
Perang terus berlanjut hingga sore hari, sudah banyak tumpukan mayat yang berserakan.
Darah terus mengalir deras membanjiri ibukota dengan kota-kota lainnya.
Langit berubah menghitam diakibatkan asap-asap hitam dari bekas kebakaran rumah rumah warga.
Tumpukan mayat terus menumpuk membentuk gunung di tengah ibukota.
Perang yang sudah memakan banyaknya korban hingga lebih dari 5.687.432.019 jiwa.
Perang tanpa keikutsertaan kekaisaran membuat warga yang ikut dalam kubu penghianat kekaisaran merasa senang lain dengan pembela kekaisaran malah merasakan takut.
Tapi di tengah ketakutan itu, seorang wanita berteriak kencang dengan lantang membuat semua orang yang berada dalam kubu pembela kekaisaran.
"memangnya kenapa kalau kekaisaran tidak ikut serta, memangnya kenapa kalau kaisar Yao tidak ikut andil dalam peperangan"
"kita berperang karna keinginan kita sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan kaisar Yao"
"kita harus membuktikan bahwa kita juga bisa melawan para penghianat kekaisaran"
"lagipula ketidakikutsertaan kaisar Yao membuktikan bahwa dia tidak ingin melihat rakyatnya berperang"
"tapi kita malah melakukan perang, ini menandakan bahwa beliau kecewa kepada kita"
"maka dari itu kita perlu untuk membuktikan kepada beliau bahwa kita juga bisa"
"meskipun aku yakin bahwa semua orang yang ada disini masih punya keluarga"
"kita yang berperang meninggalkan keluarga kita dirumah, meninggalkan anak anak kita demi membasmi penghianat"
"aku juga yakin bahwa ada satu keluarga yang ikut andil dalam perang"
"maka dari itu kita harus mengeluarkan semua keringat dan darah kita hingga titik dimana kita tak bisa bangkit lagi"
"kalian tidak perlu takut, karna dengan pengorbanan kita, kita sudah membuktikan bahwa kita juga bisa melakukannya"
"jadi saudara saudariku semua mari kita membasmi penghianat yang ingin memporak-porandakan kekaisaran yang sudah menjadi rumah kita"
Begitulah kira-kira ucapan wanita teguh itu menggerakkan hati semua orang dari kubu pembela kekaisaran hingga berapi-api.
Kini kekaisaran telah di penuhi oleh si jago merah yang melahap rumah-rumah warga.
Asap yang menggembul membuat langit kekaisaran berwarna hitam.
Suasana di dibukota kini menjadi suram dan mencekam.
Meski begitu perang masih terus berlanjut dengan segenap tenaga dan jiwa mereka.
...* * * * * *...
#di suatu tempat --->diluar pembatas kekaisaran
"hahaha.... kali ini ja**** itu pasti akan mati"
"wahahaha..."
Tawa Raja Ming menyumpah serapahi Yao Siyue dan kembali tertawa jahat.
"hormat hamba yang mulia"
__ADS_1
"kekaisaran Ibukota Yue telah hancur berantakan"
"masyarakat ibukota berperang tanpa adanya keikutsertaan Kekaisaran"
"kini peperangan telah memakan banyak korban jiwa"
"99% masyarakat di kekaisaran telah mati"
Ucap seseorang yang tengah berlutut dan memberi informasi keadaan kekaisaran yang telah mengintainya hingga kini.
"bagus..."
"saatnya untuk perang kedua"
Ujar Raja Ming dengan sinis menantikan perang selanjutnya.
"tunggu..! yang mulia, aku rasa ada sesuatu yang janggal dengan semua ini"
"tentu saja ada yang janggal"
"wanita ja**** itu sengaja membuat rakyatnya berperang dan menunggu kita untuk menyerang"
"dan ketika kita sudah menyerang maka wanita ja**** itu akan menyerbu kita dengan para pasukannya yang sudah bersiap untuk menyergap kita"
"yang mulia memang bijaksana"
Bincang Raja Ming dengan penasihat Qi yang ingin menyampaikan hal yang sama meski dalam hatinya ia masih merasa ada hal yang janggal dengan kekaisaran Yao.
"baiklah..."
"saatnya untuk perang susulan"
Teriak Raja Ming dengan lantang hingga semua pasukan dari beberapa kelompok mendengarnya dengan jelas.
