
“Woi, kalian kumpulan para brengsek. Matilah di sini untuk menghormati teman kami,” seru salah satu anggota Jubah Kelam pada Kelompok Aris.
Setelah kisah dramatis yang dilakukan untuk mengenang salah satu dari teman mereka yang mati. Kelompok jubah kelam dan kelompok Aris saling berhadapan satu sama lain. Suasana ini sudah menjadi lebih baik ketika Sang Ketua dari Jubah Kelam berhasil menenangkan anak buahnya yang hendak mengamuk.
Pertunjukkan ini menjadi tidak menarik karena hal itu. Seharusnya Sang Ketua tidak menenangkan anak buahnya itu untuk mengamuk. Aku pikir pertumpahan darah sudah terjadi sejak tadi. Lagipula, mana mungkin ada musuh yang patuh ketika disuruh mati.
“Oi oi oi. Apa kau serius? Kau ingin kami mati? Jangan bercanda! Mana mungkin kami mau, Dasar Idiot," ejek Aris.
“Brengsek ....”
Orang yang menyuruh Kelompok Aris mati tadi, terprovokasi dan mulai kehilangan ketenangan. Dia mulai membentuk bola api di tangan kanannya.
“Hentikan itu, Kori.” Sang ketua lagi-lagi menghentikan momen menarik. “Menyerang secara membabi buta itu hanya akan menghasilkan kekalahan. Untuk sekarang kita harus tenang dan memikirkan rencana.”
“Apa kau bilang? Aku kecewa menganggapmu sebagai Ketua Jubah Kelam. Di saat seperti ini, kau bahkan sama sekali tidak merasa simpati pada kematian temanmu. Lepaskan aku, jika kau tidak ingin bertarung. Biarkan aku menghabisi mereka sendirian.”
“Apa kau tidak mengerti keadaan kita?” Sang Ketua menaikkan nada suaranya. Dia menjadi kesal mendengar jawaban temannya itu.
“Coba kau pikirkan dengan kepala dingin. Kita sudah kalah dalam jumlah, dan kita juga tidak tahu apa-apa tentang mereka.”
“Berisik kau, brengsek.”
Dengan tegas anggota jubah kelam yang dipanggil Kori, menentang perintah ketuanya. Ini cukup bagus. Aku tidak menyangka kalau ada anggota jubah kelam yang berani menentang ketuanya.
“Hm, apa kalian sudah selesai bertengkar hah?” tanya Aris.
“Diam kau, sialan.”
Kori melemparkan bola-bola api pada Kelompok Aris. Melihat itu, Kelompok Jubah Kelam lainnya mulai menyerang juga. Pertarungan akhirnya dimulai.
Aris mundur, lalu menyuruh salah satu temannya untuk menahan serangan itu. Aku ingin tahu sehebat apa orang yang disuruh untuk menahan banyak serangan itu. Apa mungkin dia akan mengorbankan temannya untuk tetap bertahan hidup. Ya, apa pun itu aku hanya perlu melihatnya saja.
Orang yang disuruh menahan serangan tadi, berdiri di depan teman-temannya, lalu merentangkan tangan ke depan. Dia melakukan kuda-kuda untuk bersiap menghadapi dorongan. Aku merasa tidak asing dengan kuda-kuda yang dilakukannya ini. Mungkinkah dia mempunyai kemampuan itu.
Aku membaur dengan Kelompok Aris. Kemudian cahaya muncul membentuk setengah gelembung dengan kami berada di dalamnya. Cahaya itu berhasil melindungi kami dari serangan. Sudah kuduga, dia mempunyai kemampuan menggunakan cahaya. Tidak kusangka ada yang mempunyai kemampuan ini di sini. Sangat beruntung aku bisa melihatnya secara langsung.
“Seperti biasa, kau sangat hebat, Marvin,” puji Aris pada orang yang baru saja menahan serangan.
“Kau terlalu memuji, Aris. Hanya membuat penghalang seperti ini, siapa pun bisa melakukannya.” Dengan ramah, orang bernama Marvin merendah pada Aris.
