
Kei/Luchifer PoV
Vany terbaring tak sadarkan diri setelah menerima pukulanku. Aku tahu kalau pukulanku itu sangat berlebihan, namun jika tidak begitu, maka dia akan terus menghalangiku.
Setelah memastikan kalau Vany sudah tidak sadar, aku berbalik lalu berjalan menuju sisi atap. Disana aku memakai topengku kembali dan melompat dari atap gedung. Seperti biasa, dewa pelindungku tidak membiarkan aku mati begitu saja. Kekuatan manipulasi gravitasi milikku aktif secara otomatis sehingga aku melayang diudara.
Aku mendarat diatas jalanan yang sepi tanpa ada hambatan. Melirik ke arah utara didaerah perbatasan, aku dapat melihat perang masih berlangsung. Tanpa menunggu lagi, aku berjalan menuju ke medan perang itu dengan tenang.
Saat aku dengan tenang menuju medan perang, aku merasakan aura yang dipancarkan oleh banyak orang dari belakangku. Mungkin saja mereka adalah tentara yang diperintahkan oleh sang penguasa untuk memenangkan perang ini. Meskipun aku tidak peduli akan hal itu.
Semakin lama orang-orang itu semakin dekat denganku. Tetapi aku tidak mempunyai niat untuk membantai mereka jika tidak menghalangiku. Atau bisa dikatakan, aku ada dipihak yang netral. Namun jika ada yang berani menghalangi jalanku, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghabisinya.
Tiba-tiba orang-orang yang kurasakan auranya tadi berhenti bergerak. Lalu aku mendengar salah satu dari mereka berteriak kepadaku, “Berhenti disana! Kau tidak boleh pergi ke medan perang.”
Aku mengacuhkan kata-kata itu sembari terus berjalan menuju medan perang. Tak lama kemudian dua orang yang berseragam tentara berdiri didepanku dan mencoba untuk menghentikan langkahku.
“Berhenti! Rakyat biasa dilarang untuk ikut ke medan perang.” Kata salah satu dari mereka.
“Minggir!” Jawabku sambil terus berjalan dan menyerang mereka dengan pedang es.
Kedua tentara itu langsung terbaring ke tanah karena tubuh mereka tertusuk oleh pedang es. Aku mengabaikan mereka dan terus berjalan. Tiba-tiba aku merasakan serangan dilancarkan ke arahku dari belakang. Walaupun begitu aku tetap berjalan dengan tenang sambil memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celanaku.
Saat serangan-serangan itu semakin dekat denganku, pelindungku langsung aktif dan menahan serangan-serangan itu. Suara ledakan menggema ditelingaku saat pelindung dan serangan mereka saling bertabrakan.
“Ah, ini sangat berisik.” Keluhku sambil menutup telingaku dengan kedua tanganku.
Debu berterbangan menutupi pandangan karena ledakan itu. Namun aku terus melangkah tanpa mempedulikannya. Tak lama kemudian aku merasakan aura kehadiran dua orang tentara sedang menyerangku dari belakang dengan menggunakan pedang. Aku merentangkan kedua tanganku lalu menangkap pedang mereka.
Mereka berdua melompat ke belakang karena serangan mereka berhasil kugagalkan. Namun sebelum mereka dapat mendarat, aku melemparkan dua pedang yang kutangkap ke arah mereka. Setelah itu aku melanjutkan perjalananku karena yakin kalau mereka berdua sudah mati terkena lemparan pedangku.
“Akhirnya aku sampai setelah begitu banyak rintangan.” Gumanku.
Saat aku sampai dimedan perang, para tentara Alastein langsung menyerangku dengan serangan jarak jauh. Meskipun begitu, aku masih tidak berniat untuk menghidar atau membalas. Karena aku sudah terlalu malas untuk melakukannya.
Pelindungku bereaksi untuk menahan serangan-serangan itu, dan suara ledakan yang sangat berisik menggema lagi ditelingaku. Jujur saja ini sangat mengganggu. Mereka benar-benar membuatku muak hingga aku mengabaikan rasa malasku.
Aku mengumpulkan kekuatan dikaki kananku lalu menghentakkannya ke tanah dengan sangat kuat. Sesaat setelah aku melakukan itu, jarum-jarum besar berwarna hitam menusuk tubuh para tentara itu hingga tewas.
