
#diibukota ---> area Medang perang
Semua orang yang hadir hari itu tercengang tidak percaya pada apa yang mereka lihat dengan mata kepala mereka masing-masing.
Penghalang yang sudah hilang kini kembali muncul apalagi ditambah dengan 1 lagi penghalang.
Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan didalam kepala mereka, lain halnya dengan para pasukannya Raja Ming yang sudah tidak punya akal untuk berpikir dan terus bertarung secara membabi-buta.
"tidak mungkin, bagaimana ini bisa terjadi?"
Ucap raja Ming tidak percaya dan bertanya dengan frustasi kepada dirinya sendiri atas apa yang ia lihat itu merupakan sebuah penghalang bagi mereka untuk mengeluarkan roh yuan-hunnya.
"ini...! bagaimana mungkin ini semua terjadi?... bukankah ayahanda telah mengutus seseorang untuk menghancurkan batu pembatas"
Ucap Ming Xiu yang tengah berlindung ditengah pasukan Raja Ming demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Tapi pada akhirnya ia tetap masuk dalam perangkap yang telah dibuat oleh Dareen.
"ini..., akhirnya, yang mulia berhasil"
"yang mulia berhasil memulihkan pembatas Yuan-hun para laki-laki"
"hidup yang mulia!"
"hidup!"
"hidup yang mulia kaisar Yao!!!"
"hidup!!"
Ucap para prajurit wanita kekaisaran serta masyarakat yang tengah bersembunyi termasuk anak-anak serta warga yang sudah dimakan usia.
Teriakan gembira serta tangisan kebahagiaan membanjiri ibukota, meski peperangan terus berlanjut.
"hahaha... bagaimanapun prajurit yang kubawa semuanya memang dari awal tidak pernah memakai yuan-hun nya"
"karna mereka kumpulkan dan kuberi racun ganas"
"racun ganas ini membuat seseorang yang mengonsumsi nya akan kehilangan akal sehatnya dan menjadi ganas"
"mereka sudah bukan manusia lagi, mereka adalah monster yang ku kendalikan"
"wahaha..."
Ucap Raja Ming memandangi pasukannya yang terus bergerak dengan ganas dan menyerang dengan akhiran tawa yang jelek.
#diatas langit ibukota
Dareen yang tengah mengepak-epakkan sayapnya dan ditemani Yao Siyue yang tengah menunggangi elang tempur.
Mereka memandangi ibukota yang sudah sebentar lagi akan hancur sepenuhnya.
"hei... aku ada pertanyaan?"
"apa tidak apa-apa membohongi orang-orang seperti ini"
Tanya Yao Siyue penasaran apakah rencana yang akan mereka lakukan tidak berlebihan.
"tentu saja akan bermasalah"
Ucap Dareen dengan santainya tanpa memikirkan perasaan Yao Siyue.
__ADS_1
"apa-apaan kau ini, serius lah sedikit"
Geram Yao Siyue kepada Dareen karna ucapannya dianggap candaan olehnya.
"iya iya maaf"
"kau pikir dengan datang pada saat perang sudah dimulai akan mengurangi jumlah korban?"
"apa kau pikir dengan mengorbankan dirimu untuk kekaisaran akan membuat masyarakat merasa senang?"
"kau pikir dengan menyerang mereka duluan akan membuat ibukota merasa aman?"
"coba pikirkan ini, disaat mereka benar-benar mengharapkan sinar cahaya walaupun hanya secercah saja siapa yang akan mereka mintai tolong"
"sedangkan kau..."
"kau adalah kaisar Yao"
"kaisar yang sudah membuat mereka mendapatkan kebahagiaan, kau juga yang membuat mereka terbebas dari belenggu dan menjauh dari kekerasan rumah tangga"
"bagi mereka kau adalah seorang pemimpin sekaligus dewa dan juga ibu mereka"
"kau membuat mereka menyadari bahwa tak ada batas antara wanita dan laki-laki selama kamauan itu masih ada"
"bagi mereka kau adalah cahaya yang menghangatkan hati beku mereka"
"coba bayangkan kalau kau turun tangan secara langsung dan tewas di Medang perang, siapa yang akan menjaga mereka"
"tentu saja tidak ada"
"dan kau tahu sendiri apa yang akan mereka alami tanpa adanya kau yang menjaga mereka"
"semua ini harus kau lakukan demi mereka, kau harus yakin dengan hatimu agar anak-anakmu tidak goyah dan merasa terancam"
"kau harus mempertahankan martabat para wanita yang ada di seluruh penjuru daratan"
"kau adalah sosok yang menggambarkan martabat dan kehormatan para wanita jadi kau harus Teguh dan percaya bahwa dirimu bisa melindungi apa yang sedang kau lindungi"
Ucap Dareen memotivasi Yao Siyue agar tidak goyah dan membatalkan rencana yang sudah ia buat dengan matang.
