
Vany PoV
Aku bergegas menerobos masuk ke dalam sebuah gedung saat aku melihat darah menetes dari langit. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak, tetapi intuisiku berkata kalau tetesan darah itu berasal dari seseorang yang aku kenal. Dan entah kenapa aku merasa kalau dia sedang berada diatap gedung ini.
Aku berjalan menyusuri tangga hingga akhirnya sampai didepan pintu menuju atap. Kubuka pintu itu perlahan-lahan lalu keluar dari sana. Ditepi atap yang berada didepanku, aku melihat orang itu, Kei sedang duduk dan memandangi perkotaan dalam keheningan. Aku berjalan mendekatinya lalu berhenti beberapa langkah dibelakangnya.
“Hei!” sapaku padanya.
“Ada apa?” tanyanya dengan nada datar yang biasa dia gunakan.
“Kenapa kau tidak ikut melawan musuh?”
Sebenarnya aku ingin membentaknya, tetapi entah kenapa aku tidak bisa melakukannya. Malahan aku merasa sangat kasihan kepadanya.
“Aku hanya tidak ingin melakukannya. Apa itu salah?”
Ini adalah jawaban yang sangat tidak ingin aku dengar, namun sepertinya ada alasan lain kenapa dia tidak ikut dalam perang ini.
“Itu tidak salah sih. Tapi apa kau tega melihat teman-temanmu berjuang, sedangkan kau tidak melakukan apa-apa.”
“Teman ya.” Kei berkata seperti itu sambil mengangkat kepalanya, “Aku tidak yakin apakah aku peduli pada kata-kata seperti itu.”
“Dengan kata lain kau tidak peduli pada temanmu.”
“Entahlah. Aku tidak mengerti kalau aku mempunyai perasaan untuk kasihan kepada seseorang yang kau sebut teman itu.”
Ini sangat mengesalkan, dia mengatakan perkataan ambigu seperti itu dengan mudahnya. Apakah orang ini tidak mempunyai hati manusia? Tetapi itu mustahil. Sebagai seorang manusia, dia harusnya memiliki hati. Mau seperti apapun kehidupan yang dia jalani.
“Aku ingin tahu. Siapa kau ini sebenarnya?” aku sedikit menaikkan nada suaraku saat mengatakan itu.
“Seberapa besar kau ingin tahu siapa aku ini, Klaurius Vany?”
Aku terkejut saat dia menyebutkan nama panjangku dengan tepat. Siapa sebenarnya orang ini.
“Darimana kau tahu kalau aku berasal dari Keluarga Klaurius?”
“Tentu saja disuatu tempat dimana seharusnya semua orang mengetahuinya.”
Apa-apaan jawaban itu, aku tidak pernah tahu kalau dia akan menjawab seperti itu. Orang ini selalu saja memberiku sebuah kata yang sangat ambigu. Apa mungkin dia berharap aku akan mengerti tentang dirinya. Sudah jelas itu tidaklah mungkin. Karena orang ini benar-benar tidak bisa ditebak.
Mungkin sebaiknya aku menyiapkan jebakan untuknya.
“Hanya sedikit orang yang mengetahui identitas asliku. Jika kau memang mengetahuinya, itu artinya kau adalah 1 dari hanya beberapa orang yang mengetahuinya.”
“Ya, mungkin itu benar.”
Serius nih? Dia bahkan tidak menyangkalnya. Aku merasa ada yang tidak beres disini. Tetapi aku tidak tahu apa itu. Mungkin akan lebih baik jika aku mengganti topik disini.
__ADS_1
“Sebelumnya kau mengatakan seberapa besar keinginanku untuk mengetahui identitas aslimu ‘kan.”
“Ya.”
“Bagaimana kalau aku menjawab. Aku sangat ingin mengetahuinya.”
“Mungkin jawaban itu cukup untuk mengatakannya. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku setelah aku mengatakan identitasku.”
Janji? Apa yang dia inginkan dariku? Kita kesampingkan hal itu dulu. Saat ini aku perlu mengkomfirmasi apa yang dia inginkan.
“Berjanji denganmu untuk melakukan apa?”
“Kau harus berjanji untuk tidak menghalangi jalanku saat aku akan mewujudkan tujuanku.”
“Memangnya apa tujuanmu yang sebenarnya?”
“Aku tidak bisa mengatakannya kepadamu.”
