudara untuk melihatnya lebih luas pemandangan ini untuk sebentar lagi saja. Darah yang membasahi sepatuku mulai menetes secara perlahan. Namun tidak ada orang yang akan memperhatikannya. Karena semua orang sedang sibuk bertarung.


Saat pandanganku meluas, entah kenapa aku mengingat bagaimana semua ini dapat terjadi, dan darimana semua ini berawal.


Aku mulai mengingat kembali saat pertama kali bertemu dengan Cresh dan kelompok BlackList. Namun sekarang aku sudah tidak peduli lagi akan hal itu. Meskipun aku tidak peduli, tetapi entah kenapa ingatan itu terus melekat dalam diriku layaknya parasit yang tidak bisa dihilangkan. Mungkin alam bawah sadarku menganggap ini sangat penting. Karena hal itu aku akan membiarkan ingatan ini melekat dalam diriku.


Setelah bernostalgia, aku melayang dan mendarat diatap sebuah gedung. Diatas atap gedung itu tidak ada siapa-siapa dan tidak berisikan apapun. Dari sana aku mengalihkan pandanganku yang tadinya melihat peperangan kualihkan ke arah pemukiman.


Aku membatalkan teknik tak terlihatku lalu duduk bersela sambil menikmati pemandangan dan hembusan angin. Aku sudah tidak peduli jika ada orang yang melihatku, karena dalam waktu dekat aku akan mengungkapkan siapa diriku yang sebenarnya. Saat itu terjadi, barulah aku akan mewujudkan tujuan keduaku, karena tujuan pertamaku untuk memperlihatkan peperangan kepada sang penguasa sudah tercapai.


Alasanku menunjukkan peperangan ini kepada sang penguasa adalah untuk membuat dia sadar betapa mengerikannya aturan yang dia buat, yaitu pemenang akan mendapatkan segalanya, sedangkan yang kalah akan kehilangan segalanya. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli pada aturan itu, namun orang yang paling berharga bagiku sangat ingin menghapuskan aturan itu walaupun nyawa adalah taruhannya.

__ADS_1


Tetapi dia sudah mati sebelum dia berhasil mencapai tujuannya. Karena itulah aku mau repot-repot melakukan hal ini hanya untuknya. Meskipun dia pasti akan kecewa melihatku mencapai tujuannya itu dengan menggunkan cara yang sangat kejam ini.


Yah, terserah dia saja jika ingin membenciku. Aku sudah tidak peduli jika itu terjadi. Karena sejak awal aku melakukan ini hanya atas egoku sendiri. Jadi aku sudah siap untuk menerima konsekuensinya.


Mengingat alasanku melakukan semua ini entah kenapa membuatku merasa ingin menangis. Semua isi hatiku yang awalnya terasa hampa dan tidak merasakan apa-apa. Entah bagaimana mulai merasakan suatu kehangatan yang bercampur dengan kesedihan. Sebuah perasaan yang belum pernah kurasakan akhir-akhir ini mulai muncul kembali. Layaknya hembusan angin, perasaan itu mengisi hatiku dengan beragam hal.


“Ah, mungkin inikah yang dimaksud dengan kesepian.” Aku berguman dengan pelan.


Saat aku berguman seperti itu, aku jadi teringat seseorang pernah berkata. “Saat tujuanmu tergapai disaat orang yang paling berharga bagimu tidak ada disisimu, maka kamu akan merasakan apa yang namanya kesepian dan mengingat kembali masa-masa saat kamu bersamanya.”


Tidak kusangka kata-kata orang itu benar-benar terjadi dalam hidupku.

__ADS_1


__ADS_2