Thrown Into Another World:Trapped In A Mysterious Maze

Thrown Into Another World:Trapped In A Mysterious Maze
Ch. 61 Kemunculan empat bersaudara


__ADS_3

Karena tidak disambut di menaranya sendiri, Dareen pun keluar untuk jalan-jalan menghirup udara sejuk dipagi hari menjelang siang.


"uuff..."


"haa..h"


"nikmatnya"


Tarikan nafas Dareen yang kemudian di hembuskan seraya menikmati suasana pagi hari dipasar yang sibuk pada dagangannya masing-masing.


Demi menyembunyikan identitasnya sebagai penulis, Dareen merubah lekuk tubuhnya menjadi seorang wanita.


Dengan menggunakan darah slime peniru, Dareen menumbuhkan 2 buah payudara pada dadanya yang bidang, memperpendek tubuhnya setinggi wanita pada umumnya, merubah wajahnya menjadi oval dan menyembunyikan wajah cantiknya dengan cadar.


Orang-orang yang berlalu-lalang tidak sempat melihat Dareen karena sibuk pada urusan masing-masing meski ada juga yang melirik sekilas maupun tercengang melihat keindahan yang sedang berlalu di tengah pasar.


Dareen pun tiba di sebuah toko yang menjual perhiasan untuk seorang perempuan, Dareen ingin membelikan si kembar perhiasan karena melihat mereka yang tampak tidak memiliki satupun perhiasan pada tubuh mereka.


"hei nona, ingin membeli perhiasan?"


"iya bik"


"ah.. pilih yang ini saja, kalung ini tampak cocok jika dipakai seorang nona cantik seperti nona"


"benarkah?"


"kalau begitu saya pilih yang bibi pilihkan saja!"


"oh iya bik, saya juga mau membelikan 2 adik saya kalung"


"kira-kira mereka akan cocok tidak jika mereka memakai kalung ini?"


Teriak seorang wanita paruh baya dari tempat dagangannya memanggil Dareen untuk kesana lalu menawarkannya sebuah kalung cantik berwarna biru yang tampak berkilau.


Sambil membayar kalung yang dipilihkan oleh si penjual, Dareen bertanya sambil melihat dan mengambil sebuah kalung berwarna kuning dan oranye di sampingnya, apakah cocok jika dipakaikan ke si kembar.


"eh... nona punya adik"


"iya bik"


"kembar yah?"


"eh.. bagaimana bibi bisa tau kalau adik saya kembar?"


"hahaha... biasalah"


"bibi peramal yah?"


"ah... nona bisa aja, saya bukan peramal"


"saya tahu karena nona yang memilih kalung yang keduanya memiliki bentuk yang sama tapi berwarna beda"


"makanya bibi tau kalau adik nona itu kembar"


"wah... bibi hebat"


"yasudah, kalau buat sikembar pilih yang ini saja"


Bincang Dareen dengan si penjual kalung yang menebak dengan benar lalu disanjung oleh Dareen membuat si penjual merasa malu seraya memuji diri sendiri.


Si penjual akhirnya beralih ke bawahnya lalu mengambil sebuah kotak di sebuah laci tempatnya lalu membuka dan memperlihatkannya kepada Dareen.


"cantiknya...!!"


"terimakasih yah bik"


"kalau begitu aku pamit dulu yah bik"


"iya!!, hati-hati yah, jangan lupa mampir lagi kalau butuh kalung"

__ADS_1


"Iyah bik"🗣️


Ucap Dareen yang memuji kalung itu, lalu berterimakasih seraya membayar kalung yang ia beli dan berpamitan kepada si penjual kalung.


"fyuuh... berakting memang melelahkan"


"rahangku rasanya sakit karena terus tersenyum"


"sekarang kita kemana yah..."


Keluh Dareen setelah beranjak pergi sambil meletakkan kotak berisi kalung tersebut ke kotak penyimpanan.


Setelah menentukan kemana ia akan pergi ia pun berjalan menjauh dari kerumunan dan memasuki sebuah gang gang yang cukup luas untuk kereta kuda lewat.


Sesampainya di sebuah gang yang sangat sepi iapun menghentikan langkahnya dan berbalik badan seraya menyunggingkan senyum tipis pada mulutnya.


"sampai kapan kalian ingin bersembunyi?"


"...."


Tanya Dareen yang tidak disahuti sama sekali yang membuatnya tampak bodoh.


Tak lama kemudian muncullah 4 sosok bayangan hitam pada lorong gelap yang berada tepat didepannya.


"ho... jadi karena tahu kami mengikuti, dengan sengaja menuntun kami ke gang sepi seperti ini"


"eh... kakak ada apa dengan cara bicaramu"


"sutt... diamlah"


"adik terakhir benar, kenapa cara bicara kakak jadi berubah seperti itu?"


"adik ke 4 adik ke lima diam saja, ikuti saja kakak mu ini"


Bisik mereka yang masih bisa didengar oleh Dareen yang membuatnya bingung atas apa yang tengah dilakukan oleh 4 orang mungil didepannya.


