The Red Game

The Red Game
Chapter 9 part 2


__ADS_3

Para tentara negara Alastein mulai mengisi setiap sudut kota Arc. Penyusupan aliansi kota utara sudah diketahui oleh mereka sejak kematian Charlie. Ini tidak terlalu mengejutkan, karena saat para penjaga menemukan Karl dikalahkan, mereka langsung menyusuri dinding pembatas hingga akhirnya menemukan lubang besar yang menghubungkan kota Arc dengan kota utara.


Sekarang ini aliansi kota utara sedang dalam keadaan terdesak. Mereka pasti sedang panik melihat apa yang terjadi. Rencana pembunuhan mereka tidak berjalan dengan lancar hingga akhirnya mereka terpaksa untuk bersembunyi. Namun dimanapun mereka bersembunyi pasti akan ditemukan oleh para tentara.


Aku saat ini sedang mengikuti salah satu dari para anggota aliansi kota utara. Orang yang kuikuti ini adalah seorang pemuda pendek yang juga mengenakan jubah sepertiku.


“Bagaimana ini?” gumannya sambil meringkuk didalam sebuah gang buntu yang sempit.


Dia pasti sedang merasa takut karena sudah tahu dia pasti akan ditemukan ditempat seperti ini. Namun entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan pemuda ini. Dilihat dari penampilannya, dia tampak seperti seekor domba yang sudah terpojok. Tetapi aura yang dipancarkannya sama seperti aura seorang pembunuh handal.


“Bagaimana ini? bagaimana ini? Apakah aku akan mati hari ini?” guman pemuda itu dengan nada frustasi, “Tidak, tidak. Aku tidak ingin mati. Aku masih ingin hidup. Tetapi bagaimana caranya? Padahal aku hanya ingin hidup damai dilingkungan yang nyaman. Tetapi kenapa harapanku tidak terwujud?”


Sialan, orang ini sangat berisik. Bahkan lebih berisik daripada Wili.


Tiba-tiba dua orang tentara berjalan menghampiri pemuda itu. Mereka serentak mengarahkan senapan mereka kepada pemuda itu lalu menembaknya.


Dor! Dor! Dor!


Suara senapan menggema didalam gang selama beberapa saat. Debu menutupi pemuda yang yang ditembakki oleh para tentara itu. Angin malam berhembus menerbangkan debu yang menyelimuti pemuda itu.


Debu-bedu mulai menghilang, dari dalam debu itu keluarlah sosok yang sangat berbeda dari yang kubayangkan. Apa yang keluar dari sana adalah seekor monster bertubuh kekar dengan kulit hitam berbintik merah dan dikedua tangannya terdapat 3 cakar tipis sepanjang setengah meter. Kedua tentara tadi berjalan mundur sambil menembakkan senapan mereka.


“J-Jangan bergerak!” seru mereka dengan gemetaran.


Monster itu terus berjalan mengabaikan peluru yang ditembakkan padanya. Asap keluar dari mulut dan hidung monster itu saat ia dengan santai menebaskan cakar-cakarnya secara berurutan.


“T-Tidak, hentikan!!” seru salah satu tentara itu saat monster itu menebasnya.


Melihat rekannya terpotong menjadi 2 bagian, tentara yang tersisa langsung melemparkan senapannya ke arah monster itu lalu pergi secepat mungkin. Monster yang diserang tadi tidak tinggal diam, dia melompat setinggi mungkin lalu menerkam tentara itu hingga tewas.


Setelah membunuh kedua musuhnya, monster berlari keluar. Melihat itu aku langsung saja mengikutinya untuk melihat kelanjutan dari kisah si monster jelek ini. Monster itu berlari dengan cepat menuju ke kerumunan para tentara. Dia dengan cepat mendekat dan menebas beberapa tentara dengan cakarnya.


Para tentara sangat terkejut melihat monster itu. Mereka dengan serentak menembaki monster itu dengan senapan mereka. Namun monster itu tidak terluka sedikit pun oleh tembakan itu. Peluru-peluru yang menengenainya bahkan tidak mampu menggores kulitnya.


Monster itu terus-menerus menebaskan cakarnya tanpa mempedulikan teriakan dari para tentara. Hingga akhirnya seorang tentara menerjangnya hingga mundur beberapa langkah. Tentara yang menerjangnya itu menggenggam sebuah pedang ditangan kanannya. Pedang yang ia pegang itu mengeluarkan cahaya berwarna biru.


