
Kaki melangkah dengan perlahan, menuju ke arah terowongan di mana kami masuk tadi. Aku memasukkan tangan kiri ke dalam saku, energi yang terkumpul dalam 'Kristal Warna' milikku sudah sangat banyak. Sebuah senyuman tipis, terpampang jelas di wajah, kesenangan hati benar-benar tak dapat dipendam. Menghela napas sejenak, aku berhenti lalu melirik Vany yang tengah mematung.
"Kita adalah dua orang yang berasal dari keluarga Klaurius. Dan bahkan, hanya kita yang tersisa." Kalimat itu terjeda selama beberapa saat. "Jadi, apa kau akan ikut denganku?"
Gadis berambut merah itu tersenyum lembut, lalu berjalan mendekat. "Kenapa tidak?"
Ini aneh, sepertinya dia berubah total. Mungkinkah ada suatu rencana lain untuk menghalangiku. Jika itu benar, maka ia sangat handal dalam berakting.
Sudahlah, tidak perlu memikirkan itu sekarang. Lagipula, aku bukanlah orang bodoh yang bisa ia jebak dengan mudah. Untuk menghentikan aku yang sekarang, cukup mustahil bagi mereka. Akan tetapi, diri ini tidak sabar menanti perjuangan mereka supaya dapat mengalahkanku.
Monster melawan segerombolan hewan. Jelas siapa yang pasti akan menang.
"Baiklah, Vany. Ayo kita hancurkan 'penguasa' itu."
"Em."
Segera aku mengalirkan kekuatan di telapak kaki. Perlahan, raga melayang di udara.
"Hei!" seru Vany, "Bagaimana denganku?"
Astaga, aku lupa, dia adalah gadis yang tidak bisa terbang. "Tetap di sana!" Perlahan tubuh ini mendarat mulus di atas tanah.
Sesaat kemudian, tanganku dengan cepat meraih tangan Vany, lalu menyeretnya ke dalam pelukan. "Pegang yang erat."
Vany tak bereaksi, ia tampak sangat terkejut melihat perlakuanku itu. Namun, siapa yang peduli, aku dengan cepat melayang di udara sambil memeluk erat tubuh gadis itu.
__ADS_1
Kekuatan yang terkumpul dalam diriku, dapat memungkinkan aku untuk menggunakan beberapa teknik. Tidak seperti sebelumnya, di mana dalam 'Kristal Warna' milikku hanya terdapat sedikit kekuatan.
"Peluk aku, jika kau tak ingin jatuh!"
"Eh?"
Tangan kiri yang kugunakan untuk memeluk Vany, kini terentang ke samping.
"Eh!" Sontak, Vany langsung memeluk erat tubuhku. "Astaga, kau membuatku hampir terjatuh." Gadis itu mendengus kesal.
Siapa yang peduli, lagipula kau hanya seperti beban untukku.
Tanpa mau menjawab, kekuatan di dalam 'Kristal' langsung kualirkan pada telapak tangan kiri. Terbentuk butiran kecil seperti debu di sana, lalu butiran itu memadat membentuk sebuah pedang berwarna hitam.
"Kau mau apa?" Vany menengadah, menatap wajahku, sambil menaikan sebelah alis.
"Hanya menguji sebesar apa kekuatanku saat ini."
Kian lama waktu berlalu, pedang hitam itu, kini menjadi semakin besar. Membesar, pedang itu sekarang telah berukuran, lebih besar dari tubuhku. Butiran hitam masih terus keluar dari telapak tangan, lalu menyatu dengan pedang.
Segera aku menghentikan aliran kekuatan, dan segera mengangkat tangan kiri, ke atas. Pedang hitam pun ikut berdiri menghadap ke atas. Dengan satu kali hentakan tangan dari atas ke bawah, pedang itu langsung melesat ke depan sambil terus berputar. Bagunan kokoh yang berdiri di sana, langsung terbelah menjadi dua, ketika pedang itu menghantamnya.
Debu bertebaran, suara berisik yang terjadi akibat serangan tadi, membuat para burung bertebaran ke sana kemari. Tanpa perlu waktu lama, para Prajurit Negara Alastein, langsung berkerumun di dekat ledakan tadi. Sebagian di antara mereka, kini melayang melingkar di sekitarku, dengan senapan panjang yang mengarah tepat pada aku dan Vany.
"Mahluk bodoh," gumamku ketika mereka mulai menembak.
__ADS_1
Hanya suara tembakan yang terdengar, tak ada satu pun peluru yang melukai tubuh ini. Karena pelindung otomatis milikku, langsung aktif ketika menyadari ada bahaya yang mendekat.
Tak hanya satu atau dua tembakan, mereka masih terus berusaha dengan susah payah untuk menyerangku. Namun, semua perjuangan itu sia-sia, sebab diri ini tidak bisa dilukai.
"Aku bukan lagi Kei, sekarang Luchifer sudah kembali."
Pedang hitam besar yang membelah gedung tadi, memecah kembali menjadi butiran. Dengan satu gerakan jari, butiran-butiran hitam itu bergerak dengan cepat, menuju para prajurit.
Berhenti menembak, para prajurit itu melepaskan senapan dari tangan dan bergerak menjauh, saat salah satu dari mereka tertembak mati oleh butiran hitam ciptaanku. Jerit kesakitan yang begitu khas, terdengar di dalam telinga. Darah dari luka-luka yang ada pada para mayat prajurit, langsung membasahi tanah lapang indah tadi.
Dalam sekejap mata, puluhan prajurit langsung terkapar tanpa nyawa. Sesaat aku melirik Vany, dia memedam wajahnya dalam pelukan, tak mau melihat pembantaian yang terjadi. Aku sungguh sadar, ia seperti sekarang karena tidak ingin ingatan buruknya kembali lagi.
"Jalan ini memang dipenuhi oleh darah dan penuh keburukkan." Kedua tangan melemas dan turun dengan normal. Pandangan masih lurus ke depan, tak ada emosi yang terpancar. "Jika melihat ini saja kau tak sanggup, jangan salahkan aku saat kau menyesali pilihanmu sendiri."
Masih memendam wajah di dadaku, tubuh Vany sedikit bergetar. "Kau benar ... aku sungguh konyol."
Mungkin akan lebih baik jika kami segera pergi dari sini. Sangat merepotkan kalau harus melayang seperti ini sepanjang waktu.
Ketika diri ini mulai melayang ke depan, sebuah seruan sontak terdengar oleh telinga.
"Hei!" seruan nyaring itu, sontak membuat aku berhenti lalu berbalik.
Seorang pemuda, dengan seragam hitam dan tubuh kekar, melayang di sana sambil mengisi pistol berwarna hitam pada tangan kanannya. Rambut pirang sedikit panjang, milik si pemuda, bergoyang sesaat karena diterpa angin.
"Bisakah kau menyerahkan diri saja?"
__ADS_1