Setelah berjalan hingga tempat terbuka yang disinari oleh matahari, muncullah 4 sosok mungil nan imut dan lucu tepat didepan Dareen yang membuatnya tidak bisa mengontrol dirinya untuk memeluk mereka.


Teriak Dareen menghampiri ke empat orang mungil didepannya dan langsung menerkam alias memeluk mereka.


"eh.."


"awas adik ke lima"


Ucap si nomor 2 merentangkan tangannya melindungi adik-adiknya agar tidak diserang yang nyatanya hanya ingin di peluk.


Tidak menghiraukan si nomor dua, Dareen melewatinya lalu memeluk si nomor lima erat seraya menggosokkan pipinya dengan pipi gembul si nomor lima.


"ahh... imut!!"


"ini juga imut!!, ah kalian semua imut!!"


Dan terjadilah serangan 2 buah dada menyerang wajah mereka berempat yang hampir membuat mereka kehabisan nafas.


Mereka berempat hendak melawan tapi setelah berjuang beberapa menit dan tak bisa lepas dari pelukan Dareen mereka pun pasrah dan dengan rela di peluk secara bergantian bahkan dipeluk bersamaan.


16 menit kemudian...


Dareen masih belum puas memeluk benda imut didepannya seraya terus memeluk mereka hingga wajah mereka tenggelam pada 2 buah payudara Dareen.


Si nomor lima yang merupakan adik terakhir mereka masih setia dalam pelukan Dareen setelah ketiganya meloloskan diri dari pelukan Dareen.


"hei... berhenti memeluk adik kami!!"


"apa-apaan sih wanita ini?"


"masa iya wanita seperti ini adalah tuan yang kita tunggu-tunggu"


"kak aku ragu kalau dia ini adalah tuan yang dimaksud kakak pertama"

__ADS_1


"meski begitu kalian sudah melihat buktinya kan kalau dia ini memang tuan kita"


"memang benar kalau buktinya sudah ada, tapi aku masih ragu kak"


Bincang mereka yang masih didengar oleh Dareen tapi tidak dihiraukan dan masih setia mengelus-elus wajah si nomor lima meski si nomor lima terus mencoba meloloskan diri tapi tidak bisa.


"uwu wu... lepwaskuan akwu" (lepaskan aku)


"iiwhh... luaopwues" (ih... lepas)


"kewkuak tloung uaewkyu" (kakak tolong aku)


Berontak dan pinta si nomor lima yang kata-katanya tidak jelas karena Dareen yang terus menggosokkan muka si kecil nomor lima ke dadanya🍑.


"dasar wanita ini"


"lepaskan adik kami"


"kau membuatnya sesak nafas"


"hei wanita kau ingin membunuh adik kami!"💢


Geram mereka bertiga melihat adiknya yang sengsara dalam pelukan Dareen sambil memukul mukul paha Dareen karena tubuh mungil mereka tidak menjangkau.


Dareen yang merasa ia di pukul meski pukulan itu terasa di colek colek ia pun melepaskan si kecil nomor lima.


"hueh..."


"huff... huff..."


Si nomor lima pun menghirup udara dengan rakus karena sedari tadi tidak bisa fokus menarik nafas.


Melihat adiknya yang sesak mereka bertiga selaku sang kakak mendekati dan mengelus punggung sang adik lembut seraya menenangkan sang adik.


"jadi bisa kalian jelaskan kepadaku sekarang"


Ucap Dareen lalu mengeluarkan kursi dan menarik si nomor dua dan mendudukkannya di pangkuannya seraya memeluk lembut karena masih tidak puas.


"bisakah kau lepaskan aku dulu"


"tidak bisa!!"


"kenapa?"


"karena aku belum puas!"


Pinta si nomor dua tidak mau di peluk dan memberontak tapi ditarik kembali dan bertanya alasannya dan akhirnya dijawab dengan alasan yang tidak masuk akal.


"disini tidak aman, lebih baik kita menjauh dari sini"


"benar kita harus mencari tempat yang aman sebelum mereka menemukan kita"


Ucap mereka kepada Dareen untuk mencari tempat aman dan membicarakan hal penting yang perlu disampaikan.


"baiklah...!"


Ucap Dareen setuju dengan mereka lalu seketika mereka menghilang bersama kursi yang diduduki Dareen.


Tak jauh dari tempat itu, ternyata ada orang yang mengintai mereka dalam gelap.


"eh... mereka menghilang"


"bagaimana ini, tuan pasti akan marah"


"terserahlah, katakan saja yang terjadi"


Ucap orang itu terkejut setelah menghilangnya Dareen beserta 4 orang mungil yang disuruh oleh tuannya untuk memata-matainya.


Orang itupun bergerak pergi dan meninggalkan tempat itu dan menuju ke arah tempat tuannya berada.

__ADS_1


...Bersambung:)...


__ADS_2