Thrown Into Another World:Trapped In A Mysterious Maze

Thrown Into Another World:Trapped In A Mysterious Maze
Ch. 60 Kecanggungan di pagi hari


__ADS_3

Halo semuanya...


Sesuai janji, author kembali dari Hiatus😌 yang entah udah berapa minggu, 2 minggu ngk sih?🤔, entahlah aku ngk ngitung.


Sebenarnya author males ngelanjutin nih novel tapi karena ada yang udah ngk sabar pengen dilanjutin, yaudah lanjutin😌.


Makasih buat kalian yang udah ngesupport author yang males ini🤧.




Dan juga para reader lainnya, maaf buat yang ngk di tag soalnya pada banyak jadi aku ambil 2 aja lah itung itung mewakili lah.


reader: "Thor napa lama banget update nya?"🗣️


Biasalah lagi ngehalu alias membaca semua yang udah ketumpuk.


reader: "katanya lagi ngurus berkas-berkas buat daftar ke SMK?"🗣️


Ia emang lagi ngurus sih, cuman ternyata pake link😭, dan lagi ternyata jalur zonasi akungk bisa ikut karena batasnya cuman 5km nah ke gue semuanya ngk ada yang dekat🤧 jadi kudu ikut jalur prestasi non akademik, dan klo ngk bisa terpaksa deh ambil jalur prestasi akademik.


reader: "jadi author ngk jadi sekolah dong"🗣️


Sekate-kate aje lu pada, mau gue kecoret di KK plus ditendang dari rumah💢, yah nunggulah tanggal pembukaan pendaftaran jalur prestasi akademik.


reader: "jadi author cuman update bentar doang dong"🗣️


Ia sih, sambil nunggu tanggal 5 Juli, buset lama amat tanggal pendaftaran nya, semoga author lulus amiin.🤧🙏


reader: "amiin"🗣️🙏


...LET'S READING...


"arkh..."


"akhirnya selesai juga"


Rintih Dareen yang meluruskan badannya yang kaku sehabis lembur menulis sepanjang malam dan merampung semua kertas yang sudah penuh dengan tulisan.


Merasa tubuhnya bau dan agak lengket, Dareen akhirnya memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dengan mandi air hangat.


Dareen berjalan menggunakan tangga yang muncul setelah ia melangkah ke sebuah dinding yang menuju ke lantai atas.


Ia berjalan melalui lantai 2 dan 3 hingga akhirnya sampai ke lantai 4 yang merupakan tempat sikembar yang hamil berada.


"kenapa coba hanya di lantai 4 yang punya kamar mandi?"


Keluh Dareen kepada entah siapa yang penting ia merasa risih karena harus bolak balik hanya untuk ke kamar mandi yang tepatnya berada di Lantai 4.


"eh..!"


"waah...!!"


"apa yang kau lihat hah..?"


Jeritan kaget dari Shiu dan Shia yang tengah mengenakan baju sehabis mandi, sontak mereka terkejut melihat Dareen yang muncul dan keluar dari dalam dinding.


Mereka berdua langsung dengan refleks menutupi tubuh mereka dengan baju yang hendak mereka pakai.


Shia yang terkejut malah melempar sebuah bantal kotak yang berada didekatnya kearah Dareen hingga Dareen hampir terdorong hingga jatuh ke lantai bawah.


Dareen yang tidak tahu apa-apa pun hanya pasrah dengan lemparan yang mengenai mukanya.


"ada apa ini?"


"kenapa kalian berteriak?"


Tanya Dareen yang tidak tahu apa yang terjadi karena sebelumnya ia menguap karena mengantuk hingga matanya tertutup dan setibanya ia sudah disambut dengan lemparan bantal.


"tidak..!"


"jangan membuka matamu!!"

__ADS_1


Teriak Shiu dan Shia bersamaan melarang Dareen untuk membuka mata karena keadaan mereka yang masih setengah berpakaian setelah melihat Dareen menjangkau bantal yang dilemparkan oleh Shia berniat untuk menjauhkan dari matanya.


