
Aku takut...
Sekilas setelah memejamkan mata aku melihat nenek yang tersenyum lalu matanya mengeluarkan darah dan tombak menusuk tubuhnya satu persatu.
Nenek memandangiku dengan tajam memohon kepadaku untuk menyelamatkannya tapi aku takut dengan sosoknya hingga aku terbangun dari mimpi.
10 tahun berlalu dengan pikiranku yang semakin kacau, setiap aku menutup mata mimpi yang sama terus menghantuiku.
Entah sudah berapa penjara yang sudah aku masuki, seolah ucapan ayahku muncul dalam pikiranku yang mengatakan 'kau adalah pembawa sial'
Aku pun jadi semakin percaya bahwa aku adalah seorang pembawa sial, setiap kali aku tinggal si satu tempat, maka kesialan pasti selalu datang.
Jika aku pikirkan kembali, seelah lahir ibu mati, lalu aku bertemu nenek dan lagi mati, bahkan kerajaan yang memenjarakan ku ikut terbawa sial, setiap kali aku dijadikan tahanan pasti kerajaan yang menahanku bakal di serang oleh kerajaan lain, dan masuk lagi dipenjara kerajaan yang menang lalu kerajaan itu kembali diserang oleh kerajaan lain terus seperti itu hingga sampai ke kerajaan yang dikenal sebagai kekaisaran wanita.
Entah apa yang terjadi, kekaisaran ini juga menjadi korban kesialanku, kekaisaran ini diserang oleh pasukan Raja Ming, seperti itulah yang kudengar dari para prajurit yang menggosip di penjara.
Entah apa yang terjadi orang orang yang ada dipenjara yang sama denganku menjadi sangat liar dan mereka bisa mengeluarkan roh Yuan-hun mereka yang setahuku roh yuan-hun mereka sudah ditahan oleh sebuah pelindung.
Mereka semua menghajar jeruji besi hingga jeruji besi itu membengkok bahkan ada yang terhempas menabrak jeruji lain hingga mereka pun berlari keluar berbondong bondong.
Saat kusadari sudah tak ada satu orang pun yang tinggal selain aku di dalam penjara.
Entah apa yang dipikirkan oleh satu pria yang berdiri tepat di depan jeruji besi yang ada dipenjaraku, ia menatapku yang meringkuk.
Hingga ia membuka gembok dan menarikku keluar secara paksa. Aku tak menyangka bahwa orang itu membawaku ke sebuah tempat yang sangat indah.
Aku benar-benar tak tahu apa yang ada dipikiran orang satu ini hingga ia mengatakan bahwa ia ingin mengangkatku sebagai adiknya.
Tentu saja aku menolak itu, hingga akhirnya pria itu mengatakan bahwa jika aku tak ingin jadi adiknya ia ingin aku setidaknya jadi tangan kanannya.
Aku juga menolak usulan pria itu, sungguh aku tak ingin terlibat dengan dirinya, aku tak ingin membuat pria itu menjadi sial gara-gara aku ada disampingnya hingga pria itu berkata...
"jika kau pikir dirimu adalah seorang pembawa sial, maka kau salah"
"kau bukanlah seorang pembawa sial"
__ADS_1
"semua itu hanyalah pemikiranmu sendiri"
"semua hal kesialan yang kamu alami itu hanyalah sebuah rencana Tuhan yang membuatmu mengalami berbagai pengalaman disetiap kesempatan yang sangat tepat"
"ikutlah denganku"
"aku akan menunjukkan kepadamu bahwa kesialan yang kamu pikirkan itu hanyalah sebuah kebohongan"
"aku akan membuatmu memikirkan kembali tentang dirimu yang sebenarnya"
Ucapan pria itu menggerakkan hatiku, membuatku berlari dalam pelukannya dan menangis dan menumpahkan semua kesedihanku di dalam pelukannya.
Seperti yang pria itu katakan, kekaisaran yang kupikir akan musnah malah menang dengan sempurna.
Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar senang mengetahui bahwa semua yang kualami sebelumnya hanyalah pemikiranku saja.
Pria itu membuktikan kata-katanya yang membuat hatiku sekali lagi berdegup kencang, hingga tangan kasarnya mendarat di kepalaku dan mengelus-elus kepalaku dengan lembut.
