The Red Game

The Red Game
Chapter 4 part 1


__ADS_3

Sementara itu, di markas BlackList, seorang gadis yang sedang murung, duduk di teras sambil memandangi halaman. Dia tidak mengerti apa yang sedang dirasakan oleh perasaannya. Saat dia bersama dengan orang itu, entah bagaimana ia merasa senang. Dan saat orang itu tidak bersamanya, ia merasa kesepian walau dia tidak sendirian.


“Ah, ada apa dengan diriku ini?” gadis itu berguman sambil memegangi kepala.


“Apa ada yang salah, Vany,” tanya seorang pria muda berambut ungu, yang ada di belakang gadis itu.


“Eh?” Gadis itu terkejut dan tanpa sadar mengeluarkan suara. “Oh, Cresh. Kau mengejutkanku saja.”


“Jadi, apakah kau sedang memikirkan Kei?”


Sembari duduk di samping Vany, Cresh mengatakan kalimat tersebut. Ia tidak tahu apakah itu benar atau salah, tetapi selama ini dia belum pernah melihat Vany seperti sekarang. Entah karena dia tidak memperhatikannya atau memang Vany selalu menyembunyikannya sendiri sehingga tidak ada yang tahu.


“Eh, ke-ke-kenapa tiba-tiba membahas tentang orang itu?”


Dengan wajah yang memerah dan sedikit gugup, Vany mengatakan itu. Dari tingkahnya, orang lain pasti menganggapnya sedang jatuh cinta.


“Haha, aku tidak pernah menyangka kau dapat jatuh cinta pada seseorang. Hahaha.”

__ADS_1


Jelas Cresh akan tertawa melihat ini, karena Vany yang dia kenal adalah seorang gadis tomboy yang tidak tertarik pada lawan jenis. Melihatnya bertingkah gugup dan wajahnya memerah merupakan hal yang tidak pernah terpikirkan.


“Aku tidak sedang jatuh cinta.” Dengan tegas Vany menyangkalnya.


“Lalu, kenapa kau gugup seperti itu saat aku mengatakannya. Bukankah sudah jelas kau sedang memikirkan orang itu.”


“Tidak ... itu tidak benar, aku hanya ... bagaimana mengatakannya. Aku hanya merasa dia mirip dengan seseorang yang kukagumi. Itu saja.”


Mengatakan itu, Vany mengingat kembali tentang seseorang yang ia kagumi. Orang itu selalu terlihat tenang dan tidak pernah terpengaruh oleh keadaan. Apa pun rintangan yang dihadapi, ia dapat dengan mudah mengatasinya.


“Sebenarnya, aku juga merasa dia mirip dengan orang yang kukenal. Dia tidak pernah terlihat jahat atau baik. Namun, ia selalu menyelamatkan teman-temannya, meskipun mulutnya tidak pernah berhenti mengeluh setelahnya. Aku jadi merindukan masa-masa itu.”


Melihat itu, Vany menepuk bahu Cresh. Tepukkan itu membuat Cresh tersadar kembali dari lingkaran pikiran gelapnya.


“Kau kenapa? Wajahmu terlihat menakutkan.”


“Ah, itu ... tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, aku belum melihat Kei sejak tadi. Ke mana perginya orang aneh itu?” Untuk mengalihkan perhatian Vany, Cresh mengganti topik pembicaraan.

__ADS_1


“Tentang orang itu. Aku juga tidak melihatnya. Apa mungkin dia kabur setelah mendapatkan informasi tentang kita.”


“Aku tidak merasa begitu. Faktanya dia hanya bersenang-senang dan tidak pernah mengamati kemampuan kita.”


“Tapi, itu masih belum menjamin bahwa dia bukan mata-mata. Lagipula, yang sedang kita bicarakan adalah Kei. Dia tidak pernah menunjukkan simpati atau benci pada kita. Bisa saja orang itu mengorek informasi dengan cara lain.”


Apa yang dikatakan oleh Vany memang ada benarnya. Orang itu, Kei, dia adalah orang yang tidak bisa ditebak. Tidak ada yang tahu apakah dia itu hitam atau putih. Semua yang terlihat darinya hanyalah kehampaan. Tapi matanya seperti dapat melihat segalanya. Bila digambarkan, dia adalah monster yang mengerikan.


“Kau pikir Kei adalah orang yang akan dengan senang hati mau menjadi mata-mata?”


Entah atas dasar apa Cresh menyimpulkan seperti itu. Tapi jika dilihat dari pola tindakan yang dilakukan Kei, dia hampir tampak seperti seorang pemalas yang tidak mengacuhkan segalanya. Dan juga merupakan pencinta ketenangan dan kedamaian yang membosankan. Melihat semua itu, pasti akan membuat orang ragu apakah dia seorang mata-mata.


“Mungkin saja dia melakukannya dengan sengaja. Sejauh ini, kita tidak pernah tahu apa sebenarnya tujuan orang itu.”


Vany dengan tegas menyangkal pendapat Cresh. Alasan dia menyangkalnya sudah cukup meyakinkan. Karena bisa saja Kei berpura-pura selama ini, dengan begitu rencananya akan berjalan lancar.


“Ya, aku tidak bisa menyangkal pendapatmu itu.” Cresh berdiri. “Tapi aku percaya pada Kei. Karena dia temanku.”

__ADS_1


Tidak menyangkal atau menegaskan. Cresh memutuskan untuk berbicara sesuai dengan intuisinya. Dia tidak masalah bagaimana orang lain akan menanggapi, karena Kei sudah menjadi temannya. Entah karena ada kesepakatan antara keduanya, atau karena hal lain. Hanya Cresh yang mengetahuinya.


“Teman, ya ...,” Vany bergumam pelan.


__ADS_2