
Pertandingan memperebutkan posisi ketua aliansi sebentar lagi akan dimulai. Orang-orang mulai berkumpul membentuk sebuah lingkaran mengelilingi lapangan. Ditengah-tengah lapangan itu masih terdapat bis tua dengan seorang perempuan berambut pirang diatasnya. Setelah beberapa saat ia akhirnya berkata.
“Sebelum kita memulai pertandingan ini, saya sekali lagi akan menegaskan. Setelah pertandingan berakhir, apapun yang terjadi tidak ada dendam diantara kita. Jika kalian sudah mengerti maka kita akan melanjutkan pertandingan.”
Suasana menjadi hening, tidak ada seorang pun yang berani memprotes apa yang dikatakan perempuan berambut pirang itu. Karena jika ada yang memprotes, maka secara tidak langsung itu akan menyinggung rekannya yang akan menjadi peserta.
“Jika tidak ada yang keberatan maka kita akan melanjutkan pertandingan.” Lanjut perempuan itu, “Untuk para peserta dipersilahkan masuk kedalam arena.”
Haih, sebenarnya aku sangat enggan untuk mengikuti pertandingan ini. Tetapi si Vany itu membuatku terlibat kedalamnya. Aku tahu dia berencana untuk menyelidikiku selama pertandingan dengan memanfaatkan Nathaniel. Jika aku tidak mengubah gaya bertarungku, maka Nathaniel akan yakin kalau akulah dalang dari pembantaian sebelumnya.
Namun pekerjaan itu tidak akan mudah bagi Nathaniel. Waktu itu aku sengaja memperlihatkan pertarungan yang berbeda padanya. Sejak awal aku sudah berniat untuk mengadakan pertandingan seperti ini, karena jika tidak begini, aku ragu aliansi ini dapat terjalin.
Dengan berat hati aku masuk kedalam arena bersama Cresh. Didalam arena itu sudah berkumpul orang-orang yang menjadi peserta. Awalnya aku mengira akan banyak peserta yang akan mengikuti pertandingan ini, tetapi faktanya hanya ada 10 orang yang berpartisipasi.
Aku mengamati orang-orang itu. Diantara mereka ada seorang pria paruh baya yang sangat kurus dengan rambut panjang keabu-abuan. Dilihat dari penampilannya, banyak orang pasti akan mengira kalau dia sangatlah lemah. Namun aura yang terpancar darinya menandakan betapa kuatnya orang ini.
“Hahaha. Kenapa ada orang kurus sepertimu disini. Apa kau memang mencari mati.” Orang yang menantangku sebelumnya mengejek pria paruh baya itu.
“Hm.., kau memiliki kepercayaan diri yang terlalu tinggi anak muda.” Pria paruh baya itu menjawab dengan tenang.
“Hahaha. Bagaimana kalau kita menjadi peserta pertama yang bertarung dalam pertandingan ini?”
__ADS_1
“Hm.., itu ide yang bagus.”
“Itu tidak diperbolehkan.” Perempuan berambut pirang yang berada diatas bis tadi menyanggah percakapan mereka.
“Kita perlu undian untuk menentukan siapa yang melawan siapa.” Sambungnya.
“Tidak. Kita tidak perlu melakukan itu.” Sahutku.
“Apa alasanmu mengusulkan itu?” tanya perempuan itu.
“Akan lebih baik jika kita menentukan pertandingan atas kesepakatan kedua belah pihak. Dengan begitu kita juga dapat menentukan apakah orang itu pantas untuk menjadi ketua.”
“Apa maksudmu?”
“Jadi maksudmu pertandingan ini bukan hanya masalah kekuatan, melainkan juga pola pikir.”
“Yah begitulah.”
“Baiklah kita gunakan usulan itu.”
Sebenarnya hal itu tidaklah penting, karena pada akhirnya orang yang kuatlah yang menang. Tetapi hal ini akan sangat menguntungkan bagiku. Jika pertarungan ini ditentukan oleh kesepakatan antar peserta, kemungkinan aku akan tersingkir pada pertarungan pertama akan meningkat. Dengan begitu aku bisa kembali menjadi penonton.
__ADS_1
“Kalau begitu langsung saja. Nona maukah kamu bertarung denganku?” tawarku pada perempuan berambut pirang tadi.
“Hah? Apa aku tidak salah dengar?” jawabnya.
“Aku tahu kau memang hebat, tapi aku tidak yakin kau bisa mengalahkanku.”
“Baiklah. Sebagai gantinya kita akan bertaruh.”
“Bertaruh?”
“Jika aku menang kau harus menjadi tangan kananku yang setia.”
“Aku tidak bisa janji akan menjadi tangan kananmu. Tapi setidaknya aku bisa menjadi penasehatmu saja.”
“Itu sudah cukup. Jadi apa permintaanmu jika kau menang.”
“Aku tidak akan meminta apapun. Hanya saja tolong beritahu namamu!”
“Namaku Rias Covery. Ingat itu baik-baik.”
“Aku Kei, salam kenal. Bagaimana kalau kita yang bertanding pertama kali.
__ADS_1
“Siapa takut.”