
POV:Qiu Ming
Aku adalah seorang anak yang dibuang oleh keluarga ku sendiri, sejak baru lahir aku sudah ditelantarkan di sungai.
Anehnya aku masih ingat dengan semua hal setelah aku lahir, seperti sebuah berkah yang hanya diberikan kepadaku.
Pertama kalinya aku senang bisa mengingat semua hal yang terjadi pada hari aku lahir.
Sejak tahu diriku yang sudah bisa berpikir dan mengingat hal-hal yang kulihat dan kudengar aku jadi bersikap layaknya orang yang sudah dewasa.
Aku tidak menangis, bahkan tidak berekspresi sedikit pun layaknya bayi yang baru lahir.
Aku sangat senang lahir dalam keluarga yang harmonis, dah hal yang paling aku ingat adalah sosok seorang kakak yang dengan senangnya menggendongku.
Kakak adalah orang pertama yang kulihat setelah lahir, karena ibuku mati setelah melahirkanku.
Ayahku enggan untuk melihatku karena merasa aku adalah pembawa sial.
Entah angin apa yang menerpa keluargaku hingga membuang ku di sungai tepat pada hari yang mendung membuat angin-angin yang kencang.
Dihanyutkan ke sungai yang jauh dari tempat ku lahir rasanya aku jadi kecewa dengan semua hal baik yang kurasakan.
Dibawah hujan yang deras dan teriakan gunung yang menggelegar dimana-mana juga angin yang hampir membuat air memenuhi bakul yang membawaku hanyut.
Entah mengapa aku tak ada rasa sedih sama sekali bahkan aku tak menangis sedikit pun mengetahui aku telah dibuang oleh keluargaku sendiri.
Setelah perjalanan panjang dihanyutkan oleh arus air sungai yang mengalir cepat, bakul yang kutempati malah tersangkut disebuah ranting di pinggir sungai.
Tak lama seorang nenek-nenek menghampiriku lalu mengangkat bakul yang kutempati dan melindungiku dari derasnya hujan dengan pelukan hangatnya.
Dengan menggunakan tangannya ia melindungi kepalanya dari hujan meski tak sepenuhnya melindungi dirinya dari hujan yang mengalir.
Karena adanya diriku yang ia lindungi, ia tak bisa melindungi dirinya sendiri dari derasnya hujan.
Akupun mulai kehilangan kesadaran ditengah perjalanan karena merasa tubuhku sangat dingin dan nafasku mulai terengah-engah.
Esok harinya aku terbangun karena sinar matahari yang menyinari mataku, juga karena mendengar suara dentingan alat dapur meski aku tak tahu apa namanya tapi kurasa ia sedang memasak untukku.
Aku tidak tahu kenapa tubuhku menggigil juga nafasku semakin tak teratur, aku merasa tubuhku sangat panas.
Tapi setelah mendengar nenek itu mengatakan kalau aku sakit, akupun jadi tahu kalau aku sedang sakit.
Dengan bubur yang dicampur dengan beberapa rempah-rempah 'katanya' ia menyuapiku dengan meniup-niup bubur yang nampak mengeluarkan asap.
Setelah beberapa bulan akupun kembali segar dan sehat, meski tubuhku yang masih mungil ini belum bisa digerakkan dengan bebas tapi aku kini sudah bisa berjalan meski tak selancar itu.
Seperti biasanya nenek membawaku bersamanya untuk mencari dan mengambil beberapa tanaman obat di hutan sesekali mengambil beberapa buah yang nampak segar dan boleh dimakan.
Dengan tali yang sudah dimodifikasi, nenek membawaku berkeliling hutan di gendongannya meski ia nampak kesusahan karena diriku yang semakin berat ia nampak tak gentar untuk mencari tanaman obat.
__ADS_1
Setelah sampai dirumah kecil yang menurutku sangat berbeda dengan rumah yang kutempati sebelumnya.
Seperti biasa nenek memasak ubi bakar untukku seelah itu ia memilah tanaman obat yang ia temukan lalu meracik beberapa obat untuk ia jual dipasar.
Meski tak seberapa, tapi dengan menjual obat-obatan kebutuhan sehari-hari jadi lebih mudah.
Dalam sekejap 2 tahun pun berlalu, tak terasa waktu terus berjalan tak terasa.
Seiring berjalannya waktu akupun mengetahui dan belajar banyak hal, mulai dari nenek yang merupakan seorang apoteker.
Hingga diriku yang tumbuh tinggi melebihi orang pada umumnya, bahkan aku kini tahu bahwa orang-orang disekitarku semuanya memiliki roh yuan-hun.
Nenek juga memiliki roh yuan-hun, yuan-hun nya merupakan binatang yang biasa orang panggil dengan sebutan kura-kura medis.
Nenek memberi nama roh yuan-hun nya 'xiao', meskipun nenek jarang mengeluarkan roh Yuan-hun nya karena tidak mau dianggap tak berguna.
Hari ini seperti hari-hari lainnya, nenek mengajakku kepasar untuk menjual obat-obatan yang ia racik sendiri dirumah.
Seperti biasanya, obat nenek laku terjual habis oleh para pembeli tetap yang selalu membeli obat buatan nenek.