Sepertinya orang ini sangat pandai menyembunyikan tujuannya. Waktu itu dia mengatakan kalau tujuannya adalah mengalahkan sang penguasa. Tetapi setelah dia mengatakan kalau dia tidak ingin mengatakannya padaku, aku menjadi yakin kalau dia memiliki tujuan yang lain. Mungkin saja tujuan yang sangat kejam, atau semacamnya. Namun aku sangat ingin tahu identitas sebenarnya dari orang ini. Dia benar-benar pintar dalam bertindak sehingga ia mampu membuatku sangat penasaran kepadanya.
“Baiklah. Apapun itu aku setuju untuk berjanji jika kau mengatakan identitas aslimu.”
“Kalau begitu bersiaplah untuk terkejut.” Kata Kei sambil berdiri dan berbalik ke arahku.
“Bersiaplah untuk terkejut? Kau sedang bercanda ya? Lagipula aku tidak akan percaya jika kau mengatakan identitasmu tanpa ada bukti yang menyertainya.”
“Aku sudah tahu akan itu. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya apa yang membuatmu tertarik pada identitas asliku.”
“Tentu saja kecerdasanmu. Karena diantara orang-orang yang kukenal, tidak ada orang yang sangat cerdik sepertimu. Bahkan Cresh saja aku rasa masih berada dibawahmu. Apalagi Wili, sudah sangat jauh perbedaannya.”
Semua yang kukatakan itu adalah pemikiran paling jujurku. Pertama kali aku tertarik padanya adalah saat dia dengan tenang melawan beberapa orang anggota BlackList. Dan yang membuatku semakin tertarik padanya adalah sejak dia berhasil membaca pentunjuk yang kuberikan saat kami menyusup ke kota Fluch waktu itu serta tindakan-tindakan yang ia ambil akhir-akhir ini.
Kei menyentuh pipi sebelah kanannya dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Perlahan-lahan cairan hitam yang mirip seperti tinta menutupi wajahnya lalu mengalir ke dalam jari yang ia tempelkan. Wajahnya terlihat berbeda dari sebelumnya. Saat semua tinta itu berhasil diserap oleh jarinya, aku menjadi sangat terkejut melihat sosoknya yang sebenarnya.
Dia menarik kembali jarinya yang ditempelkan pada pipinya. Aku sangat terkejut sampai-sampai membuatku mundur beberapa langkah. Meskipun aku tidak ingin mempercayainya, tetapi tubuhku masih saja gemetaran.
“Tidak.., ini bohong ‘kan. Kau tidak mungkin yang asli ‘kan.”
“Jika kau tidak percaya, kau bisa membuktikannya sendiri dengan caramu.”
Nada bicaranya sangat dingin saat mengatakan itu. Aku sudah tahu siapa orang ini, namun aku masih tidak ingin mempercayainya.
Orang ini memiliki tato berwarna merah dipipi sebelah kanannya, dan suara yang sangat familiar ditelingaku. Tetapi entah kenapa aku sangat tidak ingin mengakuinya.
“Aku tahu kau sudah mengenaliku, tapi biar kutegaskan saja. Aku adalah Klaurius Luchifer si pembantai.”
Saat dia mengatakan namanya, entah kenapa kakiku menjadi lemas hingga membuatku jatuh berlutut. Aku menghadap ke bawah dan mencoba untuk mengatur nafasku yang tidak karuan karena mengingat hal buruk yang terjadi 1 tahun yang lalu.
__ADS_1
Waktu itu aku sedang berada di desa Rose. Namun saat aku kembali, kediaman keluarga Klaurius sudah hancur dan mayat-mayat mereka bergelimpangan dimana-mana. Dan sekarang, seseorang yang menyebabkan kejadian itu tepat berada didepanku. Sebenarnya aku sangat ingin membunuhnya sekarang juga, namun aku sangat ketakutan hingga tidak dapat berdiri.
“Aku tidak mengira kau akan seterkejut ini. Padahal awalnya aku pikir kau sudah mengira kalau identitasku yang sebenarnya adalah Luchifer.”
Tidak, tidak, tidak. Aku tidak pernah terpikir kalau itu adalah kau. Awalnya kukira kau adalah Ravel dan bukannya Luchifer. Aku tidak pernah mengira dapat terpikat oleh orang sepertimu. Kau adalah orang brengsek yang paling aku benci. Bahkan sebenarnya sekarang aku menyesal saat mengetahui identitasmu yang sebenarnya.
“Karena urusan kita sudah selesai, maka aku akan segera pergi dari sini.”
“T-Tidak t-tunggu dulu.” Kataku mencoba menghentikannya.
