
Sebelum mulai ke cerita, aku mau membahas tentang kekaisaran Yao.
Setelah kemenangan mereka melawan pasukan mayat berjalan, dengan bersatu bersama-sama menyatukan kekuatan dan mengesampingkan ego masing-masing.
Mereka memutuskan untuk tidak perlu lagi untuk membuat lara pria untuk merendah dibawah kaki lara wanita, melainkan mereka sepakat untuk membangun kembali rumah mereka bersama-sama.
Tanpa memandang status, ras dan gender, karena meskipun mereka berbeda-beda tapi memiiki satu tujuan yaitu bertahan hidup di kekaisaran mereka.
Jadi kaisar Yao Siyue dengan senang hati melepaskan semua pelindung yang mengurung mereka dan membangun kembali pondasi dan tiang-tiang penyangga kekaisaran.
Juga mengganti dan memperbaiki sistem politik dan keamanan.
Jadi seperti itulah bagaimana banyak orang dari luar berdatangan ke kekaisaran Yao dan melihat keadaan disana.
Bagaimana dengan warga yang tidak setuju dengan bersatunya wanita dan pria?
Mereka yang tidak setuju dengan usulan tersebut akan dijauhkan dari kerumunan orang dan memiliki tempat untu mereka sendiri tanpa ada laki-laki sama sekali.
Begitu juga dengan laki-laki yang dulunya tersiksa kini menjalani hidup mereka tanpa melihat kebelakang dan terus melangkah maju dan meninggalkan masa lalu.
Tapi meski begitu, masih ada peraturan yang harus mereka patuhi agar semua orang merasa tidak nyaman.
Seperti, salah satu peraturan bahwa dilarang menggunakan roh yuan-hun didalam kawasan kekaisaran Yao selain di tempat tempat yang memang sudah disediakan seperti aula beladiri, sekolah perguruan Yuan-hun ataupun ditempat yang sudah diberi ijin mengeluarkan roh Yuan-hun.
...~LANJUT KE CERITA~...
Keempat bersaudara itu kemudian tinggal di menara 9 tingkat tepatnya di lantai pertama yaitu perpustakaan demi keselamatan mereka atau lebih tepatnya karena tidak punya rumah untuk ditinggali.
Skip...
pagi harinya, Dareen menyuruh Shiu untuk membuat makanan lebih untuk diberikan kepada keempat bersaudara itu.
Meski hanya mengantarkannya ke lantai 1 dan makan bersama dengan Dareen, tapi tidak dengan si kembar Shiu dan Shia.
Skip...
Setelah sarapan Dareen pergi mengantarkan berkas-berkasnya yang sudah ia rampung ke toko buku di alun-alun ibukota, untuk di salin dan di jual.
Kali ini, ia tidak mengijinkan keempat bersaudara untuk keluar dari menara 9 tingkat agar tidak merepotkan karena mereka terlalu mencolok.
Sama seperti sebelumnya, ia keluar dari menara 9 tingkat dengan tubuh wanita cantiknya karena ia akan keluar dari tempat dimana ia masuk ke dalam menara 9 tingkat.
Saat ini ia berada di gang-gang kecil tempat ia kemarin bertemu dengan si keempat bersaudara.
Ia berjalan mengenakan cadar yang sama seperti kemarin, ia tidak ingin mengeluarkan poin karma sedikitpun karena ia sudah banyak mengeluarkan poin karma hanya untuk membeli 4 hanfu.
__ADS_1
Dareen berjalan melewati tempat ia kemarin berjalan, Dareen berjalan menyusuri tempat ia kemarin berjalan karena jika ia terus melanjutkan berjalan kesisi lainnya ia akan menemukan jalan buntu.
"eh... nona yang kemarin"
"dia mau kemana yah?"
"hei... nona yang kemarin"
Ucap bibi yang menjual kalung kepada Dareen kemarin, memanggilnya untuk ketempat nya. Sedangkan Dareen yang sadar dirinya dipanggil menunjuk dirinya sendiri bertanya apakah yang dimaksud oleh si bibi adalah ia?.
"iya... sini sebentar!!"
Angguk si bibi dengan antusias lalu Dareen pun berjalan menghampiri si bibi tersebut yang tampak mengambil sesuatu di bawahnya.
"bibi tau kalau nona bakalan lewat disini, jadi bibi menyiapkan bakpao isi kacang untukmu"
"eh... itu tidak perlu kok, saya sudah makan"
Ucap si bibi menyerahkan kotak yang sudah dibungkus dengan kain hitam. Melihat hal itu Dareen dengan tidak enak hati menolak dengan lembut pemberian si bibi.
