
...1 Bulan Kemudian......
#di kekaisaran Yao
Ibukota Yue sudah tampak pulih sedikit demi sedikit, meski butuh waktu yang lebih untuk membangun kembali rumah-rumah warga.
Tapi dengan bantuan semua orang termasuk elf ibukota Yue sudah nampak kembali pulih sedikit demi sedikit.
Meskipun istana tidak terjamah oleh peperangan tapi dampak dari bergetar nya tanah mencapai istana hingga membuat beberapa kastil menjadi rubuh ada juga yang sekedar retak.
Kini...
Semua orang nampak sibuk membangun kembali rumah mereka bersama-sama.
Berita menangnya kekaisaran Yao sudah tersebar ke seluruh penjuru daratan.
Bahkan berita tentang turunnya malaikat juga tak lepas dari berita yang beredar.
Termasuk bangkitnya kembali rakyat yang telah mati di tanah ibukota Yue.
Banyak sekali orang yang ingin mengunjungi kekaisaran Yao tapi mereka selalu di halangi oleh penjaga yang menjaga bagian diantara dinding pembatas Yuan-hun dan dinding pembatas fisik.
Mereka membangun benteng di antara dinding itu dan menyebutnya dengan sebutan benteng Kesatria. Seharusnya mereka memberi nama benteng dengan sebutan 'benteng Gaora' karena disini yang memimpin pasukan kesatria adalah Gaora tapi Gaora menolak usulan itu karena ia hanya memimpin mereka.
Setelah perbincangan yang lama mereka akhirnya setuju untuk menyebutnya dengan nama benteng kesatria.
Dan pagi ini Dareen sedang duduk di sebuah rumah makan dan menyeduh teh dengan nikmatnya sambil bersenandung ria mendengar notifikasi dari system yang terus menggema di dalam kepalanya.
...[Ding]...
...[Ding]...
...[Ding]...
...[Ding]...
...[Ding]...
...[Ding]...
...[Ding]...
...[Ding]...
...[Ding]...
........................
"ah... teh ini benar-benar nikmat"
"benarkan nona?"
Ucap Dareen menikmati teh yang sedang di seruputnya memandangi seorang nona bercadar yang juga menikmati teh didepannya.
"..."
Nona bercadar itu hanya diam menyeruput teh dan menuangkan teh kembali ke cangkirnya.
"ada apa kali ini kau mencariku?"
"aku kan sudah menyelesaikan tugas yang kau berikan"
Tanya Dareen menjangkau teko lalu menuangkan teh ke cangkirnya dengan selembut dan sehalus mungkin.
"apa yang kau bicarakan"
"berhentilah mengusirku"
"aku hanya ingin menikmati waktu istirahatku memandangi wajahmu"
"tidak bisakah kau biarkan aku melepaskan beberapa bebanku sebentar saja"
Ucap nona bercadar itu yang ternyata adalah kaisar Yao yang sedang melarikan diri dari pekerjaannya menemui Dareen untuk berbincang-bincang.
__ADS_1
"tapi kenapa harus denganku?"
"tentu saja karena wajahmu yang sangat cantik"
"kau tidak tahu saja yah, pria cantik adalah pereda stres bagi perempuan sepertiku"
Tanya Dareen yang tak mengerti dengan ucapan Yao Siyue lalu dijawabnya dengan mata berbinar-binar memandangi dan mengagumi wajah Dareen.
"ayolah, jad..."
"tidak terimakasih"
"aku lebih memilih bersama pria berotot daripada seorang wanita"
Mohon Yao Siyue yang meminta kepada Dareen untuk menjadi selirnya namun belum selesai terucap Dareen sudah menjawab dengan tegas dan menjelaskan dengan alasan yang sepenuhnya bohong.
Mereka kembali menyeruput teh secara bersamaan dengan lembut dan perlahan.
"aku sudah mendengar permintaan itu berkali-kali"
"jujur saja kepadaku"
"tidak mungkin kau datang kemari hanya untuk meminta hal itu"
Ucap Dareen yang mengetahui niatnya yang membuat Yao Siyue menjadi serius dengan berpangku tangan.
"ehem... kemarin aku membaca bukumu dan aku sudah selesai membacanya dan aku penasaran kelanjutannya seperti apa"
"sampai-sampai aku tidak bisa tidur karena penasaran akan kelanjutan dari bukumu"
"itu... em... kalau boleh aku... mau..."
Ucap Yao Siyue mendehem lalu menjelaskan alasannya datang menghampiri Dareen dan dengan wajah yang gelisah serta gerakan tangan yang nampak memohon ia jadi terbata-bata.
Dareen mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Yao Siyue hingga akhirnya mengeluarkan buku lanjutan dari cerita berjudul 'suamiku direbut orang' dalam lengan bajunya yang tentu saja ia mengambilnya dari kotak penyimpanan.
