
skip...
Dareen sudah sampai di toko buku di alun-alun ibukota, ia juga sudah merubah kembali tubuhnya seperti semula.
Menyerahkan dokumen-dokumen yang sudah dirampung untuk di salin oleh para pekerja yang ada disana.
"tuan apa sudah selesai?"
"ini!!"
Tanya seorang pekerja yang sudah menunggu cerita yang sudah ditulis oleh Dareen untuk di salin, meski tujuannya adalah untuk membaca sekaligus menyalin.
Semua orang pasti tahu kalau cerita yang ditulis oleh Yingjun Zuojia selalu menarik untuk dibaca, apalagi jika bisa menjadi pembaca pertama.
Dengan senang pekerja itu mengambil dan memeluk lembar-lembar kertas yang diberikan oleh Dareen lalu berlari menuju ruangan yang penuh dengan pekerja-pekerja yang sudah menunggu cerita baru yang ditulis Dareen.
"bersiaplah semuanya...!!"🗣️🔊
"ooooh..."
"ini dia...!!"
Teriak pekerja itu yang membuat semua pekerja yang ada di ruangan itu seketika menjadi bersemangat sambil berteriak keras.
Melihat hal itu Dareen menggeleng pasrah melihat para pekerja yang sangat bersemangat, seraya berjalan menuju ruangannya sendiri.
"itu... em.. anu..."
Ucap seorang pria yang merupakan sekertaris Dareen dengan terbata-bata. Dareen melihat hal itu seketika paham apa yang diinginkan oleh sekertarisnya.
"tidak ada!!"
"eeeh..."
Ucap Dareen ketus tanpa melirik sekertarisnya yang kemudian sekertaris itu merengek memegang kaki Dareen.
Dareen yang duduk dengan nyaman merasa kakinya dipegang oleh sekertarisnya yang sudah biasa ia rasakan, diapun hanya mengacuhkannya dan melanjutkan menandatangani berkas-berkas yang perlu tanda tangannya.
"Chu Yi berhenti merengek"
"dan menjauh dariku"
"kerjakan tugasmu sebagai sekertaris"
"kau itu sekertaris ku"
Panggil Dareen ke Chu Yi sekertarisnya untuk melepaskan kakinya dan menyuruhnya melakukan pekerjaannya dengan benar.
"sudah, semuanya sudah selesai kukerjakan"
Ucapnya yang langsung berdiri dan memberi hormat meski tidak perlu, melihat hal itu Dareen hanya geleng-geleng kepala sambil menepuk pelan dahinya.
"meskipun kamu merengek, bersujud seperti apa, aku tetap tidak bisa memberimu, karena aku tidak ada waktu untuk menyalinya"
"tunggu saja setelah selesai disalin baru kamu baca"
Ucap Dareen mengacuhkan Chu Yi sambil melanjutkan mengurus berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya.
Mendengar hal itu, Chu Yi terdiam menurunkan tangannya menatap Dareen dengan mata berkaca-kaca memegang kaki kanan Dareen.
Dareen hanya terus melanjutkan pekerjaannya, mengabaikan Chu Yi yang kini menangis memohon memegang kaki kanan Dareen.
sfx:tok tok tok...
__ADS_1
"masuk!!"
Mendengar ada yang mengetuk pintu, Dareen menyuruhnya untuk PP masuk, dan masuklah seorang penjaga yang bertugas untuk menjaga pintu masuk toko"
"tuan... ada seseorang yang mencari anda?"
"siapa?"
"entahlah tuan"
"dia berkata bahwa ada barang yang ingin di kembalikan"
Ucap penjaga toko itu kepada Dareen bahwa ada seseorang yang mencarinya tapi tidak diketahui oleh penjaga toko itu.
"bawa dia ke ruang tamu"
"suruh dia untuk menungguku"
Ucap Dareen memerintahkan kepada penjaga toko untuk menyuruh orang yang mencarinya untuk menunggu di ruang tamu.
"anu.. tuan, orang itu sudah ada disini, saya sudah menyuruhnya untuk menunggu di ruang tamu, tapi pria itu tidak mendengar dan bersikeras mengikuti saya"
Ucap penjaga toko itu yang ternyata orang yang mencari Dareen sudah ada di belakang pintu ruangannya.
"maaf karena menerobos masuk, aku hanya ingin mengembalikkan penanda buku ini kepada si cantik"
Ucap si pria tampan nan gagah itu memasuki ruangan Dareen, meminta maaf lalu menunjukkan penanda buku yang familiar bagi Dareen.
"it.. itukan punyaku?"
"bagaimana bisa dia memilikinya?"
"apakah aku menjatuhkannya?"
Batin Dareen melihat penanda bukunya berada di tangan pria yang mencarinya, hal itu membuatnya penasaran.