Seakan-akan tangannya memiliki sihir, aku merasa sangat nyaman dan bahagia untuk pertama kalinya setelah kebersamaan bersama nenek berakhir.
Aku sangat senang hanya dengan elusan hangat dari tangannya hingga aku berangsur-angsur melupakan mimpi buruk yang menghantuiku setiap aku memejamkan mata.
Setelah tuan menyuruhku untuk menjadi mata-mata dan menyamar menjadi penasehat Qi dan melaporkan setiap rencana yang dibuat oleh Raja Ming yang membuat benci dalam hatiku hampir saja membuat penyamaranku terbongkar.
Aku benar-benar tak tahan setelah melihat seorang lelaki yang merupakan sosok kakak yang ada dalam masa laluku hadir tepat di depanku.
Tapi setelah melihatnya yang tampak sombong membuatku tenang karena tidak lagi memikirkan tentang dirinya yang ada dalam ingatanku.
Kini kakak yang dalam ingatanku sudah bukan lagi kakak yang dulu kuingat.
Kakak yang dulunya sangat lembut dan orang yang menggendongku pertama kali kini tengah terikat di ruang yang sudah tuan siapkan.
Aku terpaksa memberikan makanan bahkan menyuapinya meskipun ini adalah keinginanku sendiri karena belum bisa melupakan sosok kakak yang dulu.
Aku senang saat dia berkata bahwa ia mencariku ketika aku menghilang tapi aslinya dibuang oleh ayah, saat itu aku tau bahwa kakak bukanlah orang yang membuang ku melainkan ayah yang telah membuang ku.
__ADS_1
Tapi kenapa dia percaya kepada seorang prajurit yang membawa mayat yang bahkan bukan mayat adiknya sendiri.
Aku merasa kecewa kepada sosok kakak yang tersenyum senang ketika aku menyuapinya makan.
Aku tak pernah menyangka bahwa perbincangan itu merupakan perbincangan terakhir kalinya aku berbicara dengan kakak.
Kakak mengiris tangan kiri serta lehernya. Saat itu aku benar-benar syok melihat kakak yang bunuh diri dengan wajahnya yang nampak sedih.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, dimana semua benci yang kutanam dulu?, kenapa aku menangisinya?.
Kini aku sadar, bukannya tidak bisa melupakan kakak melainkan aku tidak bisa membencinya sama sekali.
Setelah memohon dan meminta kepada tuan agar menyelamatkan kakak, tuan akhirnya mengiyakan permintaan egoisku.
Saat ini aku hanya ingin menyelamatkan nyawa kakak tak peduli apapun.
Setelah berlari dengan cepat ke tempat dimana penjual perban berada, meski butuh waktu yang lama karena setengah ibukota baru saja hancur setelah peperangan.
Setelah sampai ke toko yang sudah ditempatkan di luar kekaisaran oleh tuan, aku dengan tergesa-gesa berjalan kearah lantai 3 tempat dimana kakak dan tuan berada.
Aku mendengar suara teriak kakak dari atas yang membuatku semakin mempercepat langkahku menuju ruangannya.
Aku sangat senang kakak berhasil diselamatkan oleh tuan, tapi aku terkejut ketika aku ingin masuk ke dalam ruangan itu.
Ada sebuah pembatas yang tak terlihat yang membuatku tidak bisa masuk meski aku sudah membuka pintu ruangan itu.
Seolah aku tidak terlihat dan tak terdengar meski aku berteriak sejadi-jadinya untuk membuka penghalang yang menyelimuti ruangan itu tapi tuan tidak kunjung membuka malah semakin menyudutkan kakak.
Meski aku tahu kenapa tuan melakukan hal itu, tapi aku tak sanggup melihat 2 orang yang berharga dalam hidupku saling meneriaki satu sama lain.
Aku berteriak dan memukul mukul dinding pembatas yang dibuat oleh tuan, tapi tuan sama sekali tidak mau mendengarkan ku.
Kakak bahkan tak melihat ataupun mendengar suara ku hingga aku tak henti-hentinya terus berteriak dan memukul dinding tembus pandang yang hanya boleh dilihat oleh orang luar, sedangkan yang didalam tidak bisa melihat keluar kecuali orang yang membuatnya ada didalam.
Setelah beberapa menit berlalu tuan akhirnya membuka dinding pembatas, sontak aku berlari kearah kakak yang tengah menunduk.
__ADS_1