"yey... akhirnya bisa baca lanjutan dari cerita yang dibuat dan diberikan langsung oleh Yingjun Zuojia"
#note: Yingjun Zuojia aku ambil dari bahasa China 英俊的作家 yang berarti penulis tampan atau bisa dibilang si penulis tampan
Mata orang-orang nampak mengeluarkan cahaya merah yang menandakan bahwa mereka telah menandai sasaran.
Orang-orang yang ada disekitar akhirnya berteriak dan berlomba-lomba menjangkau Yao Siyue serta Dareen.
"wah itu si penulis tampan"
"hei hei jangan dorong-dorong"
"dimana tanganmu memegang dasar mes*m"
"aku ingin tanda tangan si penulis tampan"
"ah minggir minggir, aku tak bisa melihat si penulis tampan"
.
.
.
"pak ada apa ini?"
"katanya sipenulis tampan ada disini"
"makanya mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan tanda tangan si penulis tampan"
"hah!... si penulis tampan yang membuat buku itu"
"aku sangat suka dengan semua buku yang ia buat, cerita yang dibuat olehnya selalu menarik"
"aku juga ingin dapat tanda tangannya"
"hei kalian si penulis tampan ada di rumah makan bibi Wang"
__ADS_1
Begitulah keberadaan Dareen tersebar di kota Ruan membuat Yao Siyue dan Dareen jadi kewalahan.
Yao Siyue memutuskan untuk pergi meninggalkan Dareen dari sekumpulan orang-orang yang ingin mendapatkan tanda tangan Dareen.
"sabar semuanya"
"mohon untuk berbaris agar semuanya menjadi nyaman"
"baris yang rapi semuanya!"
"mohon untuk tenang"
"jangan saling mendorong"
Ucap bibi Wang yang merasa tokonya akan hancur kembali jika ia hanya diam melihat para pengunjung yang memasuki rumah makannya.
Meski bibi Wang telah dengan sabar berharap semua orang mendengarkan ucapannya tapi tak ada satupun orang yang mau mendengarkannya.
"uuuuuuf...."
"HOIII... SIA**N"
"KALIAN DENGAR TIDAK SIH?"
Tarikan nafas bibi Wang yang membuat perut gemuknya mengurus lalu berteriak sekeras-kerasnya sambil melayangkan pisau pemotong daging ke salah satu meja hingga terbelah dua.
Teriakan bibi Wang membuat semua orang langsung berbaris rapi dengan tenang ketika melihat meja yang terbelah dua.
"nah... kalau baris rapi begini kan enak"
"jangan lupa untuk beli nasi bungkus bibi Wang yah"
Ucap bibi Wang yang puas setelah melihat semua orang berbaris rapi sambil tersenyum membersihkan pisau pemotong daging nya yang tampak berkata 'jika tidak beli matilah'.
Seperti itulah antrian panjang menghabiskan waktu sebanyak 11 jam yang membuat dagangan bibi Wang laris manis tanpa tersisa sedikitpun.
Dareen yang punya energi yang banyak dibuat kelelahan hanya dengan memberikan tanda tangannya kepada semua orang yang ada di kota Ruan.
Dan akhirnya antrian panjang itu habis juga membuat Dareen merasa lega dan merasa pegal di seluruh tubuhnya.
"ah... akhirnya selesai juga"
"terimakasih atas bantuannya bibi"
"kalau begitu aku pamit pulang"
Ucap Dareen mendesah panjang lalu berdiri dan berjalan kearah pintu dan berterimakasih kepada bibi Wang karena sudah membantunya.
"tunggu sebentar"
"ini ada makanan juga Spirit stone untukmu"
"terimakasih juga karena membantu penjualan bibi"
"tidak usah menolak, anggap saja sebagai rasa terima kasih bibi"
"karena adanya kamu jualan bibi jadi lancar"
Ucap bibi Wang memberikan 4 bungkus makanan juga sekantong spirit stone dan tidak ingin ditolak karena dengan bantuan Dareen membuat jualannya laris manis.
"kalau begitu terimakasih"
"lain kali saya bakalan mampir buat makan saja yah bik, saya tidak sanggup tanda tangan lagi"
Ucap Dareen berterimakasih lalu berjalan kearah pintu dan melambaikan tangan ke arah bibi Wang juga anaknya yang membantu mengantarkan makanan.
"bagus deh kalau nak tampan mau mampir lagi, lebih sering juga tidak apa-apa hahaha"
"buk... tidak sopan banget"
"ih... kau ini, ibu kan hanya bercanda"
"tuh kan, nak tampan juga tertawa"
__ADS_1
Ucap bibi Wang lalu tertawa dan dianggap tidak sopan oleh anaknya yang kemudian memukul kepala anaknya yang tak peka itu.
...Bersambung:)...