The Red Game

The Red Game
[S2] Chapter 1 part 2


__ADS_3

Tanpa peringatan sedikit pun, aku langsung saja begerak menyerang mereka dengan sentakan listrik. Dalam sekejap, kilatan cahaya berwarna biru menyambar para tentara itu hingga terpental sangat jauh. Namun mereka masih saja belum menyerah dan menembakkan senapan mereka ke arahku.


Aku melompat, membawa diri ini melayang di udara sambil memandangi kumpulan para tentara yang kembali mengarahkan senapan mereka. Suara dari mulut senapan menggema di telingan ini, hujan peluru dari banyaknya senapan melesat dengan kecepatan tinggi ke arah diri ini.


Sebenarnya itu sangat percuma, karena sebanyak apa pun peluru yang ditembakkan, pasti tidak akan pernah dapat melukaiku. Akan tetapi, mendadak lengan kananku terasa sangat sakit hingga aku menggenggamnya dengan tangan kiri untuk menahannya. Dan entah kenapa, diri ini pun jatuh meski memiliki dewa pelindung.


Rasa sakit akibat terjatuh itu mulai bisa kurasakan. Lalu disaat diri ini masih belum sempat berdiri, banyak sekali peluru yang melesat kencang ke arahku. Dalam keadaan kritis itu, aku sudah pasrah jika memang riwayatku harus tamat sekarang juga. Kupejamkan mata ini dan bersiap menghadapi kenyataan yang akan segera tiba.


Boom!


Sebuah ledakan terjadi hingga membuat asap bercampur dengan debu menutupi pandangan. Tanpa kusadari, ada seseorang yang menarik tangan kiriku sampai membuat diri ini bergerak mengikutinya. Tak lama kemudian, sampailah kami di antara gedung-gedung tua, dan kini aku dapat melihat kalau orang yang menarikku adalah Vany.


Sembari menatap wajah Vany, aku bertanya padanya, “kenapa kau menyelamatkanku? Bukankah seharusnya kau tidak berada di sana melainkan di markas bersama dengan teman-temanmu.”


Vany melirikku sesaat lalu menjawab dengan acuh, “sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa aku melakukannya, hanya saja, aku merasa tidak dapat meninggalkanmu seorang diri lagi mulai sekarang.”


Hah? Kenapa dia tiba-tiba berubah seperti ini? Apa aku melakukan sesuatu yang salah sehingga dia begitu khawatir kepadaku? Ah sudahlah, itu tidaklah penting.


Menepis semua pikiran itu dalam kepala ini, aku segera mengalihkan topik pembicaraan, “terserah padamu sajalah. Oh iya, bagaimana caramu menyelamatkanku?”


“Tidakkah kau dapat menerka-nerka bagaimana aku bisa melakukannya?”

__ADS_1


Haih, kenapa gadis ini begitu senang membuatku memutar otak? Tapi aku juga tidak peduli, karena mungkin dia hanya menggunakan kekuatan cahaya yang dimasukkan dalam granat. Dan tentu saja, itu adalah salah satu senjata perang yang diciptakan oleh para ilmuan keluarga Klaurius.


“Biar kutebak,” kata Vany sembari memperhatikan raut wajahku, lalu melanjutkan, “kau pasti sudah menemukan jawabannya.”


Perkataannya itu memang terdengar seperti sebuah konfirmasi, akan tetapi faktanya dia mengisyaratkan agar menanyakan sesuatu kepadanya. Maka untuk menanggapi hal tersebut, aku lantas bertanya, “dari mana kau menemukan granat itu?”


“Sudah kuduga kau pasti akan menanyakannya, dan karena kau memaksa, maka aku akan menjawabnya untukmu.”


Hah? Sejak kapan aku mau mempedulikan tentang sesuatu yang tidak penting itu? lagipula, aku menanyakannya hanya untuk menanggapi isyarat yang ditunjukkan padaku. Namun, sepertinya aku harus sedikit mengalah padanya.


“Ya, tolong beritahu aku dari mana kau mendapatkannya?” tanyaku padanya.


Astaga, tidak kusangka dia dapat menebak jalan pikiranku yang teramat rumit. Apakah dia adalah orang yang dapat membaca pikiran. Kalau memang benar, berarti dia sangat berbahaya. Aku harus lebih berhati-hati.


Vany kembali melirikku dengan tatapan bosan.


“Kau berpikir terlalu jauh, aku bisa menebak jalur pikiranmu hanya dengan mendengar nada bicaramu itu.”


Heh? Bukankah dia saat ini sedang membaca pikiranku makanya ia dapat mengatakan hal itu. Tetapi apa dayaku, mereka bilang seorang gadis selalu benar. Ini sangat menyebalkan.


Setelah beberapa waktu terlarut dalam pikiranku, aku akhirnya angkat bicara, “ya, kau memang benar. Sejujurnya aku tidak perlu kau untuk menjawab pertanyaan itu karena aku sudah dapat menebak di mana kau mendapatkannya.”

__ADS_1


“Fufufu, kau ini sedang membual ya. Sudah akui saja kalau kau hanya pura-pura tahu, aku tidak keberatan untuk menjawab jika kau berjanji satu hal padaku.”


Tawarannya benar-benar tidak setara dan sangat merugikan diriku. Jadi, mana mungkin aku mau menerimanya, aku ini bukan orang yang mudah dibodohi.


“Aku tidak melihat ada pertukaran yang setara disana, jadi aku dengan senang hati menolak tawaranmu itu.”


“Yakin kau tidak akan menyesali keputusanmu?”


Sangat merepotkan, kenapa juga aku harus mempertimbangkan tawarannya yang sudah jelas pasti akan menyusahkanku.


“Tidak ada alasan bagiku untuk menyesal.”


Segera setelah mengatakan kalimat itu, aku menggenggam lengan kananku yang masih sakit menggunakan tangan kiriku. Saat aku mencoba untuk mengalirkan kekuatanku, entah kenapa tidak ada yang terjadi. Aliran kekuatanku tidak dapat difungsikan lagi dan tiba-tiba saja tubuhku melemas hingga membuat diri ini tersungkur ke tanah.


Kini kesadaranku berada disebuah tempat yang begitu gelap serta hampa. Tidak ada seorang pun selain diriku yang berada di tempat ini. Didalam sini aku mulai merasa kalau aku memang seharusnya seperti ini. Karena kedua tangan ini sudah teramat kotor untuk bisa dicuci.


“Ah, mungkin disini adalah satu-satunya tempat yang cocok untukku. Selain itu, aku juga merasa tidak ingin lagi menjalankan rencana yang sudah kubuat sedemikian rupa. Mungkin lebih baik juka diri ini tetap berada didalam sini,” gumamku selagi pasrah akan kenyataan.


Akhir-akhir ini aku merasa menjadi orang yang berbeda. Sejak permuanku dengan saudara kembarku, hati ini mulai memancarkan simpati yang tidak seharusnya diperlukan.


Sejenak aku ingin melenyapkannya, namun ada sisi dari diriku yang masih tidak sanggup untuk melakukannya. Ah, seperti inikah yang dinamakan dilema.

__ADS_1


__ADS_2