
Saat itu aku melakukan kesalahan yang amat besar dalam hidupku. Meski ku tahu bahwa yang kulakukan itu salah tetap saja kulakukan, semata-mata untuk membelikan nenek sebuah kursi roda.
Aku sangat ingin membelikannya kursi roda tapi penghasilanku dari menulis novel tidak cukup untuk membeli kursi roda.
Waktu itu aku mengurungkan niatku untuk membeli kursi roda, tapi tak kusangka nenek terjatuh dan membuatnya tambah pincang. Lebih dari sebulan ia tak bisa turun dari ranjangnya.
Hal itu membuatku jadi sangat ingin untuk membelikan nenek sebuah kursi roda. meskipun nenek sudah tua tapi tubuhnya terbilang agak gemuk yang membuatnya tidak bisa menopang berat badannya.
Aku sudah memohon kepada ayah, ibu, kakak, hingga kerabat ku untuk meminjamiku uang yang cukup untuk membeli 1 kursi roda.
Aku sungguh tidak menyangka bahwa tak satupun dari mereka meminjamiku uang meski sudah kukatakan alasannya.
Awalnya aku ingin menunjang ke teman-teman ku tapi aku sungguh berat hati untuk meminjam uang kepada teman-teman ku, aku sudah banyak berhutang kepada temanku.
Aku kembali ke rumah nenek dengan perasaan yang putus asa, tapi ketika aku melihat nenek yang terbaring lemah yang melihatku tiba ia dengan sekuat tenaga bangun dari tidurnya lalu tersenyum dan berkata 'eh... kamu ada nak?, kamu pasti lapar kan?, tunggu sebentar yah, nenek masakin bubur ayam'
Aku ingin menghentikannya, tapi aku tahu kalau itu percuma, jadi ku papah ia ke dapur dan membantunya memasak bubur ayam dengan senangnya.
Nenek dengan senyum cerahnya, wajahnya sudah terlihat jelas bahwa ia senang memasak denganku. Hal itu membuatku bertanya-tanya apa yang membuatnya sekuat ini dengan tubuhnya yang lemah dimakan usia.
Melihat nenek seperti itu sungguh membuatku jadi sangat ingin untuk membelikannya sebuah kursi roda apapun caranya meski harus mencuri sekalipun.
Keesokan harinya aku dengan menegaskan dalam hati bahwa kali ini aku harus mendapatkan satu kursi roda untuk nenek.
Aku kembali pergi ke ayah, ibu, kakak, kerabat ku untuk meminjami ku uang tapi tak satupun dari mereka meminjamiku uang tapi malah memaki dan memukulku. Dengan berat hati aku pergi ketemanku dan menjelaskan hal yang terjadi kepada nenek.
Terlihat jelas bahwa ia merasa kasihan kepadaku, lalu memberikan uang simpanannya, tapi uang itu tetap tak cukup untuk membeli kursi roda. Aku sangat berterimakasih dan bersyukur mempunyai teman sepertinya.
Tak tahu lagi harus pergi kemana untuk meminjam uang, aku pun pergi ke rentenir untuk meminjam uang, alhasil dipinjamilah aku uang yang lebih untuk membeli kursi roda serta beberapa bahan masakan.
__ADS_1
Akhirnya aku pulang dengan membawa sebuah kursi roda serta beberapa sayur dan buah untuk nenek.
Dan betapa terkejutnya aku, nenek bukannya bertanya tapi malah berlari ke arahku dan langsung memelukku, padahal aku sudah memikirkan banyak alasan untuk tidak mengatakan bahwa aku meminjam uang.
Ia menangis dalam pelukanku, dan tak hentinya berterimakasih kepadaku. Hal ini membuatku sangat senang bahwa nenek menyukainya tapi juga khawatir dengan hal yang akan terjadi jika nenek tahu bahwa aku meminjam.
Setelah lepas dari pelukanku, ia dengan sangat hati hati mengelus kursi roda yang kuberi untuknya, ia seakan akan tidak ingin memakainya karna sangking sayangnya.
Sebulan berlalu, penagih hutang datang kepadaku meminta hutangku karna waktu perjanjiannya sudah lewat, Aku tidak bisa mengalahkannya atas kesalahanku, lalu aku meminta untuk diberi tambahan waktu 4 bulan.
Penagih hutang itu diam sejenak lalu tersenyum dan mengiyakannya. Meski aku tidak tau apa yang ia pikirkan tapi pikiranku saat itu hanya 4 bulan sudah cukup untuk membayar hutangku.