"kami telah siap dengan segenap jiwa dan raga kami"
Teriak 100.000.000.000 prajurit yang memakai Sirah lengkap dengan senjatanya masing masing.
Mereka pun berangkat menuju ke kekaisaran Yao dan berniat untuk menyerang kekaisaran Yao.
"hahaha..."
"akhirnya... akhirnya hari yang sudah lama kutunggu tunggu akhirnya telah tiba"
"wahahaha..."
Tawa Raja Ming merasa puas setelah akhirnya hari pembalasan yang sudah lama ia tunggu-tunggu telah tiba.
Sembari mereka terus berjalan menuju ke perbatasan kekaisaran, para prajurit yang tengah berada di barisan depan terkena ranjau dan meledak.
Teriakan kesakitan terdengar dari barisan depan membuat barisan yang ada dibelakangnya menjadi panik.
Meskipun ledakan ranjau itu tak membuat para prajurit terluka sedikitpun tapi ranjau itu setidaknya mengeluarkan asap.
"kukira apa, ternyata hanya ranjau darat"
"tidak perlu khawatir dengan ranjau lemah seperti itu, terus maju kedepan"
"jika ada yang mundur satu langkah saja maka bersiap-siaplah untuk kutebas dengan tanganku sendiri"
__ADS_1
Teriak Raja Ming memaksa para prajuritnya untuk terus melangkah maju dan mengancam jika ada yang mundur akan di bunuh oleh dirinya sendiri.
Dengan rasa takut tapi setelah terkena ranjau sekali dan tidak terjadi apa-apa mereka terus melangkah maju hingga akhirnya mereka sampai pada dinding pembatas.
Pada barisan depan yang mempunyai roh yuan-hun raksasa mengeluarkan roh yuan-hun mereka dan menyerang menggunakan roh yuan-hun mereka untuk merobohkan dinding pembatas dengan mudahnya.
"serbu..."
Dengan itu semua prajurit yang ada bergerak maju dan dengan cepat menyebar menyerang membabi buta.
Para prajurit itu seperti tak bisa mengontrol dirinya sendiri dan menyerang secara tak menentu dan membabi-buta.
Tak peduli mau itu manusia, hewan, pohon ataupun benda benda lainya seperti rumah mereka tak pandang bulu.
Kembali kepada perang antar dua kubu, nampak mereka sedang berperang dan ditengah perang mereka mendengar sebuah pukulan terdengar pada dinding pembatas kekaisaran.
Setelah melirik sekilas merekapun melihat banyak prajurit yang memakai Sirah lengkap menyerang membabi buta merobohkan dinding dan rumah-rumah mereka.
"apa..?"
"apa yang sebenarnya terjadi?"
"ada apa ini?"
"kenapa ada serangan dari luar?"
"bagaiman bisa terjadi hal seperti ini?"
"ti..tidak... anakku masih berada didalam rumah"
"anak anakku... tidak..."
"waa.... bayiku... bayiku... huhuhu... maafkan ibu nak... tidak bisa menjagamu dengan baik..."
"rumahku...."
"tokoku..."
"ayam ayamku yang sudah kupelihara segenap jiwaku..."
"uwaah.... anakku.... mati.. an.. anakku..."
Teriakan mereka yang masih bertahan hidup dalam perang yang mereka buat sendiri serta tangis yang histeris melihat keluarga mereka ditebas di penggal dan ditusuk dengan kejam oleh prajurit yang tak mereka kenali.
Dan akhirnya yang ada didalam hari mereka masing-masing adalah...
"ini... ini semua salah prajurit-prajurit sialan itu"
"dan orang orang yang ada dibelakang mereka"
"aku... tidak... kami.. kami akan membalaskan dendam ini dengan tangan kami sendiri"
Batin mereka semua kemudian saling pandang dengan pandangan mata yang sinis dengan air mata yang menetes pelan di pipi mereka.
Seakan mengerti apa yang mereka semua inginkan, mereka pun bersatu tak peduli bahwa sebelumnya mereka musuh tapi yang jelas musuh mereka sekarang adalah penjajah yang menjajah kekaisaran mereka.
Dan saat itu pula Kaisar Yao Siyue dan Dareen muncul dengan para komandan pasukan yang telah dikumpulkan didalam kekaisaran dan menunggu penyerangan dari raja Ming dimulai.
Dan...
__ADS_1
...Bersambung:)...