The Red Game

The Red Game
[S2] Chapter 1 : Nasib Kota Utara


__ADS_3

Sebulan telah berlalu semenjak kekalahan aliansi kota utara pada saat melawan pasukan tentara dari negara Alastein. Kekalahan itu akhirnya berdampak pada kota utara. Dimana kota utara yang dulunya dikenal sebagai markas para penjahat, kini telah dijajah oleh tentara Alastein.


Meskipun begitu, bukan berarti kota utara sudah benar-benar jatuh ke tangan para tentara Alastein. Karena dibawah kota utara ini terdapat sebuah markas yang kini digunakan oleh pasukan aliansi kota utara yang masih hidup sampai sekarang.


Rias, Cresh, Alice, Awan, Marten, Riki, Roki, Sella, dan Vany adalah sebagian kecil dari anggota aliansi kota utara yang masih hidup. Dan mereka jugalah yang menjaga markas ini agar terlindung dari serangan para tentara.


Namun situasi terburuknya bukanlah itu. Didalam markas ini terdapat sebuah penjara yang dijaga ketat oleh beberapa orang dari mereka, karena ada seseorang yang ditanah disana. Orang yang ditahan itu tidak lain adalah aku. Mereka mengikat kaki dan tanganku dengan rantai lalu mengikatkannya dikursi sehingga aku tidak dapat bergerak dan hanya bisa duduk diam menanti pertolongan.


Mereka berhasil mengikatku seperti ini karena kecerobohanku saat mengantar Vany kesini. Saat itu, salah satu dari mereka melihat aku sedang menuju ke markas mereka bersama dengan Vany. Lalu orang itu memanggil teman-temannya dan mengepungku.


Sejujurnya aku bisa saja mengalahkan mereka semua dalam sekali serangan, tetapi aku masih memerlukan mereka untuk kujadikan alat yang bisa kugunakan untuk mencapai tujuanku.


Tetapi aku sangat tidak menyangka kalau mereka akan memperlakukanku sekejam ini. Apa mungkin ini karena mereka tidak suka kalau aku membuang alat yang sudah tidak kuperlukan lagi, seperti Nathaniel atau Wili?


Padahal Nathaniel bisa dianggap sebagai orang asing bagi mereka, sedangkan Wili hanyalah salah satu anggota BlackList. Jadi jika Wili mati, maka wajar para anggota BlackList marah. Namun aku tidak tahu kenapa aliansi bisa marah karena Wili mati. Atau mungkin ada alasan lain kenapa mereka memperlakukanku seperti ini.


Pintu besi untuk menutup penjara terbuka, lalu seorang perempuan berambut pirang, yang tidak lain adalah Rias. Dia berjalan ke arahku lalu berhenti beberapa langkah didepanku.


Aku menaikan kepalaku lalu menatap lurus ke matanya. Aku melakukan hal ini bukan karena ada maksud tersembunyi. Tetapi hanya agar aku bisa melihat pemandangan yang berbeda dari yang biasanya kulihat.


“Sudah saatnya kau katakan kenapa kau sengaja menjebak kami?” tanya Rias dengan nada dingin.


“Berapa kalipun kau bertanya seperti itu, jawabannya masih sama seperti seminggu yang lalu. Aku melakukannya karena aku membenci sang penguasa, hanya itu.” Jawabku acuh.


Rias mendekat dan menatap mataku lekat-lekat lalu berkata dengan nada yang lebih dingin dari yang sebelumnya, “Kau pikir aku akan percaya begitu saja padamu?”

__ADS_1


Aku menatap matanya dengan bosan lalu menjawab, “Kurasa itu tidak penting untukku.”


Setelah mengatakan itu, aku mengalirkan kekuatanku ke seluruh tubuh, dan seketika itu pula teknik bola bayangan milikku aktif hingga menelanku seutuhnya.


Pandanganku menjadi gelap karena sedang berada didalam bola bayangan yang berwarna hitam pekat. Rantai-rantai yang mengikatku menjadi hancur berkeping-keping karena aliran kekuatanku, dan sekarang aku bebas serta siap untuk menjalankan rencana baruku.


Aku menyarungkan tangan kiriku ke dalam saku celana, memfokuskan pikiranku pada aliran kekuatan menyebarkannya ke sekitar.


Tiba-tiba kekuatanku berhenti menyebar dan terus berputar-putar disekitarku. Tak lama kemudian tombak perak dengan ujung yang sangat lancip menyerangku dari semua arah.