Dareen hanya pasrah, patuh kepada mereka dan mengikuti kata-kata si kembar meski ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.


Setelah beberapa saat kemudian...


"apa aku boleh membuka mataku sekarang?"


"ii.. iya"


"kenapa?, ada apa dengan wajah kalian?"


Tanya Dareen kepada mereka yang masih menutup mata dengan kedua tangannya juga berbalik badan yang kemudian di iyakan oleh Shiu.


Setelah membuka mata dan berbalik menghadap kearah si kembar Dareen heran kepada mereka berdua yang pipinya memerah seperti udang rebus yang baru matang dan mengeluarkan asap.


"ti.. tidak ada"


"kk.. kami baru sehabis mandi ingin memakai pakaian, **..tapi..."


Jawab mereka malu dan terbata-bata membuat Dareen langsung mengerti dan memotong kalimat yang hendak di katakan Shiu.


"aku mengerti!"


"maaf karena aku datang tanpa memberitahu kalian terlebih dahulu"


"aku hanya ingin membersihkan tubuhku"


Sambung Dareen yang memahami bahwa Shiu malu untuk menyambung kata-katanya dan meminta maaf atas kelalaiannya meski itu tak sepenuhnya benar.


"e..eh iya, kalau begitu silahkan pakai kamar mandinya"


"cih... makanya kalau datang itu setidaknya beritahu kita dulu"


"dasar brengsek"


"Shia kamu tidak boleh seperti itu"


"tuan mohon maafkan adik saya, mulutnya memang selalu seperti itu"


"tidak apa-apa, disini aku yang salah karena datang tiba-tiba"


"cih.."


Jawab Dareen kemudian berjalan kearah kamar mandi dengan telinganya yang memerah tak diketahui oleh sikembar. Sementara Shia yang mendecih malas membelakangi Dareen dan melipat kedua tangannya didepan dada.


"kak... kenapa kakak sesopan itu kepadanya?"


"diakan orang brengsek mesum"


"kita tidak harus meladeninya seperti pelayan"


"yang salah disini itu dia kak.."


Tanya Shia kepada kakaknya yang akhirnya bangkit dari bungkukan nya setelah Dareen masuk ke kamar mandi lalu menyalahkan Dareen yang tidak bersalah.


"sttt..."


"shia kapan kakak mengajarkanmu bicara kasar seperti itu"


"shia..."


"sayangku..., bagaimanapun yang harusnya disalahkan itu kakak"


"kakak yang mengajakmu malam itu, jadi jangan salahkan tuan okeh"


"jadi salahkan saja kakak yah..!!"


Jawab Shiu atas pertanyaan Shia dan memeluknya lembut agar Shia menjadi tenang, dan berbohong meski dalam hatinya ia merasa enggan untuk membohongi adiknya.


"tapi kak..."


"sudah-sudah, ayo sarapan... kamu pasti sudah lapar kan?"

__ADS_1


"kakak akan masak, kamu tunggu sambil baring aja yah"


Gerutu Shia kepada kakaknya karena berbeda pendapat, lalu sang kakak mengalihkan pembicaraan dengan alasan sarapan hingga sang adik pun mengiyakan dengan terpaksa.


Selang beberapa menit Dareen keluar dari kamar mandi setelah selesai mandi dan melakukan kegiatan solonya dengan hanfunya yang indah.


Bersamaan dengan itu Shiu sudah selesai memasak beberapa hidangan yang mengeluarkan aroma wangi yang menggugah selera dan meletakkannya diatas meja makan.


Shia yang sudah duduk setia menunggu di meja makan sedari tadi menahan lapar kini menunggu sang kakak selesai meletakkan semua hidangannya.


Melihat Dareen yang sudah selesai membersihkan tubuhnya, Shiu akhirnya memberanikan diri untuk mengajaknya sarapan bersama-sama.


