Thrown Into Another World:Trapped In A Mysterious Maze

Thrown Into Another World:Trapped In A Mysterious Maze
Ch. 72 Qin Xiang


__ADS_3

"Itu adalah reaksi yang wajar." Balas Dareen yang masih setia duduk nyaman di kursi meski pipinya ada bekas tamparan.


Bukannya menjadi lebih tenang, malah Qin Xiang menjadi terisak karena sudah menampar Dareen.


Lanjut...


"Sudahlah... tidak usah dipikirkan." Ucap Dareen menenangkan perasaan Qin Xiang sambil menyeruput secangkir teh yang entah ia dapat dari mana.


"Bagaimana aku bita tidak memikirkannya?, arrghk aku ingin menghilang saja." Batin Qin Xiang.


"Bagaimana dengan matamu?" Tanya Dareen.


"Oh iya, bagaimana bisa ka.. nona menyembuhkan mataku?" Tanyanya balik.


"Mudah saja, singkatnya aku mengeluarkan semua racun dalam tubuhmu bersamaan dengan meningkatkan kualitas tubuhmu." Jawab Dareen masih menyeruput teh.


"Maksudku... bahkan Fei Qixuan sang tabib kehormatan di kekaisaran Fei pun angkat tangan karena racun yang sangat kuat sudah mendarah daging keseluruh tubuhku ini." Jelas Qin Xiang.


"...."


"Sebaiknya kau pikirkan saja dirimu sendiri!" Alih Dareen karena tidak mau membahas yang ditanyakan oleh Qin Xiang.


"Ternyata benar dugaanku..." Lanjut Qin Xiang setelah terdiam sebentar.


"Ini... aku mendapatkannya dari keroco - keroco yang selalu mengikutimu." Menyerahkan sebuah arloji  ke Qin Xiang.


Setelah itu suasana menjadi hening yang hanya ada suara seruputan nikmat Dareen tanpa menghawatirkan apapun karena sudah tahu siapa pelakunya berkat bantuan System dan sudah menandai lokasinya di peta agar orang itu tidak berbuat maam - macam.


Qin Xiang terdiam karena ia tahu siapa pemilik arloji itu, meskipun matanya dulu buta tapi dia sangat familiar dengan arloji yang berada ditangannya sekarang, dia sangat mengenal arloji itu karena arloji itu tak lain adalah milik ayahnya sendiri.


"aku merasa kasihan dengan anak ini, karena orang yang dia paling percaya dalam hidupnya telah mengkhianatinya." Kata Dareen dalam hati.


"Yah... bukankah semua manusia sama saja, selain jiwanya yang terasa menjijikan dagingnya lebih - lebih menjijikkan." Ucap Yin dan Yang secara bersamaan muncul entah darimana tapi tidak dilihat maupun didengar oleh Qin Xiang.


"Memang benar kalau semua manusia itu sama, tapi bukan berarti nenekku itu sama, secara diriku sudah bukan manusia lagi." Balas Dareen kepada Yin dan Yang.


"Dilihat dari segi manapun, kau itu bukan manusia" Ucap Yang

__ADS_1


"itu benar, tidak ada manusia yang lebih mengerikan daripada dirimu, jika boleh aku rasanya ingin memanggilmu moster." Sambung Yin setelah melihat bayangan yang terasa mengerikan dibelakang Dareen meskipun tak kelihatan tapi rasanya menusuk bagi mereka berdua.


"sudahlah, tidak usah membahas diriku, kalian kembali saja ke tempat kalian tadi." Perintah Dareen.


"ckck"


"cih"


Yin dan Yang pun kembali ke tempat yang entah dimana dengan perasaan kesal kepada Dareen karena diabaikan. Tepatt setel;ah mereka berduan pergi dan menghilang, Rui masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Hei, bocah namamu rui kan?, lain kali perhatikanlah apa yang kubawa sebelum berlari keluar." Ucap Dareen kepada Rui dengan memperlihatkan sekantong makanan yang dia bawa.


"Ma..maaf." Ucapnya refleks membungkuk mohon maaf atas perilakunya yang tidak sopan.


"Sudahlah, kemari dan makanlah juga." Ajak Dareen kepada Rui.


Rui senang dan akhirnya menyetujui ajakan Dareen dan mendekat kearah Dareen untuk duduk disampingnya tapi ia melihat Qin xiang yang meringkuk tak percaya atas sesuatu sambil memegang arloji yang seperti pernah melihatnya di suatu tempat tapi ia tak ingat.