“Jika tidak ingin mati maka jangan pernah menggangguku.” Kataku dengan sedikit menaikkan nada suaraku.
__ADS_1
Orang-orang yang melihat kejadian itu, langsung tercengang dan menyingkir dari jalanku. Mungkin dengan begini mereka tidak akan pernah menggangguku lagi. Namun jika mereka berani mengganggu lagi, maka aku akan langsung membunuh mereka yang ada disini tanpa ada yang tersisa.
Ketika aku berjalan lebih jauh, aku melihat Cresh dan teman-temannya sedang bertarung dengan sekelompok tentara. Tanpa berlama-lama, aku langsung mengumpulkan kekuatan listrik ditangan kananku lalu menyerang para tentara itu. Dalam sekejap para tentara tadi terpental sangat jauh oleh hentakan listrik yang kubuat.
“Ah, akhirnya kau muncul juga, Kei sialan.” Kata Cresh sambil menghela nafas lega.
“Tidak kusangka seorang penakut sepertimu ternyata kuat juga.” Sambung Wili dengan nada mengejek.
“Apa yang membuatmu mau bertarung bersama kami?” Tanya Alice.
Aku menatap mereka semua dengan tatapan kosong dan sangat bosan. Mereka sangat gembira karena akhirnya aku mau beraksi, tetapi kegembiraan itu akan segera berakhir.
“Ya, aku hanya bosan melihat pertunjukkan ini.” kataku.
“Hah? Pertunjukkan? Apa maksudmu?” tanya Nathaniel yang terkejut mendengar jawabanku.
“Seperti ini.” Jawabku sambil berlari dan meninju perut Nathaniel hingga berlubang.
Nathaniel pasti sangat terkejut dan tidak menyangka kalau aku akan menyerangnya seperti ini. Aku menarik kembali tanganku, lalu membiarkan Nathaniel yang sudah sekarat jatuh terbaring ditanah.
Aku melirik para anggota BlackList, mereka terlihat sangat tekejut dan menatapku dengan heran. Beberapa saat kemudian Roki berlari ke arahku dan menyerang tanpa arah sambil berteriak, “Dasar kau brengsek.”
Melihat dia menyerang seperti itu, aku menggunakan teknik pengendali air untuk membersihkan bekas darah ditanganku dan tidak bersiap untuk menahan serangannya. Dia semakin mendekat dan mengarahkan tangan kanannya yang sudah dilapisi oleh jirah listrik kedepan. Namun serangannya terhenti saat berada beberapa langkah didepanku. Meskipun begitu dia tetap berusaha untuk menghancurkan pelindungku dengan segenap kekuatannya.
Teriak Roki sembari terus menyerang pelindungku. Tiba-tiba anggota BlackList yang lain mengepung dan menyerangku dari segala arah. Mereka terlihat sangat berusaha keras untuk menghancurkan pelindungku. Namun itu adalah hal paling mustahil, karena sejak segel yang menyegel kekuatanku hancur 1 tahun lalu, kekuatanku semakin bertambah kuat. Itulah kenapa aku menyebut kekuatan ini adalah dewa pelindung pribadiku.
Aku meletakkan kedua jari tangan kananku ke pipi sebelah kanan sama seperti yang kulakukan sebelumnya. Wajahku mulai dibasahi oleh tinta hitam, dan akhirnya tinta itu diserap oleh kedua jariku. Kulirik sekitarku untuk mencari keberadaan Cresh. Saat aku menemukannya, aku langsung memperlihatkan wajah asliku kepadanya.
Cresh sangat terkejut melihat siapa aku sebenarnya. Seketika itu dia mundur kebelakang dan memerintahkan teman-temannya untuk mundur. Mendengar perintah dari Cresh, para anggota BlackList pun mundur. Cresh mundur beberapa langkah lagi dengan kaki yang gemetar.
“Bagaimana mungkin kau bisa ada disini?” tanya Cresh sambil menunjukku.
“Bukankah sudah jelas karena aku menyamar menggunakan nama saudara kembarku yang kau bunuh.” Jawabku sembari berjalan medekatinya.
“A-Apa tujuanmu melakukan itu?”