Tanpa peduli pada sekitarnya, monster itu melompat ke arah tentara yang membawa pedang bercahaya. Tentara itu berjongkok lalu menebaskan pedang birunya. Tangan kanan monster yang menyerangnya berhasil dipotong oleh pedangnya.

__ADS_1


Darah mengalir deras dari tangan monster yang terpotong. Monter itu mengabaikan lukannya dan terus menyerang tentara yang lain dengan tangan kirinya. Teriakan para tentara menggema dibawah terangnya bulan. Tentara yang memegang pedang bercahaya tadi menjadi geram karena hal itu. Dia lantas melompat dan menebas leher monster itu hingga putus.


Monster itu berhenti bergerak, darah mengalir dari lehernya yang terpotong. Namun dari bekas luka monster itu muncul sesuatu yang seperti tali berwarna hitam. Tali-tali itu kemudian bersatu dengan tangan kanan dan kepala monster yang dipotong oleh tentara.


Tentara yang menggunakan pedang becahaya itu tidak membiarkan hal itu terjadi. Dia memotong tali-tali yang berusaha untuk menyatukan kembali bentuk monster itu. Tentara-tentara yang lainnya mencoba untuk membantu dengan pedang mereka, namun tidak ada yang berhasil. Pedang-pedang yang ditebaskan ke arah tali-tali itu langsung terpental kembali ataupun patah. Jadi kesimpulannya hanya tentara yang menggunakan pedang bercahaya biru yang bisa memotong tali tersebut.


“Dasar kalian tidak berguna!!” bentak tentara yang menggunakan pedang bercahaya.


“Maafkan kami komandan Frev.” Jawab salah satu tentara yang dibentak.


“Kalau begitu cepatlah pergi dari sini. Jangan mengganggu pekerjaanku. Mengerti!!” kata tentara yang menggunakan pedang bercahaya atau orang yang disebut Frev oleh para tentara itu.


“Kami mengerti.” Jawab para tentara dengan serempak.


“Dasar orang-orang yang tidak berguna.” Keluh Frev sembari terus memotong tali-tali yang mencoba untuk menyatukan kembali tubuh monster yang terpotong.


Setelah semua tentara tadi pergi, Frev akhirnya berhenti memotong. Nafasnya menjadi tidak karuan dan keringat mulai membasahi seragam tentaranya. Ia menjadikan pedangnya yang sudah mulai redup sebagai tongkat agar dia tidak terjatuh.


Tali-tali hitam tadi kembali beraksi untuk menyatukan kepala dan tangan monster tadi. Walaupun begitu Frev masih tidak segera kembali memotong tali-tali itu. Dia bahkan terlihat sangat tidak peduli jika tubuh monster itu kembali menyatu.


Frev melompat kebelakang lalu mulai menyerang monster itu lagi dengan menebaskan pedangnya. Monster itu menangkis semua serangan Frev dengan cakar-cakarnya lalu menyerang balik Frev dengan cakar ditangan kirinya. Untuk menghindari serangan itu, Frev mencoba mundur beberapa langkah, namun monster itu berhasil memotong tangan kirinya.


Darah mulai bercucuran dari tangan kiri Frev yang terpotong. Frev menancapkan pedangnya ketanah lalu berlutut sambil memegangi tangan kirinya yang terpotong dengan tangan kanannya. Tubuhnya terlihat gemetaran dan tatapannya matanya memancarkan rasa ketakutannya.


Monster itu mulai mendekat ke arah Frev sambil mengeluarkan asap dimulut dan hidungnya. Melihat itu Frev dengan putus asa berdiri sambil mengambil kembali pedangnya. Frev berjalan mundur dengan gemetaran sembari manarik pedangnya.


Frev mengacungkan pedangnya kearah monster itu sambil gemetaran lalu berkata, “J-Jangan mendekat.”


Suara yang keluar dari mulutnya begitu gemetar. Tampaknya dia sudah sangat frustasi untuk berhadapan dengan monster yang menyerangnya. Kakinya mulai melemas dan akhirnya dia jatuh berlutut ditanah. Wajahnya sudah kelihatan sangat pucat karena kehilangan banyak darah. Tangan kanannya yang memegang pedang juga sudah mulai lemas hingga akhirnya pedangnya terjatuh.


“Ah.., jadi ini ya yang namanya frustasi.” Guman Frev saat melihat monster yang diserangnya tadi semakin mendekat.