"Abaikan saja bocah itu." Ucap Dareen menarik rui ke tempat duduk di sebelahnya.


Sementara mereka dengan nikmatnya makan bersama, Qin Xiang sedang bingung dengan semua hal yang terjadi, sampai - sampai rasanya ia ingin buta lagi saja agar semua yang terjadi sekarang tidak membuatnya begitu gila.


"Angkat aku jadi muridmu..." Gumam Qin Xiang setalah berpikir lebih tenang sedari tadi.


"Ah, apa?" Tanya Dareen karena ia tidak mendengar dengan jelas suara Qin Xiang dan lagi ia sedang fokus menyuapi Rui yang sangat menggemaskan.


"Kalau bukan murid, angkat aku jadi pelayanmu, tidak - tidak aku akan menjadi budakmu, lakukan saja apapun kepadaku selama kau mau membantuku untuk mencari kebenarannya. Iya benar begitu saja." Gumannya lagi kepada dirinya sendiri dan tampak seperti cemas akut bercampur ketar - ketir tak kuasa mengontrol dirinya sendiri.


Dareen tidak menghiraukannya karena emang tidak kedengaran, apalagi sekarang dia sedang bermain bersama Rui dan bersenang - senang dengan makanannya.


"Kumohon... aku akan melakukan apapun itu selama kau membantuku mencari kebenaran yang sebenarnya terjadi, aku masih tidak percaya." Qin Xiang mulai memperbesar suaranya karena sudah semakin yakin dengan pilihanyya itu.


Qin Xiang mulai bicara tak karuan meringkuk dan asap hitam seakan memancar dari seluruh tubuh nya karena sudah tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan kedepannya, seakan - akan dunianya sudah runtuh bersamaan dengan arloji yang sekarang berada di telapak tangannya.


Rui ketakutan karena hawa yang dipancarkan Qin Xiang begitu mencekam dan akhirnya ia pun di suruh untuk menunggu diluar karena Dareen takut ia akan terkena percihan kebencian yang terpancar dari Qin Xiang.


Sementara Dareen mencoba mendekati Qin Xiang dan berniat untuk menyadarkannya.

__ADS_1


"Tenanglah, hei Qin Xiang!!" Teriak Dareen.


Karena tak ada reraksi sama sekali darinya, akhirnya Dareen terpaksa maju dan menghampirinya meski tubuhnya agak kesusahan untukmendekat karena aura kebencian dan keputusasaannya sudah sangat tinggi.


"Tenanglah bocah..." Membingkai wajah Qin Xiang agar pandangan mereka selaras.


Pandangan mata Qin Xiang kosong seperti sudah kehilangan segalanya layaknya orang yang sedang berputus asa ditengah - tengah perang.


"Ah... merepotkan." Ucap Dareen setelah itu memeluk tubuh Qin Xiang dan menyalurkan aura hangat.


Aura hangat itu meresap masuk kedalam tubuh Qin Xiang perlahan - lahan namun pasti. Bersamaan dengan itu aura gelap yang terpancar oleh Qin Xiang juga menghilang secara perlahan.


"huff... merepotkan." lega Dareen ketika semua aura kebencian dalam diri Qin Xiang menghilang.


Sementara itu Rui tampak muncul dari pinggir pintu dengan terlihat sedikit khawatir.


"kemarilah..." Pinta Dareen


"kakak tidak apa-apa kan?" Khawatirnya


"Aku tidak apa-apa, bawakan aku air untuk minum."


Rui yang khawatir buru-buru keluar dan mengambil seteko air minum dan memberikan Dareen secangkir air itu untuk diminumnya.


\~\~\~\~\~


keesokan harinya...


"huk... ada apa denganku?" Qin Xiang terbangun dan merasakan sakit kepala yang lumayan sakit.


"bangun dan makanlah..!" Perintah Dareen memberikan sepiring makanan yang dibawakan oleh Rui.


"Apa yang terjadi denganku?" Tanyanya kebingungan dengan kondisinya yang lusuh.


"Haruskah kujelaskan ketika kau mengamuk dan meronta-ronta seperti orang gila sampai harus kupeluk dulu baru tenang." Jelas Dareen dengan beberapa omong kosong meski itulah kenyataannya.


"tidak, tidak usah dijelaskan." ucapnya yang baru saja mengingat semua kejadian memalukan yang ia lakukan semalam.

__ADS_1


__ADS_2