
Sebuah taman indah di balik kacaunya Kota Utara, dapat kulihat dengan mata ini. Semua yang ada di tempat aku berpijak sekarang adalah sebuah lapangan luas yang dihiasi oleh berbagai macam bunga. Aku sangat tidak menyangka kalau diri ini dapat melihat pemandangan indah seperti sekarang.
Sejenak aku melirik Vany yang sedang menatap lurus ke depan menikmati keindahan taman. Rambut merahnya yang panjang terurai begitu indah ketika diterpa oleh hembusan angin. Dan entah bagaimana, tanpa sadar aku menatapnya terus menerus.
"Kei ...," kata Vany memulai pembicaraan. "Bagaimana jika ... semua yang telah terjadi bisa diulang kembali? Apakah kau akan merubahnya?"
Sebuah pertanyaan konyol, dia sudah tahu kalau itu adalah hal mustahil. Tidak ada yang namanya pengulangan waktu.
"Aku tidak akan melakukan apa pun." Tak sedikitpun aku mau menggubris pertanyaannya. Maka dari itu, aku pun menjawab dengan asal.
"Kau tahu, Kei." Vany masih menatap lurus ke depan tanpa mau berpaling ke arahku. "Tidak ada hal yang mustahil jika kita mau mencoba."
Ya, itu memang benar. Tapi ... memutar balikkan waktu itu adalah hal yang tidak bisa dilakukan manusia. Bahkan, dengan semua kekuatan penuhku, masih belum dapat untuk kembali ke masa lalu.
"Aku tahu apa yang sedang kau pikiran, Kei."
__ADS_1
Gadis ini mesin pembaca pikiran, ya? Dia bisa selalu menebak apa yang aku pikirkan walaupun diri ini memakai 'Poker Pace' yang merupakan teknik wajah datar tanpa ada ekspresi. Dengan menggunakan teknik ini, orang lain tidak akan dapat menebak apa yang kita pikirkan. Namun, gadis bernama Vany bisa dengan mudah mematahkannya.
"Kau selalu dapat menebak, Vany." Satu kalimat itu sudah mewakili diriku yang pasrah akan keadaan.
Suasana hening menimpa kami, tidak ada suara lain yang dapat didengar selain hembusan angin. Bunga-bunga mulai bergoyang karena angin tersebut. Namun, tak pernah sekali pun aku dan Vany memulai pembicaraan walaupun sedang berduaan di sini.
"Sampai kapan kau akan terlarut dalam kesedihanmu itu?" tanya Vany memecah kesunyian yang sedari tadi kurasakan. "Bukankah kau sudah membuat rencana?"
Kenapa gadis ini begitu mengerikan? Dia bahkan sudah tahu kalau aku telah menyiapkan sebuah rencana. Nampaknya aku harus lebih berhati-hati dengannya. Karena aku masih belum tahu apakah dia ini rekan atau musuh.
"Ya, aku memang sudah membuat suatu rencana," jawabku mengakui, "tapi aku tidak dapat menjalankannya."
"Kenapa kau tidak menyerah saja dan menikmati hari-harimu dengan damai?"
Menikmati hari dengan damai? Di kota ini? Apakah dia bercanda?
__ADS_1
Aku menaikan sebelah alisku karena bingung. Tak lama berselang, Vany pun memalingkan pandangannya ke arahku. "Ingatkah kau dengan apa yang ingin kau capai setelah melakukan hal keji itu? Bukankah semuanya telah tercapai?"
Tujuan awalku datang ke sini bukan untuk itu. Semua yang kuperbuat hanya untuk membuktikan apakah kata-kata yang tertulis di buku itu, benar adanya. Aku hanya ingin menjawab rasa penasaranku. Namun kenapa? Kenapa akhirnya aku merasakan semua ini?
Kehampaan?
Kekosongan?
Inikah akhir yang ingin kucapai?
Tidak! Itu tidak benar!
Masih ada hal lain yang kuinginkan. Aku ingin menebus semua kesalahanku.
Aku tidak perlu emosi! Aku juga tidak membutuhkan simpati! Yang kuperlukan hanyalah sebuah akal suatu pemikiran logis untuk menghancurkan segalanya dan merubah semua itu ke arah yang lebih baik.
__ADS_1
Kutengadahkan kepalaku perlahan setelah menguatkan kembali tekadku. Isi pikiran ini menjadi lebih teratur, dan perasaanku sekali lagi kuhapuskan.
"Aku akan kembali!" kataku dengan perlahan.