"mm.. anu.. itu... tuan belum makan dari kemarinkan?"


"iya, aku baru saja ingin ke warung bibi Wang untuk makan"


"itu... nnn, kalau mau tuan boleh ikut kami makan bersama"


Tanya Shiu penuh harap menatap Dareen dengan perasaan yang membuat degupan jantungnya kian semakin cepat, lalu dibalas anggukan oleh Dareen, lalu berkata dengan terbata-bata mengajak Dareen.


Dareen terdiam lalu melirik Shia yang melihat mereka berdua sontak mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"baiklah, jika kau memaksa"


"ah... baik"


Ucap Dareen mengiyakan ajakan Shiu lalu meletakkan kembali cadar yang hendak ia pakai untuk menutupi setengah wajahnya lalu berjalan kearah meja makan.


Shiu yang mendengar hal itu sontak berekspresi senang + bahagia yang entah karena apa, batinnya berpikir dan hatinya menggebugu-gebu.


"aku sangat senang😇✨"


"apa yang kau tunggu"


"apa yang kakak lakukan dengan berdiri mematung disana🗣️"


Batin Shiu merasa sangat senang dengan hadirnya Dareen dalam sarapan paginya, sampai ia mematung hingga akhirnya ia tersadar setelah teriakan kecil sang adik.


Mereka bertiga pun sarapan pagi bersama, meski hanya ada keheningan yang hanya terdengar decikan dan dentingan antara sumpit dan mangkok.


Beberapa menit kemudian...


Mereka semua telah selesai dengan acara sarapan pagi bersama dengan tanpa membuka percakapan sama sekali.


Shia tentu hanya diam karena ia tak ingin sarapan nya terganggu oleh keributan yang ia buat dan membuatnya tidak nafsu makan lagi plus di marahi Shiu.


Shiu sangat tidak nyaman dengan keheningan, dia sebenarnya ingin angkat bicara tapi ia sangat gugup ketika melihat Dareen yang dengan santainya memakan sarapan yang ia berikan, ia sangat menanti pujian dari mulut Dareen tapi sampai akhir pun Dareen tidak mengucapkan sepatah katapun.


Dareen yang hanya berfokus pada makanan yang menggugah selera hingga perutnya hampir mengeluarkan suara auman, ia tidak berbicara karena mengingat kata-kata neneknya bahwa "ketika makan harus diam dan menyimpan semua pertanyaan ataupun kata-kata dalam pikiran dan mengatakannya setelah selesai makan".


"uah... semua masakanmu sangat enak"


"rasanya aku masih ingin makan tapi perutku sudah tidak kuat menampungnya"


Sendawa Dareen lalu memuji keahlian Shiu dalam memasak yang membuat Dareen ketagihan untuk terus makan tapi perutnya tidak kuat lagi untuk melahap makanan.


Shiu yang mendengar itu sontak bak disambar petir, tubuhnya bergetar pelan lalu menunduk karena kini wajahnya memerah dan kepalanya mengeluarkan asap yang entah keluar dari mana.


"dia.. dia memujiku 😵😳😆"


"hei... kau kenapa?, ada apa denganmu?"


Batin Shiu yang tak bisa lagi berkata sangking senangnya. Dareen yang melihat Shiu yang menunduk merasa khawatir lalu memegang pundak kirinya dan menggoyangkan pelan.


Hal itu membuat Shiu semakin memerah dan mengeluarkan asap dikepala dan juga telinganya.


Shiu tidak menjawab satupun pertanyaan Dareen karena sangking malunya dan masih setia menunduk, sampai akhirnya Shia memeluk tubuhnya dan menjauhkan tangan Dareen dari pundaknya.


"menjauh dari kakakku"


"jangan seenaknya memegang kakakku"


"kau tidak diizinkan"

__ADS_1


Ucap Shia memeluk Shiu melindungi kakaknya dari sentuhan Dareen yang membuat kakaknya merasa tidak nyaman.


...Bersambung:)...


__ADS_2