Monster itu melompat ke arah Frev. Namun Frev segera memaksakan tubuhnya untuk berdiri dan mengangkat pedangnya keatas. Pedangnya mulai memancarkan cahaya berwarna biru yang sangat menyilaukan.


“Argh!!”


Frev berteriak lalu menebaskan pedangnya secara horizontal ke arah monster yang menyerangnya. Dalam sekejap, monster itu menyadari serangan dari Frev. Monster itu lalu berhenti dan menahan serangan tebasan pedang Frev dengan menyilangkan cakar-cakar dikedua tangannya.

__ADS_1


Tang!!!


Suara benturan antara pedang Frev dan cakar monster itu menggema. Keduanya saling mempertahankan keseimbangan mereka agar tidak goyah.


“Huaaaa!!!!”


Frev berteriak sambil semakin menguatkan tebasan pedangnya. Cakar-cakar monster yang menahan serangan itu mulai retak. Frev semakin memaksakan kekuatannya agar dapat melampaui batasannya.


“Argh!!” Frev berteriak kesakitan saat memaksakan dirinya.


Kekuatan Frev semakin meningkat hingga akhirnya dia berhasil memotong cakar monster itu. Menyadari cakarnya terpotong, monster itu langsung melompat kebelakang. Sedangkan Frev menjadi sangat tidak bertenaga.


Frev mulai kehilangan kesadarannya lalu tersungkur ketanah. Aku dapat melihat darah mulai mengalir dari mulutnya. Kondisi tubuhnya sekarang sudah sekarat karena memaksakan kekuatannya.


Monster tadi mulai berjalan ke arah Frev. Beberapa langlah sebelum ia dapat mencapai Frev, besi-besi keluar dari tanah dan mengurungnya seperti burung. Para tentara mulai berdatangan dan mengepung monster itu. Namun monster itu tidak gentar sedikit pun. Dia meregangkan tangannya dan mulai menebar sangkar yang mengurungnya dengan cakarnya yang tinggal setengah dari panjang awalnya.


“Roar!!”


Monster itu berteriak setelah menghancurkan kurungannya lalu menyerang para tentara. Para tentara menyerang monster itu dengan bola-bola angin, dan api. Monster itu terdorong mundur karena terkena serangan itu.


Setelah serangan berhenti, monster itu kembali melompat ke depan. Namun, langkahnya terhenti karena tubuhnya dililit oleh rantai cahaya berwarna putih.


“Kurung dia!!” teriak salah satu dari para tentara itu.


Dengan serentak orang-orang yang mempunyai teknik pengendali baja dan teknik pengendali besi mengurung monster itu. Orang yang mengikat monster itu dengan tali cahaya langsung memperkuat ikatannya agar monster itu tidak dapat bergerak.


Setelah gerakan monster itu tertahan, para tentara itu mulai mengerumuni Frev yang sedang diobati oleh salah satu dari mereka. Orang yang mengobati Frev adalah seorang tentara perempuan dengan rambut pendek. Perempuan itu menggunakan teknik pengobatannya yang berupa cahaya hijau pada tangan kiri Frev yang terpotong.


Waktu demi waktu berlalu, Frev masih belum sadar juga walau sudah diobati. Namun kondisinya sudah mulai stabil, meskipun tangan kirinya yang terpotong tidak bisa disatukan kembali.


Aku memalingkan pandanganku dari Frev ke arah monster yang dikurung oleh para tentara. Kondisi monster itu semakin tenang dan tidak mencoba untuk memberontak.


Sebelum ini aku juga pernah melihat teknik berubah menjadi monster seperti ini. Namun teknik perubahan monster seperti ini sangatlah langka. Bisa dikatakan teknik berubah menjadi monster yang seperti ini adalah satu berbanding seribu. Dia sangat beruntung mendapatkan kekuatan ini.


Tetapi sehebat apapun kekuatan seseorang, kekuatan itu pasti memiliki suatu kelemahan. Dan kelemahan dari teknik ini adalah waktu. Teknik ini hanya bisa digunakan paling lama selama 3 jam, dan sekarang waktu perubahannya sudah hampir habis.


Tubuh monster tadi perlahan-lahan luntur dan meninggalkan bekas seperti lumpur. Monster yang mengerikan itu kini berubah menjadi seorang pemuda pendek yang tidak mengenakan pakaian. Para tentara sangat terkejut melihat wujud asli dari monster itu. Namun tanpa berlama-lama, sebuah jarum besar yang muncul dari tanah menusuk pemuda itu hingga tewas.

__ADS_1


__ADS_2