The Red Game

The Red Game
[S2] Chapter 2 part 1


__ADS_3

Kususun kembali isi pikiranku yang kacau. Aku tidak ingin lagi merasakan apa yang namanya kegelisahan. Akan kuhapus semua emosi dan rasa iba serta simpati, dari dalam diri ini. Tak mau lagi aku merasakan semua itu.


Aku sudah terlanjur muak untuk merasakan semua itu, sehingga harus dihapuskan. Apa saja yang tidak diperlukan, harus dilenyapkan. Karena hal tersebut hanya akan menjadi pengganggu.


Tutup mata dan rasakanlah sekitar.


Aku menutup mata dan menenangkan pikiran dengan menikmati sensasi lingkungan. Terlintas dalam pikiranku sebuah suara yang menggema. "Lakukanlah, Luchifer!"


"Ya, akan kulakukan," gumamku sembari menyerap Kekuatan Alam yang kurasakan.


Apa yang dimaksud dengan Kekuatan Alam adalah sebuah partikel kecil dari pecahan 'Kristal' besar. Untuk mengendalikan partikel menjadi unsur kekuatan, diperlukan sebuah 'Kristal Warna' atau 'Mutiara' yang ditanamkan dalam tubuh.


Pada awalnya, 'Kristal' besar yang kumaksudkan itu tidaklah pecah. Namun, insiden 1 tahun silam membuatku murka dan menghancurkannya.


Kala itu, tidak ada yang namanya 'Kekuatan Alam' yang ada hanyalah, 'Kristal Warna' dan 'Mutiara' yang mampu memancarkan kekuatannya sendiri. Sedangkan apa yang kumiliki sekarang adalah 'Kristal Warna Hitam' di mana 'Kristal' jenis ini mampu untuk memancarkan kekuatan apa saja.


Walaupun tampak tidak memiliki kekurangan, kekuatanku sebenarnya masih sangatlah lemah. Ada orang-orang tertentu yang mungkin dapat mengalahkanku. Aku tidak akan menyangkal hal itu. Karena itulah aku menyerap 'Kekuatan Alam' untuk menambah kekuatan.


"Kurasa ini cukup," kataku sambil mengakhiri penyerapan.

__ADS_1


Ketika aku membuka mata, diri ini dapat melihat butiran-butiran kekuatan kecil yang berwarna hitam. Aku merasa kekuatanku meningkat. Namun, tangan kananku yang lumpuh masih belum sembuh juga.


"Apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Vany yang menatapku dengan heran.


"Apa yang baru saja kulakukan ...." Aku kemudian memasukkan tangan kiriku ke dalam saku celana. "Itu bukan urusanmu."


Kulangkahkan kaki ini perlahan menuju ke taman. "Pemandangan yang indah," gumamku saat menghentikan langkah. "Tapi sayang ... ini adalah untuk terkahir kalinya."


Aku mengumpulkan kekuatanku di kaki kanan. Kuangkat perlahan lalu menyeringai, "Mari kita lihat seberapa besar kekuatanku."


Dengan sekuat tenaga, aku menghentakkan kaki kananku ke tanah. Guncangan hebat terjadi, kekuatan hitam yang kukumpulkan di kakiku langsung menyebar di dalam tanah hingga tanah sedikit terangkat.


Bagai sebuah ledakan, suara yang sangat kuat langsung menggema membuat burung-burung berterbangan ke sana kemari dengan panik.


***


Burung-burung juga kian panik mendengar suara yang menggelegar itu. Mereka tampaknya gelisah akan sesuatu.


"Apa itu?" ucap seorang tentara berbadan kekar ketika mendengar suara keras tadi.

__ADS_1


"Mungkin itu adalah bom," sahut temannya.


"Cepat periksa tempat itu!" seru tentara yang merupakan komandan pasukan.


"Baik." Serentak para tentara menjawab dan segera menuju tempat ledakan.


***


"Apa kau gila?" Vany berteriak sekeras mungkin kepadaku. "Di mana otak cerdasmu dulu? Bukankah dengan membuat suara ledakan itu dapat menarik perhatian para tentara?"


Cih, kenapa dia begitu panik? Aku kan hanya menguji kekuatan baru ini. Tidak ada salahnya jika aku mencobanya.


"Kau dengar tidak?" Vany yang kesal langsung meneriakkan kalimat itu di telingaku.


Dia sangat merepotkan. Agar dia tidak mengganggu lagi, sebaiknya aku mulai menjelaskan. "Dengar! Aku memang sengaja memancing para tentara itu ke sini."


"Apa kau gil—"


"Sssttt ...." Aku menempelkan jari telunjukku ke bibirnya. "Setidaknya, biarkan aku selesai bicara."

__ADS_1


"Baiklah." Segera setelah menerima persetujuan, aku pun menarik kembali tanganku.


"Aku baru saja mengisi kekuatanku, jadi aku ingin mencobanya."


__ADS_2