"ah... aku minta maaf karena telah mengganggu pekerjaanmu, tapi dimana si cantik itu?"
"si bibi penjual kalung itu menyuruhku untuk kesini karena katanya si cantik sedang ke toko buku di alun-alun ibukota"
Ucap pria tampan nan gagah itu meminta maaf sekali lagi, lalu dengan antusias menanyakan keberadaan si cantik dan memberikan alasan yang membuat Dareen merasa ingin mati.
"ekh..."
"kenapa bisa jadi seperti ini?"
"apa yang harus kulakukan?, tuhan..."
"apa aku jujur saja?, tapi ini sungguh memalukan"
Dareen membatin menunduk memegang kepalanya selagi tangan satunya memapah tubuhnya. Sedangkan Chu Yi masih memegang kaki kanan Dareen dan masih mengeluarkan pandangan matanya yang berkaca-kaca.
"eng... mari kita bicara di tempat lain saja"
Ucap Dareen kemudian berjalan melewati pria tampan nan gagah itu menuju ruang tamu, tidak lupa Chu Yi yang terseret karena masih memegang kaki kanan Dareen.
"em..."
"ah, tidak usah khawatirkan sekertaris manja ini, hal ini sudah biasa terjadi"
"ah. ha.. ha.. sudah biasa toh"
Melihat pria tampan itu yang merasa tidak nyaman dengan Chu Yi yang terseret, Dareen pun menjelaskan kepadanya lalu di balas dengan ketawa garing.
__ADS_1
Skip...
Mereka sudah sampai di ruang tamu, Dareen dan pria itupun duduk berhadapan ditengahi oleh meja dan tak lupa Chu Yi yang berganti memeluk perut Dareen karena mereka duduk bersila.
"jadi, bisakah anda memberitahu siapa anda?"
Ucap dareen bertanya nama pria yang mencarinya itu sambil menyajikan bakpao yang diberikan oleh si bibi penjual kalung tadi.
"kenapa dia sangat sopan"
"apakah dia temannya si cantik"
"tidak... kurasa bukan temannya"
"karena auranya yang seakan sedang menginterogasi ku, jadi mungkinkah..."
"muka mereka juga hampir mirip"
"jadi dia adalah calon kakak ipar"
"harus memberikan kesan pertama yang baik untuk mendapatkan restu dari kakak ipar"
Batin pria itu merasa ada yang aneh dengan sikap interogasi pria yang ada didepannya lalu berjalanlah kesalahpahaman yang semakin panjang.
"ekhem... nama saya Chong Liyao, pangeran ke 3 kekaisaran Chong"
Deheman Chong Liyao dengan bangga memperkenalkan namanya sambil membusungkan dadanya.
Melihat hal itu, Dareen entah mengapa merasa Chong Liyao ini terlalu bangga dan sombong atas namanya.
"oooh..."
"kurasa dia sudah terlalu jauh dengan angan-angan nya"
Ujar Dareen yang sudah tidak tahu lagi harus bagaimana dan membatinkan kata-kata yang tidak bisa keluar dari mulutnya.
"kau pasti kakaknya si cantik kan?"
"ha..ha..ha..ha.. panggil saja aku kakak Xiu"
"bagaimana ini?, kalau terus seperti ini bisa-bisa nanti urusannya jadi lebih panjang"
Ucap Chong Liyao bertanya yang sudah memastikan dengan sepihak bahwa Dareen adalah kakak si cantik, lalu Dareen hanya bisa tertawa garing dan membatin.
"tidak boleh seperti ini, aku harus memberitahukan kebenarannya, sebelum masalah ini jadi lebih panjang"
Batin Dareen merasa harus memberitahukan kebenarannya kepada Chong Liyao sebelum masalah jadi rumit.
"eh... sejak kapan kak Huang punya adik perempuan?"
Ucap Chu Yi yang mengangkat bicara ketika mendengar bahwa tuannya punya adik perempuan.
"arghk, si bodoh satu ini"
"hah... lebih baik ku selesaikan saja urusan ini"
Batin Dareen geram kepada Chu Yi dan merasa ingin membunuhnya tapi tidak bisa karena ia benar, lalu memutuskan untuk memberitahukan kebenarannya.
"Chu Yi, mau baca buku baru kan?"😊💢
"mau... mau..!"
Panggil Dareen ke Chu Yi sekertarisnya dan menarik kerah belakang hanfunya dan mengangkatnya layaknya barang lalu bertanya apakah ia ingin buku yang sudah ditulis Dareen.
__ADS_1
Dengan senang hati Chu Yi mengangguk antusias dan merentangkan kedua tangannya meski dalam kondisi diangkat oleh Dareen.
...Bersambung:)...