Menulis novel adalah pekerjaan ku yang menghasilkan uang. Setiap hari aku tak henti hentinya untuk menulis novel.
4 bulan berlalu dan uang yang dikumpulkan sudah cukup untuk membayar hutangku tapi betapa terkejutnya aku bahwa hutangku sudah berbunga 4 kali uang yang ku pinjam.
Aku tentu tak ingin masuk penjara, tapi penagih hutang itu memanggil 2 bawahannya yang kekar dan menyuruh mereka untuk menghajar ku, setelah itu mereka ingin ke rumah nenek untuk mengambil barang berharga lalu menggadaikannya.
Badanku penuh luka tinju, darah menetes di mana mana, kesadaran ku memudar, sungguh pengalaman yang sangat menyedihkan kataku.
Setelah puas meninjuku dan membuat laporan terhadapku untuk di penjara, mereka berangkat ke rumah nenek dan benar saja mereka merampas apa saja yang berharga termasuk Kursi roda yang tengah di pakai nenek.
Nenek menghadang mereka untuk mengambil kursi rodanya, tapi dengan rasa tak bersalah penagih hutang itu merampasnya lalu mengatakan bahwa cucunya meminjam uang kepadanya lalu tak membayar bunga jadi mereka melaporkan Dareen ke dalam penjara.
Nenek tak mau percaya tapi kalau benar bahwa cucunya meminjam uang untuk membelikan kursi roda itu maka benar saja cucunya ada dalam penjara.
Sang nenek sangat cemas kepada cucunya dan mengambil semua uang yang ia simpan rapat rapat untuk di berikan kepada cucunya nanti sebagai wasiatnya ketika ia sudah tiada.
Nenek berlari tanpa memikirkan kakinya yang pincang dan tubuhnya yang sedang demam berat, yang ia pikirkan hanya cucunya yang dipenjara.
__ADS_1
Ia sangat takut jika ia terlambat sedetik saja maka apa yang akan terjadi pada cucunya. Berlari tanpa memikirkan kakinya yang tanpa alas kaki.
Dalam larinya air matanya mengalir deras, dadanya sesak ketika memikirkan cucunya yang sangat ia sayangi melakukan kesalahan yang membuatnya dipenjara.
Tanpa mempedulikan sekelilingnya ia berlari bahkan kakinya pun sudah berdarah, matanya mulai buram dengan air matanya yang terus mengalir, keringatnya sudah membasahi tubuhnya, napasnya sudah sangat terengah-engah.
Sang nenek pun sampai di kantor polisi dengan sangat kelelahan dan air matanya yang masih mengalir tapi lelahnya tak bisa menghentikannya untuk membebaskan cucunya. Ia sempat di hentikan oleh petugas. Tapi ia bersikeras untuk masuk ke kantor polisi.
Belum sampai kedalam ia di hentikan oleh seorang polisi. Ia tambah cemas terhadap cucu kesayangannya dan tangisnya membuat seisi kantor melirik sang nenek yang di hentikan oleh seorang polisi.
Nenek akhirnya di izinkan masuk kekantor dan mengkonfirmasi bahwa cucunya ada di kantor polisi atau tidak.
Ia berteriak dengan tangisnya bahwa cucunya tidak akan melakukan sesuatu tanpa alasan.
Kepala polisi berusaha untuk menenangkan sang nenek, tapi nenek menangis dengan keras dan menuntut untuk melepaskan cucunya.
'dimana cucuku?, kenapa kalian menangkapnya?, cucuku tidak akan pernah meminjam sesuatu dari rentenir, kecuali ada alasannya' Kira kira seperti itulah yang sang nenek teriakkan di depan kepala kepolisian dengan tangis yang membanjiri pakaiannya.
Akhirnya sang nenek di pertemukan dengan cucu satu-satunya, ia dengan sigap berlari ke arah cucunya dan memeluk serta menangis pilu dalam pelukannya ke cucunya.
Setelah membayar uan tebusan, aku akhirnya dibebaskan dari kantor polisi.
Tapi aku bertanya-tanya dari mana nenek mendapatkan uang sebanyak itu untuk menebusku hingga aku bebas.
'nenek... maaf... maafkan Dareen nek!' aku menangis dalam pelukannya dan meminta maaf entah berapa kali.
'sudah.. sudah... nenek tahu kok kalau cucu nenek ada alasan untuk berbuat sampai seperti ini' Ucapnya yang memelukku kembali dan mengelus lembut rambutku.
...Bersambung:)...
__ADS_1