The Red Game

The Red Game
[S2] Chapter 3 : Lakukan Saja


__ADS_3

Aku dengan tenang menatap langit malam yang dipenuhi bintang, di atap sebuah gedung bersama dengan Vany. Entah sejak kapan atap gedung menjadi tempat kesukaanku, tetapi siapa yang peduli, di sini sangat menenangkan dan cukup aman. Memang terkadang ada pencarian dari udara yang dilakukan oleh para tentara sialan itu. Namun, siapa yang peduli, mereka hanya akan mengantarkan nyawa jika berani mencari gara-gara.


Tepat seperti perkiraanku sebelumnya, suara mesin helikopter yang tengah mencari persembunyian para buronan di Kota Utara, menggema di telinga. Segera aku bangun, dan tenyata Vany juga telah bengkit berdiri sambil menerawang ke sekitar.


“Sepertinya kita harus cepat bergerak agar semua ini cepat berakhir,” Vany bergumam pelan.


Dengan malas, aku membalas gumamannya. “Kau benar, tapi semua masalah ini tak akan mempunyai akhir.” Kepalaku tengadah, lalu kembali menatap ke depan setelah menghela napas. “Rantai kebencian akan selalu terbentuk hingga tak berujung.”


“Mungkin ....”


“Baiklah, berhenti mengeluh.” Segera aku berjalan ke pintu yang menghubungkan atap dengan bagian dalam gedung. “Ayo bergegas, sebelum para sialan itu menemukan keberadaan kita.”


“Oke.” Vany pun mengikutiku masuk ke dalam gedung.


Ruangannya begitu gelap, wajar karena tak ada satu pun penerangan di tempat ini. Mata malamku langsung aktif, sehingga tak perlu bagiku untuk membuat penerangan ketika berjalan.


“Ini gelap.” Tanpa kusadari, Vany telah memegang tangan ini agar tidak berpisah jauh dariku.


“Tidak ada yang menakutkan dari tempat yang gelap, Vany. Percayalah pada itu.”


“Siapa yang takut? Bukankah itu kau yang lari terbirit-birit ketika kita memasuki rumah hantu waktu itu.”


Sial, dia mengingatkanku pada itu. Tolong jangan ungkit lagi kejadian kala itu. Semua harga diriku terengut begitu saja di sana.

__ADS_1


Menuruni tangga yang cukup panjang, sekilas aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Segera langkah ini terhenti, mata menyipit, mencoba melihat apa yang ada di depan sana. Namun, tak ada apa-apa. Hanya ruangan yang berantakan dan penuh debu.


“Mungkin hanya imajinasiku saja.”


Tanpa mau menunggu lebih lama, aku pun menarik Vany ke sebuah ruangan luas. Ya, di sini kami akan beristhirahat malam ini, biarpun tidak nyaman dan kumuh.


***


Malam yang dingin, diselimuti oleh gelapnya sebuah ruangan yang terisolasi. Aku tak yakin bagaimana ini bisa terjadi. Seorang gadis menimpa tubuh ini, kedua tangannya mengunci kedua tanganku. Wajahnya semakin ia dekatkan padaku.


“He-hei! Apa yang kau lakukan?”


Sesekali gadis itu menjilat telinga sebelah kananku. Kemudian ia beralih mencium leher dan mengelus dadaku. Aku ingin menghentikannya, tetapi kenapa malah tak sanggup, bahkan semakin menikmati permainannya.


Perlahan, ketika aku sudah takluk pada pesona gadis itu, ia membuka pakaiannya. Belum tampak, masih baru setengah perutnya yang terlihat. Tampaknya itu sangat mulus, dan aku terdorong untuk mengelusnya.


Ah, terserahlah, aku tak peduli lagi. Telapak tangan kiri menyentuh salah satu dari dua buah gunung itu. Benda itu sedikit kenyal dan bergoyang ketika disentuh. Gadis itu sedikit mendesah, lalu mengelus dada bidangku dengan memasukkan tangannya ke balik pakianku.


Kapan lagi ada kesempatan seperti ini, nikmati saja. Dengan kasar aku membalik posisi, gadis itu kini berada di bawah dan aku di atas. Pakaian ini kubuka, lalu mulai mengelus kulit mulus si gadis. Dia tampak menikmati permainan ini.


Langsung aku goyangkan salah satu gunungnya, dan meninggalkan beberapa jejak di lehernya. Beralih ke bagian bawah, tangan masih menyusuri area perut hingga akhirnya ....


***

__ADS_1


Sebuah tamparan meluncur ke pipi sebelah kiriku, mata ini perlahan membuka. Cahaya pagi langsung memenuhi pandangan. Perlahan, seperti sedang memfokuskan lensa kamera, wajah sang gadis tampak dengan jelas.


“Tidak ada waktu untuk tidur lagi, Luchifer.” Gadis itu kemudian berbalik. “Dan usap air liurmu yang menjijikan itu.”


Hah? Air liur? Segera aku mengusap area sekitar mulutku, lalu berdiri.


“Apa yang kau mimpikan hingga sampai berlinang air liur seperti itu, Pria Mesum.”


Sialan, ternyata kejadian yang aku alami hanya sebuah mimpi belaka. Jika diingat lagi, memang tidak mungkin Vany mau menyerahkan diri bahkan sampai menggodaku dengan frontal seperti semalam. Ah, ayolah Luchifer, kau ini seorang jomblo.


Baiklah, saatnya bagun dari dunia mimpi, dan beralih ke kenyataan. Vany menatap dinding berlubang yang menghantarkan hangatnya sinar matahari pagi. Aku pun bergegas mendekatinya, lalu melihat bagian luar gedung.


Seperti biasanya, sudah ada banyak tentara yang berjaga dan mencari para buronan. Mereka sangat mengganggu, sungguh merepotkan saja. Jika begini terus, maka tak ada harapan bagi orang-orang yang tengah bersembunyi di Kota Utara ini. Aku akui, kalau energi yang terkandung dalam ‘Kristal’ ataupun ‘Mutiara’ di dalam tubuh dapat memulihkan stamina untuk menopang hidup. Akan tetapi, semuanya memiliki batas masing-masing. Kalau situasi ini terjadi sampai satu tahun ke depan, sudah pasti akan terjadi amukan dari para buronan.


Sebuah ide cemerlang mendadak terbersit dalam kepala. Tidak perlu menunggu sampai satu tahun ke depan. Mungkin, dalam sepuluh hari dari sekarang, mereka akan mengamuk pada para tentara itu. Sebaiknya aku segera mempersiapkan segala hal yang diperlukan.


“Ayo kita lakukan hal menarik, Vany.”


“Apa itu?” Vany langsung memalingkan pandangannya padaku.


Aku pun berjalan menuju tangga untuk turun ke bawah. “Mengacau dan membantai.”


“Apa kau tidak bosan hanya terus melakukan hal seperti itu?”

__ADS_1


“Memang membosankan, tapi semua tindakanku memiliki sebuah makna, jadi kurasa tak apa mengulang-ulang setiap adegan.”


“Terserah padamu, aku tak mau peduli.”


__ADS_2