"kau benar, aku adalah kaisar mereka, pemimpin mereka, juga ibu bagi mereka"
"maka dari itu aku tidak boleh merasa terombang-ambing seperti ini"
"aku harus melindungi martabat dan kehormatan para wanita agar tidak pernah menundukkan kepalanya di bawah kaki laki-laki lagi"
"aku harus melindungi kebahagian anak-anakku"
Tegas Yao Siyue membenarkan hatinya dan menentukan tujuan hidupnya seraya meneguhkan hatinya kembali.
"yes... berhasil"
"dengan ini rencanaku untuk mendapatkan banyak poin karma akan berjalan dengan sangat lancar"
"wahahaha... bersiaplah para poin karma, aku akan mendatangi kalian"
"salah... salah... seharusnya aku yang harus bersiap pada badai dan banjir poin karma"
"hehehe..."
Batin Dareen merasa senang dan bahagia dengan senyum cerah terpancar diwajahnya menanti tsunami poin karma dengan senyum kesemsem.
__ADS_1
Yao Siyue pun terbang turun dan berhenti tepat diatas langit ibukota Yue kemudian berteriak dengan tegas dan lantang...
"Maafkan aku wahai anak-anakku atas keterlambatan diriku untuk melindungi kalian"
"kalian pasti kesulitan menghadapi para penjajah"
"aku mengerti kalau kalian merasa marah kepadaku karna datang terlambat ketika saudara, orangtua, teman, dan anak-anak kalian tewas dalam perang yang terus berlangsung hingga malam ini"
"siapa sangka bahwa selir kesayanganku malah mengkhianati kekaisaran kita dan membuat kekacauan yang semakin membesar hingga seperti ini"
"selir ini membuat pelindung yang menghalangi roh yuan-hun laki laki menghilang dan telah membuat konflik diantara kalian agar memulai perang antar kubu"
"Untung saja aku berhasil memperbaiki pelindung yang telah membantu kita selama 10 tahun ini dengan bantuan seorang teman"
"jika ada yang harus kalian salahkan maka salahkan saja aku yang tidak becus mengatur kekaisaran dan para selirku"
"aku sama sekali tidak pernah mengira bahwa kecerobohan ku akan mengakibatkan ibukota rusak parah seperti ini"
"karna itu berikanlah kesempatan bagiku untuk menebus dosa dosa serta membayar atas apa yang telah kuperbuat"
Ucap Yao Siyue meminta maaf yang dengan jelas didengar oleh semua orang yang ada di kekaisaran itu membuat berbagai opini muncul diantara orang-orang yang ada dibawah.
"anda tidak perlu merasa bersalah yang mulia"
"benar, yang mulia lah yang telah menyelamatkan kami dari kegelapan"
"jika yang mulia tidak menyelamatkanku dulu mungkin sekarang aku masih akan terus disuruh-suruh oleh keluarga mantan suamiku"
"yang mulia tidak perlu menyalahkan diri sendiri, kami sama sekali tidak pernah menyalahkan yang mulia atas apa yang terjadi pada kami"
"YANG HARUS DISALAHKAN ITU SELIR PENGHIANAT SI**** ITU"
"benar penghianat itulah yang harus disalahkan"
"tidak kusangka kita malah memulai perang hanya karna masalah kecil yang telah diatur oleh penghianat itu"
"jika aku bertemu dengan penghianat itu akan kuremukkan tulangnya hingga tidak bisa berdiri lagi"
"berani-beraninya dia mengadu domba kita hingga menewaskan saudara-saudara kita"
Seperti itulah beberapa opini yang muncul setelah permintaan maaf Yao Siyue terlontar dari mulutnya dengan membungkuk.
"BUNUH PENGHIANAT ITU"
"BUNUH"
"BUNUH"
"BUNUH PENGHIANAT KEKAISARAN KITA"
"BUNUH"
"BUNUH"
"BUNUH"
"BUNUH!!!"
Teriak sorak Soraya para warga dan prajurit yang masih hidup dengan yel yel yang menyalahkan si selir penghianat.
...Bersambung:)...
__ADS_1