“Sialan kau jalang.” Keluhku tanpa berbuat apa-apa.


Seperti biasanya, serangan itu tidak dapat melukaiku sedikitpun. Meskipun begitu, bukan berarti kalau aku tidak dapat dihentikan olehnya.


Tak lama kemudian, aku sudah dikurung didalam sebuah sangkar yang terbuat dari perak. Tetapi aku masih saja tidak segera melakukan sesuatu terhadap sangkar itu. Dan seperti biasa, aku hanya mematung sambil memasukan tangan ini ke dalam saku. Pandanganku yang tadinya hitam dan gelap, kini berubah sepenuhnya.


Ah, merepotkan. Kapan aku bisa tenang dan menjalankan rencana besarku.


Jujur saja, aku sangat ingin mengeluh kepada dewa pada saat ini. Aku berharap dapat menuntut sebuah kehidupan yang berjalan mulus sesuai dengan keinginanku.


Kuangkat tangan kiriku ke depan lalu mengalirkan kekuatan listrik pada telapak tangan. Dalam sekejap telapak tangaku telah dipenuhi oleh kilatan cahaya yang berwarna biru dan disaat yang bersamaan, tombak perak yang dilemparkan Rias, tertahan oleh kilatan cahaya itu.


“Ini sangat mudah untuk dihentikan olehku, Rias.” Kataku pada gadis yang ada di depanku saat ini.


“Berisik. Katakan apa yang kau rencanakan sekarang.” Jawab Rias sembari mengeluarkan 4 buah patung perak dari punggungnya.

__ADS_1


“Haih.. percuma saja kau mengancamku seperti itu. Kau sendiri sudah tahu seberapa besar perbedaan diantara kita.”


“Kalau itu memang benar, kenapa kau tidak melarikan diri sejak lama?”


Aku menghela napas lalu berkata, “aku hanya ingin beristhirahat sejenak.”


“Beristhirahat?” Rias memasang ekspresi tidak puas diwajahnya lalu melanjutkan, “padahal kau tidak pernah diberi makan dan minum selama ini? apa itu adalah isthirahat?”


Sebenarnya aku ingin mengatakan padanya kalau hal itu tidak akan berpengaruh padaku. Karena aku pernah tidak makan selama 1 bulan tetapi masih dapat bertahan hingga saat ini. Dan tentu saja hal itu disebabkan oleh kekuatanku yang curang ini.


“Haa.. daripada kita terus berdebat, bagaimana kalau kita bekerjasama sekali lagi?” tawarku pada Rias.


“Hah? Kerjasama? Kau pikir aku ini bodoh. Setelah apa yang kau lakukan, tiba-tiba saja kau meminta kesempatan kedua. Siapa yang mau mengabulkannya?”


Sepertinya tawaranku ditolak mentah-mentah tanpa diperhitungkan terlebih dahulu. Tetapi sudahlah, lagipula bukan hanya dia yang bisa kugunakan.


“Jika kau memang menolak, aku tidak akan memaksa. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya. Apa alasanmu menganggap diriku sebagai penghianat?”


“I-Itu karena.. bukankah sudah jelas karena kau membunuh temanmu sendiri dan tidak mau membantu kami.”


“Oh jadi begitu ya.”


Alasan yang dilontarkan oleh Rias itu terkesan tidak berdasar sama sekali. Tetapi aku tidak peduli akan hal itu. Karena sebentar lagi, aku akan membuat mereka menjadi pion yang dapat kugunakan.


Aku sedikit tersenyum lalu mengalirkan kekuatanku ke sekujur tubuhku. Seketika itu, zirah petir yang berwarna biru langsung membungkus diri ini. Lalu disaat aku mengangkat tangan kiri dan menyebarkan kilatan petir, jangkar perak yang mengurungku langsung hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Tak lama kemudian, penjara tempat mereka mengurungku saat ini, juga ikut hancur karena akibat dari kekuatanku. Setelah itu, aku bergegas melayang ke udara dan mendarat di atap sebuah gedung yang cukup tinggi.


Dari atas sini aku dapat melihat pemandangan kota utara yang sudah terjajah oleh tentara Alastein. Melihat itu, aku pun bergumam dengan pelan, “ternyata aku memilih waktu yang tepat untuk mulai menjalankan rencana. Kukuku, aku menjadi tidak sabar untuk menyaksikan bagaimana rencana ini akan berjalan.”


__ADS_2