Ini sebuah kejutan. Orang ini, Marvin. Meskipun mempunyai kemampuan yang hebat, dia masih tidak besar kepala. Tapi, aku tidak dapat melihat ada semangat atau apa pun darinya. Dia hanya melakukan apa yang disuruh oleh Aris. Alasan dia melakukannya hanya agar bisa tetap berada dalam kelompok.
Kelompok Aris berpencar. Aku tetap diam pada tempatku. Ketika melihat ke depan, cairan berwarna merah mewarnai rerumputan. Lima orang yang merupakan anggota Jubah Kelam, terbaring di tanah dengan penuh luka. Satu orang di antaranya adalah orang yang memicu penyerangan. Dan ada satu orang yang masih berdiri di sana dengan pedang petir di tangan.
__ADS_1
Sejauh ini, aku sudah mendapatkan beberapa kejutan, tapi ini adalah kejutan besar. Dengan pedang petir di kedua tangan dan senyum jahat ketika melihat lima anggota Jubah Kelam terbaring karena luka.
Di antara Kelompok Jubah Kelam, tampa disadari ternyata ada penghianat lain. Penghianat ini bahkan lebih buruk daripada Aris. Sebagai orang yang paling dipercayai oleh teman-temannya, Sang Ketua menghianati Jubah Kelam.
Penghianatan Sang Ketua ini benar-benar mendadak. Siapa sangka kalau dia akan berhianat. Aku tidak habis pikir kenapa dia melakukan ini. Sebagai orang yang paling dipercaya, seharusnya itu cukup untuk membuatnya tidak menghianati teman-temannya.
“Wah, wah, wah. Ini sebuah kejutan besar, Arya. Aku tidak menyangka kalau kau akan menghianati kepercayaan teman-temanmu. Kau benar-benar orang yang tidak bisa ditebak, ya. Selama ini aku tidak pernah berpikir kau akan berhianat seperti ini. Apa kau takut setelah melihat salah satu kekuatan temanku dan memutuskan untuk bergabung dengan kami walaupun harus menjadi penghianat?” kata Aris.
Aku bisa mengerti kenapa Aris bisa sangat terkejut melihat penghianatan mendadak yang dilakukan oleh Ketua Jubah Kelam yang bernama Arya. Bisa dikatakan kalau apa yang terjadi ini tidak beralasan sama sekali.
“Hahaha.” Arya tertawa. “Kau tidak menyadarinya, Aris. Padahal aku sudah memberimu petunjuk begitu banyak. Aku kecewa padamu.”
“Hah? Apa maksudmu?”
“Aku sudah berniat untuk berhianat sejak awal. Hanya itu. Tapi kau sungguh bodoh sampai tidak mengetahui petunjukku.”
Sejak awal? Dia sudah merencanakannya sejak awal?
Sajauh ini aku sudah mulai mengerti apa saja petunjuknya itu.
Petunjuk pertamanya adalah saat dia melakukan negosiasi dengan Aris. Dia sudah mengetahui rencana yang akan dijalankan Aris. Tetapi anehnya, dia tidak melakukan pencegahaan dengan memisah Kelompok Jubah Kelam. Malah sepertinya dia membiarkan rencana Aris berjalan lancar.
Yang kedua adalah saat dia menyusun rencana untuk menghancurkan penghalang. Ini memang hanya berdasarkan teoriku saja. Saat dia melihat temannya menyerang penghalang itu, kemungkinan besar dia sudah tahu kekuatannya. Dia ingin membuat teman-temannya terus menyerang penghalang tersebut sampai titik darah penghabisan. Lalu menghabisi mereka di sana. Tapi itu tidak berhasil.
Mungkin seperti itulah petunjuk yang dikatakannya. Aris nampaknya sedang memikirkannya juga.
Meskipun aku dapat memikirkan petunjuk yang dimaksudkan, aku masih belum mengerti alasan Arya yang menjadi Ketua Jubah Kelam berhianat. Hanya dari informasi yang kumiliki sekarang tidaklah cukup untuk mengetahui alasannya. Sebaiknya aku memperhatikan pembicaraan di antara mereka berdua dulu saja.
“Apakah kau akhirnya menemukan petunjukku, Aris?” tanya Arya.