Aku ingin selamanya bahagia bersama nenek di gubuk yang sudah kami anggap berharga, kali ini aku sangat senang dengan kehidupanku di desa kecil ini.
Meskipun tak sekaya keluarga sebelumnya, meski tak punya rumah yang besar. Semua ini sudah membuatku bahagia selama ada nenek disampingku.
Yah... benar, selama ada nenek aku tak akan pernah mengharapkan hal lainnya.
Selama ada nenek.... disisiku aku sudah bahagia.
Hari ini aku benar-benar tak pernah menyangka....
Hari yang tak ingin aku rasakan kembali...
Kenangan pahit yang tak ingin kuingat lagi...
Perasaan kehilangan dan ditinggalkan yang sudah kukubur dalam-dalam...
Hal ini...
Kenapa hal ini terjadi lagi...
Aku tak pernah mengharapkan hal ini terjadi...
Sebuah pasukan menyerbu desa dan menghancurkannya menjadi abu...
"nak... kau harus ingat, bahwa ini bukanlah salahmu"
"jangan pernah menaruh dendam dan membuat bintik hitam sekecil debupun dalam hatimu yang putih"
"dendam tak akan membuatmu kembali ke masa lalu"
__ADS_1
"selalu ingat bahwa benih yang kamu tanam akan tumbuh dan membuahkan hasil yang kamu tanam"
"jangan karena nenek kamu menanam benih-benih dendam dalam hati mu"
"kamu harus selalu ingat bahwa nenek akan selalu ada dalam ingatanmu"
"dan juga... kebahagian tak semahal yang kau pikirkan"
"tetaplah sembunyi di sini hingga semuanya mereda dan jangan sekalipun kamu keluar apapun keadaannya"
"nenek menyayangimu, meski kamu bukanlah cucu nenek"
"selamat tinggal cucuku"
Hal itulah kata-kata nenek yang ia ucapkan untuk terakhir kalinya dalam hidupku dan pergi meninggalkanku sendiri di dalam tanah yang sudah di lindungi oleh 'Xiao' yang merupakan roh yuan-hun nenek.
Saat itu aku tak tahu harus berbuat apa, aku hanya menangis melihat nenek meninggalkanku di ruang bawah tanah yang baru saja ia buat beberapa hari yang lalu seperti tahu kalau perang akan terjadi di tanah desa ini.
Saat aku tersadar bahwa nenek baru saja pergi untuk memancing para prajurit untuk menjauh dari rumah akupun mendobrak-dobrak memukul 'xiao'.
Entah berapa kali aku memohon kepada 'xiao untuk tidak menghalangiku untuk mengejar nenek tapi ia tak merespon sama sekali dan berkata 'karna kau yang seperti inilah nenek menyuruhku untuk mengahalangimu untuk tidak mengejar nenek'.
Sudah 5 jam berlalu, sudah tak ada suara pagi yang terdengar diluar bahkan hanya sekedar angin yang berlalu tak terdengar.
Hingga akhirnya suara api yang melahap rumah terdengar menghanguskan rumah-rumah.
"kau harus ingat kata-kata nenek tadi, dan aku ada kata-kata terakhir untukmu, kumohon untuk menguburkan mayat nenek di dekat pohon magnolia bintang yang ada di atas bukit yang penuh hamparan bunga"
"ha... sudah 5 menit berlalu setelah kematian nenek, sekarang waktunya bagiku untuk pergi, selamat tinggal bocah"
Itulah ucapan Xiao yang merupakan roh Yuan-hun yang bisa bicara milik nenek yang membuat jantungku berdetak kencang.
Rasanya jantungku ingin melompat keluar dari tempatnya, membuat perasaan khawatir menghantui pikiranku.
Aku keluar dengan cepat dari ruang bawah tanah laku berlari mengelilingi desa untuk mencari nenek.
Suaraku pun pecah dan berteriak sekencang-kencangnya mencari nenek, meski aku tahu kalau nenek sudah tiada, tapi aku tidak ingin percaya hal itu sampai aku melihat tubuh nenek yang sudah terkena beberapa tombak yang menembus tubuhnya.
Tubuhnya terkapar dengan air mata yang membasahi wajah keriputnya serta darah yang menggenangi tempatnya terkapar.
Seolah kakiku tak terasa, tubuhku jatuh lemas sambari menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku menangis sejadi-jadinya.
Aku ingin berteriak tapi suaraku tak ingin keluar, aku ingin meraih tubuhnya tapi ditangkap oleh prajurit.
Aku... tak ingin meninggalkan tubuh nenek yang tak bernyawa, tapi para prajurit yang mendengar teriakanku tadi datang dan menangkapku.
Mereka membuatku semakin menjauh dari tubuh nenek, bahkan setelah aku memohon kepada mereka untuk sebentar saja biarkan aku untuk menguburkan mayat nenek.
Tapi mereka tak mau mendengarkanku dan malah semakin memaksa diriku bahkan sampai menarikku secara paksa ke sebuah tempat dimana ada banyak orang juga yang tengah meratapi nasibnya di balik jeruji.
__ADS_1
Sama seperti mereka, aku juga dimasukkan kedalam ruangan yang gelap dan suram dimana semua orang nampak memandangiku.