
Setelah kejadian konyol sore tadi berakhir, kami mulai bersikap seperti biasa lagi karena aku sudah meminta maaf. Meskipun begitu aku tetap diberi sanksi karenanya.
Aku tidak keberatan menerima hal itu, karena aku memang salah dengan memepermainkan mereka. Sanksi yang mereka berikan kepadaku juga cukup mudah. Mereka hanya menyuruhku untuk membersihkan kamar mandi selama 1 bulan dan sebagainya.
Sekarang ini aku sedang mempersiapkan tempat untuk makan malam diruang tengah, tempat biasa kami berkumpul. Ruangan ini diterangi oleh lentera dan cukup luas. Disana aku membentangkan beberapa tikar dilantai lalu menaruh makanan untuk makan malam diatasnya. Makanan-makanan ini adalah buatan para gadis cantik di BlackList dengan memanfaatkan hasil kebun dibelakang markas. Ini tidaklah buruk.
“Kei sialan! Bantuin dong!”
Nathaniel yang kesal melemparkan kata-kata itu kepadaku. Aku mengerti kenapa dia marah, karena sebenarnya sejak tadi yang kulakukan hanya melamun sambil memperhatikan dia bekerja. Aku tidak keberatan menerima sanksi juga karena ada Nathaniel disini yang bisa membantuku menyelesaikannya.
“Ya baiklah. Aku akan membantumu dengan tidak menghalangi saat kau sedang bekerja.”
Dia terlihat kesal saat aku menjawab seperti itu. Tetapi dia segera kembali tenang dengan mengatur pernafasannya. Lalu menjawab dengan pasrah.
“Terserah apa kau saja.”
“Ok.”
Ini aneh. Kenapa dia terlihat begitu frustasi? Seharusnya sebagai karyawan dia seharusnya senang karena diberi pekerjaan oleh bosnya. Bukankah aku ini tipe bos yang baik hati kepada anak buahnya.
Ruang makan sudah selesai ditata. Aku memanggil anggota BlackList untuk makan malam. Mereka dengan santai duduk melingkar dengan makanan berada ditengah-tengah. Ada yang mengatakan kalau makan bersama dengan suasana sederhan seperti ini dapat mempererat ikatan pertemanan. Meskipun aku tidak begitu peduli dengan itu.
__ADS_1
Aku duduk diantara Alice dan Awan. Sebenarnya aku tidak ingin duduk disini, tetapi apa boleh buat karena hanya disitu tempat yang kosong. Alasan aku tidak ingin duduk diantara mereka adalah karena mereka merupakan dua orang yang paling suka mengeluh dan juga pemurung. Ini membuatku dilema.
Kami mulai makan ketika Cresh mempersilahkan. Akan tidak sopan rasanya jika kami mulai sendiri-sendiri tanpa mengucapkan apa-apa. Meskipun tidak ada yang melarangnya.
Saat kami makan, tidak ada yang berbicara. Karena hal itu dianggap tidak sopan disini. Bagi BlackList, kesopanan dan kebaikan itu adalah hal yang harus dimiliki. Tidak peduli siapapun orangnya, jika mereka menjadi anggota BlackList maka mereka harus memiliki kedua hal itu. Aku merasa kasihan pada mereka. Padahal mereka adalah orang-orang yang baik, tetapi tidak diperbolehkan untuk tinggal ke kota yang lebih baik.
Setelah selesai makan aku mengajukan pertanyaan pada mereka.
“Padahal kelompok BlackList adalah kumpulan orang-orang yang baik. Kenapa kalian tidak pergi dari kota ini?”
“Seharusnya kami yang bertanya kenapa kau tetap tinggal disini setelah apa yang terjadi.” Sahut Marten.
“Hm, jika dipikir-pikir itu memang benar sih.”
“Jika kau bertanya kenapa aku tetap disini? Itu karena aku merasa cocok berteman dengan kalian. Apa itu salah?” jawabku.
“Itu tidak salah sih. Tapi bagaimana jika aku mengatakan kalau kami tetap disini adalah karena alasan yang sama denganmu?”
“Menurutku itu adalah alasan yang tidak bisa diterima. Jika kalian memang berteman akrab sejak awal, kalian pastinya sudah meninggalkan kota ini sejak awal. Bukankah begitu?”
“Ya kurasa kau benar. Alasan kami tetap tinggal disini karena kami tidak bisa pergi dari kota ini bagaimanapun keadaannya.”
__ADS_1
“Sangat aneh.”
“Ini dimulai dari insiden 1 tahun lalu saat seluruh keluarga Klaurius dibantai. Karena insiden itu kota utara menjadi kacau. Mungkin karena mendengar hal itu, banyak penjahat berdatangan ke kota utara lalu membantai banyak penduduk dan mengambil alih kota. Sejak saat itu siapapun orang yang berasal dari kota utara tidak diperbolehkan masuk ke kota lain.”
“Jadi ada cerita seperti itu ya. Aku baru tahu akan hal itu.”
“Sepertinya kau tidak terlalu peduli.” Komen Cresh.
“Bukan begitu. Aku hanya merasa kasian karena diskriminasi ini.” sangkalku.
Menurut apa yang diceritakan Marten, ada sekelompok penjahat yang mengambil alih kota ini. Meskipun begitu aku masih tidak tahu dimana mereka berada. Sejauh yang kuperhatikan, sangat aneh rasanya jika kota ini menjadi sangat kacau hingga tidak memiliki aturan apapun.
Bukan hanya itu, jika memang kota ini telah diambil alih oleh penjahat. Untuk apa mereka memusnahkan semua sumber pembangkit listrik. Ini terlihat seperti skenario yang direncanakan seseorang. Aku punya firasat buruk pada hal ini. Tetapi akan kupikirkan saja itu nanti.
“Nathaniel, apa kau merasa canggung bersama kami.” Kataku pada Nathaniel yang sedari tadi hanya diam.
“Tidak.., itu.., aku merasa tidak seharusnya mengganggu percakapan kalian.” Jawab Nathaniel.
“Apa yang kau katakan. Justru akan sangat mengganggu jika kau hanya melihat dan tidak bergabung. Kita ini kan teman.” Kata Riki yang duduk disampingnya.
Yah, setidaknya Nathaniel harus lebih akrab dengan anggota BlackList. Karena aku yang membujuk mereka dengan beragam alasan agar menerimanya.
__ADS_1
Malam itu kami menghabiskan waktu dengan percakapan ringan disertai dengan lelucon. Ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Aku tidak menyesal sudah datang kesini.