“Kurang lebih aku sudah mengetahuinya,” jawab Aris.
“Jadi, bagaimana kalau kita bersekutu? Aku rasa lebih banyak rekan akan lebih baik. Benarkan?”
“Hanya bertambah satu orang tidak akan berarti banyak.”
Aris secara tersirat menyampaikan kalau hanya bertambah satu orang, itu tidak ada gunanya. Jadi secara tidak langsung ia bertanya pada Arya, apakah dia memiliki rekan lainnya?
“Kau memang pandai bermain kata-kata, Aris. Jika memang satu orang tidak cukup, maka aku hanya perlu memanggil beberapa temanku.”
Tiga orang anggota Jubah Kelam medekat dan berdiri di belakang Arya. Aku merasa sangat beruntung tidak masuk dalam kelompok ini. Karena akan sangat merepotkan jika harus berhadapan dengan penghianat.
“Ck, ck, ck. Aku tidak menyangka ada banyak penghianat di kelompok ini. Tapi yang membuatku penasaran, kenapa kalian menjadi penghianat?”
__ADS_1
“Karena kami dihianati.”
“Dihianati?”
Jadi ini yang namanya, penghianat muncul karena terhianati. Aku dapat mengerti alasan mereka sekarang.
“Ya. Agar Kelompok Jubah Kelam dapat terus bertahan, mereka menjadikan kami sebagai umpan. Karena itu kami kehilangan teman terdekat kami. Jadi, apakah salah jika kami berhianat?”
“Jadi begitu. Kalian mungkin ingin membalas dendam pada Jubah Kelam. Tapi jangan salah paham dulu.”
“Hah? Apa maksud—”
“Marvin, sekarang!”
Pedang cahaya menyerang Arya dan kelompoknya dari atas.
“Penghalang merah, aktifkan!!” seru Aris.
Penghalang berwarna merah membentuk segitiga, lalu mengurung Arya. Penghalang itu diciptakan oleh Marvin dengan meminjam kekuatan dari teman-temannya.
Ini membuatku bingung saja. Tidak ada untungnya bagi Aris dan kelompoknya melakukan ini. Malahan mereka akan mendapatkan kerugian. Seharusnya Aris bekerja sama, lalu setelah semuanya berakhir barulah menghabisi mereka.
“Ternyata dugaanku selama ini benar,” Aris berguman.
Dugaan? Apa maksudnya itu? Apakah ini artinya sejak awal Aris hanya mengincar Arya? Memikirkan semua yang terjadi hari ini membuat kepala sakit saja.
>Boom<
Penghalang merah yang dibuat Kelompok Aris, hancur. Dari sana, empat orang berjalan keluar dipimpin oleh Arya dengan pedang petir di tangannya. Di sebelah kanannya ada seorang laki-laki dengan tombak baja dan seorang gadis dengan api merah di tangan kanan. Lalu di sebelah kiri Arya, seorang laki-laki berjalan dengan santai sambil menaruh kedua tangannya di dalam saku. Namun, ada banyak pedang yang melayang di belakang orang itu.
“Haih ... aku tidak menyangka penghalang yang kalian buat ini begitu rapuh,” ejek Arya.
“Cih .... Bagaimana mungkin kalian dapat menghancurkan penghalang itu dengan begitu mudahnya?”
“Bukankah sudah kubilang, kalau penghalangmu itu sangat rapuh.”
“Semuanya serang! Jangan biarkan mereka hidup!” seru Aris.
Aku mulai menjauh agar tidak terkena dampak dari pertarungan mereka. Sebenarnya akan sangat menarik menyaksikan pertunjukkan dari jarak dekat. Tapi akan merepotkan jika terkena serangan. Dan sebagai seorang penonton, aku tidak boleh ikut campur pada alur cerita.
Aku duduk dan bersandar pada dinding sebuah gedung tua. Tempat ini sepertinya tidak akan terkena dampak serangan.
Kurasa ini tempat yang cocok. Dari sini aku bisa melihat dengan jelas pertarungan sengit mereka. Tapi sayangnya aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan saat pertarungan. Ya, bukan masalah sih.
__ADS_1