
#di tengah ibukota
Ibukota Yue sudah hancur setengahnya, serta peperangan yang terus berlanjut bahkan tanpa ada jeda sama sekali.
Prajurit-prajurit istana kekaisaran terus terjun dari atas langit menabrak pasukan penjajah yang ada dibawahnya.
Mereka terus beradu pedang dengan keganasan yang tiada henti, dengan patokan untuk terus hidup.
Keteguhan hati prajurit kekaisaran sudah mencapai puncak dimana mereka sudah tak peduli apapun, meski mereka tetap bisa membedakan mana yang musuh dan mana yang teman.
Mereka paling mengerti bahwa dimedan perang, kematian merupakan sebuah kebanggan tersendiri setelah mengerahkan seluruh kekuatan dan tenaga mereka hingga titik darah penghabisan.
Satu persatu prajurit kekaisaran dan pasukan Raja Ming tumbang meninggalkan tubuh mereka yang terbaring bahkan ada yang anggota tubuhnya sudah tidak lengkap, apalagi organ dalam tubuhnya keluar.
Meski begitu, seberapa kuatpun pasukan kekaisaran, dibawah pengepungan pasukan yang jumlahnya puluhan kali lipat dari jumlah pasukan kekaisaran mereka tak bisa berkutik.
Apalagi dengan keadaan tubuh pasukan Raja Ming yang sudah seperti mayat berjalan dengan rasa haus darah mereka, membuat suasana peperangan menjadi tampak seram.
Benar, pasukan Raja Ming sudah dalam tahap dimana mereka sudah kehilangan akal untuk berpikir, seakan-akan tubuh mereka bergerak sendiri tanpa bisa mereka kendalikan.
Saat ini keputusasaan melanda masyarakat yang tengah bersembunyi dan juga peperangan yang masih terus berlanjut.
Semua prajurit kekaisaran sudah terjun dalam peperangan, elang tempur juga ikut andil dalam peperangan, para kesatria yang tengah bertarung dibarisan belakang terpojokkan oleh kekuatan Raja Ming hingga menyisakan 30 orang saja.
Pasukan Raja Ming sudah sepenuhnya memasuki ibukota dan menyerang ke berbagai arah, merobohkan rumah-rumah warga hingga rata dengan tanah.
Pemandangan ini sudah seperti pertarungan sepihak dibawah terik matahari yang sebentar lagi akan tenggelam silih berganti dengan bulan.
#diluar perbatasan ibukota
"hosh... hosh..."
"seharusnya kita minta tambahan kompensasi"
"benar... kalau seperti ini, ini sama saja dengan mengantarkan nyawa kita"
"yah bagaimanapun usia kita tidak sama lagi dengan dulu"
"hahaha...."
Bincang mereka yang kewalahan dan lelah menghadapi Raja Ming meski Raja Ming juga tampak sudah agak capek setelah pertarungan sepanjang siang dan berakhir dengan tawa garing mereka semua.
"bagaimanapun aku senang masih bisa mati dengan bangga dalam perang kali ini"
"jika tidak ada perang ini mungkin aku akan mati diatas ranjang karna bosan ha.. ha.. ha..."
Ucap si ketua Gaora yang berekspresi sedih dengan akhiran tawa yang tak lucu bagi teman seperjuangannya.
__ADS_1
"bicara apa kau ini?"
"hanya kau yang ingin mati dimedan perang dengan rela hanya karna hidup sendiri"
"kemana semangat hidupmu dulu"
"kita sudah melalui banyak hal selama lebih dari 20 tahun"
Ucap seorang pria paruh baya yang masih nampak tampan meski ada beberapa kejutan diwajahnya.
"sudahlah... dia itu seumur hidup tinggal sendirian, makanya dia bahkan sampai matipun rela"
"iya yah... hahaha... mengingat bahwa bos bahkan tidak pernah melupakan cinta pertamanya, membuatku merasa bahwa bos kita sudah tidak ada harapan untuk menikah"
"hahaha..."
Ucap seorang wanita paruh baya yang nampak cantik dengan cerianya tertawa riang bersama teman seperjuangannya.
Dengan itu mereka sepenuhnya membicarakan sang ketua Gaora di masa lalu, yang membuat Gaora merasa terharu dengan sahabat seperjuangannya itu.
"yah, kalian ini benar-benar.. hah... selalu saja seperti ini, selalu tidak fokus bahkan saat ditengah perang sekalipun"
"kalian lupa yah kalau kita sedang diincar oleh singa langit biru"
Ucap Gaora membuat reuni ditengah perang itu kian bersiap pada posisi masing-masing untuk menyerang Raja Ming.
