Thrown Into Another World:Trapped In A Mysterious Maze

Thrown Into Another World:Trapped In A Mysterious Maze
Ch. 09 Kenangan bersama nenek {sudah revisi}


__ADS_3

6 bulan lamanya Dareen terus berlatih tanpa henti, hanya untuk menyesuaikan dengan tingkatan kesulitan labirin.


"hoam... akhirnya bisa menjelajah labirin"


Ucap Dareen meregangkan tubuhnya yang kaku sehabis tidur.


Ia melangkah perlahan ke depan pintu, memegang gagang pintu lalu menghembuskan nafas untuk terkahir kalinya ia merasakan kedamaian yang tenang dalam ruangan yang disebut zona aman.


"aku pasti bakal rindu dengan ruangan zona aman ini"


Ucap Dareen sebelum ia beranjak masuk membalikkan tubuhnya ke arah ruangan yang kosong melompong. Meski begitu Dareen tetap merasa sangat disayangkan karena waktu yang ia habiskan bersama ruangan itu harus ia tinggalkan.


"yah... meskipun berat, tapi bagaimanapun aku harus keluar dari sini"


Ucap Dareen yang tersenyum dengan kikikan tawa dari mulutnya, seperti mengingat hal lucu dengan tempat itu.


Dareen akhirnya melangkahkan kakinya ke luar dari zona aman, lalu melangkah ke depan meninggalkan masa lalu dan menuju masa depan yang cerah.


★ ★ ★


Setelah melangkah keluar dari zona aman, hanya ada lorong yang menuju ke arah depan dengan tanpa adanya cahaya sedikitpun.


Dareen tentu saja menggunakan skill penglihatan malam, mempertajam semua indranya Karena ia tidak tahu apa yang akan menantinya didepan, dan tentu saja system adalah bantuan besar baginya.


"sepertinya..."


"lorong ini merupakan titik awal, karena tidak ada satupun jebakan ataupun monster yang terdeteksi"


Ucap Dareen menyimpulkan bahwa lorong yang hanya menuju ke depan tanpa ada jebakan dan monster yang menghadang, hanya ada cahaya di ujung lorong itu.


Tentu saja hal itu membuat Dareen semakin mempercepat langkahnya menuju cahaya itu.


Setibanya...


"labirin ini benar benar sesuatu saja, huuff..."


Ucap Dareen yang ketika melihat cahaya yang ia lihat sebelumnya adalah sebuah ruangan besar dengan 100 pintu dihadapannya.


"pantas saja system tidak bisa menemukan Shi Que, ternyata labirin ini menggunakan dimensi untuk membuat dunia labirin"

__ADS_1


Ucap Dareen yang tahu bahwa labirin ini tidak sesederhana yang terlihat, kali ini ia sadar mengapa labirin ini disebut misterius.


"system pilih jalan yang level kesulitannya sedang!!"


Perintah Dareen kepada system untuk menunjukkan pintu dengan kesulitan sedang, seharusnya level sedang sudah bisa ia hadapi.


[dimengerti]


[menganalisa informasi level kesulitan pada 101 pintu]


System dengan sigap menanggapi perintah masternya dan menunjukkan bahwa hanya ada satu pintu dengan level tinggi.


"tunggu!... kenapa ada 101 pintu, bukannya jelas bahwa hanya ada 100 pintu disini?"


[menjawab]


[setelah di analisis secara menyeluruh, ada 101 pintu menuju labirin sebenarnya]


[setelah diselidiki 100 pintu di depan anda hanyalah sebuah jebakan, pintu yang sebenarnya adalah pintu yang anda gunakan untuk masuk kemari]


"jadi begitu, pantas saja tidak ada yang pernah berhasil menyelesaikan labirin ini, tidak akan ada orang yang mengira bahwa pintu yang sebenarnya adalah pintu masuk itu sendiri"


"kuharap dia baik baik saja"


ucap Dareen berbalik dan melangkah menuju pintu dibelakangnya dengan doa kepada Shi Que yang entah bagaimana kabarnya.


★ ★ ★


Sementara itu Shi Que yang sedang berjalan dengan tangan yang diikat dibelakang, tubuhnya yang penuh luka telah di balut dengan kain, dengan beberapa orang tinggi kekar dengan aksesoris yang aneh yang menggiringnya dengan tali.