Aku memaksakan kakiku yang bergetar untuk berdiri. Padanganku masih kuarahkan ke bawah karena tidak mampu untuk menatap wajahnya. Dengan diselimuti oleh rasa takut, aku memaksakan suaraku yang tersangkut ditenggorokkanku untuk keluar.
“A—a—pa tu—ju—an—mu” aku merangkai kata-kata itu sedikit demi sedikit hingga akhirnya terucap oleh mulutku.
“Karena kau sudah berjanji untuk tidak mengganggu, maka aku akan memberitahumu.” Terjadi jeda beberapa detik sebelum akhirnya Luchifer berkata, “Tujuanku adalah membunuh Wili Vallencius didepan mata Cresh agar dia merasakan apa yang kurasakan saat itu. Saat dia membunuh saudara kembarku Kei, tepat didepan mataku.”
Sudah kuduga dia ingin membalas dendam pada Cresh. Dia sudah tahu kalau Wili adalah sepupu yang sangat berharga bagi Cresh, maka dari itu dia ingin membunuhnya tepat didepan matanya. Tetapi ini tidak benar, bagaimana mungkin orang ini mau memberikan penderitaan yang sangat besar kepada teman masa kecilnya, yaitu Cresh.
Bagaimana ini? bagaimana ini?
Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi. Aku sudah tidak ingin melihat Cresh menderita seperti waktu itu. Tapi apa yang harus kulakukan untuk mencegahnya.
“Tidak.., itu salah.” Aku memaksakan suara yang tersangkut untuk keluar, “Bukankah kau adalah orang yang sangat tidak menyukai balas dendam? Bagaimana mungkin kau bisa membalas dendam kepada temanmu.”
Entah bagaimana suara yang keluar dari mulutku sangatlah berat hingga membuat air mataku menetes. Memang benar aku tidak menyukai orang yang ada didepanku ini, tapi entah kenapa aku merasa dia sangat kesepian. Dan aku merasa ingin mengisi hidupnya yang kesepian itu.
Ada apa ini? ada apa dengan diriku?
“Sekeras apapun kau berusaha, aku tidak akan menurutimu.” Tegasnya.
Aku membungkuk ke arahnya, “Tidak, jangan lakukan itu. Kumohon! Aku tidak ingin kau kembali seperti dulu lagi.”
Ini aneh, sangat aneh. Padahal aku berusaha keras untuk menolaknya. Tetapi hati kecilku berteriak untuk menghentikannya.
Saat aku berada dalam dilema seperti itu, aku mulai mengingat kembali masa-masa dimana kami tumbuh. Waktu itu aku adalah orang yang paling payah dibandingkan dengan anak-anak lain yang dijadikan sebagai bahan uji coba hingga membuatku menjauh dari mereka. Tetapi suatu hari, seorang anak laki-laki dengan tato merah dipipi kanannya menghampiriku. Aku sangat senang karena akhirnya bisa mendapatkan teman. Karena kami semakin akrab, maka ia mengajakku untuk bergabung dengan kelompoknya yang diantaranya adalah Kei, Cresh, dan Ravel.
Waktu semakin berlalu, aku dipindahkan ke desa Rose. Dan saat aku kembali, aku melihat pemandangan buruk. Aku menyusuri hamparan mayat hingga akhirnya menemukan Cresh yang begitu putus asa. Disitu juga aku tahu kalau Luchifer yang menjadi penyebabnya.
“Kau tidak memiliki hak untuk menghentikanku.” Kata Luchifer dengan nada dingin.
“Ya aku tahu kalau aku tidak memiliki hak, tapi setidaknya aku tidak ingin kau melakukan itu.” Aku membungkuk lebih dalam, air mataku mengalir deras dan tidak dapat dihentikan. Dengan terbata-bata aku memohon lagi kepadanya, “Kumohon jangan pergi. Aku tidak ingin melihatmu kesepian lagi.”
Tiba-tiba sebuah bayangan menghamtamku hingga terpental didinding. Pandanganku mulai kabur, rasa sakit menyerang seluruh tubuhku, namun telingaku masih dapat mendengar suara langkah kaki sedang mendekat. Tak lama kemudian langkah kaki itu berhenti digantikan oleh suara dari mulut Luchifer.
“Meskipun kau bersujud kepadaku, aku akan terus menempuh jalan yang kupilih. Maka dari itu berhentilah menghalangi jalanku.” Katanya.
Langkah kaki mulai terdengar lagi, lalu sebuah pukulan menghamtam perutku. Rasa sakit semakin menyebar, hingga akhirnya pandanganku menjadi gelap dan aku kehilangan kesadaran.
__ADS_1