"sangking serunya membahas masa lalu, jadi lupa kalau kita sedang bertarung"
"seperti inilah kita setelah lama baru bertemu"
"yah... walau masih banyak yang ingin kuceritakan kepada kalian semua, tapi sepertinya seseorang tidak senang dengan reuni ini"
Bincang mereka kemudian mengambil posisi masing-masing dan mengeluarkan roh yuan-hun mereka dengan Gaora yang berada dibarisan paling depan.
Mereka pun bertarung dengan Raja Ming dengan semangat yang membuat mereka tersenyum kegirangan, sama sekali tak ada rasa takut. Dalam benak mereka pertarungan itu merupakan pertarungan yang sudah lama mereka tunggu-tunggu bersama dengan rekan-rekan seperjuangan dimasa lalu.
"lihat si boss, katanya rela mati tapi melihat dia sekarang yang paling semangat bertarung dengan wajahnya yang tersenyum"
"iya.. hahaha... tak terpikirkan olehku bahwa bos kita akhirnya tersenyum juga setelah sekian lama"
Ucap 2 orang paruh baya yang nampak wajah mereka sudah penuh dengan keriput tapi masih nampak aura masa muda dalam pertarungan mereka.
"yah..mau bagaimana lagi, soalnya ini adalah pertempuran terakhir kita bersama-sama"
"lagian... bukan hanya aku yang merasa bersemangat disini"
Ucap Gaora si pemimpin yang tengah menahan serangan Raja Ming dengan cangkang roh yuan-hun kura-kuranya lalu melirik sekilas kearah teman-temannya yang berada dibelakangnya.
__ADS_1
Setelah itu bincangan mereka pun berakhir dengan pertarungan sengit diantara mereka dengan Raja Ming.
Meskipun mereka berhasil memukul mundur Raja Ming, tapi satu-persatu dari mereka tewas karna jarak kekuatan yang bagikan langit dan bumi.
Dengan pukulan roh yuan-hun gorila teman seperjuangannya Gaora Raja Ming akhirnya terpental menembus dinding pembatas dan menabrak beberapa rumah hingga roboh.
Melihat Raja Ming yang terpental jauh, merekapun menyusul masuk ke ibukota berniat mengejar raja Ming.
#di dalam istana kekaisaran --->Aula istana
[Ding]
[seluruh target telah memasuki dinding perbatasan]
Bunyi notifikasi system yang memberitahukan kepada Dareen bahwa semua pasukan beserta raja Ming akhirnya telah masuk dalam kawasan Ibukota.
Sebelumnya Dareen telah memberi pasukan Raja Ming tanda dalam peta virtualnya hingga ia Isa memantau dari istana.
"bersiaplah... sekarang saatnya yang mulia beraksi"
Ucap Dareen membungkuk hormat kepada Yao Siyue yang berada tengah duduk menunggu arahan Dareen.
"benarkah?, kenapa lama sekali?, aku sudah bosan terus duduk dan minum secangkir teh"
"akhirnya aku bisa menampakkan diriku dalam medan pertempuran"
Ucap Yao Siyue yang bangkit dari duduknya dengan girang merasa senang bahwa gilirannya telah tiba.
"lebih dari 49.000 cangkir telah diminum, tapi dianggap secangkir oleh yang mulia kaisar"
Batin para pelayan serta Dareen yang ada di dalam Aula itu dengan ekspresi yang seperti ingin berteriak tapi tidak bisa.
"hei... kau tidak lupa kan apa yang kukatakan"
Ucap Dareen yang tak menggunakan formalitas lagi dihadapan Yao Siyue.
"iya iya... aku tidak lupa, sudah berapa kali aku mendengarmu mengatakan hal yang sama berkali-kali"
"memangnya kau ini ibuku?"
Ucap Yao Siyue berjalan ke pintu aula yang terbuka lebar diikuti Dareen dengan ekspresi yang senang seperti akan melakukan hal lainnya.
Setelah sampai di luar aula istana, Yao Siyue kemudian mengangkat tangannya yang sudah ada cincin batu kristal pembatas di jarinya kemudian memasukkan sedikit mananya kedalam cincin itu.
Dan dalam sekejap sebuah penghalang nampak dari atas langit kian melebar menutupi seluruh kekaisaran termasuk ibukota hingga mencapai dinding perbatasan.
Setelah menutup sepenuhnya, dinding pembatas itu kemudian dilapisi dengan dinding pembatas lain yang dibuat oleh Dareen dari elemen anginnya dibantu dengan skill pelindung aura.
__ADS_1
Dan...
...Bersambung:)...