"sudah terima saja, nanti juga bakalan berguna kok?"
"bb... baiklah terimakasih... bibi sangat baik"
"tapi, aku penasaran, kenapa bibi bisa tau kalau saya bakal lewat sini?"
Ucap si bibi yang memaksa untuk memberikan bakpao kepada Dareen yang akhirnya diterima olehnya yang membuat ia penasaran adalah bagaimana si bibi bisa tau kalau dia akan lewat dijalan itu lagi?.
Sementara itu di jalan seberang, di sebuah rumah makan dan minum teh hijau, tepatnya di lantai dua hadirlah si pria tampan nan gagah kemarin.
Sebenarnya ia bukannya ingin tinggal tapi, setelah mendengar si bibi penjual kalung kemarin bahwa si cantik akan kembali, dia pun memilih untuk bermalam di sana hanya untuk menunggu si cantik.
"itu dia..!!"
"akhirnya aku bisa bertemu dengannya"
Ucap si pria tampan nan gagah itu bangkit dari duduknya lalu berlari turun melewati anak tangga dan menerobos orang yang berlalu-lalang hingga akhirnya iapun sampai di sebrang.
"hosh... hosh... lain kali akan kubuat jalan disini tertutup, merepotkan saja"
Ucap si pria tampan nan gagah itu dengan ngos-ngosan karena harus menyingkirkan orang yang menghalangi jalannya.
Tapi sayangnya si cantik sudah tidak ada di tempat yang ia lihat tadi, iapun berjalan kearah toko penjual kalung yang dihampiri si cantik.
"dimana dia?"
__ADS_1
"bukankah sudah kubilang untuk menahannya sampai aku datang"
Tanya si pria tampan itu memegang kedua pundak si bibi penjual kalung karena prustasi, ia sudah menunggu semalaman hanya untuk si cantik, namun si cantik malah hilang lagi.
"maaf yah nak..."
"bibi sudah bilang kalau kamu mencarinya, tapi nona itu bilang kalau dia terburu-buru ke ibukota"
"katanya ada barang yang perlu diantar"
"jadi nona itu bilang untuk datang saja ke toko buku di alun-alun ibukota"
Ucap si bibi penjual kalung itu meminta maaf karena tidak bisa menahan si cantik karena tampak terburu-buru lalu menjelaskan alasan kenapa si cantik tidak bisa menunggu.
"eh... ah.. iya, maaf sudah bersikap kasar kepada bibi"
"kalau begitu saya akan mengejarnya"
Ucap si pria tampan nan gagah itu melepaskan pegangannya di pundak si bibi meminta maaf karena sudah bersikap kasar kepadanya.
"eh tunggu..."
"ini ada barang si nona yang terjatuh, sepertinya penanda buku ini sangat berharga"
Ucap si bibi menahan si pria tampan nan gagah itu yang sudah mau pergi mengejar lalu memberikannya sebuah penanda buku yang sepenuhnya emas dihiasi berlian-berlian.
Si pria tampan itu itupun mengambil lalu melihat ukiran yang menuliskan nama pemiliknya, seketika itu iapun tersenyum, lalu beranjak pergi ke sebuah kereta kuda dan menaikinya.
"fenhong meigui"
Ucap si pria tampan nan gagah itu yang sudah duduk di dalam kereta menyebut nama yang terukir dari penanda buku itu.
#catatan: fenhong meigui, aku ambil dari bahasa China 粉紅玫瑰 (Fěnhóng méiguī) yang berarti 'mawar merah muda'
Pria tampan itupun tersenyum sepanjang perjalanan mengarah ke ibukota menggunakan kereta kuda, sementara si bibi penjual kalung itu sedang tersenyum sambil tertawa kecil.
"semoga nak tampan bisa menerima kenyataannya, hihihi..."
Ucap si bibi itu lalu menutup mulutnya tapi masih bisa tertawa kecil, lalu berbalik dan kembali ke dagangannya.
Sementara Dareen yang tengah duduk dalam kereta yang di tarik oleh kuda dengan santainya memakan satu bakpao yang diberikan oleh si bibi.
"pak, tolong lebih cepat, saya terburu-buru"
"baik nona!!"
__ADS_1
Ucap Dareen meminta kepada pak supir yang sedang melajukan kereta lalu disahut dengan tangan yang mengacungkan jempol pertanda oke.
...Bersambung:)...