"Xiuhuang semoga kau baik-baik saja"


Ucap Shi Que berbalik seakan ia mendengar Dareen mendoakannya meski ia tau bahwa Dareen memberitahu nya nama palsu, tanpa sadar air matanya menetes memandangi tembok tadi.


"jangan berharap bisa melarikan diri. kau seharusnya bahagia tuan Fei menerima orang asing seperti mu sebagai selir pendampingnya"


Ucap salah seorang yang mengawal tapi lebih ke seperti menahannya untuk tidak berbuat yang tidak-tidak.


Shi Que dengan pasrah menerima perlakuan yang tidak mengenakkan, karena dia tahu bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari petarung jiwa tingkat raja.

__ADS_1


Shi Que menebak-nebak seperti apakah rupa seseorang yang dengan paksa ingin menikahinya, akankah orang itu gendut, jelek, buruk rupa, ganas, mesum, ataukah orang yang lumpuh. Shi Que benar-benar sudah terpuruk dan putus asa.


★ ★ ★


Kembali ke Dareen yang sibuk membunuh sekawanan monster berbentuk seperti anjing tapi kepalanya bisa memanjang, matanya seperti siput, tubuhnya terdapat sisik sisik yang keras, giginya tajam dan kakinya 4× lebih besar dari anjing pada umumnya.


"sial, meskipun aku kuat"


"tapi tetap saja ini jumlah yang sangat banyak"


"Sial... baru masuk labirin malah disambut anjing jadi-jadian"


Ucap Dareen mengumpat sejadinya, karena baru beberapa saat setelah masuk kedalam labirin ia sudah di suguhi dengan anjing anjing yang membuat mata sakit melihatnya.


Dareen benar-benar takut dengan anjing satu ini, membayangkan kepala itu memanjang dengan lika-liku dan mata itu yang seperti siput. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan.


Sekuat apapun dan seahli apapun dia tetaplah masalah besar baginya menghadapi sekawanan anjing.


Pada akhirnya ia akan kelelahan dan mati. Meskipun Dareen sudah pernah mati sekali, tetap saja mengerikan jika ia harus mati lagi.


Dengan terengah-engah Dareen memegang pahanya yang terluka,akibat gigitan sebut saja anjing rakus.


Karena kelelahan menghindari serangan yang membuat perut Dareen terkena terkaman kuku salah satu anjing rakus itu. Melihat mangsanya yang sudah tumbang, sekawanan anjing rakus ini mulai berbondong-bondong mendatangi Dareen dan menggigit tubuhnya dengan ganas.


"aku... sakit... apakah aku akan mati.. lagi..."


Dareen dengan sadar merasakan setiap gigitan ganas yang ia terima itu, dengan mata yang mendapat ke atas langit yang biru, meski tau langit itu cuman sebuah tiruan, meskipun palsu tapi setidaknya langit yang selama ini ia rindukan bisa ia lihat pada akhir hayatnya.


Melihati langit yang cerah itu, Dareen teringat dengan wajah neneknya yang tersenyum dengan cerah kepadanya meski pundaknya menumpuk banyak beban dan berkata 'nak kamu sudah berusaha sekuat tenaga, kamu pasti capek istirahat sana!'


Meski hanya sesaat ia melihat wajah neneknya yang tersenyum kepadanya, itu tetaplah sesuatu hal yang paling berharga baginya, karena nenek lah yang selalu mendukung apapun yang ia lakukan.


Dareen ingat ketika ia membuat masalah dengan polisi, neneknya lah yang datang dengan sangat khawatir meski kondisinya saat itu sedang sakit keras, neneknya datang ke kantor polisi dengan membawa semua uang tabungannya dan membebaskannya.


Yang paling anehnya neneknya tidak pernah bertanya kenapa Dareen melakukan itu dan mengapa Dareen melakukan itu.


Nenek hanya berkata 'kamu pasti punya alasan melakukannya kan, jadi nenek tidak kan bertanya' dengan mukanya yang pucat pasi ia mengatakan hal itu membuat Dareen merasa bersalah dan pada akhirnya ia mengatakan semuanya kepada neneknya dengan tangisan yang membuat sang nenek hanya tersenyum dan berkata 'sudah sudah... kamu lapar kan?, ayo pulang, nenek akan masak bubur ayam'


...Bersambung:)...

__ADS_1


__ADS_2