“Bukankah sudah jelas.”
Setelah mengatakan itu aku dengan cepat berlari ke arah Wili dan mengunci gerakannya dari belakang. Kuarahkan jari telunjuk tangan kananku yang berlapiskan listrik kekeningnya. Wili mulai berkeringat saat itu, dan sepertinya wajahnya juga pucat karena hal ini.
__ADS_1
“A-Apa yang kau inginkan dariku.” Kata Wili dengan suara yang gemetaran.
“Aku tidak diharuskan untuk menjawab pertanyaan itu.” Jawabku.
“Lepaskan Wili!” bentak Marten.
“Jika kalian berani mendekat, maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuh orang ini.” Ancamku.
Meskipun kukatakan pada mereka ini adalah ancaman, tetapi aku tidak pernah bermaksud untuk membiarkan Wili hidup.
Hm, sebaiknya aku cepat selesaikan balas dendamku agar aku bisa tenang.
“Kalau kalian ingin aku berbaik hati, bawa Cresh didepanku sekarang juga.” Kataku pada mereka.
“Hah? Apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Awan dengan wajah geram.
“Ya, itu benar. Kami tidak akan pernah tunduk padamu.” Sambung Alice.
“Itu benar.” Sahut Roki dan Riki secara bersamaan.
“B-Baiklah. Aku akan kesana.” Kata Cresh sembari berjalan medekat dengan wajah kecewa.
Cresh berhenti beberapa langkah didepanku yang mengunci leher Wili dengan tangan kiri. Wajah Cresh terlihat begitu pucat, matanya yang biasanya memancarkan keceriaan berubah menjadi penuh keputusaan. Dia terus menatapku seolah ingin berkata, ‘jangan lakukan itu!’
Aku menatap kosong ke arah mata Cresh. Tetapi entah kenapa aku tidak merasakan apa-apa walau sebentar lagi balas dendamku akan tercapai. Ini sangat aneh, bahkan sangat aneh hingga tidak dapat kupahami.
Sisi lain dari diriku berkata untuk tidak melakukannya, tetapi sisi yang lain berkata lakukan saja. Ini adalah pertama kalinya aku bimbang dalam hidupku. Aku tidak tahu harus memilih pilihan yang mana.
Memang benar aku menganggap balas dendam itu adalah hal yang sia-sia dan hanya membuang tenaga. Tetapi kenapa ada sisi lain dari diriku yang menginginkan balas dendam itu.
Kenapa? Kenapa?
Saat ini aku merasa ingin menjerit dan lari dari masalah ini. Namun aku sadar kalau cara itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Ini benar-benar sangat menyebalkan.
Ah, sudahlah. Akan kulakukan saja dan setelah itu semuanya akan berubah karena satu pilihan yang kupilih.
Aku mengalirkan kekuatan bayangan ke seluruh tubuhku lalu kekuatan itu memadat dan jarum-jarum bayang keluar dari tubuhku dan menusuk Wili. Darah menetas dari ujung jarum-jarum itu. Seluruh anggota BlackList terbelalak melihat kejadian yang begitu mendadak itu.
Cresh terjatuh dan berlutut ditanah sambil memandangi Wili yang sudah tewas didepan matanya. Melihat dirinya yang seperti itu membuat aku teringat akan masa lalu. Masa dimana aku melihat Cresh membunuh saudaraku yang sedang mencoba untuk menetralkan kekuatannya yang tak terkendali. Waktu itu saudaraku, Klaurius Kei, mati tertusuk oleh rantai ungunya hingga tewas tepat didepan mataku.
__ADS_1
Aku menepis ingatan itu dari kepalaku sembari melemparkan tubuh Wili yang sudah tidak bernyawa ke arah Cresh, lalu membatalkan teknikku. Melihat itu, para anggota BlackList berteriak memakiku sembari menyerangku secara bersamaan.
Aku melapisi tubuhku dengan kekuatan listrik lalu menyebarkannya sehingga menyebabkan hentakan yang sangat kuat. Hentakan itu kemudian mementalkan mereka yang menyerangku. Setelah itu aku berbalik dan mulai pergi meninggalkan mereka dan juga Cresh yang sejak tadi hanya memandangi mayat Wili dengan tatapan kosong.